Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Cinta Sampai Mati


__ADS_3

🎶 Duhai engkau sang belahan jiwa


Namamu terukir dalam pusara


Di setiap langkah ku selalu berdoa


Semoga kita bersama


🎶 Duhai engkau tambatan hatiku


Labuhkanlah cintamu di hidupku


Ku ingin kau tahu betapa merindu


Hiduplah engkau denganku


🎶 Dengarkanlah ...


Disepanjang malam aku berdoa


Bersujud dan selalu aku meminta


Semoga kita bersama


🎶 Dengarkanlah ...


Di sepanjang malam aku berdoa


Cintaku untukmu selalu terjaga


Dan aku pasti setia


🎶 Ha ...


Suara merdu itu benar-benar membuat hati seorang Daniel bergetar, dengan bibirnya yang ikut bergumam mengikuti setiap lirik lagu yang membawanya kembali melayang ke masa lalu.


Belum lagi, wanita yang kini sedang menyanyikan lagu tersebut adalah wanita yang sangat dia rindukan dan dia cari keberadaannya. Sesaat, Daniel pun terbuai, hingga tubuhnya terasa gemetar dengan mata yang mulai berair.

__ADS_1


Apakah ini mimpi? Kenapa kejadian ini seperti tidak asing lagi baginya? Apakah ini nyata? Dia pun menampar pipi kirinya untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi, dan wanita yang sedang bernyanyi di atas sana itu benar-benar Mikaila, meski dengan penampilan yang sangat berbeda, rambut yang dahulu panjang, kini di potong pendek bergaya Bob nungging, membuat penampilannya benar-benar terlihat pangling, dengan kecantikan yang kian memukau.


Lamunannya pun seketika buyar, saat suara tepuk tangan terdengar bergemuruh diiringi suara siulan, beberapa dari pengunjung bahkan berdiri, karena benar-benar terpesona dengan penampilan seorang Mikaila.


Perlahan Daniel mulai berjalan mendekat, diantara padatnya pengunjung yang saat ini sedang berdiri seraya memandang ke depan, namun, gerakannya kalah cepat oleh seorang laki-laki yang saat ini sudah berada di atas panggung, menggoda Mika bahkan tidak segan mencolek bokong wanita itu.


Daniel pun semakin mempercepat langkahnya, dia naik ke atas panggung dan tentu saja langsung melayangkan bogem mentah kepada pria tersebut hingga dia tersungkur, tidak hanya itu saja, dia bahkan kembali meraih tubuh laki-laki itu dan melayangkan pukulannya secara berkali-kali, membuat suara kegaduhan pun terdengar dari arah pengunjung.


Mika terkesima, dia menatap dengan seksama wajah pria yang saat ini sedang berkelahi tepat di hadapannya, wajah pria tersebut seperti pria yang dia kenal, meski dengan rambut yang berbeda, tapi, dia sangat yakin kalau dia adalah Daniel.


Saat ini, Daniel berada tepat di atas lawannya, dia hendak memukul namun, gerakan tangannya terhenti di udara, saat dia mendengar suara Mika memanggil namanya.


''DANIEL ...?'' panggil Mika dengan nada suara tinggi.


Yang dipanggil pun menoleh menatap wajah Mika, hingga akhirnya pria yang berada di bawah kungkungan-nya itu tiba-tiba saja menendang bahkan melayangkan bogem mentah tepat di wajahnya, hingga Mika pun berteriak kencang memanggil nama Daniel.


Perkelahian pun terhenti saat empat orang penjaga keamanan melerai mereka berdua dan membawa keduanya keluar dari dalam cafe dengan sedikit paksaan. Mika segera mengikuti dari arah belakang, dengan wajah yang terlihat cemas.


''Pergi kalian, kalau mau berbuat onar jangan di dalam, dasar berandalan,'' teriak penjaga keamanan, melempar tubuh kedua pria itu keluar dari dalam cafe dengan begitu kasar.


Daniel tersungkur di atas aspal, begitupun dengan pria yang satunya lagi, dia segera berlari karena takut jika Daniel akan kembali menghajar dirinya.


''Pak, tolong izinkan aku masuk, Pak. Aku harus bertemu dengan Mika, wanita yang tadi menyanyi di dalam itu, aku mohon ...'' pinta Daniel dengan sedikit mengiba.


Penjaga keamanan itu pun mengabaikan ucapan Daniel, lalu menutup pintu cafe. Kini, Daniel hanya bisa menunggu diluar, dia berdiri bersandar tembok, dengan wajah yang meringis kesakitan, dia pun mengusap ujung bibir dengan telapak tangan, lalu memuntahkan darah segar dari dalam mulutnya.


Cuih ...


Terdengar suara Daniel, meludah ke arah samping, dia pun sedikit membungkukkan tubuhnya, merasakan perih di ulu hatinya, sampai tiba-tiba, ada tangan lembut yang memijit lehernya pelan hingga dia pun mengalihkan pandangannya pada sepasang kaki berbalut sepatu high heels berwarna hitam, yang saat ini berdiri tepat di hadapannya.


Daniel pun menatap kaki putih nan mulus itu, menatapnya lekat dengan wajah yang perlahan naik memandang setiap jengkal tubuh ramping berbalut dress pendek berwarna merah terang itu, sampai akhirnya matanya pun tepat berada depan wajah Mika yang saat ini sedang memandang wajah dirinya dengan tatapan penuh rasa khawatir.


Keduanya pun saling menatap satu sama lain, dengan tatapan penuh kerinduan, dan saling melempar senyuman. Dengan sedikit rasa canggung sebenarnya, Daniel pun meraba pipi mulus Mika, mengusapnya pelan dengan tatapan mata yang penuh dengan kesedihan.


''Mika ...? Ini benar-benar kamu 'kan?'' lirih Daniel, menarik tubuh ramping Mika dan mendekapnya erat.


''Apa kabar ...?'' tanya Mika pelan.

__ADS_1


''Aku mencari kamu kemana-mana, aku kira kamu sudah tidak ada lagi di dunia ini, hiks ... hiks ...'' ucap Daniel sedikit terisak.


''Kenapa kamu harus mencari aku segala? bukannya kamu sudah benar-benar melupakan aku.''


Daniel melepaskan pelukannya, lalu meletakan kedua tangan di pipi Mika.


''Maaf, seharusnya aku tidak pergi waktu itu, seharusnya aku lebih bersabar lagi, aku tidak tahu jika ternyata Daddy hanya berpura-pura mencintaimu, dan mencampakkan dirimu setelah dia puas menikmati tubuhmu, maafkan aku, Mika ...''


''Sudahlah, jangan membicarakan masa lalu lagi, mengingat itu semua hanya membuat hatiku terasa begitu sakit, aku sudah melupakan semua itu, dan menjalani kehidupanku sendiri,'' jawab Mika sedikit tersenyum getir.


Sejenak, keheningan pun tercipta, rasa canggung menyelimuti keduanya kini. Daniel kembali memegangi perutnya yang masih terasa sakit, dengan sedikit meringis kesakitan.


''Argh ...'' Daniel meringis.


''Apa sakit sekali? heuh ...?'' tanya Mika menatap dengan tatapan sayu.


Daniel hanya mengangguk dengan wajah yang masih meringis.


''Lagian, sok jago banget si, sakit 'kan?'' Mika mengusap luka yang ada di pelipis wajah Daniel.


Daniel pun tersenyum, belaian hangat tangan Mikaila membuatnya senang, apa itu tandanya, dia masih ada kesempatan untuk mendapatkan kembali hati seorang Mika, dan merajut cinta yang sempat terhempas'kan dulu? Batin Daniel.


Percakapan mereka pun terhenti, saat seorang pria berpakaian rapi, keluar dari dalam cafe dan menghampiri Mika, dengan mata yang menatap tajam wajah Daniel.


''Mika, sedang apa kamu di sini? apa kamu tidak tahu kalau para pengunjung sudah menunggu kamu dari tadi? mau aku pecat kamu? hah ...?'' ucap pria tersebut.


Ternyata Pria itu adalah pemilik cafe yang bernama Nando, pria muda, tinggi dan gagah, wajahnya tidak terlalu putih, namun auranya memancarkan sejuta karisma.


''Oh ... Iya maaf, Pak. Tadi ada urusan sebentar, saya akan segera masuk sekarang,'' jawab Mika.


''Tapi, Mika. Masih ada yang ingin aku katakan sama kamu,'' ucap Daniel kembali meraih pergelangan tangan Mika.


''Nanti kita sambung lagi, ya. Aku harus kerja dulu sekarang,'' Mika menjawab dengan berbalik, namun, sebelumnya dia melepaskan terlebih dahulu tangan Daniel yang saat ini menggenggam erat pergelangan tangannya.


Dengan tersenyum begitu manisnya, Mika pun menoleh terlebih dahulu ke arah Daniel sebelum dia membuka pintu dan masuk ke dalam cafe.


Kini tinggallah Daniel dan juga Nando, berdiri saling berhadapan, terlihat jelas dari wajah Nando, bahwa dia merasa cemburu melihat kebersamaan Mika bersama Laki-laki yang saat ini sedang menatap Mikaila yang perlahan masuk kedalam cafe.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers, terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2