
Mika menutup telpon dan menyudahi pembicaraan dengan sang suami, dia pun meletakan ponselnya, dengan sembarang, kemudian kembali berbaring, semakin melekatkan selimut tebal yang saat ini menutupi seluruh tubuhnya.
Dia pun kembali mencoba memejamkan mata, namun, saat matanya terpejam sempurna, pikirannya kembali mengingat tentang apa yang dia lihat semalam, hal itu sontak membuat gadis cantik itu langsung membuka matanya kembali secara sempurna.
Setelah termenung sejenak, menatap langit-langit kamar dan melayangkan tatapan kosong, akhirnya dia pun bangkit dan turun dari atas ranjang.
Perlahan dia melangkah ke kamar mandi dan hendak membersihkan diri, Mika pun mulai menanggalkan pakaiannya satu-persatu, hingga kini raganya polos tanpa satu penghalang apapun kini, dia berdiri di bawah shower dan memutar kran, air kran pun perlahan keluar layaknya air hujan, yang kini membasahi setiap jengkal raganya.
'Nggak, aku gak boleh terus mengingat kejadian tadi malam, dia memiliki hak untuk bercumbu dengan siapapun, aku sama sekali nggak boleh merasa sakit hati, ataupun cemburu, ingat Mika, dia anak tiri kamu,' (Batin Mika)
Dia pun mengusap wajahnya di bawah guyuran air shower, membasuh setiap jengkal raganya tidak peduli dengan rasa dingin yang perlahan menembus setiap helai kulitnya, berharap bahwa, jika dia melakukan itu semua, semua bayangan seorang Daniel yang kini menari-nari di dalam otaknya, akan benar-benar hilang dari dalam otak kecilnya.
🌹🌹
Tuk
Tuk
Tuk
Terdengar suara langkah sepatu, berjalan berirama sehingga menimbulkan suara pantulan di udara, Mika, dia sudah bersiap untuk pulang dari Vila, karena dia sama sekali tidak ingin jika harus pulang bersama Daniel dan juga Lusiana.
Perlahan dia pun menuruni tangga, masih dengan pakaian yang sama, seperti yang dia kenakan kemarin, gaun berwarna merah pendek lengkap dengan sepatu dengan warna yang sama, tas kecilnya pun di gantungkan sembarang di bahu kirinya.
Dia pun sampai di ujung tangga, hendak melanjutkan langkahnya keluar dari dalam Vila, namun, langkahnya terhenti seketika, saat, terdengar suara Lusiana memanggil namanya dengan begitu lantang.
''Mika ...!'' Teriak Lusi melambaikan tangan menatap ke arah Mika duduk di meja makan.
Mika pun menoleh, lalu berjalan menghampiri.
__ADS_1
''Kamu di sini?'' tanya Mika, duduk di kursi makan.
''Udah rapi aja, mau kemana?''
''Mau pulang, lah. Ngapain lama-lama di sini?''
''Pulang naik apa? bukannya Om Richard udah pulang duluan, ya?''
''Ko kamu tau?''
''Iya, tadi aku ketemu sama dia, katanya ada urusan mendesak di kantor, dia nitipin kamu ke aku, suruh kita pulang bareng,'' ucap Lusi, memasukan satu potong roti bakar ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya pelan.
''Emangnya kamu bawa mobil?''
Lusi menggelengkan kepalanya.
''Terus ...?''
''Gak, aku mau pulang sendiri aja, gak mau ngerepotin kalian berdua,'' jawab Mika datar.
''Pulang naik apa? dari sini tuh gak ada kendaraan umum.''
''Hmm ...!'' Mika pun menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan.
''Mika, aku mau tanya sama kamu, gimana ceritanya, kamu bisa berakhir menikahi Om Richard, sementara kamu pacaran sama putranya? kamu tahu, kalau kisah cintamu ini di bikin sebuah Novel, pasti banyak yang tertarik baca, lho.''
''Bisa aja kamu, Lus ...'' Mika tersenyum getir.
''Ayo dong cerita, aku penasaran nih, kenapa kamu bisa berpaling ke Om Richard? secara, kalau di lihat dari usia dan penampilan, tentu saja Daniel lebih baik, apa karena harta? Om aku itu kan kaya raya dan punya banyak uang?''
__ADS_1
''Sembarangan kamu, emang aku cewek apaan,'' Mika sedikit tersinggung.
''Oke, sorry kalau kamu tersinggung, makannya, ceritain ...!''
''Oke-oke. Jadi begini. Om Richard itu sahabat almarhum ayah aku, dia baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu, dan dia menitipkan aku sama suami aku, berpesan agar aku menikah dengan dia, bukan tanpa alasan beliau melakukan itu.''
''Karena aku hanya hidup sendiri, dia ingin aku menikah dengan pria mapan, dan baik, dan menurut ayah, Mas Richard itu adalah calon suami terbaik untuk aku.'' jawab Mika.
''Kenapa kamu gak menolak? bukannya kamu waktu itu masih pacaran sama Daniel?'' Lusi semakin penasaran.
''Aku udah nyoba nolak, aku juga udah kenalin Daniel sama beliau, tapi, ayahku sama sekali tidak menyukai dia, tau sendiri lah, gimana tampangnya dia, urakan, meskipun tampan, dia terlihat seperti playboy, dan ayah aku sama sekali gak rela kalau aku sampai menikah dengan dia.''
''Begitu ...? Hmm ...!'' Lusi sedikit bergumam.
''Sebenarnya, ayah aku sakit-sakitan, dia mengidap penyakit langka, dia sama sekali tidak bekerja, aku yang selama ini memenuhi kebutuhan aku sendiri dan ayahku, dan Mas Richard, dia selalu membantu dalam membiayai pengobatan ayah, itu sebabnya aku gak bisa menolak perjodohan ini,'' Mika menunduk, mengingat masa lalu.
''Lalu ibumu? kemana dia?''
''Heuh, jangan tanya dia. Ibuku meninggalkan kami saat ayahku jatuh sakit, merasa tidak berguna dan tidak bisa lagi menafkahi dia, akhirnya beliau meninggalkan aku dan ayah yang waktu itu sedang dalam keadaan sakit, mengingat hal itu, membuat hatiku merasa sakit.''
''Maaf, karena aku kembali mengusik luka lama di hati kamu, aku gak bermaksud, Mika.''
''Gak apa-apa, Lus. Aku baik-baik aja ko, beneran.'' Mika mengusap kedua matanya, membersihkan kelopak mata yang kini mulai terisi penuh dengan air mata.
Sesaat, ada rasa sesak yang kini menghimpit bagian dadanya, memberinya rasa sakit, tatkala mengingat saat itu, saat dirinya berjuang sendiri merawat sang ayah di usia yang masih muda, sampai akhirnya dia bertemu dengan Daniel, pria itu membantu dirinya mengatasi setiap kesulitan yang dia hadapi, dan senantiasa selalu menemaninya dengan setia dan membagi setiap beban yang dia pikul saat itu.
Dia pun kembali mengingat saat-saat pertama kali dirinya bertemu dan mengenal pria bernama Daniel.
Flash back 8 tahun yang lalu.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Readers ♥️♥️♥️