
Maaf ya readers... thor baru sempat up nihππ
ππππππππππππππππ
Calista mengepalkan kedua tangannya, menahan sedih bercampur amarah. Karena, betapa egoisnya pria ini.
"Lepaasssskan!"
Arles hanya menggeleng.
"Lepaas"
Lagi-lagi Arles menggeleng.
Pria itu tidak ada keinginan sedikitpun untuk melepaskan tangannya yang memeluk Calista dari belakang.
"Kamu benar-benar egois.. kamu jahat!"
Degh...
Rasanya bagaikan di tusuk jarum. Arles tidak pernah menyangka akan mendengar kata-kata itu keluar dari bibir seorang Calista.
"Lepaaass" Calista menepis dengan kasar tangan Arles yang tetap saja memeluknya.
"Calis.. tunggu.. please."
"Jangan ikuti saya" Calista melangkah keluar dari rumah setelah mengganti pakaian dan mengambil tasnya.
"Calista tunggu.."
"Jangan pegang-pegang!" Kalau tetangga aku liat gimana? bikin malu aja deh."π
Tin tin tin...
Klakson mobil berbunyi.
"Nino??" Calis menghampiri mobil Nino. Nino lalu turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Calista..
"Calista tunggu dulu." Arles menggedor-gedor kaca mobil Nino. Nino terlihat mengerutkan kedua alisnya, merasa bingung, lalu masuk kedalam mobil tanpa memperdulikan pria tampan yang sedang berusaha memanggil-manggil nama Calista.
"Ayo jalan.." perintah Calis pada Nino. Pria itu hanya menurut.
πππππ
Tiba di restoran Nino.
Nino mengajak Calista segera masuk ke ruangannya. Calista duduk di sofa tunggal milik Nino tanpa banyak bicara. Gadis itu terlihat sedikit murung.
"Calista.."
"Henmmm"
"Sepertinya kau harus menjelaskan sesuatu padaku."
"Hah? misalnya?"
"Siapa pria tadi?? Tunggu!! Aku sempat melihat beberapa pria lain di ruang jenazah malam itu! Dan.. pria tadi, malam itu di acara ulang Tahun Lean, kau menampar pria yang tadi. Siapa dia?"
"Ehmmm.. benarkah kau ingin tahu?"
"Tentu saja aku harus tahu"
"ARLES. Dia Arles."
"Hah? Arleeesss? Jadi... itu diaa?"
"Hmmmm"
Mengetahui pria tadi ialah Arles, air muka Nino berubah seketika.
"Lalu, kenapa kau terihat membencinya? Bukankah dia adalah---
__ADS_1
"Dia hanya mentan aku."
"Iya aku tau.. tapi, kenapa dia mengejarmu lagi? Dia mungkin masih sangat menyukaimu."
"Aku tidak peduli. Sudahlah jangan bahas dia lagi. Aku kesini karena aku mau beristirahat dan menenangkan pikiran Nino."
"Oke oke.. silahkan, istirahatlah diruang pribadiku!"
Calista pun masuk ke ruang pribadi Nino.
"Ini masih terlalu pagi untuk beristirahat" batin Nino.
ππππ
"Sialan yah, tu cowok, beraninya bawa kabur Calista? Mana restorannya gak buka-buka lagi?" Arles meluapkan perasaan kesalnya dari dalam mobil.
"Tunggu!! Dia kan pria yang waktu itu? Apa dia memang pemilik restoran ini? Aaahh.. mau dia hanya pelayan atau pemilik restoran, terserah. Untuk apa aku peduli?"
ππππ
Franata.
"Apa aku hubungi saja si Calista ya? Kira-kira apa yang sedang dia lakukan? Apa dia sudah tidak bersedih??... aha... justru itulah aku harus menghiburnya.
Fran mengambil ponselnya lalu mencari nama kontak Calista.
Drrrrruut drrruuuut drrruuut
"Halooo." Calista menjawab.
"Halo cantiik... hei.. lagi apa?"
"Fran? ada apa?"
"Biasalah... aku membutuhkan jasamu."
"Oh ya? Kapan?.."
"Jam berapa?"
"menjelang malam sampai midnight lah!"
"Hmmmm.. boleh... ada yang mau omongin juga ke kamu! Mau kemana?"
"Apa itu Calis? kalau gitu kita ketemuan sekarang!"
"Yahhh.. kamu gak konsisten gitu ya?"
"Ah.. sorry Calis..! Oia, tar malam kita ke warung angker itu lagi ya Calis. Aku ketagihan nih,"
"Warung Nasi goreng.. enak aja bilang warung angker!"
"Hahahaha.. iya iya Calis.. warung Nasi Goreng!"
"Ya sudah Fran, sampai ketemu nanti malam ya.."
"Ehmmm.. kamu tidak melupakan sesuatu Calis?"
"Apa itu?"
"Biasanya kamu bahas tarif dulu sebelum ketemu aku."
"Hahahahaha" Calista tertawa.
"Syukurlah.. akhirnya kamu tertawa Calista!" Fran.
"Faran.. soal itu, kita bahas nanti malam ya.."
"Oke oke Calis...dahh"
πpanggilan pun berakhirπ
__ADS_1
Calista keluar dari ruang pribadi Nino, untuk bekerja.
"Ninoo.. shift malam nanti aku ganti dengan sekarang yah..."
"Kenapa memangnya Calis?"
"Aku ada janji nanti malam."
"Mau ketemu siapa?"
"Adaaa.. teman.."
"Okelah Calis... Lagipula kamu pekerja harian lepas.. bebas deh!"
"Oke deh boss Nino..." Calista memberi hormat sebelum berlalu dari hadapan Nino.
"Wah... ternyata sudah ramai pengunjung!" Calista cepat-cepat memakai seragamnya.
"Ya... Calista.. semangatlah lagi.. jangan memikirkan kesedihan terus!" Calis pun bekerja seperti biasanya, yaitu melayani meja pelanggan.
π
Calista fokus saja bekerja, menyibukkan diri berharap bisa melupakan kesedihannya sejenak. Memikirkan papa yang pergi, tanpa mengatakan sesuatu untuk terakhir kalinya, memang sangat menyedihkan bagi seorang Calista.
"Permisi.. ini pesanan anda mas!" Calista menata letak piring makanan ke meja orang tersebut."
Saat Calis hendak pergi, tiba-tiba tangan pria inu menahannya.
"Kamu lagi??? Apa yang kamu lakukan.? Lepas!"
"Calis please dengarkan aku dulu ya!"
Calista kini menatap tajam kearah Arles. "Lepaskan tanganku.. akuuu, jijik disentuh sama kamu"
Bagaikan terhipnotis, Arles mengendurkan eratan tangannya. Arles terlihat menelan kasar. "Ternyata rasanya sesakit ini mendengar dia bilang jijik padaku!" batin Arles. Ia segera mengusap air matanya yang baru saja keluar.
Calista pergi dari hadapan Arles.
"Tuhan.. maafkan aku! Tolong buat dia memaafkanku Tuhan.. Tuhan, aku hanya menginginkan dia!" Arles berdoa dalam hati. Bukannya memanjatkan doa syukur atas makanan yang ada didepannya, pria ini malah menyampaikan permohonan untuk mendapatkan Calista lagi.
Nino memperhatikan Arles dari tempatnya. "Kasihan juga pria tak berguna itu.. dia pasti sangat menyesal."
πππππ
Hari sudah mulai gelap. Waktunya Calista bersiap untuk bertemu dengan Fran. Pria itu sudah menunggu di depan restoran Nino.
Calis melangkah keluar dari restoran Nino. Melihat kemunculan Calista, Fran keluar dari mobilntnya.
"Fran?... ngapain dia disini?"
Owh... ternyara Arles masih berada di dalam mobilnya yang terparkir manis di depan restoran milik Nino itu.
"Calista? kenapa mereka harus bertemu?" Arles seketika merasa kesal dan turun dari mobilnya.
Fran melempar kunci mobilnya dan ditangkap oleh Calista.
"Fraaan!"
"Arlees?" Fran melirik Calista sekilas, namun gadis itu dengan cueknya masuk kedalam mobil.
Dasar keras kepala.. ngapain dia sepanjang hari berada disini? Apa gak capek tu orang?" kesal Calista dalam hati.
"Mau kamu bawa kemana Calista?" tanya Arles, jutek.
"Ini urusan antar kami bro.. kau tidak perlu ikut campur..
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Tengkyu gaesss.. Lanjut.π€