
Ssat ini, Nino bersama omanya tenga berada di sebuah ruangan. Entahlah, apa maksud nyonya pemilik pesta itu meminta keduanya menunggu di dalam ruangan ini.
"Waah.. sepertinya aku akan di sidang malam ini. Ya Tuhan, semoga saja jantung omaku sedang dalam keadaan sehat.." doa Nino dalam hati.
"Nino. Katakan kepada oma, apa arti situasi membingungkan ini? Sudah 1 jam sejak dia meninggalkan kita disini. Kenapa kita diminta menunggu disini?"
"Maaf sebelumnya oma.." Perkataan Nino kembali terpotong karena terdengar langkah kaki seseorang.
Pintu terbuka.
"Arles? Calista?" Nino spontan memanggil kedua orang yang sangat dikenalnya itu.
"Nino?" Arles dan Calista menyebut nama Nino bersamaan.
"Kenapa kalian berdua malah disini oma?" Apa oma sakit?" Tanya Calis.
"Tidak.. Oma kalian itu yang meminta kami berdua untuk menunggu disini." jawab omanya Nino.
"Iya, oma juga yang meminta kami kesini." jawab Arles santai.
"Tamat. Singa ini akan memakanku malam ini juga" batin Nino. Saat ini, pria itu hanya memikirkan kemungkinan terburuk akan apa yang bisa dilakukan Arles padanya setelah mengetahui sesuatu malam ini tentang dirinya dan Lean.
"Arrrleeess.." Nino memanggil Arles dengan nada sedikit bergetar. Ia berniat menjelaskannya kepada Arles, untuk meringankan sedikit hukumannya.
"Kenapa Nino terlihat aneh?" Batin Arles dan Calista bersamaan.
__ADS_1
"Ada yang ingin kau katakan Nino? Katakanlah!" tanya Arles, sedikit penasaran.
"A...aku, ingin menjelaskan sesuatu."
"Silahkan. Santai saja. Asalkan... jangan meminta pacarku." ucapa Arles, mencairkan suasana, namun dalam arti yang serius.
Calista:🙄🤦♀️
Omanya Nino: 🤦♀️🤭
Nino:🤨"Huffft.. iya. Untuk apa pula aku meminta pacarmu?"
"Lalu, katakanlah."
"Begini Arles, aku... aku.."
Arland dan Glesty masuk sembari bergandeng tangan. Terlihat sangat manis, namun bagi Nino, kehadiran dua orang tua ini benar-benar bikin merinding.
"Fix. Keluarga ini bermaksud menghabisiku malam ini juga" Nino merasa dirinya semakin mengecil berada di ruangan ini bersama keluarga Lean.
"Ini Nino kan? Kamu disini Nino?" Mama Gles menyapa.
"Oh... iya tante. Saya menemani oma saya." sembari melirik oma disebelahnya.
"Wah... kebetulan sekali.. kamu sudah ketemu Lean? Lean juga ada tu Nino." mama Gles menerangkan begitu saja, dengan ketidaktahuannya tentang kenapa Nino berada di ruangan ini.
"Hah?" Nino terlihat menelan kasar sembari menggaruk tengkuknya yang sudah pasti tidak gatal.
__ADS_1
Semua mata menatap mama Gles dan Nino bergantian. Kecuali Arland.
"Oh.. iya, tadi sudah ketemu tante." Jawab Nino dengan sikap canggung.
Omanya Nino mulai mencurigai sesuatu 🤨. "Apa hubungannya cucuku dengan Lean?"
"Maaf, tapi... Lean siapa ya? Tanya omanya Nino.
"Oh... Lean itu anak perempuan saya nyonya. bersaudara kembar dengan Arles." Mama menunjuk Arles.
Omanya Nino terlihat mengangguk paham.
"Apakah pertanggungjawaban yang dimaksud terhadap gadis bernama Lean itu?" batin oma mulai menerka-nerka.
"Apa yang telah cucuku lakukan? Apa dia telah memperkosa gadis bernama Lean? Nino terlihat sangat gugup saat ibunya menyebut nama Lean. Aku sangat yakin. Pasti ada yang tidak beres disini."
Situasi semakin tidak memungkinkan untuk menanyakan Nino. Tidak mungkin omanya akan bermain bisik-bisikan dengan cucunya di depan keluarga besar ini. Tapi hati oma benar-benar penasaran.
"Sebelum Lean tiba bersama dengan omanya, lebih baik aku membuat pengakuan. Iya. Aku adalah seorang pria. Aku harus berani." Entahlah, apa yang ingin Nino katakan.
Untuk kesekian kalinya, saat Nino hendak mengatakannya, lagi-lagi gagal.
Lean, oma dan opa, muncul dari pintu lebar itu.
Entah ada dorongan dari mana pula, Nino sontak berdiri dari duduknya.
.
__ADS_1
Sekian.