
Malam ini, sesuai dengan kesepakatan Fran dan Calista, kini Calis sudah tiba ditempat Fran sedang menunggunya.
"Selamat malam." Sapa Calista.
"Calis, kau sudah datang. Silahkan." Fran langsung masuk ke dalam mobilnya.
Calista pun ikut ke dalam mobil mengambil posisi dibelakang kemudi.
"Sekarang, katakanlah kemana kita akan pergi?"
"Emmmm aku ingin mengadakan kesepakatan denganmu."
"Kesepakatan apa?"
"Sudahlah.. cari tempat dulu Calista.."
"Iya.. dimana tempatnya?"
"Cari tempat makan yang enak. Terserah kamu mau dimana." Fran.
"Yakin terserah aku?" Calist.
"Hmmmmm" Fran.
Mobil Fran yang dikendarai oleh Calis berhenti tepat di dekat sebuah warung nasi goreng pinggir jalan, yang hanya beratapkan terpal.
Fran merasa sangat asing singgah ditempat ini. Pria itu terlihat menoleh kesegala arah, seperti sedang mencari-cari.
Tidak ada lampu jalan, gelap dan sepi.
Tok tok tok. Fran terkaget karena Calist mengetuk kaca mobil tepat disebelahnya.
"Kau sedang apa diluar?" Bukannya keluar, Fran malah bertanya dengan bodohnya.
"Apa lagi? Kita mau makan. Ayo turun."
"Haa? makan? dimana?"
Fran pun keluar dari mobilnya tersebut. "Calis.. mau makan apa kita disini?"
__ADS_1
"ayolah masuk biar tau."
"Masuk ke dalam tenda ini?" tunjuknya pada warung Nasi Goreng tersebut.
"Iya.... apa kau tidak bisa membaca? Ini ada tulisannya. Warung Nasi Goreng.
Fran menggaruk kepalanya, salah tingkah dan merasa seperti orang bodoh. "Lagian, buka warung ditempat sesepi ini." gerutu Fran.
"Tunggu Calis. Apa tidak sebaiknya kita cari tempat lain? Aku sepertinya tidak bisa makan ditempat menyeramkan seperti ini."
"Diluar memang menyeramkan. Tapi didalam ada banyak orang.. tu liat ada beberapa motor yang terparkir." Ucap Calis.
"Fix. Gadis ini memang aneh!" batin Fran.
"Aaaaah.. kau ini payah sekali. Ayo.." Calis sudah tidak sabar, kini dia menarik paksa tangan pria tampan namun sepertinya agak penakut itu.
"Ke pantai malam-malam berani. Giliran mau makan ditempat sepi, takut." dumel Calist.
Saat sudah tiba didalam tenda warung, Fran merasa sedikit legah karena ternyata warung ini hampir penuh oleh pelanggan yang sedang menikmati makanannya. Kebetulan tersisa satu saja meja yang kosong untuk 2 kursi.
Keduanya pun, duduk. Seorang pelayan datang dengan pulpen dan buku kecil ditangannya.
Pelayan: "Mau nasi goreng apa mbak?"
Fran: "Apaaa? Setan?" Sontak semua mata menoleh kearahnya.
Fran merasa merinding seketika, membayangkan perkataan Calista. Belum lagi semua orang yang ada dibawah tenda itu sedang menatap kearahnya. Dalam otak Fran, semua orang disekelilingnya ini telah berubah wujud menjadi Zombie yang terlihat ingin melahapnya.
"Maaf semuanya!" Ucap Calista ramah, kepada para pelanggan yang terganggu karena ulah Fran yang meninggikan suaranya menyebut nama setan.
"Hei... kau mempermalukan aku." sarkas Calis, dan berhasil menyadarkan Fran dari kehaluannya yang sia-sia.
Calista dapat mendengar deru nafas ngos-ngosan dan melihat ekspresi menegangkan dari wajah Fran. "Calis.. apa ini masih dirimu?" tanya Fran dengan tatapan ketakutan.
"Pffffff." Calista setengah mati menutup mulutnya yang tengah terbahak.
"Apa aku terlihat seperti hantu?" tanya Calis.
Fran pun merasa legah serta mengusap-usap dadanya. "Lagi pula apa itu? Kenapa kau menyebut nasi goreng setan?"
__ADS_1
"Maaf mas, memang ada di daftar menunya. Ini tu level pedasnua mas. Nasi goreng kita mulai dari level 1 hingga level 5. Tapi kalau mau yang lebih pedas dari level 5, namanya Nasi goreng se..tan mas!" terang pelayan itu kepada Fran.
"Jadi kamu level berapa? Buruan!" Calista tak sabaran.
"Aku tidak makan." ucap Fran, singkat.
"Mbak.. dia level 1." Calis mengambil alih.
"Calis.. aku tidak ingin makan." Fran.
"Sudah.. cicipi saja nanti. jika tidak enak, aku yang habiskan." Calis.
Tak lama, Nasi goreng pun datang. Fran seperti terhipnotis dengan aromanya yang manggil banget.
Calis pun segera menyantap bagiannya setelah mensyukurinya terlebih dahulu.
Fran menatap heran pada wanita langka didepannya ini. Dengan santainya melahap nasi goreng pedas level setan itu.
"Apa tidak pedas?" tanya Fran.
"Tidak. Lebih pedas mulutnya mantan!" ucap Calis cuek, yang mampu mengeluarkan kekehan dari mulut Fran.
"Calis, apa kau tidak akan sakit memakan makanan yang sepedas itu?"
"Hidup aku jauh lebih sakit dari pada ini." Ucap Calis, dan entah kenapa, Fran menangkap getaran aneh dari nada bicara gadis ini.
Calista melanjutkan makan dengan kepalanya yang terus saja menunduk. Sepertinya gadis itu tidak hanya sedang makan, tetapi juga sedang menangis. Mungkinkah dia kepedasan sampai menangis, atau dia memakan yang pedas karena ingin menangis?
"Akh.. aku terlalu banyak bicara. Lebih baik kumakan bagianku ini." Fran menarik piring nasi gorengnya itu dan segera menyuapi nasi goreng yang aromanya terasa menggiurkan itu kedalam mulutnya.
.
.
Bersambung Gaes...😊
part ini tu author bikin sengaja untuk mengatasi hypertensi readers sehabis puas ngata-ngatain Arles.
Dan juga biar hati readers bisa di netralkan dulu, sebelum membaca part berikutnya yang entah gimana nanti ceritanya😁
__ADS_1
salam sehat gaes.. trima kasih atas segala dukungan kalian buat karya ini.🙏
oia.. novel baru aku yg judulnya Perjodohan Janda duda udah up tu😊