
"Aaaaaaaaaaaaaaa" suara itu keluar dari beberapa mulut orang-orang yang berteriak karena melihat 2 bocah menggelinding di tangga yang terbilang cukup tinggi untuk ukuran anak sekecil itu.
Kedua anak tersebut tergeletak tak berdaya dan mengeluarkan darah dari kepala mereka.
Kedua orangtua anak-anak itu pun berlari dan berteriak histeris memanggil-manggil nama anaknya masing - masing. Setiap orang yang ada disitu sangat dibuat kaget akan kejadian itu. Tak terkecuali Arland dan juga mamanya yang berada disitu. Semua orang terlihat sangat panik, termasuk pihak sekolah.
Menurut yang disaksikan oleh parah murid, ada tiga anak yang hampir terjatuh, namun salah satunya tidak menggelinding sampai ke lantai. Saat ini anak tersebut terduduk ditangga dengan wajah kebingungan. Perasaan marah yang dirasakannya barusan menghilang begitu saja, diganti dengan rasa takut. Sangat takut. Anak itu tak lain ialah Arles. Kini teman-teman disekelilingnya hanya menatapnya, juga dengan perasaan takut.
"Maaf, maaf, maaf, hanya kata itu yang keluar dari mulutnya dengan suara yang hampir tak didengar oleh orang lain.
"Arland.. Lihat anak itu. bukankah dia Arles?" Tiba - tiba mata omanya Aurel menagkap sosok Arles yang duduk ditangga dengan ekspresi aneh.
Arland lalu berlari menghampiri Arles. "Arles, kamu kenapa? Apa kau juga terjatuh?" Tidak ada tanggapan dari bocah itu. Matanya hanya tertuju pada kedua temannya yang sedang dipeluk oleh orangtuanya masing-masing karena tidak sadarkan diri.
1 menit kemuduan, ketakutan Arles pun terjadi "Hei.. kamu, apa yang kamu lakukan pada anakku?" Kata salah satu orang tua dari anak itu. Wanita itu menunjukkan jarinya pada Arles dan terlihat sangat marah.
Beruntung saja kepala sekolah langsung hadir di TKP jadi orang tua yang marah-marah itu memghentikan mulutnya mengeluarka omelan.
"Ayo.. tunggu apa lagi. kita harus membawa mereka ke rumah sakit" ucap kepala sekolah dan dibenarkan oleh orang - orang yang ada disana.
Beberapa orang terlihat membatu menggendong anaka-anak itu, karena orang tua mereka hanya bisa menangis.
"Bawa anak itu bersama kita. Ibunya harus bertanggung jawab." Lagi-lagi salah satu dari ibu korban menunjuk Arles.
"Bukannya segera mengantar putramu ke rumah sakit, kau malah sibuk mencari tersangka?" kini oma ikut bicara. Ia juga tidak mengerti kenapa dirinya begitu tak suka melihat Arles dipojokkan.
Kini semua orang yang ada disekolah itu tahu bahwa Arkes telah mendorong temannya hingga terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Semua orang tengah membicarakannya saat ini, mereka bersimpati terhadap kedua anak yang sedang pingsan. Sementara yang lain, memandang Arles dengan ekspresi marah, tak bersahabat, bahkan ada yang sepertinya takut, seakan bocah tampan itu adalah monster ganas.
Sesuai keinginan kedua orang tua korban, Arles pun dibawa ikut ke rumah sakit. Tidak ada yang tahu bahwa saat ini bocah itu merasa sangat takut. Takut pada semua orang, takut akan dimarahi oleh mamanya.
Arles yang biasanya pemberani itu sudah tidak ada saat ini. Ia hanya diam, tak tau harus bicara apa. Bocah itu melangkah kan kakinya yang bergetar hebat, mengikuti kepala sekolah yang mengajaknya membawanya pergi ke rumah sakit.
Lalu Arland,? Awalnya Arland merasa bingung akan semua ini. Akan tetapi ia segera tahu apa yang terjadi terhadap Arles. Melihat ekspresi Arles saat ini seperti orang bingung dan Arles pun tidak merespon dirinya. Yang biasa Arland lihat adalah bocah ini akan selalu tersenyum kearahnya tapi kali ini tidak.
"Ma.. aku akan ikut mereka ke rumah sakit. Aku khawatir pada anak itu." ucap Arland kepada mamanya.
"Mama sama Aurel juga ikut boleh ya nak?"
__ADS_1
"Baik, ayo kita jalan."
.
.
\=\=\=\=\=\=
Dering ponsel Glesty berbunyi. Ia melihat, supir taxi yang ia hubungi untuk menjemput kedua anaknya sedang menelfonnya.
"Halo pak?" Glesty menyapa dengan ramah.
"Halo bu Glesty... ini bu, anak ibu yang laki-laki, tidak, Guru - guru disini meminta bu Glesty ke rumah sakit Y sekarang juga bu."
"Apa? Kenapa rumah sakit? Anak saya sakit pak?" saat ini Glesty metasa sangat gugup.
"Saya kurang tau bu, nenurut saya, ibu harus segera ke rumah sakit Y sekarang juga" sang supir meyakinkan. "Baik pak, tlg tetap jemput Lean ya pak, dan antar ke rumah sakit Y saja nanti" pintanya.
Glesty pun buru buru mengambil kunci motornya serta menarik tas kecil yang berisi dompet dan memasukkan ponsel di dalamnya.
Saat berhenti di lampu merah, Glesty merasakan tatapan aneh dari orang-orang.
Ia terlambat menyadari bahwa tubuhnya hanya dibaluti daster yang panjangnya diatas lutut, tanpa lengan pula. "Benar-benar memalukan." Batinnya. Ingin rasanya Glesty putar balik, namun ia sudah hampir tiba dirumah sakit.
.
\=\=\=\=\=
Rumah sakit Y.
Kedua bocah yang pingsan itu segera dimasukkan ke ruang operasi karena darurat. Ruang operasi yang berhadapan membuat semua orang berkumpuk disana.
Kepala Sekolah terlihat menghubungi seseorang.
"Halo.. sudah dimana ya bu?"
"Ini saya baru saja tiba di rumah sakit." Glesty menjawab dengan nafas ngos-ngosan.
"Segera ke depan ruang operasi ya bu.. Saya tunggu disini."
__ADS_1
Glesty mempercepat langkahnya. "Inikan rumah sakit paling mahal dikota ini?" Glesty sedikit berpikir tentang biaya yang harus dikeluarkan jika sudah dirawat dirumah sakit ini. "Apa? ruang operasi?" Glesty kini menghawatirkan keadaan Anaknya.
Tidak lupa glesty membuka ikatan rambutnya, agar rambut panjangnya. Setidaknya bisa menutupi lengannya yang terbuka.
Diruang tunggu operasi semua orang terlihat gelisah.
Dokter juga ada disana untuk meminta semua orang untuk berdoa bagi keberhasilan operasi kedua bocah itu.
Muncullah Glesty dengan nafas ngos-ngosannya. Saat sedang mengatur nafas, seseorang mendekat kearahnya. Bu Glesty? Ketika nama Glesty disebut oleh kepala sekolah, semua orang menoleh kearahnya termasuk Arland, Arles dan mama Arland.
Arles sangat terkejut melihat Gleasty yang tiba-tiba muncul. "Mama... Akhirnya Arles mengeluarkan suaranya. Arland dan mamanya hanya berdiri mematung karena terkejut Arles memanggil Glesty dengan sebutan mama.
Salah satu orang tua dari anak-anak yang sedang sekarat itu menghampiri Glesty.
Plakkkk..
.
Ia menampar Glesty dengan sekuat tenaga.
Baru saja nafas glesty terasa normal, ia malah merasakan sakit diwajahnya karena tamparan itu.
Jleb...
Wanita yang baru saja menampar Glesty tiba-tiba terjatuh terduduk di lantai.
"Tante jangan berani-berani pukul mama aku."
Arles kembali ke mode marah melihat mamanya dipermalukan. Dengan satu tangan ia mendorong wanita dewasa itu lalu ia memeluk seakan sedang melindungi mamanya.
.
.
.
Bersambung....
Gaes... terima kasih.
__ADS_1