I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Ku Menangiis (Season 2)


__ADS_3

Masih di warung nasi goreng.


"Mbaak. 1 porsi lagi... yang level 1." seru Fran dari tempat duduknya.


"Hah?" Calis hampir saja tersedak nasi goreng set*n yang sedang ia nikmati.


" Tuuu kan... ketagihan!" ledek Calis yang auranya kini terlihat baik-baik saja.


Fran hanya tersenyum. Pria itu tidak pernah menyangka ternyata nasi goreng di pinggir jalan ini sangat enak.


"Jadi, kesepakatan apa yang mau kau katakan?" Calist.


"Emmmmm.. itu... tentang mantanku." Fran.


"Lalu?"


"Aku ingin kau barakting menjadi kekasihku!"


"Akting yang seperti apa maksudmu?"


"Ya apa lagi kalau bukan bermesraan didepannya! Kau hanya perlu berada disampingku saat dia melihatku. Dan kau harus bersedia mengikuti alur permainanku."


"Maksudmu, apapun yang kau lakukan, harus ku ikuti?"


"Ya!"


"Kau tidak berencana mengambil kesempatan melecehkanku kan?"


"Astagaa.. apa kau kira aku ini penjahat!?" Kesal Fran.


"Iya... aku hanya bercanda.." Calis terkekeh.


"Oke...untuk waktunya, aku akan menghubungimu lagi." Fran.


"Baiklah.. tapi kalau untuk itu, tarifnya berbeda. soalnya itu resikonya lebih tinggi." terang Calis.


Fran terlihat jengah kembali mendengar tentang tarif yang disebut Calista. "Terserah berapapun tarifnya." ucap Fran.


"Oke, sepakat." Calis menyodorkan tangannya.


Jadi, mereka sepakat untuk berakting, karena Fran ingin tahu, apakah mantan terindahnya itu masih cemburu padanya atau tidak.


\=\=\=\=\=\=


Di kediaman Arland.


Seorang pria muda tengah berbaring menatap langit-langit kamarnya yang luas itu. Pikiran pria itu kembali melayang kepada seseorang yang bernama Calista.


"Aku menaikkan tarifku menjadi 350ribu/jam."


Kalimat itu kembali berkeliaran didalam kepala Arles. Lama kelamaan, kalimat itu terdengar semakin jelas. Senyuman Calis setelah berbicara dengan pelanggannya itu jadi teringat lagi dan itu berhasil membuat Arles merasa marah.. sangat marah.


"Kenapa aku tersiksa begini? Kenapa aku harus memikirkan wanita murahan seperti dia? Kenapa? Kenapaaaa? Kenapa aku harus sesakit ini....? Aaaaaaaaaaaaa!" Arles berteriak frustasi.


"Aku sangat membencimu Calistaaa... Aku benci. Aku benciiiii. Aaaaaaaaaaaaa." Teriak Arles didalam kamarnya. Pria itu mengamuk, hingga membuat seluruh isi kamarnya kini berantakan.


Bruuak..


Glesty dan Arland muncul bersamaan dan betapa kagetnya melihat pemandangan ini. Putra sulungnya itu terlihat sangat kacau. Tak ubahnya keadaan kamar miliknya ini.


Beruntung kamar itu dalam keadaan sedikit terbuka sehingga peredam suara dikamarnya ini tidak berfungsi dengan benar.


"Arleeess.. sayang.. kamu kenapa nak? Ada apa sayang?" Glesty memeluk tubuh anaknya itu sambil menangis karena panik.


Lama Arles hanya menangis terisak dalam pelukan hangat sang ibu.

__ADS_1


"Maaa.. Calista maaa.. aku benci pada Calis ma.. aku benci.." Arles menangis.


"Calista?" Glesty merasa ragu, sebenarnya siapa yang dimaksud putranya ini?


"Calista ngecewain aku maaa.. padahal aku adalah good boy kan maa. Aku menjaga dia dengan sangat baik. Satu kalipun aku tidak pernah macam-macam dengannya ma... tapi kenapa? kenapa dia setega ini ke aku ma? kenapa?"


Glesty hanya bisa mendengar keluhan Arles, seraya mengelus punggung putranya itu.


"Sayang.. tenangkan diri kamu dulu ya... kalau sudah tenang, baru ceritakan lagi." Glesty benar-benar tidak sanggup melihat kesedihan putranya ini.


"Kenapa nama Calista muncul lagi setelah sekian lama? Bukankah putraku ini pernah mengatakan bahwa Calista adalah masa lalu?"


"Sebenarnya apa yang telah dilakukan Calista? Kenapa putraku jadi begini?"


"Papa... mama...!" Lean masuk ke kamar kembarannya itu.


Degh....


Lean terkejut akan situasi dan kondisi Arles saat ini. kembarannya itu terlihat sangat jauh dari kata tampan dan perfect seperti yang biasanya. "Ada musibah apa ini?" batin Lean.


"Arlees... ada apa denganmu?" Tak ada jawaban.


"Pa... ada apa ini? Apa dia patah hati lagi?" Lean bertanya pada Arland yang dari tadi hanya diam. Sepertinya Arland tengah mengingat masa lalu ketika melihat situasi ini.


Arland menarik napasnya berat sebelum akhirnya mengatakan sesuatu. "Lean, bantu mama bawa kakak kamu ke kamarmu dulu. Papa mau panggil pelayan untuk mengurus kekacauan ini." Arland pun berlalu pergi.


Lean merasa digantung, sebab tidak ada yang memberi jawaban tentang kenapa dokter muda ini terlihat gila.


"Ayo Arles.. berdirilah.. sampai kapan mama harus memelukmu? Apa kau tau usia berapa kau sekarang?" Ketus Lean tak berperasaan, dan mendapatkan pelototan tajam dari mata mama Gles. "Hmmmmm" Lean memutar bola matanya jengah atas respon dari mama ketika Lean mengatakan itu terhadap Arles.


"Ayolah sayang.. kita pindah ke kamar lain dulu ya!" Mama dengan sikap lembutnya membujuk Arles yang bersikap seperti ABG patah hati.


"Maaa.. papa bilang ke kamar aku disebelah kan! Biar dekat." sahut Lean, yang masih ingin mengepoin saudara kembarnya ini. Karena mama Glesty sangat paham akan maksudnya. Mama pasti gak ngizinin Lean untuk mengganggu Arles saat sedang menenangkan diri.


Pria itu melangkah keluar diikuti mama dan Lean dibelakangnya. Tanpa banyak bicara, dia masuk ke kamar Lean. Tidak peduli lagi betapa menggelikannya berada dikamar yang didominasi dengan warna pink ini. Arles naik ke atas tempat tidur Lean dan langsung berbaring manis disana.


Glesty keluar meninggalkan anak kembarnya itu setelah memberikan peringatan kepada Lean untuk tidak membuat mood kakak kembarnya kembali memburuk.


Lean yang usil pun, ikut naik ke ranjangnya itu untuk menuntaskan kekepoannya.


"Kaaaak... kau kenapa?" Lean mengusap rambut Arles, bak seorang ibu yang sedang memberi perhatian kepada anaknya.


"Jangan tanyakan apapun!" Arles menutup matanya setelah mengatakan kalimat singkat itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Di kamar utama.


Glesty dan Arland tengah duduk bermesraan di sofa sembari menonton televisi.


"Sayang.. kenapa dia tiba-tiba menyebut nama gadis setelah sekian lama?" Arland.


"Aku juga penasaran. Itu yang ada dikepalaku sejak tadi. Sejak kapan dia ketemu lagi dengan Calis? Kenapa dia tidak pernah cerita?" Glesty.


"Atau kita cari gadis itu. Menurut feelingku, dia bukan benci padanya. Tapi, cinta. Anak itu pasti mencintai gadis itu." Arland.


"Lalu kalau cinta kenapa dia bilang benci? Apa Calis menghianatinya atau semacamnya?" Glesty.


"Ah.. tapi dia sudah dewasa. Dia pasti bisa menyelesaikan masalahnya." Ucap Arland.


"Sayang, apa dulu... kau juga pernah seperti dia?" Glesty sengaja menyinggung masalalu."


"Ehmmm.. apa kau senang jika aku bilang pernah?" Celetuk Arland dengan sengaja menekan kata-katanya.


Glesty tersenyum "jadi dulu pernah menghancurkan barang menjadi berantakan seperti tadi?" Glesty menangkup kedua pipi suaminya. "Jadi rupanya kelakukan buruk seperti tadi menurun darimu yaa... kalian benar-benar mirip sayang!" Glesty terkekeh membayangkan Arland yang dulu. Arland yang juga pernah bersikap jahat saat tidak tau apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan... anak itu hanya sedang salah sangka terhadap Calis?" Glesty dan Arland menduga-duga.


"Pa.. sebaiknya kita temukan Calis dulu. Mama benar-benar penasaran dengan hubungan mereka berdua." Glesty.


\=\=\=


Restoran Nino.


Keesokan harinya. Hari ini, mama Gless menutup tokonya, jadi para karyawati kecenya itu dengan senang hati beristirahat ria, sebelum nanti malam menghadiri pesta ulang tahun princess Lean.


Di perayaan hari ulang tahun Lean, Calis harus membawa hadiah yang diinginkan sahabatnya itu, yaitu Nino. Lean hanya meminta Nara untuk membawa Nino ke pestanya. "Gadis itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaannya" batin Calist.


Tok tok tok.


"Masuk"


Cklek...


"Pagi Ninoooo" Calista muncul dengan senyumannya.


Nino mengerutkan kening. Pasalnya, ini terlalu pagi dan restoran belum open. Lagi pula Calista kerjanya pada malam hari.


"Ada apa ini? Tumben mendatangiku sepagi ini?"


Nino bersikap santai, padahal hatinya sangat senang karena kedatangan Calista, sahabat yang dicintainya ini. Cinta loh ya.. bukan sekedar perasaan sayang kepada sahabat. Melainkan, Nino menyimpan perasaan Cinta pada Calista, yang sayangnya tidak pernah disadari oleh gadis itu.


"Hehehe.. Nino....."


"Hmmmmm"


"Ada acara nanti malam?"


"Tidak. Kenapa?"


"Temanin aku dong Nino.."


"Kemana"


"Ke acara ultah teman.."


"Ehmmm... sebagai apa?"


"Ya sebagai gandengan aku lah Nino.. masa yang lain datang bawa gandengan, aku ga ada gandengan." Calis memajukan bibir bawahnya, terlihat sangat lucu.


"emmmmm.. oke!" Jawab Nino. Bohong jika Nino tidak merasa senang. Pria ini bersorak gembira dalam hatinya.


"Sebagai gantinya, kau bantu pekerjaanku hari ini!" pinta Nino.


"Boleh, tapi aku boleh pergi setelah makan siang gratis darimu. Soalnya, aku mau jenguk papaku."


"Okheee." Jawab Nino.


.


.


.


Bersambung.


Gais.. trima kasih👌👌👌.


oia gais... Othor selalu lupa mau minta maaf ke kalian semua. Tentang anu.. othor sadar dalam penulisan cerita ini masih sangat-sangat kurang dari segi apapun. Terkadang mau ngepost tu, ada rasa kurang PD karena ga bisa seperti yang kalian harapkan. Duh, mau bilang itu aja sih dari hati yang terdalam😁.


Ayo lanjut, tp author nulis dulu😆.

__ADS_1


__ADS_2