Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Masalah


__ADS_3

Richard menutup telpon dengan perasaan kesal, dia meletakan sembarang ponsel miliknya di atas meja, di dalam ruangan kantor'nya.


''Dasar wanita tidak tahu diri, mentang-mentang aku bersikap baik tadi pagi dia jadi ngelunjak begini, aku 'kan udah bayar dia dengan uang yang cukup banyak, bahkan uang yang baru aku transfer saja cukup untuk menghidupi 10 anak, sekarang malah merengek kalau dia hamil, ya itu urusan dia'lah, kenapa aku harus bertanggungjawab segala?'' Richard menggerutu kesal.


Dia menyandarkan tubuh beserta kepalanya di kursi, lalu memutar kursi tersebut, dengan mata yang di pejamkan.


🌹🌹


Tok ... Tok ... Tok ...


Lusi mengetuk lalu membuka pintu ruangan dimana biasa Daniel bekerja, dia pun mengerutkan keningnya tatkala mendapati ruangan tersebut masih terlihat kosong padahal hari sudah siang.


''Ko tumben udah siang begini dia belum datang? biasanya selalu tepat waktu, apa terjadi sesuatu sama dia?'' ucap Lusi berbicara sendiri.


Baru saja dia akan menutup pintu kembali, tiba-tiba saja terdengar suara Daniel dari arah belakang, mengejutkan dirinya hingga Lusi hampir saja terjatuh, namun untungnya, Daniel segera meraih pinggang ramping seorang Lusi, dan membawanya ke dalam perlukan dirinya.


Lusi terkesima, menatap wajah Daniel dari jarak yang begitu dekat membuat jantungnya berdetak begitu kencang, meski kejadian itu tidak berlangsung lama karena Daniel segera melepaskan lingkaran tangannya, namun, semua itu cukup membuat Lusi gugup dan salah tingkah.


Meskipun begitu, Daniel tetap bersikap tenang dan biasa saja, dia bahkan langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan tanpa menoleh ataupun memperhatikan raut wajah Lusi yang terlihat merah bersemu, sesaat Lusi pun termenung namun, akhirnya dia segera menyadarkan dirinya, menepuk kedua pipinya sendiri seraya menggelangkan kepalanya berkali-kali.


'Sadar Lusi, sadar ...' ( Batin Lusi )


''Kenapa diam saja di situ, Lusi ...?'' Daniel memanggil dari dalam ruangan.


''Eu ... iya, aku masuk sekarang,'' jawab Lusi.


Dirinya pun menarik napas panjang lalu melepaskannya secara perlahan, mencoba menata kembali perasaan dan mengatur napasnya yang sempat tidak beraturan, setelah itu, baru dia mulai masuk ke dalam ruangan.


''Tumben hari ini kamu datang terlambat,'' tanya Lusi mencoba bersikap tenang.


''Kamu tau, pagi ini aku mendapatkan kabar bahagia, makannya aku datang terlambat,'' jawab Daniel tersenyum begitu lebarnya, membuat wajah tampannya semakin bersinar di mata Lusi.


''Kabar baik apa?''


''Istriku hamil, Lusi. Mika hamil, aku senang banget, rasanya seperti aku mendapatkan hadiah yang luar biasa, sampai-sampai kau lupa bahwa aku harus pergi bekerja, kalau saja aku tidak harus ngantor, mungkin saat ini aku sudah berada bersama istriku, menemaninya setiap saat, tapi sayang aku juga harus bekerja.''


''O ya ...? Selamat ya, aku senang sekali mendengarnya, akhirnya sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ayah,'' ucap Lusi.

__ADS_1


Entah mengapa, ada rasa sesak yang saat ini memenuhi dadanya. Ada apa ini? kenapa hatinya malah merasa kecewa? seharusnya dia senang mendapatkan kabar bahagia ini.


Lusi kembali menarik panjang lalu menghembuskan-nya secara perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia pun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan hatinya.


Apa karena dia masih memendam rasa kepada sepupunya tersebut? Akh ... Jangan sampai itu terjadi, dia tidak ingin merusak rumah tangga yang baru saja dijalani dengan bahagia oleh sepupunya tersebut.


''O iya, Daniel. Aku membawakan laporan keuangan dari perusahaan cabang kita di luar kota, dan sepertinya pemasukan di sana berkurang sebanyak 30%,'' Lusi menyarahkan berkas laporan yang tadi dia bawa.


''O ya ...? Coba sini aku lihat?''


Daniel membaca kembaran kertas yang di berikan oleh Lusi, dia membuka dan membacanya dengan seksama.


''Iya ... Kenapa pemasukan kita anjlok seperti ini, kalau sampai Daddy tau bisa gawat ini,'' ucap Daniel mengerutkan kening.


''Apa yang akan kita lakukan sekarang.''


''Entahlah, aku juga bingung ...''


Keheningan pun tercipta, sejenak. Keduanya saling diam seraya berfikir.


''Sepertinya, kita harus mengecek langsung ke sana, mencari sumber masalah lalu memperbaikinya sebelum Om Richard tau,'' ucap Lusi memberi solusi.


''Gak akan lama ko, palingan cuma tiga harian aja, lagian istrimu itu udah biasa tinggal sendiri 'kan?''


''Tapi tetap saja, aku gak tega meninggalkan dia sendiri seperti ini.''


''Gak ada pilihan lain, Daniel. Dari pada nanti Daddy kamu keburu tau, gimana? dan niat kamu untuk mengambil kembali perusahaan ini akan gagal total, apalagi kalau dewan Direksi sampai tau, bisa-bisa mereka gak akan percaya lagi sama kamu, susah Lo mendapatkan kepercayaan mereka,'' ucap Lusi masih mencoba membujuk.


''Hmm ... Gimana ya, nanti aku pikirkan lagi.''


''Gak usah kebanyakan mikir, pokoknya nanti malam kita berangkat, biar besok pagi kita bisa langsung turun ke lapangan untuk mengeceknya secara langsung, lebih cepat lebih baik, masalah juga cepat selesai, 'kan?'' Lusi tidak menyerah.


Daniel hanya terdiam, dia masih memikirkan keadaan istrinya yang sedang dalam keadaan hamil muda, tapi dia sama sekali tidak ada pilihan lain selain itu, dan kalau sampai Richard tau bahwa pemasukan bulan ini berkurang sebesar 30% bisa-bisa dia ditertawakan oleh Daddy nya tersebut.


''Baiklah, aku coba bilang dulu sama Mika, mudah-mudahan dia bisa mengerti,'' jawab Daniel akhirnya setuju.


''Oke ... kalau begitu aku keluar sekarang,'' Lusi berbalik dan hendak melangkah.

__ADS_1


''Tunggu, Lusi.''


''Ada apa lagi? apa kamu mau kita berangkat sekarang juga?''


''Nggak bukan itu. Tolong sembunyikan masalah ini dari Daddy, jangan sampai dia tau dulu sebelum kita mengetahui dan menyelesaikan masalah ini, oke ...?'' pinta Daniel.


''Oke, kamu tenang aja, aku gak akan bilang masalah ini sama Om Richard,'' jawab Lusi dengan tersenyum, lalu melanjutkan langkahnya dan keluar dari dalam ruangan.


🌹🌹


Sore hari.


Seharian ini, Mika menghabiskan waktunya dengan berbaring, dia tidak melakukan apapun karena tubuhnya terasa lemas, mulutnya pun masih saja mual hingga dia harus beberapa kali bolak-balik kamar mandi.


Dia pun merekatkan selimut tebal yang saat ini menutupi separuh tubuhnya, meringkuk sendirian mencoba untuk memejamkan mata, sampai pada akhirnya ponsel yang dia letakan sembarang di atas tempat tidur pun berdering.


Mika mengulurkan tangannya lalu meraih ponsel, menatap layarnya sejenak lalu mengangkat telepon.


📞 ''Halo, sayang.''


📞 ''Iya halo, sayang. Kamu lagi apa?''


📞 ''Lagi tiduran aja, tubuh aku rasanya lemas banget, sayang.'' jawab Mika dengan suara lemah.


📞 ''O ya ...? apa perlu kita pergi ke Dokter?''


📞 ''Gak usah, sayang. Aku dengar hal seperti memang sering terjadi pada ibu yang sedang hamil muda.''


📞 ''Oh begitu? O iya, sayang sebenarnya aku juga mau mengatakan sesuatu padamu, cabang perusahaan yang ada di luar kota sedang mengalami masalah, dan sepertinya aku harus segera mengecek ke sana dan memperbaiki masalah yang ada di sana? gimana menurut kamu?''.


📞 ''Sebenarnya si aku gak mau ditinggalkan, tapi karena ini urusan perusahaan yang harus segera di selesaikan, ya udah aku gak apa-apa di tinggal sendiri, atau nanti aku minta mamah buat nemenin aku di sini,'' jawab Mika merasa enggan sebenarnya.


📞 ''Makasih ya, sayang. Tapi nanti aku pulang dulu ko, malam baru kami berangkat.''


📞 ''Kami ...? bukannya kamu berangkat sendiri?'' Mika terkejut mendengar kata kami, karena itu berarti suaminya tidak berangkat sendiri.


📞 ''Iya, aku ke sana sama sekertaris aku, Lusi ...''

__ADS_1


Mika mematung seketika dan menutup telpon begitu saja.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2