
Calista sedikit menjauh, masih dalam keadaan gelap, yang ada hanya remang-remang.
Hughhhh..
Seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Tidak. Ini bukan pelukan, karena rasanya sangat tidak nyaman. Orang ini membekap mulut Calista.
"Hmmmmmppppp!"
Calista berusaha melepaskan bekapan tangan itu dengan kedua tangannya. Pria itu malah dengan mudahnya manahan kedua tangan Calista hanya dengan satu tangan kuat miliknya.
Memastikan posisi Calis sudah terkunci tak bisa bergerak, pria itu melonggarkantangannya yang membekap mulut Calista.
"Siapa kau? jangan berani macam-macam padaku!" tegas Calist
"Ssssuuuuuuuut diamlah. Ini AKU.."
"Kaaauuuu?"
"Yaaaa.. ini aku!" dengan nada yang sedikit menyeramkan. Membuat bulu kuduk Calista merinding.
"Apa lagi yang kau inginkan? Kenapa kau berada disini.?" (menggerak-gerakkan tubuhnya ingin melepaskan diri, namun sia-sia)
"Apa kau lupa hari ini juga adalah hari ulang tahunku? hah... kau memang lupa."
"Lalu apa hubungannya denganku? Kau masih marah karena aku tidak datang waktu itu?? Kau pendendam sekali."
"AKU BERTANYA, KENAPA KAU DATANG KALI INI? KAU TIDAK TAHU, LEAN DAN AKUUUU ADALAH.. SAUDARA KEMBAAARR..."
Calis melotot seketika memdengar penuturan Arles. "Tidak... tidak mungkin. Jangan mengaku-ngaku sesuatu yang tidak benar."
"AKU TIDAK TAHU BAGAIMANA KAU BISA DEKAT DENGAN MAMA DAN SAUDARIKU.. TAPI AKU SANGAT TIDAK SUKA MEREKA TERLIHAT TERPERDAYA OLEH SIKAP SOK POLOSMU ITU. JAUHI MEREKA. WANITA JAHAT SEPERTIMU TIDAK PANTAS UNTUK MEREKA."
Degh... "jadi benar dia kembaran Lean? kenapa aku tidak pernah tahu?"
"Berhentilah menghinaku. Aku bosan mendengarnya. Aku bingung padamu, kenapa saat ini kau menahanku seperti ini, apa maumu?"
"KAU BERTANYA APA MAUKU? AKU.... TIDAK SUKA MELIHAT KAU TERSENYUM... KAU... TIDAK PANTAS MERASA BAHAGIA SETELAH MENYAKITIKU."
"Awwww.. ssa sakit.." jerit Calist karena Arles semakin menghimpitnya tubuhnya ke dinding.
"SAKIT ?? INI TIDAK SEBERAPA DARI YANG AKU RASAKAN CALISS. SATU LAGI... FRAN, ADALAH SAHABATKU. JANGAN MENDEKATINYA LAGI. DIA ADALAH PRIA BAIK DAN KAU TIDAK PANTAS MENERIMA KEBAIKAN DARINYA CALISTA. KAU INGAT ITU?"
"Lalu... aku harus bagaimana? hah? aku harus bagaimana?"
"JAUHI ORANG-ORANG YANG KU SAYANGI.. KELUARGAKU, SAHABATKU, JAUHI MEREKA SEMUA. APA KAU PAHAM?"
"Baiklah... aku akan menjauhi mereka. Kau puas sekarang?" Calista menekan setiap perkataannya.
Aku juga tidak ingin bergaul dengan orang-orang yang dekat denganmu. Apa kau kira kau saja yang muak melihatku? Aku juga lebih tidak suka melihatmu." Sambungnya lagi, dengan amarah penuh. Sudah banyak permasalahan hidupnya. Enak saja Arles mengusiknya terus. Menambah masalah hidup Calis saja.
Arles terdiam mengulangi perkataan Calista yang terang-terangan mengatakan muak melihat dirinya. Pria itu merasa semakin marah.
"Calista... aku berpikir untuk mempermalukanmu didepan banyak mata yang ada disini. Tapi aku tidak ingin repot-repot melakukannya. Bagaimana jika begini, kau saja yang melakukannya?"
.
"Apa? Kali ini apalagi yang kau ingin aku lakukan?"
"CEBURKAN DIRIMU KEDALAM KOLAM RENANG YANG SEDANG DIKELILINGI OLEH ORANG-ORANG ITU! AKU SANGAT INGIN KAU MERASA MALU.. BIAR KAU SADAR DIRI BETAPA HINANYA DIRIMU ITU, SAAT ORANG-ORANG MENERTAWAIMU CA..LIS..TA. KARENA YANG KU LIHAT, KAU TIDAK SADAR AKAN SIAPA DIRIMU. KAU HANYA WANITA MURAHAN. APA KAU TIDAK INGAT?" Arles menunjuk-nunjukkan jarinya pada tubuh Calista. Separtinya, pria itu tidak sadar telah membebaskan Calis dari cengkramannya.
__ADS_1
PLAAK....
PLAK.....
PLAAAK!!
3 tamparan kuat mendarat sempurna di pipi mulus Arles, dari kedua tangan Calista secara bergantian.
Keduanya sama sekali tidak menyadari bahwa semua mata yang ada disana menyaksikan mereka. Semuanya, tanpa terkecuali.
Banyak diantara para wanita yang shock melihat keberanian Calis menampar seorang Arles. Bagaimana mungkin pria tampan itu akan mendapat 3 tamparan sekaligus disaat yang bersamaan? Dan apa Calista tidak takut akan akibatnya?
Arles terdiam menerima tamparan itu. Tidak.. Pria itu menangkap aura kebencian dari seorang Calista padanya. Dan bukannya marah atas tindakan Calis, pria itu malah merasa legah, seolah dirinya memang bersalah disini.
"Ada apa ini?" Glesty dan Arland menghampiri keduanya. Saat itulah Calis dan Arles sadar bahwa lampu sudah menyala dan alunan musik itu, entah sudah berapa lama dimatikan.
"Nara... ada apa sayang? Kenapa kamu menampar dia? dia putra mama!" Glesty masih bersikap lembut kepada Calis, meskipun sudah menyaksikan sendiri gadis itu telah menampar wajah tampan milik putra yang dia sayangi.
*
Menyadari putranya kini menjadi pusat perhatian, Arland memberi kode pada MC untuk membubarkan semua orang.
*
"Arless.. jawab mama, ada apa ini? Apa kamu telah menyakitinya? Kenapa dia menamparmu?" Arles pun tidak menjawab.
"Maaf tante.. saya sudah lancang menamparnya." Calista menatap tak percaya kedua tangannya. Air matanya pun kini turun dengan sendirinya.
"Tante,, pak Arland.. tolong jaga anak kalian ini agar jangan lagi muncul dihadapan saya." ucap Calis, dengan bibir yang kini bergetar.
Arles, pria itu hanya menatap Calis tanpa mengatakan apapun. Melihat airmata gadis itu, membuatnya merasa sangat bersalah.
Lean, Nino Bagas, dan Fran juga kemudian mendekat, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Hal yang harus kuhadapi setiap hari sudah begitu banyak. Toloong... tolong jangan menambahnya lagi dengan selalu muncul dihadapanku dan mengatakan sesuatu yang membuatku sakit hati."
Calista benar-benar menangis. Wanita itu tidak memikirkan perasaan malu lagi menangis didepan orang lain selain keluarganya.
Drrrt drrrrt drrrt.
Ponsel Nino berdering dan itu adalah telpon dari Dini, mamanya Calis.
"Halo tante Dini,?"
Calista segera mendekati Nino, karena mendengar nama mama disebut.
"Ini.. mama kamu mau bicara.."
Semua orang hanya diam.
Calis segera mengusap cepat air matanya lalu menetralisir perasaannya dengan bernapas normal.
Sebelum meletakkan ponsel itu ke telinganya, Calista tersenyum seperti biasa, padahal dimenit sebelumnya wanita itu masih menangis.
"Halo mama!?" jawabnya dengan nada baik-baik saja
"Ap apa? Segera?" Wajahnya kembali panik, tangannya bergetar karena ketakutan.
Tuut tuut tuuut..
__ADS_1
"Ninooo! papa aku Ninoo.. papa..." Suaranya kembali bergetar.
"Kenapa dengan paman Calis?" Nino ikut panik.
"Nino, tolong antar aku ya, bisa kan?" mohonnya.
Tentu saja Nino tidak menolak.
Calis menarik jass Nino. Dengan langkah sedikit berlari, keduanya pergi dari sana. Calis tak memghiraukan akan tatapan yang lain. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah papa.
*
"Aku akan menyusul mereka." Arles yang sedari tadi hanya diam, kini mengeluarkan suara. Lean, Glesty, Arland dan kedua sahabat Arles tidak tinggal diam. Mereka semua turut serta mengikuti kemana Nino dan Calis pergi.
Ruma Sakit. Ruang Jenazah.
"Papaaaa..... papaaaaa.. paaaaaaaa!!"
Calista histeris. Kain putih kini menutupi wajah papa.
Arles dan yang lain juga tiba disana dan menyaksikan Calis yang tengah histeris disamping tubuh kaku sang ayah.
"Nino... papa Nino.. maaa.. kenapa ma? kenapa?"
"Suuuuuuut... sabar Calis.. Sabar.." Nino memeluk sahabatnya itu, berharap dapat mentransfer kekuatan padanya.
Sakit? Sesak? iya.. itulah yang kini dirasakan Arles. Melihat Calista dengan nyamannya berada dalam pelukan pria lain sambil terus terisak. Nino juga ikut menangis karena terharu. Siapapun yang melihat situasi ini pasti akan ikut merasa sedih.
"Seharusnya aku yang disana.. memeluk dia!" Ingin rasanya Arles merebut gadis itu dari dekapan Nino.
Saat Glesty mengetahui wanita yang dipanggil mama oleh Nara itu adalah Dini, barulah ia sadar bahwa ternyata Nara adalah gadis kecil yang bernama Calis. Ya... Calista itulah namanya. Seorang gadis periang yang terkenal dengan panggilan Nara. "Ya Tuhan.. selama ini aku bertanya-tanya dimana Calis berada? Apakah dia ingat untuk mencari Arles setelah dewasa? Ternyata dunia ini benar-benar sempit. anak itu ada disekitarku selama ini." pikirnya.
Fran dan Bagas menepuk-nepuk pundak Arles, karena melihat pria ini sedang menahan tangisnya. "Ayo bro... kita duduk disitu." Keduanya mengajak Arles duduk disebuah kursi tunggu.
Lean, gadis imut itu hanya memeluk papa. Dia merasa takut jika tiba-tiba harus kehilangan papa seperti sahabatnya kini.
"Kenapa? Kenapa aku tidak pernah tau akan hal ini?" Arles sedang berbicara pada dua sahabatnya itu, sambil menangis. Selama mereka berteman, dua pria ini tidak pernah melihat Arles sesedih ini.
"Arles.. maaf.. aku sangat penasaran tentang ini. Aku tau ini bukan saat yang tepat tapi aku sangat ingin tahu ada apa antara kau dan Calista?" Fran tidak tahan bertarung dengan segala pertanyaan yang ada dikepalanya.
"Dia... dia.. perempuan yang sangat aku cintai.." Cuma itu yang sanggup Arles katakan di sela tangisannya.
"Apa? Cinta??? Tapi---"
"Sudahlah Fran. Dia sudah menjawab. Jangan tanya lagi." Bagas berusaha membuat Fran mengerti akan situasi.
"Cinta? Tapi kenapa Calista tadi menamparnya? Apa Arles kurang ajar padanya?" tanya Fran dalam hati.
*
Glesty mendekati Dini yang terlihat hanya diam. "bu Dini.. aku ada disini.." Glesty menuntun Dini untuk duduk.. Dini menoleh kepada wanita yang ada disampingnya kini. "bu Glesty.. bagaimana anda ada disini?"
"Sudah.. jangan tanya dulu.. aku yakin mamanya Calis ini hanya butuh seseorang yang akan memguatkannya. aku ada disini sebagai teman. Bukan sebagai ibu dari Arles. hmmmm?" jelas Glesty panjang lebar.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Gaes... kita lanjut lagi yak☺☺☺☺
tengkyu.