
''Apa ...? kamu mau apa tadi?'' tanya Arman pura-pura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
''Hmm ... Itu ... Sosis kesayangan aku,'' Lusi dengan suara manja dan se*si.
''Ha ... ha ... ha ...! Tadi katanya kamu lelah 'kan?''
''Heuh ... Sayang ...'' Lusi merengek manja.
''Hmm ... Gini deh, kamu makan dulu. Setelah kamu makan, baru kamu boleh bermain sama benda ini,'' tawar Arman, merasa khawatir karena wajah Lusi terlihat begitu pucat, apalagi dia mengatakan bahwa dia belum makan sama sekali.
''Tapi aku beneran belum lapar sama sekali, sayang.''
''Nggak, pokoknya kamu harus makan, titik. Gak ada tawar menawar, gak ada bantah membantah, atau kalau tidak, kamu gak aku kasih izin buat main sama benda kesayangan kamu ini, Oke ...?'' tegas Arman membuat Lusi mau tidak mau menganggukkan kepalanya malas.
''Sekarang, kamu mandi air hangat dulu, ganti baju. Aku akan masakan makanan spesial buat kamu.''
Lusi kembali menganggukkan kepalanya terpaksa.
Satu jam kemudian, Arman selesai memasak makanan spesial untuk istrinya, sebagai manager di sebuah cafe mewah ternama milik Daniel, tentu saja dirinya memiliki kemampuan memasak yang lumayan.
Lusi nampak berjalan ke arah dapur, menatap tubuh sang suami yang terlihat begitu se*si dimatanya dengan celemek melingkar sempurna di pinggang lebarnya.
Lusi yang sudah berganti pakaian dengan mengenakan Lingerie berwarna merah transparan membuat apa yang tersembunyi di balik baju tipis itu terlihat membayang.
Dia pun duduk di kursi ruang makan dengan bersilang kaki seolah sengaja agar dirinya terlihat se*si di mata suami.
''Hmmm ... baunya enak, kamu masak apa, sayang? baunya enak sekali,'' tanya Lusi meletakan kepalan tangannya di bawah dagu, menatap lekat tubuh sang suami.
''Hmm ... iya dong, biar gini-gini aku pandai masak, lho.'' Jawab Arman mulai mematikan kompor.
''Waah ... Cumi saus tiram ...! kayaknya enak banget, hmm ... Jadi gak sabar pengen cepet makan.''
''Tadi katanya gak lapar?'' ledek Arman tersenyum lebar.
__ADS_1
''Ya tadi si gak lapar, tapi setelah melihat masakan kamu yang kelihatannya enak, perut aku jadi mendadak lapar, ini ...'' Lusi beralasan, meraih piring kosong dan mengisinya dengan nasi lengkap dengan lauk yang baru saja matang.
''Hmm ... alasan. Ya sudah cepat makan yang banyak, setelah makan ini, giliran makan sosis jumbo, ya.'' Canda Arman membuat Lusi tersedak seketika.
''Uhuk ...! Apa ...? kamu bilang apa tadi?'' tanya Lusi menepuk pundaknya sendiri.
''Nggak, skip aja. Makan aja dulu ...'' Arman terkekeh.
''Hmm ... Baiklah, tapi setalah ini, kamu harus izinkan aku bermain dengan sosis jumbo kesayangan aku itu, Oke ...?''
''Iya-iya, sayang. Kamu boleh bermain sepuasnya, bahkan kalau mau dimakan juga boleh.''
''Uhuk ...'' Lusi kembali tersedak, dan Arman dengan sigap segera memberinya segelas air putih.
''Maaf, sayang. Kamu sampai tersedak dua kali, ha ... ha ... ha ...''
''Kalau aku sampai tersedak lagi, aku bakalan berhenti makan, nih ...'' Ancam Lusi, dan Arman seketika langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Setelah sang istri mengatakan hal itu, Arman benar-benar tidak mengatakan apapun lagi, keduanya benar-benar hanya makan tanpa berbicara sedikitpun, sampai akhirnya makanan yang mereka makan pun habis tidak bersisa.
''Iya, dong.''
''Kamu istirahat aja, biar aku yang cuci piring ...'' pinta Arman seraya merapikan piring kotor di atas meja.
''Hmm ... Aku di sini aja deh, mau liatin kamu cuci piring,'' jawab Lusi duduk manis.
''Cuma liatin aja nih? gak bantuin?''
''Hmm ... badan aku lelah sekali, sayang ... Uhuk ...!'' jawab Lusi beralasan.
''Hmm ... Baiklah.''
Arman mulai mencuci satu-persatu piring kotor yang hanya berjumlah lima buah itu, dan Lusi hanya menatap dengan bibir yang tersenyum tubuh Arman terlihat begitu se*si dimatanya.
__ADS_1
Tidak tahan melihat punggung lebar Arman yang terlihat begitu kokoh dari arah belakang, membuat Lusi berdiri lalu memeluk punggung lebar suaminya itu, menyandarkan kepalanya dengan mata yang di pejamkan.
Sejenak, Lusi mengingat kembali pertemuannya dengan Richard, dan hal itu tentu saja membuat dadanya terasa sesak, hingga dia pun menarik napas panjang seketika untuk menenangkan pikiran.
''Kamu kenapa sayang ...? Aku yakin telah terjadi sesuatu 'kan? jujur sama aku ...!'' Tanya Arman hendak memutar badan.
''Jangan berbalik dulu, biarkan aku bersandar di punggung kamu, sebentar saja,'' pinta Lusi tidak ingin Arman melihat wajah sedihnya.
''Oke ... Kamu boleh bersandar sepuasnya, lakukan selama yang kamu mau,'' jawab Arman, mengusap punggung tangan istrinya, yang kini melingkar di perut datarnya.
Hampir 20 menit Lusi melakukan hal itu, mencoba melupakan kenangan yang begitu menorehkan luka yang mendalam di hati seorang Lusiana. Punggung suaminya itu benar-benar ampuh dalam membuat hatinya merasa tenang.
''Mau bermain di sini?'' tanya Arman memutar badan.
Lusi menganggukan kepala.
Arman meraih pinggang Lusi mengangkatnya untuk duduk di meja makan dengan bibir yang saling ditautkan. Kini, tangan Arman meremas gunung kembar milik istrinya itu.
''Akh ... sayang ... Argh ...'' lirih Lusi.
''Iya, sayang. Aku ada di sini,'' jawab Arman.
''Akh ... sayang ... hmm ... Au ...'' Lusi memekik.
Keduanya pun benar-benar larut dalam perjalanan menuju puncak kenik*atan, memburu sesuatu yang akan benar-benar membuat jiwa mereka melayang ke angkasa.
Dengan napas yang saling berburu dan suara ******* yang terdengar saling bersautan, Arman mulai menaikan Lingerie sang istri.
Mata Arman nampak menatap wajah Lusi dengan tatapan tajam.
''Dari tadi kamu pake cel*na da*am?''
Lusi mengangguk seraya cengengesan.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀