Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Pusara Sang Ayah


__ADS_3

Mereka berdua berjalan dengan tangan yang saling ditautkan, berjalan menuju pusara mendiang ayah kandung Mikaila, yang telah tiada tiga tahun yang lalu.


Udaranya yang dingin terasa menggelitik kulit, dan angin yang berhembus kencang menyapu rambut Mika yang pendek terurai, suasana pemakaman pun tampak sejuk, karena berada di pinggiran kota membuat suasana damai sedikit tercipta.


Keduanya nampak berhenti di depan pusara dengan batu nisan bertuliskan nama 'Irawan', Mika berjongkok memegang batu nisan tersebut, dan mulai berbicara seolah sang ayah benar-benar ada di sana.


''Apa kabar, Yah ...? Maaf Mika baru sempat datang kemari. Mika ke sini bersama calon suami Mika, dan satu Minggu lagi kami akan segera menikah, aku minta maaf karena harus bercerai dengan pria yang ayah pilihkan, ternyata pria itu tidak sebaik yang ayah kira.''


''Sekarang, sudah saatnya aku menentukan pilihan aku sendiri untuk menikahi pria yang aku cintai, dan aku yakin aku gak akan salah memilih, karena kami telah membuktikannya sendiri, begitu kuat rasa cinta kami berdua meski telah di hantam gelombang bahkan di pisahkan takdir.''


''Kami telah memutuskan untuk mengakhiri perjalanan panjang cinta kami dengan mengikatnya kuat menggunakan tali pernikahan, doakan kami, ayah. Semoga kami bahagia, dan rumah tangga kami langgeng sampai maut memisahkan kami berdua ...'' ucap Mika dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Daniel berjongkok di samping calon istrinya, dia mengusap punggung Mika mencoba untuk menenangkan, setelah itu dia pun menatap batu nisan lalu mulai berbicara.


''Om Irawan, aku datang kemari untuk meminta doa restu, doakan kami dari atas sana, dan ikhlaskan putri Om untuk menikah dengan aku, aku tahu dulu Om sama sekali tidak suka jika Mika berhubungan dengan aku, tapi aku telah membuktikan bahwa rasa cinta aku tulus dan bahkan masih kokoh meski 10 tahun telah berlalu.''


''Aku janji akan membahagiakan putri, Om. Aku pun berjanji tidak akan pernah meninggalkan dia, akan aku perlakukan dia seperti ratu dan tentunya aku akan selalu menghujaninya dengan kasih sayang dan cinta yang melimpah, karena aku sangat mencintai dia, dia adalah satu-satunya wanita yang aku inginkan untuk menemani hari-hariku sampai ajal menjemput'ku kelak. Semoga Om ikhlas menerima aku jadi menantu Om.'' Ucap Daniel tulus, dan penuh dengan keyakinan, dan terakhir, mereka pun menabur bunga di gunungan pusara.


Mika, meski raut wajahnya tergores kesedihan, namun, tatapan matanya menunjukan kebahagiaan, bahagia karena akhirnya bisa membawa Daniel ke pusara sang ayah.


Daniel, dia pun merasakan hal yang sama, dia merasa beban si dalam hatinya sedikit terangkat karena sekarang dia sudah meminta restu kepada calon mertuanya yang telah tiada.


Akhirnya, mereka pun menutup kunjungan mereka dengan doa, keduanya menunduk dan memanjatkan doa di dalam hati masing-masing. Setelah itu Mika dan Daniel berdiri dan mulai berjalan meninggalkan pemakaman dengan tangan yang saling bertautan, dan senyum bahagia yang senantiasa mengembang dari sudut bibir masing-masing.


🌹🌹


''Sayang, jam berapa sekarang?'' tanya Daniel tanpa menoleh, matanya fokus menatap ke arah depan karena dia memang sedang menyetir.

__ADS_1


''Hmm ... sekarang jam setengah empat sore,'' jawab Mika menatap layar ponsel.


''Syukurlah masih ada waktu, kita ke mall dulu, ya. Aku mau beli cincin pernikahan kita,'' ucap Daniel, yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Mika.


Daniel pun kini menoleh ke arah calon istrinya, menatap wajah cantik Mika dari balik kaca mata hitam yang dia kenakan, lalu dia pun mengulurkan tangannya mengacak rambut Mika pelan.


''I Love You Honey ..."


Ucap Daniel.


"I Love You To ..."


Jawab Mika dengan tersenyum.


Kata-kata itu seolah tidak pernah bosan mereka ucapkan, selalu mereka utarakan di manapun, dan kapanpun, tak peduli di depan banyak orang sekalipun.


''Sayang, sebenarnya ada satu hal yang belum aku beritahukan padamu,'' ucap Daniel di sela-sela langkahnya.


''Hmm ... Apa itu? katakan saja ...'' Jawab Mika menoleh ke arah Daniel.


''Sebenarnya Daddy telah membekukan seluruh kartu kredit yang biasa aku gunakan, bahkan ATM aku pun tidak dapat lagi digunakan,'' ucap Daniel membuat Mika menghentikan langkahnya seketika.


''Kamu serius ...?''


Daniel mengangguk seraya tersenyum.


''Lalu, untuk apa kamu membawa aku kemari, bukankah kamu gak punya uang ...?''

__ADS_1


''Sayang, meskipun Daddy memutus aliran uang yang biasa dia berikan, bukan berarti aku jatuh miskin, kamu lupa, aku masih punya usaha cafe mewah, dan aku menghasilkan uang juga dari sana, dan jumlahnya lumayan banyak meski tidak sebanyak uang yang selalu di berikan oleh Daddy, tapi lumayan cukup untuk membeli persiapan pernikahan kita,'' jawab Daniel tersenyum.


''Syukurlah, aku lega mendengarnya, aku cuma takut kamu merasa terbebani dengan permintaan ibu aku yang meminta kamu memberikan mahar yang tinggi buat aku.'' Jawab Mika, menatap wajah Daniel yang terlihat begitu tampan dengan kaca mata hitam masih menempel sempurna menutupi kedua matanya.


''Jangan khawatir, aku masih Daniel yang kaya dan punya banyak uang, dan aku pun sudah bertekad untuk mengambil kembali harta peninggalan mendiang Mommy yang memang seharusnya milik aku,'' jawab Daniel, meraih pinggang ramping calon istrinya lalu membawanya kembali berjalan memasuki Mall.


Keduanya pun berjalan beriringan dengan tangan Daniel masih dilingkarkan sempurna di pinggang ramping Mikaila, mendekapnya erat membuat iri siapapun yang melihatnya, apalagi keduanya memakai warna baju yang sama yaitu atasan berwarna putih, membuat keduanya terlihat serasi dan tentunya pasangan yang benar-benar sempurna.


Mereka pun berhenti di sebuah toko perhiasan, Daniel segera melepaskan lingkaran tangannya dan meminta Mika untuk duduk di depan etalase, yang langsung di sambut dengan ramah oleh penjaga toko.


''Mbak, kami mau memilih cincin pernikahan,'' ucap Daniel, duduk di samping Mika.


''Baik, Mas. Sebentar saya ambilkan contoh'nya,'' jawab pelayan tersebut.


Pelayanan itu pun beranjak dari hadapan Daniel lalu tidak lama kemudian kembali dengan membawa beberapa buah cincin pasangan, dan meletakkannya di atas etalase.


''Ini beberapa koleksi cincin pasangan yang kami miliki,'' ucap pelayan memperlihatkan cincin indah berkilau, membaut mata Mika berbinar.


''Hmm ... boleh tahu dulu harganya berapa, Mbak ...?'' tanya Mika menatap satu-persatu cinta yang berjumlah lima pasang itu.


''Ini harganya dimulai dari 75 juta, dan yang paling mahal ini 250 juta,'' jawab pelayan membuat Mika terkejut.


Ekspresi wajah Daniel terlihat berbeda dengan apa yang di tunjukan oleh Mika, dia hanya tersenyum tipis menatap satu-persatu cincin tersebut.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan Lupa Tinggalkan Jejak Kalian Ya Reader, terima kasih ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2