Hasrat Terlarang Anak Tiri

Hasrat Terlarang Anak Tiri
Mabuk Berat


__ADS_3

Lagi-lagi Mika tertegun mendengar ucapan suaminya, terlihat tulus dan juga penuh dengan kasih sayang, apa karena dia pria tua dan sudah berpengalaman dalam mengambil hati seorang wanita? sehingga baru sehari saja menjadi istrinya, hati Mika sudah dibuat melayang oleh setiap ucapan dan sikap dari pria tua tersebut.


''Aku tidak tau harus berkata apa? dan aku juga belum bisa memberikan apa yang kamu inginkan, Mas. tapi, aku sungguh berterima kasih atas semua yang telah kamu berikan, aku akan mencoba sebisa mungkin untuk mencintaimu, meski tidak bisa sekarang, mudah-mudahan nanti, rasa itu bisa hadir di dalam hati aku,'' Mika menunduk merasa bersalah.


''Tidak apa-apa, sayang. Pelan-pelan saja, jangan terlalu terburu-buru, kita baru sehari menikah, dan seperti yang pernah Mas bilang, Mas punya waktu banyak untuk menunggu'mu, menunggu sampai kamu bisa memberikan hati dan cintamu seutuhnya, untuk Mas.''


Richard berjalan mendekati istri'nya, merapikan rambut sang istri yang sedikit tidak beraturan. Dia pun mengusap pipi putih sang istri yang masih terlihat basah dengan air mata.


''Sekarang kamu istirahat, kalau kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa menelpon salah satu pelayan menggunakan telpon itu, tiap nomor akan terhubung ke setiap lantai, kamu tinggal bicara dengan mereka, dan mereka akan langsung membawakan apapun yang kamu butuhkan,'' ucap Richard, menunjuk telpon rumah yang menempel di tembok.


''Baik, Mas aku mengerti.''


''Mas, mandi dulu ya?''


Mika menganggukkan kepalanya.


***


Malam hari.


Daniel terlihat sedang duduk di bar, di temani segelas whiskey dan diiringi alunan musik melow. Kepalanya sudah terlihat berat, dia menundukkan kepala di atas meja bar, dengan mata yang sedikit terpejam.


Meski keadaan dirinya sudah seperti itu, namun, dia pun kembali meneguk segelas whiskey yang masih berada di dalam genggamannya, meneguk'nya habis hanya dengan sekali tegukan, hingga tubuhnya benar-benar roboh di atas meja karena terlalu banyak minum.


Tidak lama kemudian, seorang wanita pun menghampiri pemuda tampan itu, dia menepuk pundak Daniel, lalu duduk di kursi yang berada tepat di samping kursi Daniel.


''Hei, sudah hentikan, kamu sudah terlalu banyak minum, Daniel.'' ucap wanita bernama Novia. Wanita itu merupakan salah satu wanita yang pernah di kencani oleh Daniel.


Daniel pun mencoba mengangkat kepalanya, menatap wajah Novia, yang seolah-olah terlihat seperti wajah Mika lalu mulai berbicara kepadanya.


''Mika, sayang. Kamu di sini? mari temani aku minum,'' Daniel memeluk tubuh Novia, yang dia kira adalah Mikaila.


''Apa-apaan sih, kamu mabuk, Daniel,'' Novia menyingkirkan tangan Daniel dengan sedikit kasar.


''Apa kamu menolak aku lagi, hah ...? Kamu sungguh tega sekali, Mika ...! Hiks hiks hiks ...'' Daniel menangis sesenggukan seperti anak kecil.


''Aku bukan Mika, aku Novia ...! Dasar gila ...'' Novia pun bangkit lalu berjalan menjauh meninggalkan Daniel sendirian.

__ADS_1


''Mika, sayang. Kamu mau kemana?''


Daniel pun ikut bangkit dan mencoba berdiri, namun, karena sedang dalam keadaan mabuk berat, tubuhnya pun ambruk dan tersungkur di atas lantai.


''Sayang ...! Kamu sungguh kejam dan tidak punya perasaan," ucapan terakhir Daniel, sebelum dia benar-benar hilang kesadaran.


Novia yang menyadari tubuh Daniel tergeletak begitu saja di atas lantai, segera menghampiri dan mencoba membangunkan pria itu.


''Dasar cowok, gila. Nyusahin aja si, harus di apa'in nih cowok, apa gue anterin aja ke rumahnya kali ya, tapi gue gak tau rumahnya dimana.'' Gumam gadis itu berbicara sendiri.


''Daniel, bangun. Jangan tidur di sini?'' Novi menggoyangkan tubuh Daniel.


Lalu diapun termenung sejenak dan mencoba berfikir, akhirnya dia pun memutuskan untuk merogoh saku celana pria tersebut dan mengambil ponsel milik Daniel. Setelah itu, dia pun menelpon nomor yang bertuliskan 'Mika sayang.'


**


Malam ini Mika masih berbaring di atas tempat tidur, dia masih terjaga karena belum terbiasa tidur di kamar yang begitu luas, dia pun menatap sang suami yang terlihat sedang membaca sebuah buku tebal, seraya duduk bersandar bantal di atas ranjang.


''Kenapa, sayang? Apa kamu tidak bisa tidur?'' tanya sang suami menoleh ke arah Mikaila.


''Apa kamu mau kita jalan-jalan keluar?''


''Gak usah mas, nanti juga aku tertidur dengan sendirinya.''


Tidak lama kemudian, ponsel Mika pun berdering, dia meraih ponsel tersebut dan terkejut seketika saat menatap layar ponsel yang bertuliskan nama Daniel, sedang menelpon dirinya.


'Ada apa lagi si, malam-malam begini dia nelpon?' (Batin Mika)


Tak ingin mengangkat, dia pun mengabaikan panggilan tersebut, dan membaliknya ponselnya agar nama orang yang menelpon tersebut tidak terlihat oleh suaminya.


''Kenapa gak di angkat?'' tanya sang suami.


''Gak apa-apa, mas. Telpon gak penting ko.''


''Angkat saja, gak apa-apa, siapa tahu itu penting. Kalau merasa tidak enak dengan Mas, kamu bisa berbicara di luar, agar Mas tidak bisa mendengar percakapan kamu.''


Setelah terdiam sejenak, Akhirnya Mika pun memutuskan untuk mengangkat telpon, namun dia turun terlebih dahulu dari atas ranjang dan berjalan keluar dari dalam kamar.

__ADS_1


📞 ''Halo, kamu mau apa lagi, Daniel? apa gak cukup tadi siang kamu bikin aku mati kutu?'' Mika tanpa mendengar suara di balik telpon.


📞 ''Halo, mbak. Maaf saya bukan Daniel.'' Terdengar suara Novia akhirnya.


📞 ''Kamu siapa?''


📞 ''Saya temannya Daniel, sekarang dia tidak sadarkan diri di Bar, sepertinya dia mabuk berat, mau saya antar pulang, tapi saya gak tau rumah dia dimana.''


📞 ''Apa? mabuk berat?'' Mika pun terkejut bukan kepalang.


📞 ''Iya, jadi gimana, bisakah anda menjemput dia ke sini?''


📞 ''Oke, kirimkan alamat Barnya, saya ke sana sekarang.''


Mika pun menutup telpon.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang? kenapa aku mengiyakan untuk menjemput dia ke sana? dasar bodoh.' ( Batin Mika.)


Tidak lama kemudian ponsel yang di pegang'nya pun kembali berbunyi, tanda sebuah pesan masuk, dia pun menekan layar dan membuka pesan tersebut, yang berisikan alamat Bar dimana Daniel berada.


Semakin pusing, akhirnya dia pun hanya bisa berjalan mondar-mandir dengan mengigit ujung kuku jempol'nya, merasa gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa.


Di satu sisi, dia merasa khawatir dengan anak tirinya tersebut, tapi, di sisi lain dia juga bingung harus bilang apa pada suaminya, apabila dia keluar malam-malam begini.


Selama 20 menit, dia pun terus melakukan hal sama, seraya berfikir, mencari alasan yang tepat agar dia bisa keluar untuk menjemput Daniel ke Bar.


Akhirnya, dia pun menemukan alasan yang tepat, entah suaminya itu akan mengizinkan dia keluar atau tidak, tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba, batin Mika Akhirnya.


Ceklek ...


Mika membuka pintu kamar dan berjalan pelan menghampiri suaminya yang masih berada di tempat yang sama, dan membaca buku yang sama, dengan kaca mata yang sedikit turun ke hidung'nya.


''Eu ...! Mas, aku mau minta izin keluar, boleh? tadi Tante aku telpon, katanya dia sakit, dan di rumahnya pun tidak siapa-siapa,'' ucap Mika sedikit terbata-bata.



🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹 🌹

__ADS_1


__ADS_2