I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Restauran Nino (Season 2)


__ADS_3

Sahabat Calista Nara, yaitu Elnino, menyambut kedatangan Calis bersama kedua temannya.


"Lena, Fina, ini dia teman aku, pemilik dari Retoran ini." Calis memperkenalkan Nino kepada dua temannya itu. Ketiganya pun saling berjabat tangan. Restoran mewah ini adalah hasil jerih payah Nino sendiri dan banyak dibantu oleh Calis tentunya.


Nino adalah seorang pria tampan, yang telah menyukai Calista sedari masih bocah. Akan tetapi, Nino belum pernah menyatakan perasaannya pada Calis. Calista pun, hanya menganggap Nino sebagai sahabatnya, tidak lebih.


"Lena, Fina, kalian duduk manis saja disini, aku akan bantu menyiapkan makan malam kita bersama koki handal oke?"


Lena Fina mengangguk patuh. "Dasar bocah ini, pake gaya mau traktir, taunya dia yang akan memasak? Cari diskonan kali yak?" Kedua teman Calis tertawa seta menggeleng-geleng kepala menatap punggung Calis yang semakin menjauh menuju dapur restauran tersebut.


Bagi Leni dan Fina, Calis sudah seperti adik sendiri, karena pertama: Usia Calis lebih muda setahun, kedua: gadis itu adalah karyawati terbaru dalam 3 tahun terakhir yang masuk dan bekerja di toko tas terlaris itu.


Calis memang lebih muda dari keduanya, namun postur tubuhnya yang tinggi semampai membuat gadis itu dengan tidak sopannya memanggil Lena dan Fina dengan name tag mereka saja, tanpa embel-embel kakak atau semacamnya. Akan tetapi, itu tidak mengurangi rasa suka mereka pada Calis, yang selalu memancarkan aura positif dari dirinya setiap hari.


Sepanjang kebersamaan mereka dengan Calis, tidak pernah sekalipun keduanya mendengar keluhan dari gadis itu. Bahkan saat demam saja, Calis akan tetap masuk kerja.


Calis akan selalu menebar senyuman kepada semua orang. Entah itu ke sesama karyawan/karyawati sampai ke semua pengunjung yang datang atau hanya kebetulan melewati tokonya saja. Maka tidak heran jika seluruh karyawan mall terbesar itu menjulukinya dengan nama "Nara Ratu Pesona."


***


Weekend ini restauran Nino tampak ramai. Muda-mudi memang menyukai restauran satu ini.


***

__ADS_1


"Hai..." ucap seorang wanita yang menghampiri Arles. Ya, Arles memang datang lebih awal dari wanita itu.


"Oh, jadi kamu lagi Kirana?" Dan disambut senyum menggoda wanita itu.


"Heran... Kirana selalu punya cara untuk dekatin aku. Bahkan sekarang dia melibatkan papa?" Batin. "Aku pikir siapa. Ternyata kamu lagi."


Kirana hanya tersenyum menutupi kekesalan dihtinya. "Sampai kapan pria ini akan menolakku? Aku heran, apa dia tidak tertarik pada wanita selain Calista? Tapi merekakan sudah lama putus?" Batin Calis.


Ya.. seluruh kampus tahu bahwa Arles telah mencampakkan Calista setelah foto Calista sebagai wanita penghibur tersebar dilingkungan kampus kala itu.


Dari arah berlawanan dari tempat duduknya, Kirana melihat seorang wanita yang sangat dikenalnya berjalan dengan membawa nampan berisi beberapa porsi makanan, tidak lupa juga senyum manis yang tersungging dari bibirnya. "Calista? Jadi perempuan sialan itu bekerja disini? Gawat. Gimana kalau Arles melihatnya? Aku harus bawa Arles segera dari sini.


Arles, ayo kita pindah ke restauran lain. Disini terlalu berisik. Kirana lalu dengan cepat ke sisi Arles, sebisa mungkin melindungi pria itu agar Calista tidak melihatnya. "Ayolah Arles, kita pergi." Kirana memegang pundak Arles.


"Apaan sih pegang-pegang, tolong jangan sok akrab." Kesal Arles. Aneh banget sih ni cewek.? Batin.


Dari yang Kirana lihat, Arles tengah menatap terkejut pada Calis. "Sial" umpatnya dalam hati.


"Boleh, saya ingin memesan minuman beralkohol yang paling mahal yang ada direstauran ini."


Degh...


"Suara itu?" Calis mengarahkan pandangannya pada sumber suara. "Arles?" Calis segera menetralkan rasa canggungnya dengan berdehem.

__ADS_1


"Maaf tuan, menu yang anda sebutkan tidak dijual disini." Calis mencoba untuk tetap terlihat profesional.


Kirana mulai menyadari bahwa antara Arles dan Calis benar-benar sudah tidak ada kata saling memiliki lagi. Dapat dilihat dari cara mereka menatap. Calis terlihat acuh, sedangkan Arles hanya memancarkan aura permusuhan.


"Tapi saya menginginkan minuman itu nona, apa anda tidak bisa menyediakannya? Bukankah itu salah satu keahlian anda?" ucap Arles dengan tatapan menghina.


Calis kembali tersenyum, seolah perkataan Arles hanya angin lewat. "Tuan, nona, silahkan nikmati kencan anda dengan makan malam ini. Permisi!"


Calista pun berlalu dengan segera. Dia sengaja menyelipkan kata kencan pada kalimtnya, karena melihat dua tangan Kirana dengan setia bertengger di pundak Arles.


Disinilah Calista sekarang, masuk ke toilet restauran itu dan berdiri menatap pantulan dirinya yang ada di dalam cermin Wastafel. "Kenapa lelaki itu bahkan sempat-sempatnya menghinaku dihadapan kekasihnya? Tunggu.. jadi.... wanita itu sudah berhasil mendapatkan hati Arles?" Bibir Calista hanya mampu tersenyum kecut.


Calista bertanya-tanya kenapa perasaannya terasa sakit. Apakah karena penghinaan Arles? Atau karena melihat Kirana menyentuh Arles dengan sangat manja.


"Calisss... bangun... apa yang kau pikirkan? Hidupmu tidaklah seindah drama Korea, tapi seberat drama Thailand Calis." Batinnya.


********


Waktu menunjukkan hampir tengah malam. Calis akan bersiap pulang. Nino berusaha ingin mengantar Calis, namun ditolak oleh wanita itu. Ia tetap ngotot akan naik gojek.


Diluar restauran, Arles masih setia didalam mobilnya. Lelaki itu sepertinya ingin menunggu Calista pulang dari bekerja. "Gila. kenapa wanita ini bekerja disana dan disini? Apa dia segila itu pada uang?." Gumam Arles.


Tak lama Calista muncul dengan senyuman. Sepertinya gadis itu sedang menunggu seseorang. Tak lama muncul seorang laki-laki mengendarai motor dengan mengenakan jaket hijau. Dengan sopan laki-laki itu membantu Calis mengenakan helm.

__ADS_1


"Cih... bahkan dengan tukang ojek pun dia bersikap manja. Dasar wanita murahan!" Gumam Arles.


Arles-Arles.. sakit lu ye😈!(author😜)


__ADS_2