
10 menit menunggu responnya, Calista tak kunjung membuka pintu.
"Tok tok tok... Nara sayang.. ini mama Gles! Nara, keluar dong dari kamar! Nara tenang saja, mama akan membawa pria jahat ini pulang dan memberi pelajaran padanya dirumah. Mama pastikan, dia akan menjadi pria baik setelah ini. Nara tetap sehat ya... mama masih memberi waktu bebas untuk Nara tidak masuk kerja dulu sampai suasana hati tenang. Nara jangan sedih terus ya!" Glesty bermaksud mencairkan suasana hati Calis. Namun, Glesty segera sadar bahwa kehadiran putranya inilah yang membuat gadis itu terus mengurung diri di kamar.
"Arles.. ayo pulang! ajak Glesty dengan nada tegas.
"No maa.. Arles mau tunggu dia keluar!"
"Arles, sadar diri nak. Kalau bukan karena kamu, dia tidak akan sudi berada dikamarnya seharian. Ayo.." Glesty menarik paksa tangan anaknya.
"Sudah jahatin Nara, dengan mudahnya kamu mau minta maaf?," sambungnya lagi. Sejujurnya, Gleaty sangat marah karena kebodohan putranya ini.
"Heran mama, kenapa kamu bisa jadi dokter kalau otakmu lemah begitu!" Gelsty terus mengatai Arles sepuasnya. Padahal, putranya itu jelas punya otak yang cerdas secara akademik maupun non akademik. Tapi, ternyata sangat tak bisa andalkan dalam urusan perasaan.
Kini keduanya dalam perjalanan pulang.
πππ
Di Restoran Nino.
Nino sedang mengecek beberapa laporan tentang keuangan restorannya untuk bulan ini.
Tok tok tok.
"Masuk!...."
"Hai.. selamat sore..."
"Kamu? Sedang apa kamu kesini?" Ketus.
"Emmmm.. itu.. anu... aku cuma itu,"
Nino tertawa geli melihat gadis di depannya ini salah tingkah. "Ada yang perlu saya bantu Lean?" tanya Nino.
"Emmmm.. hehe.. tidak.. aku, hanya mau membawakanmu ini." Lean menyerahkan rantang susun kepada Nino.
Nino membuka rantang-rantang tersebut.
"Apa kamu tidak salah? Aku ini adalah pemilik restoran ini dan direstoranku juga tersedia menu ini. Apa maksudmu?" Nino heran sama sikap sok akrab Lean, yang benar-benar membuat Nino menggeleng kepala tak habis pikir.
"apa dia sedang mengolokku?"
"Kau benar-benar tidak tahu basa-basi yah! Sudah jelas ini adalah restoran dan kau malah membawakanku makanan? Jika aku mau, aku bisa meminta koki membuatkannya.
"Emmm... maafkan aku Nino, aku sangat lancang." Lean berbalik, lalu pergi dari sana.
"Aku cuma mengatakan itu dan dia langsung pergi? Apa si polos itu tersinggung? ah.. baguslah kalau dia pergi. Dasar cewek sok akrab." gumam Nino.
π
Didalam mobil.
"Huffff.. sungguh.. kenapa aku merasa dia marah padaku?? Astaga... mungkin ini karena aku terbiasa mendengar Arles mengomel. Duuuh.. kenapa saat dia ngomel saja jantungku berdebar begini? Ternyata bukan mataku saja yang menyukainya. Tapi jantungku juga." Lean tersenyum sembari mengelus-eluskan dadanya sendiri.
"Nino!! Kau mungkin tidak melihatku sebagai wanita sekarang. Tapi kita lihat saja nanti, aku akan mendapatkan hatimu Nino. Oke, mari kita hitung, ini sudah berapa kali kami bertemu?" Lean mengambil ponselnya dan membuka Kalender disana. Gadis itu memberi tanda pada kalender pintarnya. "Ya... ini adalah pertemuan ketiga kami" Lean.
ππππ
__ADS_1
Dirumah kontrakan.
Tok tok tok..
Cklek.. Dini membuka pintu.
Calista? Sudah pasti sedang bersembunyi. Takutnya yang datang adalah Arles.
"Maaf tante! Saya ingin bertemu dengan Calista."
Calista keluar dari kamar karena mendengar suara seseorang itu.
"Lean? Ada apa kesini?"
Lean mendekat dan memeluk Calista.. Lean menangis..
"Kenapa Lean? Kenapa menangis?" Calista.
"Naraa.. maafin aku.. maafin aku Naraaa.."
"Kenapa harus minta maaf padaku? Kamu tidak bersalah apapun Lean.."
"Maaf karena aku..... adalah saudaranya Arles.."
"maaf karena aku punya saudara kembar, dan dia adalah orang yang telah menjahatimu Nara."
"Ya... tidak masalah. Ini bukan salahmu. Tidak perlu meminta maaf."
"Jadi.... kita tetap berteman seperti biasa kan Nara?"
"Nara, please... aku mohon jangan menyudahi pertemanan kita karena dia.. pria jahat itu tidak sama denganku.. yah?" Lean memohon.
"Kita lihat saja nanti Lean."
"Nara..." Lean mengambil kedua tangan sahabatnya itu. "Kamu,,, harus beri dia pelajaran. Aku yakin, dia akan mendatangimu setiap hari. Muncul didepanmu setiap hari untuk meminta maaf. Jangan mudah memaafkannya Nara.. buat dia menyesal sudah menyakitimu Nar.. ingat, aku... Lean. Mendukungmu. Kau boleh membencinya. Tapi jangan memutuskan pertemanan kita. Saat bersamamu, aku janji..... tidak akan menganggapnya saudara. Karena apa? Karena dia... telah menyakiti kamu, seseorang yang ku anggap seperti saudara. Jadi.... bencilah dia sesukamu." jelas Lean, panjang Lebar di sela-sela tangisnya.
Mama Dini hanya melihat dengan perasaan haru, dua gadis di depannya ini. "Glesty telah mendidik anak-anaknya dengan baik. Tapi, putranya itu memang kurang baik dalam hal perasaan" batin Dini.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya.. jangan lupa makan bikinan aku itu." Lean permisi untuk pulang.
Selepas kepergian Lean, Dini dan Calis mencicipi masakan yang tadi Lean bawa.
"Pinter juga ya si Lean memasak!" Dini memuji teman putrinya itu.
"Maaa.. anak orang kaya, asalkan mereka rajin, mereka akan bisa melakukan apapun. Lean itu koki ma.. selain koki dia juga seorang pelukis. Dia juga jago memainkan biola.
"Oh ya?..." mama terlihat kagum terhadap Lean.
"Disaat gadis sepertiku menghabiskan seluruh waktu untuk bekerja, Lean menggunakan waktunya untuk Les biola, kursus memasak, dan memperdalam seni lukisnya. Dia hanya perlu belajar dan belajar. Jadi, wajar saja dia mengagumkan." Nampak kekecewaan pada wajah Calis ketika menjelaskan itu semua.
Apakah Calista menyesal telah memilih berkorban demi keluarga? Tidak.
"Caliss.. apa kamu kecewa karena tidak menyelesaikan sekolah tinggi sayang?" Mama Dini.
"Tidak maa.. itu sudah jadi pilihan aku. Aku bersyukur, karena meskipun aku adalah anak perempuan, tapi aku telah bertanggung jawab penuh pada papa dan mama. Aku sangat bangga akan itu ma.. Pelajaran berharga yang aku petik dari semua ini adalah aku menjadi pribadi yang kuat. Mama juga bangga padaku kan?"
"Tentu saja sayang... mama sangat bangga padamu. Papa juga bangga padamu sayang."
__ADS_1
π
Tok tok tok..
Lagi-lagi pintu diketuk.
Mama membuka pintu.
"Selamat malam bu Dini!"
"Oh... ya pak, mau masuk?"
"Boleh saya masuk?"
"Silahkan pak!"
Waaah... keluarga ini luar biasa. Pagi hari hingga siang tadi, ibu dan anak itu. Sore harinya, Lean. Dan sekarang? Giliran Arland yang mengetuk pintu rumah kontrakan ini.
"Bapak? ada apa ya?" Calis muncul setelah memastikan yang datang bukanlah Arles, melainkan papa nya.
"Saya ingin berbicara dengan kalian berdua.. duduklah." malah Arland yang mempersilahkan mereka duduk.
"Pertama-tama, saya ingin berterima kasih pada kalian. Khususnya kamu Calis. Dulu, saat kecelakaan jatuh dari tangga, kamu telah menyelamatkan putra saya.. Arles. Saya tidak tahu bagaimana jadinya anak nakal itu jika dia benar-benar terjatuh sampai ke bawah waktu itu." Arland kembali mengingat peristiwa yang terekam kamera CCTV itu. Bahkan Videonya masih Arland simpan hingga sekarang. Jika dilihat dari rekaman itu, sudah jelas Arles akan menjadi korban terparah, atau bahkan bisa kehilangan nyawanya saat itu juga.
"Kalau tidak ada kamu, yang masih seorang gadis kecil waktu itu, saya pasti sudah lama kehilangan putra kebanggaan saya itu, bahkan sebelum kami mengetahui bahwa kami adalah ayah dan anak.
Calista dan Dini hanya diam mendengarkan.
Dan kedua, saya sudah mendengar cerita tentang awal mula pertemuan kamu dan Lean. Saya juga sangat berterima kasih karena kamu, telah menyelamatkan putri saya. Lagi-lagi, kamulah yang menjadi satu-satunya orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi penyelamat untuk anak saya." Arlan terlihat membuang nafasnya legah.
"Saya tidak tahu apa rencna Tuhan untuk semua ini, tapi, saya mau bilang, kamu adalah gadis yang hebat. Putraku lah yang sangat bodoh telah melukai orang baik sepertimu. Disini, saya mau meminta maaf, bukan mewakilinya. Tapi, dari hati saya sendiri, saya meminta maaf atas kebodohannya.
Arland berdiri dari duduknya. "Calista, jika suatu saat kamu akan memulai membuka hati untuk pria, cobalah melihat putra saya itu. Karena... saya dapat pastikan dia hanya akan menunggu kamu. Dia itu sama seperti saya, hanya menginginkan satu wanita. Saya tidak pernah menginginkan wanita lain selain mama Gles selama hidup saya. Demikian juga dengan Arles. Dia itu hanya mau kamu." Arland tersenyum.
Calis dan mama masih hanya diam. Benar-benar hanya mendengarkan.
"Satu lagi... jika kalian membutuhkan sesuatu atau apapun, tolong jangan sungkan-sungkan untuk memberitahu saya. Saya akan sangat bersedia. Ini kartu nama saya. Hubungi saya kapanpun. Kamu mengerti kan Calis?"
Calista hanya mengangguk paham serta menerima kartu nama Arland.
"Sebelum saya benar-benar keluar dari sini, saya mau berpesan, Calista.. kamu boleh menghukum bahkan membalas perlakuan buruk putraku itu sebanyak apapun yang kamu mau. Tapi, jangan lupa, saat sakit hatimu telah tuntas, datanglah padanya. Saya pastikan dia tidak akan merubah sedikitpun perasaannya padamu."
Arland pun pergi dari rumah itu, setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan.
.
.
Bersambungππππ
tengkyu gaes.. doakan supaya othor masih bisa up hari ini.
oia, "PERJODOHAN JANDA DUDA"
sama "FIRST LOVE AND MY SON"
sudah up ya gaesπ₯°π₯°
__ADS_1