Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Benar-benar Kewalahan


__ADS_3

"Wah ... Kesayangan aku ...'' ucap Lusi tersenyum lebar.


"Argh ... sayang ... Hmmm ..." d*sah Arman memejamkan mata.


Semakin tidak sabar, kini Arman mendorong raga istrinya hingga terhempas di atas kasur, dengan tersenyum Arman segera melahap tubuh polos itu dengan buasnya.


"Kamu sudah siap, sayang. Milikku ini sudah tidak sabar untuk menerobos masuk ke dalam sana ..."


Lusi mengangguk dengan mengigit bibir bawahnya.


"Argh ... " keduanya pun men*erang bersama.


Perlahan Arman mulai memainkan gerakan maju-mundur, gerakan yang awalnya lambat kini berangsur dipercepat dengan hentakan kuat dan berirama.


"Akh ... sayang ... hmmm ... huuuh ..." bibir Lusi mulai mengeluarkan suara-suara laknat seiring dengan keni*matan yang dia dapatkan.


"Iya, sayang. Aku suka ... Aku suka ... Keluarkan lagi suaramu itu ... Auh ..." lirih Arman.


"Sa-yang ... Auh ... hmm ..." Lusi mengigit bibir bawahnya keras.


"Sebut namaku sayang ... Ayo ... Aku ingin mendengarnya ..." teriak Arman diiringi dengan suara de*ahan dan leng*han yang terdengar saling bersautan.


"A-ar-man ... suamiku ... sa-yang ... Auh ... Akh ..." Susah payang Lusi menyusun kalimat, di sela-sela helaan napasnya yang kini semakin terdengar saling bersautan.


"Nice ..."


Arman semakin mempercepat gerakan ping*ulnya, menghentakan'nya kuat hingga sesuatu di dalam sana hampir saja kembali meledak.

__ADS_1


"Sedikit la-gi sa-yang ... Argh ..." teriak Lusi dengan suara nyaring.


"Akhhhhhh ... sa-yaaaaaang ... Huuu ..." De*ah Lusi memecah keheningan malam.


Setelah puas melakukan posisi seperti itu, Arman pun menurunkan kedua kaki istrinya, dan membalikan raga polos sang istri, hingga dia tertelungkup.


Lusi yang memang tidak bisa mengimbangi permainan suaminya akhirnya merasa kewalahan, dia hanya pasrah saat raganya di bolak balikan sedemikan rupa.


Arman, semakin menghentakkan ping*ulnya kuat, menatap punggung istrinya yang terlihat putih mulus dengan sesekali mengecupnya kecil.


"Akh ... sayang ... sebentar lagi ...' lirih Arman, semakin intens mel*mat punggung sang istri.


"I-ya ... Sayang ... Cepat keluarkan, milikku pun sama ..." teriak Lusi.


Lusi benar-benar dibuat tidak berkutik, kenik*atan yang diterimanya benar-benar membuat sukmanya melayang, hingga dia pun hanya bisa pasrah dengan suara-suara tidak jelas yang keluar begitu saja tanpa di sensor.


"Argh ... Sayang ..."


Jantung Arman berdetak hebat, dia mengangkat kepalanya ke udara dengan mata terpejam, seiringan dengan pelepasan yang dia dapatkan, dan sesuatu di dalam sana menyembur deras bagai bisa ular.


Sementara Lusi, tubuhnya menegang dan bahkan bergetar saat pelepasan itu berhasil dia dapatkan sebanyak tiga kali, Namun, karena suaminya itu terlalu keras dalam bermain, membuat lembah miliknya terasa nyeri dan perih.


"Argh ... Sayang ..." lirih Arman, terkulai lemas di atas raga sang istri.


"Permainan kamu benar-benar luar biasa sayang. Milikku sampai sakit, nyeri ..." ucap Lusi, mengigit bibir bawahnya.


"O ya ...?"

__ADS_1


Arman mencoba bangkit, lalu berbaring di samping raga polos sang istri yang kini terkulai lemas dengan dada yang terlihat naik-turun dan napas yang ngos-ngosan.


"Maaf, gara-gara obat kuat itu, aku jadi hilang kendali."


Lusi meringis, merapatkan kedua kakinya.


"Apakah sakit sekali?" Arman sedikit panik seketika.


Dia pun meniup bukit rimbun istrinya, membuat Lusi sontak mengangkat kepalanya, menatap kepala suaminya di bawah sana.


"Kamu lagi apa?" tanya Lusi mengerutkan kening.


"Aku tiup, tadi katanya nyeri," jawab Arman meniup secara berkali-kali sesuatu yang menjadi sumber kenik*atannya itu.


"Gak usah sayang, aku malu kalau diliatin kayak gitu."


"Ya sudah kita istirahat dulu, nanti kita teruskan lagi," ucap Arman, mengecup tipis bukit kesayangannya itu.


"Apa ...? Masih mau lagi?"


"Lihat, milikku ini masih berdiri kokoh. Obat yang aku minum benar-benar mantap."


Lusi mendengus kesal, akhirnya dia menyesal karena telah membuat suaminya meminum obat itu.


'Kenapa aku harus meminta dia meminum itu segala si? aku harus benar-benar siap melayani dia sampai pagi,' (Batin Lusi penuh penyesalan)


Arman pun menutup raga sang istri dengan selimut tebal, begitupun dengan raga dirinya, mereka meringkuk dengan raga yang saling berpelukan.🙈

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2