
Tidak lama Arland dan putrinya datang dan beberapa saat kemudian, Dini, mama dari Calista muncul bersama Nino.
Melihat kondisi Arles yang sangat kacau, masih mengenakan kemeja yang berlumuran darah, Dini mendekat kearah Arles dengan tubuh bergetar. Arles sedang menundukkan kepala, Frustasi.
"Arles... kenapa anak saya? Kenapa dia ada di dalam ruangan itu? Apa yang terjadi?" Dini menggoncang kuat tubuh pria yang katanya sangat menginginkan putrinya itu.
Arles hanya diam, dan hanya bisa menatap sedih wajah Dini. Sepertinya, pria ini masih shock, belum bisa diajak berkomunikasi.
Lean pergi menyingkir dari sana, untuk menenangkan diri. Rasanya seperti mimpi mengetahui Calista sedang berjuang melawan kematian. Ia lalu duduk di tangga darurat dan menangis disana.
"Naraaaa... apa lagi ini? Kenapa kamu terus menderita? Naraaa.. kamu harus kuat ya!"
Lean terus menangis. Tiba-tiba, ada seseorang yang datang dan duduk disampingnya. Lean tidak peduli. Ia terus menangis. Akhirnya orang itu memeluk Lean.
"Sabaar Lean.."
Ternyata, seseorang itu, ialah Nino. Pria yang selalu membuat Lean deg-degan akhir-akhir ini.
Dipeluk oleh pria ini, Lean hanya bisa pasrah menerima. Apakah Lean baper? Tidak. Saat ini, bukan waktu yang tepat untuk mementingkan perasaannya.
"Nino... kenapa dia, sahabat kita itu, selalu menderita? Kenapa Nino?"
"Suuuut.... sabar... kita hanya bisa sabar dulu.. doakan dia... anggap saja dia sedang beristirahat sekarang!" Nino mengelus pucuk kepala Lean yang menempel di dadanya.
Deg deg
deg deg
Jantung Nino terasa berdebar.. sangat jelas dipendengaran Lean.
Untuk sesaat Lean terdiam.. ia menikmati detak jantung Nino.
"Ninoo....!" Lean menatap Nino dengan menengadakan kepalanya.
"Hmmmm?" jawab Nino dengan balas menatap wajah Lean.
__ADS_1
"Apa kamu sakit? Jantungmu terdengar aneh."
"Haaah?" Nino terdiam. Dia membenarkan apa yang dikatakan Lean.
"Gila.. ngapain jantung aku berdebar tak karuan seperti ini?" Batin Nino.
"Detak jantungmu tidak normal. Kau harus memeriksakannya ke dokter." Betapa polosnya ucapan Lean, lalu ia menghapus air matanya sendiri.
"Iy--iya... aku akan pergi ke dokter."
Lama dalam posisi sedekat itu, suasana berubah canggung. Keduanya saling melepaskan diri, saling meminta maaf, salah tingkah.
πΌπΌπΌπΌπΌ
Salah seorang dokter keluar dari ruangan, mengabarkan bahwa pasien telah kehilangan banyak darah. Sayang sekali, tidak seorangpun diantara mereka yang sedang menunggunya punya golongan darah yang sama dengan yang dimiliki Calista. Sementara, persediaan kantung darah dirumah sakit juga terbatas.
Hal itu tentu saja membuat Arles semakin bingung. Namun, dia tiba-tiba teringat akan kedua sahabatnya, Fran dan Bagas. Dua orang itu mimiliki golongan darah yang sama dengan Calista.
Arles segera meraba ponselnya, namun tidak ada.
πΌ
Cklek
Bagas membuka pintu dengan wajah malas.
"Apa lagi? Kau selalu mengganggu tidurk----"ucapan Bagas terhenti ketika matanya fokus tertuju pada pakaian Arles yang berlumuran darah. "Apa yang terjadi Arles? Apa ada yang melukaimu?" Dia meraba kemeja sahabatnya itu.
"Ikut aku ke rumah sakit. Sekarang. Wanitaku, sedang membutuhkan bantuanmu." Arles, dengan wajah memprihatinkan.
Bagas yang memang cekatan, dia langsung paham. dan menutup pintu apartemennya. "Ayo kita jalan!" Bagas segera mengucik ponselnya, mencari nama kontak Fran.
"Halo Bag" suara serak Fran di ujung sana.
"Segera ke rumah sakit X sekarang. Darurat. Si Calista membutuhkan kita."
__ADS_1
"Baik, aku langsung meluncur." dengan nada yang terdengar bersemangat.
tut tut tut.
Fran mematikan sambungan sepihak.
Bagas: "Cih.. dia sangat bersemangat!" Gumannya, lupa kalau Arles pasti tak suka mendengarnya.
Tanpa banyak bertanya, Fran benar-benar langsung meluncur, dengan berbagai praduga yang bersarang memenuhi otaknya.
Nino juga tidak tinggal diam. Pria itu juga inisiatif berusaha mencari bantuan, agar kebutuhan darah untuk Calista bisa terpenuhi.
Arles dan kedua sahabatnya tiba di rumah sakit, dengan langkah cepat ketiganya menemui dokter.
"Dok.. kedua orang ini mimiliki golongan darah yang sama dengan Calista dok.
Fran: "Iya dok, benar. Saya sangat bersedia mendonorkan darah saya. Ambil sebanyak apapun yang dokter inginkan.
Bagas: "Hadehh.. lebay!" batin. "dok.. saya memang belum pernah melakukan donor darah. Tapi saya juga bersedia. Tapi dok,,,, dua minggu lagi saya akan menikah. Apakah tidak apa-apa?" Tentu saja perkataan Bagas menuai tatapan intimidasi dari Arles. "Sempat-sempatnya mengkhawatirkan pernikahan yang masih 2 minggu lagi.?" batinnya.
Dokter lalu segera menjelaskan semuanya secara singkat.
Keduanya pun diarahkan untuk menjalani proses pemeriksaan sampai ke pendonoran.
πππ
Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya pintu ruang operasi itu terbuka juga.
Sontak saja semua yang telah menantikan Calista mendekat kearah dokter.
Dokter: "kami sudah berusaha sebaik mungkin. Operasi juga berjalan dengan lancar. Akan tetapi.... pasien---" dokter memberi jeda pada kalimatnya.
"Katakan dok, ada apa?" Arles sudah tidak sabaran.
Dokter: "Maaf harus mengatakan ini... pasien.. sangat kecil kemungkinan pasien untuk bertahan."
__ADS_1