
Mobil yang membawa Lean berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Terlihat semua karyawan dan para penjaga pintu utama gedung itu menundukkan kepala saat Lean keluar dari mobilnya.
Nino sempat tertegun melihat hal itu. Lean tampak berbeda saat berada di tempat ini.
"Wah.. tidak salah lagi. Dia pasti bekerja disini." Nino menyadari bahwa jelas perusahaan itu adalah milik keluarga Lean.
Nino tidak tinggal diam. Ia nekad keluar dari mobilnya dan menyusul Lean.
Nino juga melihat Andre, pria itu juga masih berada di sekitar Lean. Membuat hati Nino sedikit tercubit.
Tentu saja Ninoooo. Secara... Andre adalah sekertaris andalan seorang Lean yang merupakan direktur perencanaan di perusahaan ini.
"Lean tunggu!" Nino kembali menahan lengan gadis itu." Semua orang, termasuk Lean terlihat kaget dengan kemunculan Nino. Para penjaga tidak tinggal diam. Tidak ada yang boleh menghampiri seorang direktur perusahaan ini dengan cara seperti ini. Sangat tidak sopan.
"Sorry.. saya tidak ada urusan dengan anda. Tolong jauhi saya! Pak, tolong jangan biarkan dia masuk" Tegas Lean dan langsung ditanggapi oleh penjaga pintu masuk gedung perusahaan itu.
Nino auto menciut. Seberkuasa itu kah seorang Lean? Kini Nino hanya bisa menerima kenyataan buruk.
ππππ
Di Rumah Sakit.
Pasca drama memeluk dengan cukup alot itu, kini Arles menuntun Calis untuk kembali beristirahat di tempatnya.
Glesty dan Dini pun, sudah berada di ruangan ini.
Glesty mendekati keduanya dengan perasaan yang penuh pertanyaan.
"Arles, jawab mama.. apa yang kamu lakukan terhadap Calista barusan? Kamu tidak macam-macam padanya kan?" bertanya dengan penuh selidik.
Calista:π€¨π
Arles: π€¨"ma! Apa yang mama pikirkan? Jangan berpikir yang aneh-aneh!" ketus Arles.
Beralih pertanyaan kepada Calista: "Calis, kamu tidak di apa-apain sama dia kan?"
Calista menggeleng dengan wajah polos. "Pertanyaan macam apa ini?" batinnya.
"Ya... mama percaya sama kamu." Glesty mengusap kepala Calista. Sedangkan Dini, wanita itu hanya diam menyaksikan Glesty yang memulai introgasinya.
"Jawab mama dengan jujur sekarang juga. Apa sekarang kalian sudah resmi menjalin hubungan lagi?"
Arles melirik Calista. Menurutnya, Calista saja yang memberi jawaban. "Calis, silahkan kamu yang jawab."
"Emmmm... iyya tante! Boleh kah? Tapi bagaimana ini? Putra kesayangan tante menjalin hubungan dengan seseorang yang hanya seperti aku. Gadis cacat, tidak berpendidikan tinggi dan sangat miskin!" Calista merasa sangat sedih mendengar perkataannya sendiri. Ia menundukkan kepala, merasa malu berhadapan dengan Glesty dan Arles.
Mendengar jawaban Calista mengatakan Iya, Arles merasa sangat senang. Walaupun pria itu tau Calista telah membuka hati untuknya, tapi baru saat ini Calista memastikan jawabannya.
__ADS_1
Glesty mendekati Calista. Ia memeluk tubuh ramping gadis cantik itu.
"Tidak apa sayang..boleh.. sangat boleh... jangan merasa seperti itu.. kamu adalah gadis yang hebat. Seseoarang yang sangat berharga bagi putraku."
"Benar kata mama.. kamu sangat berharga bagiku Calista. Kamu adalah kebahagiaanku." Batin Arles. Air matanya pun ikut turun dan segera ia usap.
"Trima kasih tante.." ucap Calista, tulus.
"Tidak perlu bilang terima kasih sayang. Mama yang berterima kasih karena kamu, masih mau menerima anak mama yang tidak seberapa ini." Glesty sengaja mencairkan suasana, membuat mereka semua tersenyum bahkan tertawa.
"Ma.. jadi aku dianggap tidak seberapa?" tanya Arles, membuat mama dan Calista tersenyum usil.
Dini ikut senang melihat kedekatan Glesty dengan Calista. "Baik sekali perempuan ini kepada putriku. Semoga selalu seperti ini. Semoga dia selalu tulus kepada putriku. Semoga Calista berjodoh dengan Arles." batinnya.
Kini waktunya Arles berpamitan untuk mengerjakan tugas negara di RSUD setempat. Sementara, mama Gless dan mama Dini sedang menikmati makanan yang tadi dibawa oleh Lean.
"Calis... aku akan kerja shift sore dan pulang malam. Kalau ada apa-apa minta mama Dini hubungi aku yah!" pinta Arles. Calista mengangguk patuh.
Arles pun berlalu dan menggilang dibalik pintu.
"Haddeeh.. dia baru saja pergi, tapi aku sudah merindukanya" batin Calista.
ππππ
Nino. Pria itu sedang duduk menyendiri di taman yang tidak jauh dari restoran miliknya itu.
"Aku harus cari cara. Aku harus memastikan perasaannya dulu sebelum menyerah" Nino masih bertekad.
ππππ
Beberapa hari berikutnya.
Saat ini, Calista sudah diperbolehkan pulang. Walaupun harus dengan bantuan kursi roda, tetap saja ia sangat senang.
"Maa.. Arles juga pasti senang mendengar berita ini kan? Akhirnya aku akan pulang ke tempat yang bernama rumah." seru Calista.
"Iya sayang.. pasti dia senang. Jadi bagaimana? Apa kita menghubunginya untuk menjemput?" tanya Dini.
"Emmmm.. tidak usah lah ma.. dia mungkin aja sedang sibuk. Aku tidak enak merepotkannya. Dia kan dokter ma, pasti ada banyak pasien yang harus dia rawat." ujar Calista.
"Baiklah.. tidak perlu menghubunginya."
Mama Dini mendorong kursi roda itu untuk segera membawa Calista pulang.
Saat tiba di lobi rumah sakit, tiba-tiba saja Arles muncul di hadapan Calista dan mama Dini. Sepertinya, dia memang sudah tahu kabar kepulangan Calista.
__ADS_1
"Uuuhhh.. dia datang.. duuhh jantung aku kan jadi deg degan? Mana dia ganteng begini lagi!" batin Calista.
Sesungguhnya, Calis sangat senang Arles datang menjemputnya. Tapi, untuk meminta jemput atau semacamnya, itu bukanlah gaya seorang Calista Nara.
"Haii..." sapa Arles, lalu mensejajarkan tingginya dengan Calis yang duduk di kursi roda.
"Hai.." Sapa Calista kembali lalu tersenyum. "Berdirilah disebelahku.." suruhnya pelan. Arles pun berdiri tepat di sisi kiri Calista.
Calista lagi-lagi, memeluknya. Meskipun sedikit terkejut dengan aksi terang-terangan ini, Arles lagi-lagi hanya bisa merasakan kebahagiaan.
Mama Dini? Wanita itu segera pergi dari sana menuju mobil Arles yang sudah terparkir manis di depan sana, dari pada harus menyaksikan keromantisan putrinya ini.
"Ya ampun Calis, kenapa dia seperti ini di hadapan banyak orang? apa anak itu tidak sadar ini adalah tempat umum?" Dini menggeleng.
Arles mengelus kepala Calis yang kini menempel dipinggangnya.
Orang-orang yang berlalu-lalang di lobi rumah sakit ini, menatap kagum ke arah Calista dan Arles.
Ada yang mengagumi keserasian mereka, ada juga yang mengagumi keromantisan mereka dan mengagumi betapa cantik dan tampannya pasangan ini.
"Caliss.. sampai kapan kita disini?" tanya Arles pelan, namun terdengar ditelingan Calista.
"Kenapa? Kamu malu kita seperti ini di lihat orang banyak?" malah balik bertanya.
"Bukan... aku pikir, kamu pengen cepat-cepat pulang!"
"Iya.. tapi aku ingin supaya semua orang tahu, kalau kamu adalah punya aku.. Soalnya aku lihat banyak perawat yang selalu melirikmu dan senyum-senyum tidak jelas."
Entah Calist sedang bercanda atau tidak, yang pasti Arles merasa senang dicemburui oleh kekasihnya ini.
"Emmm.. bagaimana kalau kita perjelas hubungan kita dihadapan semua orang disini?" kata Arles.
Calis menengadahkan wajahnya, karena tidak paham ajan maksud Arles. "Maksudnya gimana?" tanya Calis.
"Itu... maksudku, kissing!" jawab Arles pelan.
"Hah?" Sontak saja Calista melepas pelukannya.
"Ayo, antar aku pulang saja." pintanya.
Arles mengambil alih dorong kursi roda kekasihnya itu. "Ayo, kita pulang, dan tuntaskan hal itu dirumah." Jahilnya pada Calista, membuat gadis itu gelagapan sendiri.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Trima kasih atas seluruh apresiasi kalian untuk karya ini ya Gaes..