I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Maafkan Aku (Season 2)


__ADS_3

Di Luar Ruang Jenazah.


"Maa... kenapa papa pergi? Kenapa papa ga mau bertahan? Kenapa papa gak bangun sebentar? Kenapa papa malah pergi? Kenapa setelah semua yang sudah Calis lakukan, papa pergi gitu aja?"


"Sayang... jangan seperti ini nak!" Mama Dini memeluk tubuh anaknya yang sedang rapuh itu.


Calis terisak dalam pelukan mama.


Lean? Gadis itu masih memeluk Arland.


Glesty? Wanita cantik itu merangkul tubuh putranya yang juga tidak kalah rapuh saat ini. Pria itu, Arles, sejak tadi sepertinya sangat terpukul. Apalagi ketika Calis berkata-kata dalam tangisnya tentang kepergian papanya, Arles lagi-lagi menitikkan air matanya. Seakan dirinyalah yang paling bersalah disini. Entahlah, Glesty juga tidak tahu yang sebenarnya tentang Calis dan putranya, Arles.


Nino masih berada disana. Posisi pria itu duduk di dekat Calista.


🍁🍁🍁🍁


2 hari kemudian.


Mama Dini masih stay dirumah saja, tanpa punya keinginan kemana-mana. Sedangkan Calista, gadis itu tadi meminta izin pada Dini untuk pergi ke Mini Market yang berada tidak jauh dari gang tempat tinggal mereka.


"Ya Tuhan.... tolong berilah kebahagiaan pada putriku sehabis ini. Selama ini anak itu hanya berjuang sendirian. Ibu macam apa aku ini? Aku hanya diam tidak berusaha menghasilkan sesuatu. sementara putriku, menghabiskan waktu untuk bekerja sepanjang hari sampai malam. Maafkan mama Calist." Mama Dini.


Tok tok tok.


Dini membuka pintu.


"Hai. bu Dini...." Glesty menyapa dengan ramah.


"Bu Glesty?" Dini pun menyapa dengan senyum ramahnya.. lalu mempersilahkan Glesty untuk masuk.


"Jadi ada apa kemari bu?"


"Maaf sebelumnya bu Dini... Kali ini saya datang sebagai... mamanya Arles." ucap Glesty, hati-hati dan tanpa basa-basi.


"Ehmmm.. iya bu, silahkan saja."


"Emmm... aku mendengar cerita masa lalu dia dan Calista.. Putraku mengatakan bahwa 5 tahun lalu mereka berkencan dan tiba-tiba mereka putus karena putraku mengetahui bahwa.... (maaf).. Calis bekerja di tempat hiburan malam. Apa itu benar?"


Dini terlihat berusaha tersenyum "ya itu benar bu Glesty. Putramu pergi tanpa bertanya kenapa Calis bekerja disana. Malam itu adalah malam ketiga dia bekerja ditempat itu." Dini menceritakan kronologi kenapa putrinya sampai nekat bekerja ditempat seperti itu.


"Anakmu tidak hanya meninggalkan Calistaku.. dia bahkan dengan teganya membuat Calis kehilangan beasiswa full yang akan diberikan kepada mahasiswa/i berprestasi. Anakku yang malang itu otomatis merasa ditendang keluar dari kampus itu karena kami sudah tidak mungkin bisa membayar. Jadiii... Calistaku, mulai saat itu dia hanya bekerja dan bekerja. Sepanjang hari, hingga malam dia bekerja. Dia bekerja ditempat-tempat yang berbeda." Dini tak tahan lagi menceritakan tentang putrinya itu, lalu dia menangis.


Glesty lagi-lagi bersikap hangat dan memeluk Dini.


"Sudahh.. jangan menangis.. putraku mungkin sedang mendapat ganjarannya.. kau tau bu Dini? Selama beberapa hri ini anak nakalku itu terlihat sangat murung. Anak itu sekarang baru sadar bahwa 5 tahun lalu dialah yang bersalah."


Glesty juga menceritakan bahwa Arles, membuat kekacauan dikamarnya beberapa hari yang lalu, sambil menyebut-nyebut nama Calista. Dia terlihat sangat membenci Calista. Arles telah menghabiskan waktu 5 tahunnya untuk membenci Calista, sementara hatinya masih menginginkan Calista. Anak itu berperang melawan dirinya sendiri.


"Aku merasa kasihan melihat anakku bu Dini. Dia sangat tersiksa. Dia menyakiti perasaan putrimu dengan kata-kata jahatnya, sementara hatinya berkata lain. Dia bahkan cemburu pada saat Calis hanya sekedar tersenyum pada pria lain. Maafkan ankku yang egois itu bu Dini. Maafkan aku tidak mendidiknya dengan baik. hiks hiks hiks..." kini gantian, Dini lah yang menenangkan Glesty.

__ADS_1


"Tak apa bu Glesty.. lagi pula itu sudah sangat lama."


"Iya.. tapi aku benar-benar meminta maaf atas perlakuan putraku bu Dini"


"Sudah... lupakan masa lalu. Tidak perlu merasa bersalah. Biarkan anak-anak menyelesaikan masalah mereka" Dini tersenyum agar Glesty kembali merasa tenang.


Dini sampai lupa menjamu Glesty. Ia kini membuat minuman hangat untuk mereka berdua. Setelah mencurahkan isi hati, keduanya kembali merasa legah.


"Bu Dini... aku tidak menyangka bahwa mereka berdua telah beberapa kali bertemu, setelah kepulangam Arles dari Luar Negeri. Dan anakku yang gila itu ternyata selalu mengeluarkan kata-kata kasar pada Calis disetiap pertemuan mereka yang hanya kebetulan. Kamu tahu? Puncaknya adalah saat ulang tahunnya beberapa hari lalu. Putrimu benar-benar keren Dini.. Dia menampar wajah tampan Arles sebanya 3 kali dihadapan semua orang, dengan kedua tangannya." Glesty malah tertawa menceritakannya.


"Apa? Calista menampar Arles?? Dini merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar. Wanita itu membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan.


"Benar... dan itu terlihat sangat keren. Aku langsung berpikir bahwa putraku pasti telah keterlaluan sehingga dia berhak menerima itu. Dan ternyata pikiranku benar.


🍁🍁🍁🍁


Ditempat lain.


Calista sudah membeli sesuatu di mini market. Namun, saat hendak pulang, ternyata diluar sedang hujan. Terpaksa Calist menunggu saja.


Calista tampak sangat berbeda.. senyum yang selalu ia tebarkan, kini hilang sudah. Calis merasa kali ini tidak ada gunanya tersenyum. Gadis ini masih memikirkan papa yang sudah tiada.


"Pa... jadi papa sudah sembuh sekarang? Papa bisa melihatku dari atas? Apakah hujan ini adalah air mata papa yang menangis melihatku dari sana?" Calista hanya menatap lurus kedepannya, sambil sesekali melihat langit.


Seseorang muncul dan menghampiri Calis dengan membawa sebuah payung.



"Calista.." seseorang disampingnya itu meyebut nama Calis. Tentu saja Calis langsung mengenal suara orang itu. Calis hanya menoleh kearah orang disebelahnya.



Calista menatap wajah tampan itu, tanpa mengatakan apapun. Calis benar-benar tidak punya tenaga dan minat untuk mengatakan 1 katapun kepada Arles.


Saat calis membalas tatapannya, Arles sedikit menarik bibirnya membentuk senyuman kecil. Namun, bukannya membalas senyum kecil Arles, Calista malah pergi begitu saja. Pergi begitu saja dari hadapan Arles.


Benar.... seperti keinginan Arles selama ini, Calista sudah benar-benar lupa cara tersenyum. Tapi, bukan itu yang Arles harapkan saat ini.


Arles mengikuti langkah kaki Calista, hingga tibalah Calis didepan rumah kontrakannya.


"Calis tunggu! please!" Arles menahan tangan Calista Sebelum gadis itu benar-benar menghilang dibalik pintu.


"Lepaskan tanganku! aku sedang tidak punya daya untuk berbicara dengan orang asing." ucap Calis dengan nada dan wajah datar. Ia lalu menepis kasar tangannya hingga terlepas dari tangan Arles.


Cklek.


Buka pintu, masuk dan menutupnya.


"Calis... calis.... calistaa....buka pintunya.. please..." Arles menggedor-gedorkan pintu.

__ADS_1


"Calis...?" Dini dan Glesty mengejutkan Calis yang sedang bersandar di balik pintu, seperti sedang menahan agar pintu tidak dapat dibuka.


"Ehmmm.. hai tante.." ucapnya lalu melangkah dan memghilang dibalik pintu kamarnya.


"Caliss.. buka pintunya.. dengarkan aku dulu ya.. aku ingin bicara."


"Dini.. itu suara putraku. dia pasti berada diliar."


Dini membuka pintu.


Cklek..


"Arles?"


"Mama? Tanteee?"


Arles menatap sendu kedua orangtua itu. Lalu berlutut dihadapan mama Dini.


"Ibu.. maafkan sya.. maafkan saya sudah menjahati Calista..


"Heiii.. bangunlah.. jangan seperti ini. Saya sudah mendengar semuanyabdari mama kamu.."


"Tapi saya bersalah bu.. saya sangat bersalah pada Calis..."


"Iya.. saya mengerti.. kalau kamu menyesal, cukup jangan memgulanginya.. bangunlah"


"Tapi saya mau Calista juga memaafkan saya bu.. saya harus mendapatkan maaf darinya!"


Glesty juga berlutut, menghadap putranya. "Sayang.. Calis anak yang baik.. dia pasti sudah memaafkan kamu." Glesty dapat melihat air mata turun dengan sendirinya dari mata putranya ini.


"Maaa.. tapi bukan hanya maaf yang aku mau ma... aku mau Calista ma.. aki menginginkan Calista ma.. aku Cinta... aku sayang.. aku rindu Calista ma..." nada Arles sudah terdengar serak, bergetar tak karuan.


Apa Calista mendengarnya? Ya.... Calista mendengarnya dengan sangat jelas. Pria itu mengatakan Cinta, sayang dan rindu dirinya.


"Dia mengatakan itu pasti karena merasa bersalah padaku. Jika perasaan bersalahnya itu hilang, aku yakin, dia akan lupa perkataannya itu. aku tidak boleh terbawa perasaan." batin Calista.


Tidak ada sedikitpun keinginan gadis itu untuk keluar dari kamarnya dan bertemu Arles. Baginya, Arles sudah sangat melukai perasaannya. Kata-kata hina yang Pria itu ucapkan padanya masih teringat dengan sangat jelas.


Tok tok tok..


"Calista... ini mama sayang.. buka pintunya.. biarkan Arles bicara dulu." Calista malah masuk selimutnya, tidak peduli.


.


.


Bersambung


Gaes... Cerita Author yang judulnya "Perjodohan Janda Duda" sudah up yaπŸ™ƒπŸ™ƒ. yuk mampir.

__ADS_1


.........


Makasih sudah membac☺


__ADS_2