
Dona mengerang keras, tangannya nampak meremas rambut pria tua yang saat ini masih berada di atas raga polosnya, kali ini sesuai dengan janjinya, pria itu benar-benar bermain halus, sukmanya di buat melayang hingga pelepasan berhasil dia dapatkan secara bersamaan.
Raga kekar Richard pun terkulai lemas di atas raga polos Dona, dengan roket yang masih menghujam dalam di bawah sana, deru napas keduanya masih terdengar saling bersautan, dengan peluh dan keringat yang membasahi raga keduanya.
''Cepat keluarkan senjata Om dari bawah sana, badan Om berat, tau ...'' bisik Dona masih meremas rambut Richard.
''Sebentar, rasanya hangat sekali berada di dalam sini, tunggu sampai milikku terlepas sendiri,'' jawab Richard.
''Ish ... Om ini, cepat angkat, perut aku sakit ...''
''Kamu ini, gak bisa menunggu sebentar lagi apa?'' jawab Richard, akhirnya mengangkat tubuhnya.
''Malam ini Om sungguh hebat, Om benar-benar bermain halus hingga aku gak bisa berkutik sedikitpun.''
''Benar 'kan? Kalau begini, seharusnya kamu yang bayar Om karena aku yang lebih memuaskan kamu,'' jawab Richard sedikit terkekeh, berbaring di samping Dona.
''Uang dari mana? untuk sehari-hari saja aku hanya mengandalkan pemberian dari Om,'' jawab Dona hendak bangkit, namun tangan Richard meraih pinggangnya dengan sedikit paksaan, sehingga raga polos itu kembali berbaring.
''Emangnya hanya Om saja yang pria kamu layani? dengan tubuhmu yang molek ini, pasti ada banyak pria yang ingin menikmatinya.''
''Nggak, selama ini memang hanya Om yang aku layani, aku sama sekali gak pernah melayani pria lain, uang yang Om berikan sudah cukup untuk menghidupi kebutuhan aku sendiri, aku gak mau serakah.''
''O ya ...? Aku pikir kamu sering melayani pelanggan lain juga,'' Richard mengangkat kepalanya, menatap wajah Dona.
''Nggak ... hanya Om satu-satunya pria yang menikmati tubuh aku ini, bahkan sejak pertama kali kita melakukan ini dulu, waktu Om mengambil kepera*anan aku, aku sama sekali tidak pernah sekalipun melayani pria hidung belang lainnya,'' jawab Dona.
Richard terdiam, dia mengingat kembali kejadian waktu itu, saat wanita yang menjadi pemuas nafsunya ini pertama kali melayani dirinya dengan malu-malu, dan dia juga yang membuka segel milik Dona kala itu.
Dia pun mengusap wajahnya secara kasar, lalu tersenyum dan membaringkan raga polosnya di samping Dona lalu meringkuk membelakangi wanita itu.
''Malam ini tidurlah di sini, besok pagi baru pulang,'' pinta Richard datar.
''Apa boleh ...?''
''Boleh, lagian malam-malam begini gak ada taksi yang melintas di sini.''
Dona tersenyum sumringah, dia memang lelah sekali dan juga mengantuk, akhirnya tidak menunggu lama keduanya pun tertidur dengan tubuh yang saling membelakangi.
🌹🌹
Pagi hari.
Dona mengedipkan matanya pelan, dia merasakan seperti ada sesuatu yang keluar masuk di bagian lembah curam yang memang masih di biarkan tidak memakai penutup sejak semalam, sesuatu yang lembut pun terasa berada di puncak gunungan kembar miliknya, menyesapnya perlahan membuat dirinya menggeliat merasakan kenik*atan.
Akhirnya dia pun memaksakan menarik kelopak mata yang masih terasa berat sebenarnya, hingga matanya terbuka sempurna dan terkejut seketika, saat melihat pria tua itu, kini berada di atas raganya dengan bibir yang menyesap tiada henti gunungan kembar miliknya secara bergantian seperti bayi yang kehausan.
''Om sedang apa?'' tanya Dona, menatap kepala Richard.
''Kamu sudah bangun rupanya,'' jawab pria tua itu sedikit terkekeh.
__ADS_1
''Om nakal, ya. Pagi-pagi udah main naik-naik aja.''
''Maaf, Om biasa tidur sendiri, dan pagi ini saat Om bangun dan melihat kamu masih ada di sini, membuat Om tidak tahan untuk tidak melakukannya.''
''Berarti bayarannya tambahin lagi, ya ...?'' pinta Dona meremas rambut Richard yang semakin buas menyesap puncak gunungan kembar miliknya itu dengan sesekali menggigitnya pelan.
''Iya, kamu tenang saja, nanti Om tambahin lagi, Om kasih bonus sekalian,'' jawab Richard melepaskan bibirnya dari pucuk berwarna pink itu lalu mengigit-nya.
''Akh ... pelan-pelan Om, rasanya geli sekali ...'' bisik Dona.
Richard tidak menghiraukan bisikan Dona, dia semakin buas kini, bahkan kepalanya turun mel*mat setiap jengkal raga polosnya membuat Dona menggeliat hingga suara des*han pun meluncur begitu saja dari bibir ranumnya.
Richard hendak turun lebih bawah lagi, menuju bukit lebat milik Dona, namun, wanita itu segera meraih kepala Richard dan menggelangkan kepala, dia tidak mau Richard menjelajahi bukit miliknya karena dia pasti tidak akan bisa menahannya.
''Kenapa ...?''
''Jangan, Om. Yang lainnya aja,'' jawab Dona dengan napas yang tersengal-sengal.
''Baiklah kalau itu yang kamu inginkan, kita langsung aja ke intinya,'' jawab Richard.
Kemudian, dirinya menuntun senjata tajam yang kini telah mengeras dan berdiri kokoh, mengarahkannya di lembah milik Dona lalu menghujamkan-nya pelan, membuat wanita itu mengerang merasakan kenik*atan, hingga suara de*ahan pun terdengar saling bersautan seiringan dengan senjata tajam yang dihujamkan dengan hentakan berirama.
''Akh ...! Om ... pelan-pelan, Om ...''
''Sebentar lagi, gak akan lama ko,'' jawab Richard menatap wajah Dona.
Richard menjatuhkan tubuhnya tepat di atas raga polos itu, membuat Dona memegangi perutnya reflek, ada rasa sesak yang kini terasa di dalam perut rampingnya.
''Cepat turun, Om. Perut aku sakit ...'' pinta Dona sedikit meringis.
''Ish ... Kamu ini, tadi mengerang kenik*atan, sekarang mengerang kesakitan,'' ucap Richard mengangkat raga polosnya.
''Entahlah, aku juga gak tau, akhir-akhir ini perut aku terasa kembung.'' Jawab Dona memegangi dan mengusap perutnya.
''Ya sudah, mungkin kamu cuma masuk angin, Om mandi dulu ya, setelah itu Om mau ke kantor. Kamu mau pulang sendiri atau Om antar?'' tanya Richard berdiri tanpa rasa malu sama sekali.
''Aku pulang sendiri aja, Om. Aku mau membeli sesuatu dulu ke supermarket.''
''Ya sudah, nanti uangnya Om transfer, ya ...''
''Ok ..."
Dona bangkit lalu meraih satu-persatu pakaian miliknya yang tergeletak di atas lantai. Sementara Richard, dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
''Tunggu, Om. Jangan lupa 5x lipat di tambah bonus,'' teriak Dona.
''Iya, nanti Om transfer selesai mandi, kamu pulang aja dulu,'' teriak Richard lalu menutup pintu kamar mandi.
🌹🌹
__ADS_1
Huek ...
Huek ...
Huek ...
Mika bangun dari tidurnya, mulutnya terasa mual hingga dia pun langsung berlari ke kamar mandi, dan memuntahkan seluruh isi perutnya hingga dadanya terasa sesak dan kepala Mika pun terasa pusing.
Daniel yang bangun lebih awal juga sudah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat ke kantor segera menghampiri sang istri di kamar mandi, dia mengusap punggung istrinya yang terlihat berjongkok di depan toilet.
Huek ...
Huek ...
Huek ...
Suara Mika semakin terdengar serak.
''Kamu kenapa sayang? apa kamu sakit?'' tanya Daniel cemas.
''Gak tahu, bangun tidur tiba-tiba mulut aku mual banget, apa aku masuk angin ya?'' jawab Mika bangkit dan keluar dari kamar mandi dengan di papah oleh suaminya.
''Duduk dulu di sini,'' pinta Daniel menarik kursi makan.
''Hmm ... Bau apa ini? Huek ...'' tanya Mika menutup hidung dan menatap sekeliling mencari sumber bau.
''Apa ...? gak bau apa-apa akh ...'' jawab Daniel menatap sekeliling.
Mika pun mendengus'kan hidungnya, lalu mengarahkannya ke tubuh Daniel yang terlihat sudah rapi memakai kemeja berwarna abu.
''Bau ini, parfum kamu bau banget sih, sayang. Huek ... cepat ganti baju kamu sekarang juga, Huek ...'' Mika dengan nada suara yang sedikit dinaikan.
''Aku masih memakai minyak wangi yang sama yang biasa aku pakai, sayang. Kamu kenapa si? gak biasa-biasanya kamu kayak gini?'' Daniel dengan wajah heran.
''Aku gak tau, kenapa tiba-tiba aku kayak gini, kemarin masih biasa aja. Udah pokoknya kamu ganti baju dulu, gak usah pakai minyak wangi segala,'' ucap Mika.
Daniel pun segera mengikuti keinginan istrinya, dia berjalan menuju kamar untuk berganti pakaian, dan Mika mengekor di belakang tubuh Daniel.
Selesai berganti pakaian, Daniel pun menghampiri sang istri yang kini telah berbaring di tempat tidur, meringkuk dengan mata yang di pejamkan.
''Sayang, apa bulan ini kamu sudah datang bulan?'' tanya Daniel duduk di tepi ranjang.
'''O iya, aku lupa. Bulan ini aku emang belum datang bulan,'' jawab Mika membuka mata seketika.
Keduanya pun saling melayangkan tatapan, Daniel terlihat tersenyum memandang wajah istrinya.
''Apa jangan-jangan kamu ha-mil.''
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1