I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Papa Kami Sedang Sakit


__ADS_3

Sore hari, masih dipantai.


Suasana pantai masih ramai. Semua orang nampaknya sangat menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan yang satu ini.


Arland menatap punggung kedua orang itu semakin menjauh, yang katanya mereka akan mencari minuman. Cuaca hari ini cukup membuat gerah.  Sehingga aktivitas dipantai inipun membuat Arles yang selalu bergerak tidak pernah diam menjadi lebih banyak mengeluarkan keringat dari tubuhnya menyebabkan ia gampang kehausan.


“Apa? Kenapa aku merasa manusia aneh itu mulai menyukai wanita? Tunggu! Apa benar kabar kedekatan itu? Hah... Ku kira orang itu hanya menyukai pria dalam hidupnya.  Cih, apa katanya tadi? Berhutang penjelasan? Memangnya aku harus menjelaskan apa? Batin Arland panjang lebar, dengan wajah tersenyum dan menggeleng pelan kepalanya.


“Paman, ayo selesaikan bagianmu! Seru Arles


“Oh.. ba.. baiklah bocah. Kau sangat tidak sabaran. Jawab Arland,


Arland memulai proyek karya pasirnya. Arles meminta Arland membuat orang-orangan dari pasir.


“Jadi kalian ingin paman membuat orang-orangan sebanyak tiga?” Tanya Arland memastikan.


Kedua bocah itu mengangguk dengan kompak.


Arland tersenyum kearah keduanya yang kini sedang serius membuat karya bagiannya masing-masing.


“Hei... apa paman boleh tanya?”


“Boleh, silahkan”! Jawab Arles.


“Dimana papa dan mama kalian”? Tanya Arland.


Mendengar pertanyaan yang agak sensitif itu, tangan kedua bocah itu auto berhenti dari pekerjaannya!


“Mama dirumah. Dikota B”. Papa di negara yang jauh!. Besok kami akan pulang ke kota B, karena hari senin harus sekolah”. Arles menjelaskan, bahkan hal yang tidak ditanyakanpun dijelaskannya.


“Jadi kedua bocah ini tinggal dengan ibunya saja? Pantas mereka sangat ingin bermain denganku. Mungkin saja mereka ingin tau rasanya bermain dengan seorang ayah”. Batin Arland.


“Oh, jadi kalian tidak tinggal bersama papa? Tanya Arland, entah kenapa ia merasan penasaran.


“Tidak. Karena papa sedang sakit. Kata onty, papa sakit parah jadi harus dirawat dinegara yang jauh agar bisa sembuh”.


“Lalu, kalian tidak mengunjunginya? Apa kalian tidak merindukannya? Kenapa kalian tidak pergi bersama mama merawat papamu? Sambung Arland lagi.


“Tidak perlu paman. Kata onty, keluarga papa ada banyak. Mereka yang akan merawat papa”. Arles menjawab, dan kini ia tak lagi berbicara dengan cara melihat ke arah lawan bicaranya. Ia hanya fokus kerah gumpalan pasir yang sedang dibentuknya.


Entahlah, mungkin Arles berusaha mengusir perasaan sedihnya. Bocah itu sungguh ingin menyembunyikan perasaannya.


Begitu juga dengan si imut Lean, ia kembali bermain seolah tidak mendengar obrolan dua orang didekatnya.


\=\=\=\=\=\=


Lea dan Devan..


"Dev... Devan"!


"Hemmm".. Devan hanya merespon singkat, mendengar namanya disebutkan Lea.


"Emmm.. i.. itu.. ta.. tadi,


"Kenapa terbatah - batah?


Belum sempat Lea menyelesaikan kata -katanya, Devan sudah memotongnya.

__ADS_1


"Deng.. dengarkan dulu". Em.. kedua bocah itu adalah anak dari seseorang yang aku kenal. Me.. mereka biasa memanggilku onty Le, karena.. aku sangat dekat dengan ibu mereka.


"Waduh.. apa yang baru saja aku katakan? Oh tidak! Aku merasa aku menjadi orang yang sangat jahat. Batin Lea.


"Bukan itu yang ingin aku dengar Alin!


Devan kini menatap wajah wanita didepannya itu.


"yang aku ingin tahu, kenapa kak Arland ada bersama kalian? Apa hubunganmu dengan kak Arland?


"Kau sudah jelaskan tentang rencanamu dengan keponakanmu kemarin, dan aku tidak mempermasalahkan hal itu".


Akhirnya Devan menjelaskan apa yang ia rasakan.


"Tuh kan, dia benar - benar tidak terkejut akan kedua bocah itu!


"Kenapa aku berusaha menjelaskan tentang hubungan kami?


Batin Lea, sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal, merutuki kebodohannya.


"Ah.. tentang pak Presedir kita, kemarin dia tidak sengaja berkenalan dengan kedua anak itu, saat kami berada di mall.


"Pak Arland membeli mainan yang sangat banyak, dan tidak senagaja menjatuhkan salah satu mainannya, dan anak - anak mengembalikannya. Saat itulah mereka mulai dekat.


Lea menjelaskan.


"Benarkah begitu? Batin Devan


Ia berusaha mencari kebohongan dimata kekasihnya ini. Tapi ia tidak menemukan kebohongan disana.


"Hmmm..


"Baiklah, aku akan percaya padamu. Ucapnya.


"Apa? Jadi dia hanya mau mendengar penjelasan seperti itu? Astaga.. aku bahkan hampir mengompol saat menjawabnya tadi. Aduuhh.. kenapa juga aku sangat gugup? Lagi - lagi Lea merutuki dirinya sendiri.


Devan tiba - tiba memeluk Lea.


"Trima kasih Alin, karena kau tidak membuatku kecewa. Tadinya aku sangat takut jika dirimu dengan kak Arland terlibat hubungan dibelakangku".


Ucap Devan dengan nada setengah berbisik. Dan kini ia semakin mengeratkan pelukannya.


Lea sedikit terkejut dengan sikap Devan, dan kata - katanya itu sungguh membuat perasaannya seperti tertusuk jarum. Dan ia sendirilah yang mengerti akan perasaannya saat ini. Ia semakin merasa bersalah terhadap Devan.


\=\=\=\=


"Nah... dah jadi".. ucap Arles dan Arland bersamaan, dan tidak lupa, Lea juga bertepuk tangan memggambarkan ekspresi bahagianya.


Wah... wah wah... apa ini Sayang!


Lea dan Devan datang membawa lima botol air mineral dan dengan segera disambar oleh Arles.


"Onty, paman Dev.. Lihat sini..


" Orang - orangan ini adalah kami bertiga. Paman, Lean dan aku.


"Dan lihat bangunan keren ini. Aku yang membuatnya!

__ADS_1


"Ini adalah rumah kami.


Tiba-tiba Lean berdiri dengan sesuatu ditangannya, dan memyerahkannya pada Arland dan Arles.


"Wah.. apa ini? Lean membuat orang - orangan juga?


Lean memgangguk tersenyu.


"Ah Lean, apa ini mama? tanya Arles.


Lean kembali memgangguk


Lalu Arland meletakkan orang - orangan pasir buatan Lean, didekat tiga miniatur dirinya, Arles dan Lean.


"Ah.. aku merasa terharu.. Kak.. kalian seperti keluarga bahagia, dan hidup di sebuah istana". celetuk Devan, dan kini keempat orang didepannya sedang menatap wajahnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.


"Em.. maaf, jika aku salah bicara. Ucapnya!


"Sayang, bagaimana jika kita pulang? ini sudah sore. Ucap Lea mengalihkan. Ia kini benar - benar ingin menjelaskan keadaan ini, tapi belum saatnya.


"baiklah, paman dev akan mengantarkan kalian pulang. Bagaimana? Dev menawarkan, serta menyamakan tingginya dengan kedua bocah itu.


Keduanya hanya mengangguk dengan senyuman diwajahnya.


"okelah bocah, jika kebetulan bertemu lagi, kita akan bermain bersama lagi oke", ucap Arland sebelum mereka berpisah.


Didalam mobil.


Arles dan Lean sedang tertidur sangking lelahnya bermain sendirian.


"Sayang"..


"Hmmm..


"Sedekat apa kamu dengan orangtua anak - anak ini?


"Sa.. sa.. sangat dekat. Jawab Lea singkat.


"Aduh... kenapa aku jadi gelagapan begini? Batin Lean.


"Seperti apa hubunga kalian? tanya Devan lagi.


"Kami sudah seperti keluarga. Jawab Lea.


"Ow...


Devan mengambil tangan Lea dan menciumnya.


Zzzzzt.. rasanya aliran darah pada tubuh Lea mendingin sangkin gugupnya akan apa yang Devan lakukan.


"Sa.. sayang.. fokuslah menyetir. Jangan macam - macam, ucap Lea malu - malu.


"Sayang.. aku ingin bawa keluarga aku untuk melamar kamu apakah kamu sedah siap"? Ucap Devan dengan santai.


Bersambung.


 

__ADS_1


__ADS_2