I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Ke Pantai (Season 2)


__ADS_3

Fran kini tengah menunggu Calista. Tak henti-hentinya Fran memikirkan perkataan gadis itu tentang Rp.300.000/ jam. Fran kembali tertawa geli didalam hatinya. “Dia benar-benar cewek langkah.



“selamat malam tuan.. maaf saya sedikit terlambat.!” Ucap Calis dengan sopan.


“oh.. tidak masalah nona.!”


“emmmm.. kita sudah bisa jalan sekarang tuan. Saya sudah siap.” Calis.


“Ya ampun. Nih cewek kaku banget, ga ada basa-basinya.” Batin Fran.


Didalam mobil.


“Kita akan kemana ya?” Tanya Calista.


“jalan saja dulu. Sambil aku memikirkan hendak kemana.”


“apaaaaaa?” calis mulai kesal.


“kenapa kamu tiba-tiba terlihat kesal?”


Calista membuang napasnya kasar. “tentu saja saya merasa kesal. Maksud anda apa pake manggil saya kalau tidak ada tujuan?” nada Calista mulai kencang.


“oh maaf nona.. saya tidak bermaksud. Baiklah, kita ke pantai sekarang.”


“pantai? Malam-malam begini?” calis terlihat mengerutkan dahi. Merasa curiga pada pria ini.


“memangnya apa salahnya? Udah.. jalan aja. Jangan membuang-buang waktuku. 300ribu/jam kan?” ketusnya, diakhiri dengan senyuman jahil.


“Ciisss.. kau meledekku” ucap Calis.


“Kauuu? Kali ini sudah berbicara santai denganku?” Sinis Fran, Yang tak disangka mendapatkan senyuman cantik dari wajah Calista. Untuk beberapa saat, Fran terpaku memandangnya. “luar biasa ciptaan Tuhan.” Batinnya.


“jangan menatapku begitu. Aku tau aku ini----“


“Cant----.” Ucapan Fran terpotong oleh perkataan Calista.


“iya, aku sering mendengarnya. Aku cantik.” Sambung Calista cuek.


“luar biasa.... kau adalah gadis yang sangat langka.”


“hmmm? Langka? Apa kamu menganggapku flora atau fauna?”


“hahahahahaha..” fran terbahak meskipun tidak lucu.


\=\=\=\=\=\=


Ditempat lain.

__ADS_1


Arles sedang menyandarkan tubuhnya pada kursi empuk diruang kerjanya. Saat ini pikirannya terasa kacau. Ingatannya lagi-lagi tertuju pada seseorang yang bernama CALISTA. Ingatannya kembali pada aksinya menarik Calista kedalam pelukannya, melindungi gadis itu yang hampir saja celaka.


Arles juga ingat betapa ketakutannya gadis itu. Ingat akan pelukan dari kedua tangan Calis, yang kemudian ditepis oleh Arles dengan satu kaliamtnya yang begitu tajam. Tapi, bukannya semakin merasa senang, Arles malah merasa tersiksa oleh perasaannya sendiri.


“aku pasti sangat membencinya. Sehingga setiap tindakannya selalu terlihat salah dimataku.


\=\=\=\=\=\=


Tiba di pantai.


Fran dan Calis keluar dari mobil. Namun, tidak ada satupun yang memulai pembicaraan. Hingga 10 menit berlalu, Fran memulai pembicaraan.


“Ehmmm. Mari kita berkenalan. Siapa namamu?” tanya Fran.


Calis terlihat lagi-lagi mengerutkan alis. “bukankah di aplikasi ada nama saya?”


“maksudku.. rasanya kita harus berkenalan agar tidak canggung!” ucap Fran, sembari menggaruk kepalanya yang mungkin saja gatal.


“baiklah.. nama saya Calista Nara. Biasa dipanggil Calis atau Nara.!” Jelasnya.


“namaku Eko Franata. Hanya biasa dipanggil Fran. Tolong jangan panggil Eko. Aku tidak suka karena terdengar kampungan.” aucap Fran, asal.


“pffff!" Calista menahan tawa.


“tertawa saja. Jangan ditahan. Aku tidak akan marah.” Ucap Fran dengan nada mengomel.


“Maaf.. saya tidak sengaja tertawa tuan.” Calis masih menahan senyumannya.


‘baiklah.. Fran!”


“emmmm.. Calis, sebenarnya ada yang ingin ku tanyakan. Tolong jangan menilaiku aneh setelah ini.”


“hah? Apa itu? Tanya saja.” Cuek.


“apaa.... kau punya pacar?”


“ha??.... kenapa kau ingin tahu?” Calis menatap sinis Fran “tidak sopan” batinnya.


“aku hanya takut kalau ternyata aku sedang membawa pergi pacar seseorang.” Jelas Fran.


“apa menurutmu aku terlihat jomblo?” tanya Calis, santai. “Lagipula saat ini aku sedang bekerja. Bukan dibawa pergi seseorang. Aku yang membawamu pergi. Apa itu salah?”


“Oh.... jadi dia sudah punya pacar. Haaaah.. apa yang ku pikirkan? Mana ada cewek secantik dia menjomblo!” fran menertawai dirinya sendiri.


“jadi apa tujuanmu mengunjungi tempat ini dimalam seperti ini?” tanya Calis, mulai merasa akrab.


“aku hanya suka aja ke pantai saat malam” Fran.


“kebiasaan yang aneh.” Calis.

__ADS_1


“aku memiliki seorang mantan. Dia .. sangat suka dengan pantai saat malam hari.”


“Ooooo...” Calis membulatkan bebirnya.


“berarti masi sayang ya..” goda Calis.


“heheh.. mungkin saja.” Jawab Fran.


\=\=\=\=\=\=\=


Kembali kepada Arles (si tukang ngeselin hati readers)


Shift sore telah usai dan sekarang sudah pukul 22.00 malam, waktunya pulang. Arles pun bersiap untuk pulang. Arles kini melangkahkan kakinya untuk keluar dari Rumah Sakit tempatnya bekerja itu.


Cklek, salah satu pintu bangsal pasien terbuka, keluarlah seorang ibu-ibu, dengan raut wajah yang sangat lelah. Tanpa sengaja mata mereka bertabrakan.


“ibu? Kita bertemu lagi?” Ucap Arles, mengingat akan ibu-ibu yang pernah ia bantu beberapa hari yang lalu.


“Oh.. pak dokter.” Jawab Dini, seraya tersenyum.


“ada keluarga yang sakit bu?” tanya Arles ramah.


“iya nak dok. Suami saya.” Jawab Dini.


Arles pun mengetahui bahwa suami dari ibu-ibu ini adalah seorang pasien koma akibat kecelakaan hampir 5 tahun yang lalu. Keduanya pun berjalan bersama karena sama-sama mau keluar dari rumah sakit ini.


“ibu sendirian aja? Tidak ada keluarga yang lain?” tanya Arles lagi, karena merasa prihatin kepada Dini.


“ada putri saya dok. Tapi dia sedang bekerja saat ini.” Jawab Dini.


Tibalah mereka diluar rumah sakit itu.


“saya juga mau pulang bu, ayo saya antar.” Tawar Arles.


Dini menatap anak muda tampan yang baik hati ini dengan rasa kagum. Sebabnya, jarang sekali ada anak muda zaman sekarang yang mau meluangkan waktu mengantar seorang perempuan tua. Tak sengaja mata Dini tertuju pada nametag pria tampan dihadapannya ini. Disana tampak identitas RSUD serta foto diri pria itu yang terlihat sangat tampan. Namun, sesaat kemudian, Dini terdiam setelah membaca nama lengkap pria muda ini.


Disana Dini dapat membaca dengan sangat jelas bahwa nama pria ini adalah dr. Arles bla bla bla.


Arles merasa aneh karena ibu-ibu didepannya ini tidak menanggapi tawarannya untuk pulang bersama. Ia seraya mengikuti arah pandang ibu-ibu didepannya ini.


“Arrrlesss?” ucap Dini tanpa sadar, dengan tatapan aneh.


Arles yang mendengar namanya disebutkan, tersenyum tanpa dosa. “Ah benar.. ini nama saya bu.”. jelasnya pada Dini.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung😊😊😊


lanjut gaes😁😁😁😁


__ADS_2