
Pagi hari ini sangat cerah. Membuat siapa saja bersemangat untuk beraktivitas.
Devan dan Lea dalam perjalanan menuju perusahaan. Devan sengaja menjemput Lea karena akan ada pemotretan produk baru hari ini. Hanya ada keheningan diatara keduanya. Mungkin saja mereka merasa canggung atas apa yang hampir saja terjadi pada malam minggu yang lalu, Lea memecah keheningan "Van, apa benar tuan Arland adalah seorang duda?" Pertanyaan itu membuat Devan mengerutkan keningnya "kata siapa? Alin, tolong jangan pernah menyinggung hal seperti itu. Presdir tidak akan suka kehidupan pribadinya dibicarakan" tegas Devan.
Lea pun tidak mau kalah ia ikut mengerutkan alisnya "aku hanya mendengar rumor" jawabnya bohong. "Kenapa kau ngegas?" gumamnya, namun masih terdengar di telinga Devan.
Menyadari pacarnya tengah mengomel "kak Arland memang pernah menikah. Pernikahannya itu diam - diam. Dan menurut keluarga kami itu tidak sah. Lalu mereka berpisah. Tapi syukurnya, hal itu tidak berdampak buruk pada kak Arland. Juga tidak menghebohkan seluruh negara ini. Perpisahan adalah hal yang biasa saja belakangan ini. Apa kau puas mendengar penjelasanku ini tentang presdir kita?" Devan memalingkan wajahnya ke arah Lea dan menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Kau terkejut?" Devan menyadari ekspresi wajah Lea yang nampak aneh.
"Apa katanya? itu hal biasa? Karena tidak menghebohkan? Baiklah, sepertinya aku perlu menciptakan kehebohan dikeluargamu yang terhormat! Hah, keluarga ini benar-benar gila. Tidak punya hati" Batin Lea.
Devan tidak sadar bahwa, saat ini Lea benar - benar mengutuki pernyataan konyolnya barusan.
"Kau benar kak Leon, aku harus ingat bahwa kak Glesty telah disakiti oleh keluarga ini!" geramnya dalam hati.
\=\=\=\=\=\=
"Masuklah Lean. Aku akan melihatmu masuk ke kelas baru aku akan ke sekolahku. Sana,, masuklah" Arles mendorong pelan tubuh Lean. Gadis imut itu pun melangkah dan melambai - lambaikan tangannya ke arah Arles.
Melihat tubuh kecil itu sudah menghilang, Arles bukannya melakukan seperti yang telah dia katakan, tetapi ia malah berjalan di lorong sekolah tersebut dan kini ia berada di depan pintu ruang kepala sekolah. Ia mengangkat tangan ingin mengetuk pintu namun ia ragu dan menghentikan tangannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Nyonya besar, yang adalah mama Arland menjelaskan keinginannya untuk berdonasi di beberapa sekolah, selain dari Yayasan yang ada dibawah naungan Grup XX milik keluarga Adi Wijaya.
"Ma, terserah mama mau donasi berapapun. Tolong jangan minta pendapatku." Jawabnya, karena dari tadi mamanya terus saja meminta pendapatnya. Disinilah mereka sekarang, di depan sebuah Sekolah Luar Biasa yang juga berdiri dibawah naungan nama besar keluarga itu.
Arland tiba - tiba mendapat panggilan melalui ponselnya. Lalu meminta sang mama untuk masuk terlebih dahulu.
Dari jauh, nyonya besar memperhatikan seorang anak laki - laki berseragam sekolah lengkap, sedang berdiri di depan ruang kepala sekolah dengan menundukkan kepalanya dan kakinya yang memakai sepatu ia gesek-gesekkan di lantai. Tampak disekeliling anak itu tidak ada satu anakpun, karena pada pukul sebegini semua murid telah berada dikelas untuk belajar.
"Kemana gurunya? membiarkan anak ini sendirian disini? kenapa tidak dicari?" batinnya. Ia pun berjalan mendekati anak itu, karena hendak menemui kepala sekolah. "Hei ganteng?" dari reaksinya anak itu tampak terkejut, namun bocah itu hanya menggerakkan sedikit kepala dan menyadari adanya orang lain disekatnya saat ini. Ia menjadi semakin gugup, karena memang tidak seharusnya ia berada di sini saat ini.
Lalu mama Arland berlutut, merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan anak laki - laki itu. Dengan perlahan, menyentuh dagu bocah tersebut dengan ujung jarinya, untuk melihat wajah anak laki - laki itu. "Hey ganteng,," anak itu perlahan mengangkat wajahnya dengan takut - takut. Tepat saat mereka berhadapan tiba - tiba.....
"Wajah ini?" ia menatap lekat anak itu dengan wajah terkejutnya, ia sendiri dapat merasakan getaran tubuhnya. "Ar..laan?" batinnya.
Arles yang ditatap dengan ekspresi itu, merasa bingung dan juga takut. "Halo nyonya" ucapnya sopan.
Mama Arland tidak mengindahkan sapaan Arles. Tubuhnya seakan ingin memeluk anak itu. Dengan tangan bergetar, ia menyentuh lengan Arles. Air matanya pun mulai terjatuh. Ia menatap wajah anak itu sorot matanya juga menyapu dari kepala sampai ke kaki Arles.
__ADS_1
Hidungnya, matanya, mulutnya, rambutnya, warna kulitnya, semuanya persis seperti putranya, Arland. Beginilah wujud Arland saat seusia ini.
"Apa anak ini cucuku? batinnya dengan airmata yang terus saja mengalir.
"Glesty,,, dimana kamu? Apa,, kamu yang melahirkan anak ini? Batinnya lagi.
"Nyonya,,, ke..na...pa? Arles memberanikan diri untuk bertanya. Mama Arland hanya mampu manggelengkan kepala, seraya menghapus airmatanya dengan kedua tangannya.
"Sayang... siapa na,,ma,, mama ka,,mu?" tanyanya hati - hati.
Saat Arles ingin menjawab, pintu ruang kepala sekolah terbuka, bersamaan dengan suara seseorang yang memanggil "Arles?"
"Pamaaan" wajah Arles berubah sumringah ketika melihat siapa yang tadi memanggilnya.
Paman datang menemuiku? Tanyanya polos.
Nyonya besar itu tanpa sadar menutup mulutnya sendiri dengan satu tangan, lalu menghapus sisa - sisa airmatanya agar Arland tidak menyadari bahwa ia barusan telah menangis. Tanpa membalikkan tubuhnya, ia tahu bahwa orang yang memanggil Arles barusan ialan Arland. "Jadi Arland mengenal anak ini?" Batinnya.
**BERSAMBUNG..
__ADS_1
CIEH yang kira emosinya marah. hehehe**
Oke, sepertinya Glesty dengan Arland bakal segera bertemu. Gaes, makasih sudah membaca ya🙏