Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Pernikahan Yang Diinginkan


__ADS_3

Satu Minggu kemudian.


Arman benar-benar serius dengan ucapannya, dalam satu Minggu dia berhasil mempersiapkan pernikahan sederhana yang diinginkan oleh Lusi, pernikahan yang hanya di hadiri beberapa orang keluarga dekat saja.


Orang tua Lusi yang saat ini berada di Belanda pun spesial datang untuk menghadiri sekaligus menikahkan putrinya.


Sebenarnya Arman ingin pernikahan tersebut diadakan besar-besaran, namun, karena keinginan kuat dari calon istrinya yang menginginkan pernikahan itu diadakan biasa saja, terpaksa Arman harus mengubur niatnya dan mengadakan pernikahan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh wanita yang bernama Lusiana tersebut.


Pernikahan itu diadakan di kediaman Arman, rumah sederhana yang merupakan rumah yang dia beli dari yang hasil keringatnya sendiri.


Satu jam sebelum akad dimulai, Lusi nampak sedang duduk di dalam kamar dengan hati yang berdebar, dia nampak begitu cantik dengan tubuh yang dibalut dengan kebaya berwarna putih, lengkap dengan sanggul dan make-up ala pengantin.


Gugup, itulah yang dirasakan oleh Lusi, dia sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan segera dinikahi oleh pemuda baik hati seperti Arman dan melupakan ambisi serta dendam yang selama ini menggerogoti hati serta membuat hidupnya berantakan.


Mulai saat ini, dia bertekad akan menjalani hidupnya dengan benar, melupakan dendam dan ambisinya, serta akan menjalani hidupnya sebagai seorang istri dari pemuda yang bernama Arman tersebut.


Ceklek ...


Pintu kamar dimana Lusi berada pun tiba-tiba di buka, Lusi menyudahi lamunannya dan menoleh ke arah pintu menatap seseorang yang kini masuk ke dalam kamar.


Lusi nampak tersenyum, tatkala melihat Daniel yang kini berjalan menghampiri dan duduk di samping dirinya.


''Selamat, Lusi. Akhirnya kamu menemukan pria yang tepat, aku senang kamu akan segera menikah,'' ucap Daniel tersenyum.


''Makasih, Daniel. Aku minta maaf karena selama ini telah membuat Rumah Tangga yang kamu jalani merasa tidak tenang.''


''Hmm ... Aku sudah memaafkan kamu dari dulu-dulu ko, bagi aku kamu tetap gadis kecil yang sudah aku anggap sebagai adik sendiri, aku sayang sama kamu sebagai seorang adik, dari dulu, dan sedikitpun aku tidak pernah menyimpan dendam apapun padamu.''


''Hmm ...''


Lusi bergumam pelan, menoleh menatap wajah Daniel untuk terakhir kalinya sebelum dia benar-benar mengubur rasa cintanya dalam-dalam, karena walau bagaimanapun, sudah lebih dari 10 tahun perasaan itu bertahan di dalam hatinya, dan menorehkan begitu banyak luka dengan berbagai penolakan dan rasa sakit yang membuat jiwa seorang Lusi benar-benar terpuruk selama ini.


''Daniel ... Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya, tentu saja bukan sebagai seorang Lusi yang penuh dengan ambisi akan cintamu, melainkan sebagai seorang Lusi yang sudah kamu anggap sebagai adikmu,'' lirih Lusi, dan Daniel pun mengangguk pelan.


Daniel meraih tubuh ramping berbalut kebaya itu, memeluknya erat dan mengusap punggungnya secara lembut. Jauh dari lubuk hati yang paling dalam, Daniel benar-benar mendoakan Lusi dan berharap bahwa gadis ini bisa menjalani kehidupan rumah tangganya dengan bahagia.


''Aku doakan kamu bahagia, percayalah Arman adalah pria yang tepat, dia pemuda yang baik, aku yakin dia bisa membahagiakan kamu, karena dia sangat mencintai kamu,'' bisik Daniel, dan Lusi pun mengangguk di dalam pelukan Daniel.

__ADS_1


Perlahan keduanya pun mulai mengurai pelukan. Kini Lusi benar-benar mengubur dalam-dalam perasaannya untuk sepupunya itu, dan entah mengapa hatinya lebih terasa ringan dan jiwanya pun terasa tanpa beban.


''Makasih, Daniel. Wah ... gak nyangka, hatiku benar-benar tenang sekarang. Ternyata yang selama ini menyiksa dan membuat hidup aku berantakan adalah rasa cinta aku yang sebenarnya adalah sebuah ambisi. Ambisi yang membuat hidupku menjadi seperti orang gila, tapi sekarang aku lega, karena aku sudah benar-benar bisa menghibur dalam-dalam perasaan itu,'' ucap Lusi dengan perasaan lega, tanpa terasa kelopak mata seorang Lusi pun mulai dipenuhi dengan buliran air mata.


''Hmm ... Syukurlah ... Aku pun lega mendengarnya.''


Tidak lama kemudian, pintu pun di ketuk. Mika membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar. Wajah Mikaila pun terlihat begitu cantik dengan tubuh berbalut dress panjang berwarna putih bersih, dan tentunya serasi dengan yang dikenakan oleh suaminya yang juga memakai jas berwarna putih.


''Hmm ... calon pengantin gak boleh nangis lho, nanti make-upnya luntur,'' ucap Mika sedikit bercanda, lalu menyerahkan tisu kepada Lusi agar dia bisa mengusap buliran air mata yang kini mulai membasahi pipinya.


''Makasih, Mika ...''


''Sama-sama, Lusi. O iya ... Selamat ya, Lus. Aku senang sekali akhirnya kamu menikah juga. Kami berdua sudah mempersiapkan kado spesial buat kamu dan juga Arman.''


''O iya, kado spesial apa?''


''Hmm ... Nanti deh, kalau kalian sudah selesai akad, baru aku dan Daniel memberikan kado itu,'' jawab Mika tersenyum.


''Hm ... Baiklah, padahal aku sudah penasaran banget, kado apa yang akan kalian berikan sama kami ...''


''Sayang, penghulunya sudah datang,'' ucap Arman.


''O ya ...'' Lusi segera berdiri, tangannya terasa begitu dingin, dengan keringat yang mulai membasahi pelipis wajahnya.


''Apa kamu gugup?'' tanya Arman menggenggam jemari lentik calon istrinya.


''Iya, aku agak sedikit gugup, sayang.''


Arman mengusap punggung tangan calon istrinya, lalu mengecupnya pelan, berharap dengan melakukan hal itu, rasa gugup di hati Lusi akan sedikit berkurang.


Setelah menarik napas panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan, Lusi dan Arman pun keluar dari dalam kamar dengan tangan yang saling ditautkan, dan diikuti oleh Daniel dan juga Mika yang berjalan di belakangnya dengan tangan mereka pun saling ditautkan satu sama lain.


🍀🍀🍀


Setelah acara pernikahan selesai diadakan, dan semua tamu yang ada di sana sudah kembali ke rumah masing-masing, kini tinggalah sepasang pengantin baru yang sudah berganti pakaian.


Arman nampak duduk di kursi, tangannya memegang kotak hadiah berukuran kecil.

__ADS_1


''Apa itu?'' tanya Lusi duduk di samping suaminya.


''Hmm ... aku juga gak tau, Daniel memberikan ini, katanya ini adalah kado spesial buat kita,'' jawab Arman mencoba membuka kotak tersebut.


''O ya ... Coba di buka ...''


''Baiklah, aku juga penasaran dengan isinya. Apakah isinya kunci mobil, atau perhiasan?'' ucap tersenyum sumringah.


Apa yang mereka harapkan ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka lihat, isi dari kotak tersebut bukanlah kunci mobil apalagi perhiasan, melainkan obat kuat untuk pria.


''Apa ini ....?'' teriak Arman meraih obat tersebut.


''Coba sini aku lihat ...'' Lusi meraih bungkusan tersebut lalu membaca tulisan di belakangnya.


"Obat kuat untuk pria dewasa."


''Ha ... ha ... ha ... Dasar Daniel kurang ajar, dia pikir aku lemah. Bikin malu aja si ...'' tawa Arman terdengar renyah.


Tanpa di sangka Lusi kini berjalan ke arah dapur, dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa segelas air putih.


''Makasih sayang, kamu tau aja kalau aku haus,'' ucap Arman menerima gelas tersebut.


''Sekalian minum ini nya juga,'' Lusi membuka bungkusan tersebut, dan menyerahkannya kepada suaminya.


''Apa ...?''


''Minum ini, malam ini aku ingin kamu benar-benar kuat, karena aku ingin memainkan sepuasnya sosis jumbo milikmu itu, sayang ...'' jawab Lusi dengan nada suara manja.


''SOSIS JUMBO ...?'' Arman membulatkan bola matanya mendengar barang berharga miliknya di sebut sosis jumbo.


''Ha ... ha ... ha ... ya ampun istriku sayang, sejak kapan benda pusaka ini di panggil sosis jumbo? hah ...''


''Sejak aku memainkan benda ini, dan jatuh cinta kepadanya ...'' jawab Lusi, duduk di pangkuan suaminya, memasukan obat kuat yang tadi dia pegang ke dalam mulut suaminya, lalu berbisik di telinga Arman.


''Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita,'' bisik Lusi, membuat bulu kuduk Arman berdiri merinding seketika.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2