I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Kurang Kerjaan (Season 2)


__ADS_3

Ting.


Pintu lift terbuka di lantai 20. Arles keluar dari sana untuk menuju ruang rapat sesuai perintah papa Arland. Sedangkan Calista, ia menuju ke lantai 30 dimana ruang Lean berada.


Setibanya diruangan Lean, Calis disambut hangat oleh Lean dan Glesty yang juga berada disana.


Nara terlihat berbeda hari ini. Bukan, bukan karena penampilannya yang berbeda, tapi raut wajahnya.


“Naraaa! Ada apa dengan wajah cantikmu ini sayang? Hmmm? Kemana senyuman cantik yang selalu menggetarkan hati seluruh pria tampan itu?” Glesty menangkup kedua pipi Calista. Perlahan tapi pasti, air mata Calis pun turun tanpa perintah. Gadis itu menangis.


“hei.. sayang kamu kenapa?” Glesty menuntun Calista untuk duduk di sofa. Lalu, memberi kode pada putrinya itu untuk mengambil air minum untuk Calista. Tentu saja Lean segera bergerak patuh.


Lean dan mama Gles berusaha menghibur Nara. Ibu dan anak ini benar-benar telah menganggap Nara seperti keluarga sendiri.


Nara yang selalu terlihat happy, senyum kepada siapa pun, saat ini benar-benar berbeda. Apa yang membuat gadis ini menangis? Siapa gerangan yang telah menyakiti perasaannya? Selama mengenal Nara, baru kali ini Glesty melihat air mata gadis ini. Glesty pun memeluk gadis itu.


***


Setelah selesai dengan drama melownya, Calista meminta maaf pada ibu dan anak itu karena telah bersikap membingungkan. Keduanya pun hanya memaklumi Nara. Glesty mengatakan bahwa disaat kita ingin menangis, kita harus menangis. Tidak perlu ditahan.


Kini, Lean mulai beraksi dengan beberapa pilihan dress yang telah disiapkan oleh designer ternama, untuknya. Ahhh. Princess Lean ma enak yak, secara putri tunggalnya papa Arland. Apapun tinggal pilih. Beda sama Calist yang kalo mau apa-apa mesti mikir dulu ampe sakit kepala, uda gitu mesti nabung menahun, syukur-syukur kalo duitnya terkumpul. hmmm.


"Nara... aku mau kamu pake ini saat pesta aku nanti." Lean menyerahkan sebuah paperbag kepada Calist.


"Apa ini?" Calist membuka paper bag tersebut tanpa mengeluarkan isinya.


"Tidak perlu Lean.. aku akan memakai pakaianku sendiri." Calist meletakkan paperbag itu kembali.


"Sayang bawa aja.. mama yakin kamu pasti cocok mengenakannya." ucap Glesty kepada Nara.


"Tidak usah tanteee. Nara tidak pantas mengenakan pakaian semahal ini." tolaknya halus.


"Naraaaa... pakaian apapun yang kita kenakan, orang tidak akan menanyakan berapa harganya sayang.. udah, kamu bawa saja dulu ya..." Glesty menyerahkan paperbag tersebut kembali ketangan Naraa. Karena merasa tidak enak, Nara mengambilnya, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.


\=\=\=\=\=


Kembali ke lift.


Arles telah selesai mengikuti meeting perusahaan bersama papa Arland. Kini, ia dan Arland memasuki lift.


"Boy.. papa ke lantai 30." Arland memberi kode agar putranya menekan tombol lift dengan angka yang ia maksud.

__ADS_1


Saat hendak menekan tombol 30, ingatan Arles kembali pada Calista. "Benar.. wanita itu menuju ke lantai 30 tadi. Mau apa dia kesana? Tunggu! Apa dia juga bekerja dikantor ini?" batin Arles.


"Ehmmm" Arland menyadarkan putranya yang sedang ngelamun. "Menekan tombol saja kau harus mikir dulu?" singgung Arland.


"oh.. maaf pa.." Arles jadi salah tingkah.


"Boy.. apa sudah dapat pacar?"


"Belum paaaa.." jawab Arles.


Arland terkekeh memikirkan sesuatu.


"Kenapa papa tertawa?"


"Karena kalian berdua sangat lucu. Kamu dan Lean, sudah diusia ini belum punya pacar!" Arland merasa heran akan kedua anaknya. Keduanya terbilang tampan dan cantik, tapi ternyata masih jomblo.


Ting!


Pintu lift terbuka.


Arland keluar. Tak lama, ia mengerut dahinya heran, karena putranya juga ikut keluar.


"Kenapa papa melihatku begitu?" Arles juga merasa heran dengan tatapan papa.


"Haah? Jadi papa ngusir aku? Aku tidak boleh lama-lama digedung ini?"


"Ehmmm.. bukan begitu.. papa kira kau akan terkena alergi jika lama-lama dikantor papa!" Ledek Arland kepada putranya. Arles hanya tertawa renyah, sembari celingak-celinguk seperti sedang mencari sesuatu.


"Aku curiga pada bocah ini." batin Arland.


"Boy, kau cari siapa?" tanya Arland. Arles pun menggaruk kepalanya yang terasa tiba-tiba gatal.


"Em... oh.. ah... anu pa, aku mau berkeliling saja. Mau menyapa karyawan papa." kilah Arles, membuat papa semakin merasa aneh.


"Tumben sekali kau seperti kurang kerjaan. Pergilah. Sekalian sampaikan pada mereka bahwa sebentar lagi papa akan pensiun dan kau akan jadi pemimpin mereka." Arland melenggang pergi dengan senyum tampannya, meninggalkan putranya itu yang melongok kearahnya tidak percaya atas perkataannya.


Benar sekali. Kata pensiun seolah menjadi ancaman bagi Arles. Meskipun terbilang handal dalam urusan bisnis, tapi Arles sama sekali belum tertarik untuk bekerja di perusahaan. Apalagi menggantikan posisi papa.


Arles benar-benar mengelilingi lantai 30 itu dengan tampang coolnya. Ternyata, pria itu hanya ingin memastikan apakah Calista Nara bekerja disana. Ingin rasanya Arles bertanya ke bagian HRD, tapi ia tidak berani lantaran takut jika papa tau bahwa dia mencari Calista dikantor ini.


Seperti yang ia rencanakan di awal bahwa dia ingin bermain-main dengan hidup Calista Nara, sampai wanita itu lupa bagaimana caranya tersenyum. Enak saja perempuan itu menebarkan senyuman palsunya pada semua orang, membuat banyak orang menyukainya, padahal kehidupannya saja tidak beres. Arles benar-benar muak bila memikirkannya.

__ADS_1


"Dimana jalang itu? Atau mungkinkah.......Aaah sudahlah!" Arles melenggang pergi.


"Ehhhmmm" Deheman seseorang mengagetkan Arles.


"Ngapain disini?" Tanya Lean.


"Lean.. kau ini mengagetkanku saja!" protesnya.


"Aku tanya.. ngapain disini? Perasaan ini bukan rumah sakit?" Ledek Lean, dengan melipat kedua tangan diatas perutnya.


"Memangnya kenapa? Aku hanya kebetulan habis selesai meeting sama papa!" Arles memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.


"Ruang meeting ada di lantai 20. Hayoo jujur aja.. cari gebetan yaaaa biar ada yang ngasih kado pas ulang tahun?" Lean menyenggol lengan Arles.


"Ssssssssssssss" Arles berdesis dan melirik tak suka kearah Lean.


Pltaaak.


"Awww.." Lean meringis karena mendapat jitakan di kepalanya.


"Makanya jangan asal ngomong."


"Arleees... dasar kau ini selalu memakai kekerasan. Awas aja ya.. aku laporin papa." kesal Lean.


Arles malah merangkul bahu Lean. "Dengar ya kunyuk kecil.. papa tidak akan mendukungmu lagi jika aku bilang aku mau gantikan posisinya. Kau mengerti? hmm? Jadi,, mulai saat ini kau jangan suka mengganggu ketentramanku lagi, terutama saat pagi hari dengan suara cempremgmu itu. Kau paham?" Lean mengangguk patuh. Arles mengelus kepala Lean. "Baguss" ucapnya lagi dan mengacak rambut kembarannya itu.


"Arles... bisa kau lepaskan aku? Rambutku bisa berantakan dan kau sangat berat." rengek Lean manja.


"Oh... baiklah.. aku pergi dulu." Arles kembali melenggang pergi.


Lean menatap punggung Arles yang menghilang dibalik pintu lift. Wanita itu menarik napasnya yang terasa berat. "Sayang sekali Nara tidak mau punya pacar karena kerumitan hidup yang dia jalani. Coba aja dia mau, akan kuberikan dia padamu Arles." batin Lean.


.


.


Bersambung😊🥰


trima kasih banyak gais.. masih membaca sampai di eps ini. kalian adalah semangatku dlm menghalu tiada henti🙃🙃


lanjut ya..

__ADS_1


nanti. hehe.


__ADS_2