
Jam 7 malam, Lusi nampak masih berada di kantor, pekerjaan yang numpuk membuatnya bekerja lembur, sementara Daniel yang merupakan atasannya di kantor sudah pulang duluan membuat Lusi merasa kesal.
Duduk di kursi dengan setumpuk berkas pekerjaan yang kini memenuhi meja kerjanya, membuat Lusi merasa pusing tujuh keliling, dia pun memijit pelipisnya pelan dengan mata yang terpejam.
''Daniel kurang ajar, aku di sodorin pekerjaan setumpuk, eh ... dia malah udah pulang duluan, mana ini ada berkas yang harus dia tanda tangani, lagi ...'' Gerutu Lusi berbicara sendiri.
Akhirnya dia pun memutuskan untuk menelepon bosnya.
Tut ... Tut ... Tut ...
Suara telpon yang belum di angkat.
📞 ''Halo, Daniel. Kamu dimana? ini ada kertas yang harus kamu tanda tangani.''
📞 ''Aku di rumah sakit. Kamu ke sini aja?''
📞 ''Gak, aku gak mau, kamu aja yang kembali ke kantor.''
'Aku gak mau kalau harus ketemu sama si tua bangka itu, kenapa si dia gak mati aja sekalian' ( Batin Lusi )
📞 ''Halo, Lus. Kamu masih disitu 'kan?''
📞 ''Iya ...'' Lusi menjawab malas.
📞 ''Kamu ke Rumah sakit aja, sebentar ko. Lagian kasian Daddy kalau harus di tinggal sendiri.''
📞 ''Heuh ...'' Lusi hanya mendengus kesal.
📞 ''Aku tunggu sekarang juga ya.''
Lusi tidak menjawab, dia menutup telpon begitu saja. Rasanya, Lusi masih merasa trauma untuk bertemu dengan Richard mengingat apa yang terjadi terkahir kali di antara dia dan Richard, dan kejadian itu membuatnya menjadi semakin benci dengan laki-laki bernama Richard itu.
Apalagi waktu itu dia sempat menghantam senjata tajam miliknya, membuat Lusi semakin malas untuk melihat wajah pria tua itu.
'Andai saja membunuh itu dihalalkan mungkin aku sudah membunuhmu sejak lama, Om Richard,' ( Batin Lusi )
Lama larut dalam lamunannya, sampai akhirnya ponselnya pun berbunyi tanda sebuah pesan masuk.
📱"Aku tunggu di Rumah Sakit, lantai dua kamar VVIP no 123."
__ADS_1
Begitulah isi pesan yang dikirimkan Daniel. Lusi pun menarik napasnya dalam, merasa semakin kesal, karena mau tidak mau dia harus mengikuti keinginan bosnya tersebut untuk datang ke Rumah sakit.
'Dasar Daniel kurang ajar' ( Batin Lusi )
🍀🍀
Di Rumah Sakit.
Dengan langkah yang gontai, Lusi berjalan menyusuri koridor menuju ruangan dimana Richard berada. Pikirannya melayang entah kemana dan hatinya merasa enggan sebenarnya untuk datang ke sana.
Lusi nampak meremas kuat Map berwarna coklat berisi berkas yang harus di tanda tangani oleh Daniel, hingga tanpa sadar dia pun telah sampai di depan kamar tersebut.
Dia berdiri mematung di depan pintu, hatinya merasa ragu untuk mengetuk, namun, mau tidak mau dia harus melakukan hal itu.
Trok ... Trok ... Trok ...
Lusi mengetuk pintu pelan dengan tangan yang terasa gemetar sebenarnya.
''Lusi ...? masuk aja ...'' terdengar suara Daniel dari dalam sana.
Dengan langkah yang malas, dia pun masuk ke dalam kamar. Lusi pun menatap sekeliling kamar luas dan mewah itu, sampai akhirnya mata Lusi tertuju pada Daniel yang nampak duduk di kursi yang ada di dalam kamar dengan tumpukan kertas yang tertata tidak beraturan di atas meja, dan ternyata Daniel membawa pekerjaan kantornya ke sana, agar bisa menjaga sang ayah sekaligus bekerja.
''Lama banget sih? mana sini berkas yang harus aku tanda tangani,'' ucap Daniel menatap wajah Lusi yang terlihat pucat pasi.
''Hmmm ... wajar sih, jam segini jalanan pasti macet,'' jawab Daniel santai.
Richard yang kini menyadari kehadiran wanita yang telah menyebabkan senjata pusaka kebanggan-nya tidak bangun lagi, nampak menatap wajah Lusi dengan tatapan tajam.
''Daniel ... Daddy mendadak pengen makan soto ayam, bisa kamu belikan? sekalian juga bawa istrimu makan di luar, mumpung ada Lusi di sini,'' pinta Richard tiba-tiba, membuat wajah Lusi kini semakin pucat seketika.
''Tumben sekali Daddy pengen makan soto ayam?''
''Entahlah, lidah pria tua ini tiba-tiba ingin makan yang aneh-aneh,'' jawab Richard beralasan.
''Hmm ... Baiklah.''
Daniel bangkit lalu berjalan menghampiri Lusi, begitupun dengan Mikaila yang juga berjalan si belakang suaminya.
''Lusi, aku titip Daddy sebentar, ya ...'' ucap Daniel.
__ADS_1
''Kami gak akan lama, ko.'' Lirih Mika berdiri tepat di samping Lusi.
''Hmm ... Baiklah, tapi kalian jangan lama-lama ya, aku harus segera pulang, suamiku pasti menunggu aku di rumah, tau sendiri, seharusnya kami masih menikmati indahnya menjadi pengantin baru, eh ... ini malah kerja lembur,'' ketus Lusi membuat Daniel terkekeh.
''Ha ... ha ... ha ... kamu tenang aja, Lusi. Nanti aku kasih bonus tambahan, karena kamu rela meninggalkan suami kamu demi pekerjaan.''
''Janji ya, awas aja kalau kamu sampai bohong.''
''Iya, aku janji. Kami pergi dulu, ya.''
Daniel dan Mika pun berjalan keluar dari dalam kamar.
Sepeninggal Daniel dan juga Istrinya, kini tinggallah Richard berdua bersama keponakannya, dia nampak menatap Lusi yang saat ini memunggungi dirinya, bahkan dari semenjak dia datang Lusi sama sekali tidak menoleh, apalagi menyapa dirinya.
''Bagaimana keadaan kamu, Lusi? Om dengar kamu sudah menikah, sayang sekali Om gak di undang, andai saja Om tau, mungkin Om akan mengirimkan hadiah spesial untuk kamu,'' ucap Richard memecah keheningan.
Lusi pun membalikkan tubuhnya, lalu menatap wajah Richard dengan tatapan tajam dan penuh kebencian.
''Apa ...? Mengundang Om? ha ... ha ... ha ...! Aku sama sekali tidak sudi mengundang anda, melihat wajah anda aja membuat aku mual. Apa anda lupa apa yang telah anda lakukan terakhir kali, Tuan Richard ...?'' Tegas Lusi dengan mata yang memerah.
''Iya-iya, Om tau kamu pasti membenci Om. Tapi Lusi, Om sudah mendapatkan ganjarannya, pukulan kamu waktu itu benar-benar telah membuat senjata pusaka Om gak bisa berdiri lagi.''
''Apa ...? Serius ...? ha ... ha ... ha ...!'' Lusi berjalan mendekati ranjang, dengan tatapan penuh kebencian, dan mata yang memerah.
''Bagus kalau begitu, aku senang sekali mendengarnya, itu adalah hukuman yang pantas untuk anda. Anda tidak lupa juga 'kan, dulu anda merebut kesucian aku, saat aku masih berumur 16 tahun, dengan kejamnya anda merenggut itu dari aku, tanpa mempedulikan teriakan dan kesakitan yang keluar dari mulut aku waktu itu, hah ...''
''Andai saja membunuh itu tidak haram, andai saja aku bukan anak kecil waktu itu, mungkin aku sudah membunuh kamu, Richard ...'' Lusi dengan deraian air mata mengeluarkan semua yang selama ini dia pendam sendiri di dalam hatinya.
''Om minta maaf, Lusi. Om benar-benar menyesal, hiks hiks hiks ...'' Richard menangis sesenggukan seketika merasa sangat bersalah.
''Maaf kamu gak ada gunanya, aku bukan Daniel yang bisa memaafkan kamu dengan mudah, dan aku juga bukan Tuhan yang yang maha pengasih dan pengampun,'' tegas Lusi penuh penekanan.
''Om tau Om salah, dan hak kamu untuk tidak memaafkan Om. Hiks hiks hiks ...''
''Anda pikir, dengan anda menangis seperti ini akan membuat hati aku luluh? Tidak ...! aku benci sama Om, BENCI ...!'' teriak Lusi lalu berlari keluar dari dalam kamar.
Pintu pun dia buka secara kasar, dan tanpa di sangka Daniel berdiri di depan pintu, menatap wajah Lusi yang terlihat basah dengan air mata, dan sepertinya Daniel mendengar semua yang mereka berdua bicarakan.
''Lusi ...'' lirih Daniel, menatap wajah sekertaris-nya itu dengan tatapan iba dan merasa malu atas apa yang telah dilakukan oleh ayahnya tersebut.
__ADS_1
Lusi tidak menggubris panggilan Daniel, dia langsung berlari meninggalkan ruangan tersebut, dengan suara isakan yang masih terdengar lirih dan pilu.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀