I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Adikku Belum bisa berbicara Paman


__ADS_3

Leon, Lea, Arles dan Lean memasuki sebuah mall sebagai salah satu pusat perbelanjaan paling banyak dikunjungi di kota ini.


Arles dan Lean tampak sangat bersemangat.


"Nah.. kalian berdua boleh belanja apapun sekarang. Ucap Lea, yang diangguki oleh Leon.


"Baiklah onty, uncle, terima kasih banyak ya..


"Tidak perlu berterima kasih sayang.. Lea tersenyum lalu mengusap rambut kedua bocah manis itu.


"Lean.. disitu ada banyak mainan. Ayo kita kesitu! Seru Leon.


Di ambilnya tangan kecil Lean agar ikut menuju ke arah yg dia maksud.


Mereka berdua kini masuk di salah satu tempat yang berisi banyak sekali mainan anak-anak, dan memang hanya menjual berbagai jenis mainan anak perempuan dan laki-laki.


Terlihat beberapa anak-anak dan orang dewasa yang sedang melihat-lihat.


"Kak Leon, aku akan menjawab telpon dulu, awasi saja mereka dari sini. tidak perlu masuk jika malas. Ucap Lea.


"Hmmmm. Jawabnya singkat.


Leon mengintip kearah dua bocah itu.


"Mereka pasti aman-aman saja. Aku yakin kedua anak itu tidak nakal. Batinnya.


Memang benar, kedua bocah itu sedang asik melihat-lihat mainan mana yang hendak mereka pilih.


\=\=\=\=


Arlan menyelesaikan pembayaran dari semua oleh-oleh yang akan dibawanya saat bertemu Aurel nanti.


Saking banyaknya belanjaan, dan tadi ia tidak mengajak sekertaris Anton atau supirnya untuk menemani belanja, Arland terpaksa meminta tolong beberapa orang untuk membawa belanjaannya tersebut, dan ia sendiri yang membawa sebagian. Sebelum melangkah, Arland melirik belanjaannya, dan terbayang sudah kegembiraan keponakannya.


"Princess Aurel pasti akan sangat senang, Batinnya.


Ia kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar dari tempat itu.


Dan tiba-tiba.....


"PAPAAA"


Jleb. Arland seketika menghentikan langkahnya.


"Apa aku barusan mendengar suaranya? Batin Arland.


Iapun mencoba mencari dari mana asal suara itu.


Ia melihat ada beberapa orang bersama dengan anak-anak mereka.


"Apa aku sedang berhalusinasi?


"Tapi suara itu.. suara gadis kecil itu. Sama.


Arland sangat tertarik dengan suara itu.. Ia sangat ingat suara gadis kecil dalam mimpinya itu.


"Ah... mana mungkin anak yang ada dalam mimpiku itu nyata..


Saat akan kembali melanjutkan langkahnya, tapi baru tiga langkah, Arland merasa seperti ada yang menahan langkah kakinya.


Dengan perlahan, Arlan menoleh kebawah, betapa terkejutnya ia melihat seorang gadis kecil tengah memegang erat kemejanya.


"Ga...di...s ke..ke..cil? Batinnya.


Karena postur tubuh Arland yang tinggi, gadis kecil ini hanya setinggi bawah pinggangnya.


Arlandpun berjongkok perlahan, dengan banyaknya pertanyaan memenuhi isi kepalanya saat ini.


"Apa ini dia?


"Dari mana datangnya anak ini?

__ADS_1


"Apa dia yang memanggilku Papa barusan?


Batin Arland.


"Hey.. si... siapa ini?


Gadis kecil itu hanya tersenyum, tanpa menjawab.


"Ap.. apa.. tadi kau... memanggilku?


Lagi-lagi gadis kecil itu hanya tersenyum.


"Apa... kau.. mengenaliku? Tanya Arland sambil menunjuk dirinya sendiri.


Ekspresi Gadis kecil itu masih sama, bahkan kini wajah imutnya begitu berseri. Matanya berbinar, seakan telah menemukan sesuatu yang sangat berharga.


"Hey cantik.. kenapa tidak menjawab?


Arland memberanikan diri membelai pelan rambut gadis kecil itu.


"Lean..


Suara seorang anak laki-laki yang tubuhnya terlihat lebih besar, menghampiri gadis kecil itu.


"Jadi namanya Lean?


"Nama yang sangat manis.


Batin Arland.


"Dan siapa ini anak laki-laki ini?


"Ke..kenapa aku merasa wajahnya tidak asing?


Arland menatap kedua bocah dideoannya itu bergantian.


Arles memperhatikan Arland dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.


"E... i.. iya.. jawab Arland sedikit terbatah.


" Apa dia nakal paman? Tanya Arles lagi.


Arland hanya menggeleng singkat sebagai jawaban.


Arles kembali menatap Lean, ia merasa sedikit bingung karena melihat ekspresi Lean yang masih betah menatap Arland, dengan mata yang sangat berbinar.


"Tunggu!.. Apa ini? Arles mengambil tas kecil yang disembunyikan Lean di balik tubuhnya dengan kedua tangan.


Lean pun tersadar dari lamunannya karena merasa ada sesuatu yang diambil darinya.


Arland pun juga hanya bisa memperhatikan kedua bocah yang terbilang sangat menggemaskan ini.


"Dimana kamu mendapatkan ini? Tanya Arles.


Lean menunjuk ke arah pria dewasa yang ada dihadapan mereka.


Lean nampak mengambil tas kecil itu lagi dari tangan Arles, lalu dengan perlahan ia memajukan langkahya dan menyerahkan tas kecil tersebut kepada Arland.


Arland pun menerimanya, dan melihat isinya, yang ternyata adalah salah satu boneka yg tadi ia beli untuk keponakannya.


"Kenapa boneka ini ada padamu? Tanya Arland pada Lean.


Lean hanya menunjuk ke lantai yang tadi sempat dilalui oleh Arlan.


"Apa mungkin bocah ini bisu? Batinnya.


"Maaf paman, adikku belum bisa berbicara. Sahut Arles.


"Ah.. jadi benar gadis imut ini bisu! Batinnya lagi.


"Tapi dia tidak bisu paman. Kata dokter, Lean akan bisa bicara nanti.

__ADS_1


Leon menjelaskan seolah tahu apa yang dipikirkan Arland.


"Wah.. kau sangat pintar.. Siapa namamu? tanya Arland.


"Aku memang sangat pintar paman. Aku adalah juara ditingkatku.


Namaku.... Arles.


"Wah.. hebat... Arles? Nama yang keren. Ucapnya.


"Terima kasih atas pujiannya paman. Ucap Arles...


Arland tersenyum, namun dalam hatinya bertanya. "Seandainya wanita itu masih disisiku, pasti kami akan memiliki abak-anak lucu seperti ini. Batinnya.


"Oh ya.. gadis kecil, ini.... untukmu saja boneka ini, ucap Arland kepada Lean.


Lean hanya menggeleng.


"Paman, tidak perlu memberinya. Untuk putri paman saja. ucap Arles.


Arland pun mengangguk.


\=\=\=\=\=\=


Dari tempat yang tidak jauh, ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan ketiganya.


"Bagaimana ini kak... kenapa orang itu bisa ada disini dari semua tempat? Ucap Lea.


"Bagaimanapun, darah lebih kental daripada air Lea.. ini namanya ikatan batin.


"Apa maksudmu kak. Kalimat itu tidak nyambung dengan situasi ini. Ucap Lea.


"Tapi kenapa mereka ngobrol lama sekali? Sambungnya lagi.


\=\=\=\=


DITEMPAT LAIN.


Sore harinya.


Terlihat seorang wanita yang baru membuka matanya dengan sebuah kertas ditangannya yang masih dipegangnya. Tidak lain, wanita itu adalah Glesty...


"Jadi.. tadi aku tertidur? gumamnya.


"Tidak kusangka, bisa menangis sampai tertidur begini. Batinnya.


Karena tadi sudah menangis cukup lama, Glesty kini merasa legah..


Ia kembali menatap lukisan itu lagi.


"Putriku sangat kasihan.


"Ternyata kau merindukan papamu?


"Apa aku kurang mampu menjadi ibu sekaligus ayah selama ini?


Glesty kembali mengingat tentang Arland.


"Aku tidak menyangka pernah menikah dengan seseorang yang hanya bersandiwara.


Apa aku begitu bodoh baginya?


"Apa yang membuatmu menutupi status sosialmu? Apa karena aku hanya wanita miskin yatim piatu?


Kau takut aku minder berada disampingmu?


Atau kau.... takut aku akan menjadi serakah dan akan menguasai hartamu?


"Mungkin bagimu aku hanya lelucon. Tapi bagiku, kau adalah suami tercinta.. Dulu... tujuh tahun yang lalu... sekarang, entah krmana rasa itu pergi.


"Aku rasanya hanya ingin mengamuk saat mengingatmu*. Batin Glesty.

__ADS_1


__ADS_2