
Arles sendiri tidak tahu bahwa wanitanya itu telah bangun. Jika dia tahu, jangan harap dia mau berlama-lama di depan pintu VVIP ini.
Ceklek
Pintu dibuka oleh Glesty dari dalam. Wanita itu tentu saja terkejut melihat putranya yang tampak seperti orang kurang waras. Penampilannya benar-benar kacau.
"Ada apa ini nak?" bertanya pada Arles.
Bukannya menjawab, Arles malah mengatakan "permisi ma" dan mendorong ketiga orang itu untuk masuk.
"Aaaaaaaaa... aaaaaaaaa... aaaaaaaaa.."
Suara histeris mendenging tatkala Calista terkejut melihat kemunculan orang-orang yang ditakutinya ini. Glesty segera masuk dan menghampiri Calista.
"Calis???" Hanya itu yang keluar dari mulut Arles saat melihat bahwa Calista sudah bangun.
"Jangan mendekat." Calista tiba-tiba telah memegang sebuah sendok garpu yang tadi digunakan mama Gles untuk menyuap buah kedalam mulut Calista.
"Calis? apa yang kamu lakukan sayang?" Dia bahkan tidak mengizinkan Glesty menyentuhnya.
"Jangan mendekat, atau kalian semua akan menyaksikan kematianku saat ini juga." Calista benar-benar mengarahkan garpu itu ke lehernya sendiri, dengan tangan bergetar.
Bahkan, Arles kini mematung. Tidak berani mendekati Calista. "Calis.. ini aku.. Arles."
"Jangan mendekat. Jangan sentuh aku."
"Calista?" Kini mama Dini masuk ke ruangan dimana terlihat beberapa orang. Tentu saja dia segera berlari kearah Calista.
"Sayang.. kamu kenapa nak?"
"Mama... itu mereka.. mereka ingin membawaku pergi.. maaa... mereka ingin menjualku ke om-om tua itu. Maaa.. tolong aku ma.. bawa aku pergi dari sini." Calis memohon dan seperti hendak turun dari ranjang. Mama Dini memeluk Calista.
__ADS_1
"Sayang jangan takut. Disini ada mama.."
Calista kembali menggeleng menatap mama dengan wajah menangis. Ia kembali mengarahakan garpu itu ke lehernya lagi saat ada yang ingin mendekat. "Kalian semua jangan mendekat. Biarkan aku, pergi dengan mamaku."
Karena rasa takut yang berlebih, Calista sepertinya tidak menyadari keadaan kakinya yang tidak bisa berjalan. Ia ingin segera pergi dari sana.
"Cukup Calis... kau ingin menyakiti dirimu? Ha?" Sarkas Arles.
"Tidak ada yang akan membawamu. Kamu juga tidak akan pergi kemanapun dalam keadaan seperti ini!" geramnya.
Calista kini beralih menatap Arles. "Apa hah? Kau pasti senang kan? Hah? Kau senang sekarang melihat aku yang menyedihkan. Iya kan?" teriak Calista hiteris. Saat itulah mama Dini kembali memeluknya dan memgambil alih garpu itu dari tangan Calista.
Calista benar-benar terlihat seperti sedang kehilangan akal sehatnya.
Mendengar perkataan Calis, Arles melunak. Hatinya terenyuh.
"Calista, maafkan kami!" si abang rentenir kini ikut bicara. "Tolong ampuni kami Calis.. maafkan kebodohan kami!" dengan nada memelas.
"Bang.. sudah berapa lama kalian mengenalku? Sudah berapa kali aku meminjam uang pada kalian dalam lima tahun terakhir ini? Apa aku tidak pernah mengembalikannya?" Calis kini menatap keempat pria yang sedang menundukkan kepala itu.
"Selama ini kita sudah saling percaya. Tapi kenapa kalian tega menjahatiku? Dimana hati kalian? Aku memiliki mama dan adik yang akan sedih jika aku diperlakukan seperti itu. Apa kalian tidak punya keluarga? Seandainya istri atau adik atau putri kalian yang diperlakukan sepertiku, bagaimana perasaan kalian? Aku baru kali ini terlambat dan kalian ingin menjualku?"
"Maafkan kami Calista.. kami khilaf.. maaf.." si abang memohon, sementara 3 anak buahnya itu hanya memperlihatkan wajah bersalah dan bossnya ini saja yang mewakili permohonan mereka. "Tentang hutang-hutangmu, semua sudah lunas dibayar oleh pria muda ini. Setelah ini kami berjanji, tidak akan mengganggumu lagi." sambungnya lagi.
"Maaf? yaa maaf setelah kalian hampir saja membuat aku menjadi pemuas nafsu seorang pria tua?" Lirih Calista
Arles nampak terkejut.
"Bagaimana kalau malam itu aku tidak bisa melarikan diri?" Lirih nya lagi. Dia kembali merasa sangat rendah diri ketika mengingat pernah dikurung di kamar dengan seorang pria tua.
"Apa?" Arles kembali kembali meradang. "Kenapa kalian tadi tidak mengatakan tentang ini? Kalian ingin menyerahkan wanitaku kepada seseorang? Kalian ingin menjualnya?" Arles mulai melangkahkan kakinya ke arah 4 pria itu.
__ADS_1
"Arles... tahan.. jangan mencelakai orang lain sayang." Glesty merinding melihat tatapan membunuh dari anaknya ini.
"Maa.. gara-gara mereka, aku kehilangan Calistaku ma... aku harus membuat mereka menghilang dari muka bumi ini juga." Arles sangat marah.
"Tenang.. aku tidak akan melakukannya disini. Kalian bertiga, berdirilah. Sekarang waktunya ke neraka." Arles berbalik ingin melangkah keluar.
"Arless.. sadarr. Apa kamu sudah gila? Apa kamu sudah buta? Kita tidak kehilangan Calista. Dia sudah bangun. Lihat baik-baik." Mama menyeret paksa Arles dan mengarahkan wajah putranya itu kearah Calista yang juga sedang menatapnya.
Entah apa arti tatapan Calista kali ini.
Hening.
Arles membalas tatapan mata Calista. Cairan bening mulai keluar dari kedua mata yang saling menatap itu.
"Apa mama lupa? Aku sudah berjanji padanya. Jika dia bangun, maka aku akan meninggalkannya." Arles memgucapkan itu kepada mama, namun matanya tertuju pada Calista.
"Lalu apa kamu juga lupa? kamu sendiri yang bilang kamu akan meninggalkannya kalau itu yang dia inginkan. Sekarang juga, tanya pada Calista, apa dia menginginkan kamu meninggalkannya," Glesty ikut meninggikan suaranya.
"Kalian bertiga, pergilah. Aku tidak akan membiarkan putraku mengotori tangannya lagi. Ingat ini baik-baik, jangan pernah lakukan ini kepada orang lain lagi." Glesty mengusir keempat orang itu. Telihat raut legah dari wajah mereka. Riwayat mereka tidak jadi tamat. Mereka lalu mengucapkan terima kasih kepada Glesty sebelum meninggalkan ruangan itu.
"Mama rasa, kalian berdua perlu bicara empat mata." ucap Glesty, yang dia maksud adalah Calista dan Arles. Kedua orang yang dimaksud, hanya diam namun saling menatap sendu.
Semua orang meninggalkan ruangan, kecuali Arles dan Calista..
.
.
Bersambung.
Gaess tengkyu🥰
__ADS_1