I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
...........


__ADS_3

Tok tok tok...


"Nara... Naraa.."


"Siara Lani sama Fina?"


Ceklek..


Pintu dibuka.


"Naraaaaaaaaaaa" Kedua teman Calis itu meneriaki nama Nara dan langsung memeluknya.


"Iiiiih bocah ini. Kami merindukanmu..!" Nara hanya tersenyum dan meminta keduanya masuk.


Lena dan Fina tidak lupa menyampaikan belasungkawanya atas meninggalnya ayah dari Calista Nara.


Kak Lena sama kak Fina sehat?" tanya nya basa-basi.


"Seperti yang kamu lihat Naraaa! Ih.. tumben ya manggil kita kakak!" sahut keduanya.


"Eh.. gimana-gimana? Kami dengar gosipnya ternyata kamu pacaran sama anaknya bu boss yah? Si ganteng itu?"


"Cissh,, kata siapa? Jangan asal deh kak."


"Cieee yang malu-malu... cocok kok!"


"Kak.. cuma mantan kok, sudah putus dari dulu. Cuma kabarnya aja yang baru terendus. Beneran deh!"


"Jadi begitu? Trus-terus, gimana rasanya jadi pacar dari orang setampan dia? Pasti asik yah?"


"Kak Lani...aku tidak mau mengingat masa lalu. Udah ah, bahas yang lain aja.!"


Ketiganya pun hanyut dalam obrolan yang tidak penting.


🍁


Calista juga turut serta dengan keduanya untuk berangkat ke mall.


"Naraaa! Sayaaaang! Selamat datang kembali ke toko mama..." Glesty menyambut Nara dengan perasaan bahagia. Fina dan Lena yang menyaksikan itu merasa gemes. Betapa baiknya hubungan antara calon mertua dan menantu ini.


"Maaf tante.. Ada yang mau saya bicarakan." ucap Calista.


"Oh tentu saja sayang, kemari!" Glesty menuntun Calista untuk masuk keruangannya.


Calista lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya.


"Tantee.. ini sisa hutang saya pada tante!


"Caliiss? Tolong jangan begini. Saya tidak pernah meminta kamu membayar kembali uang itu!"


"Tapi saya meminjamnya tante... Saya juga tidak enak memiliki hutang pada tante.." icap Calis lagi.


"Dan ini surat pengunduran diri saya tante..." Calis menyodorkan kertas putih terlipat, yang bertuliskan pengunduran diri.


"Tidak bisa begini Calista.. tolong kamu pikirkan lagi. yah?"


"Saya sudah memikirkannya tante." Calista beranjak dari duduknya.


"Apa karena dia? Karena keberadaan dia? Karena Arles?" Glesty yakin, tebakannya benar.


Calista terlihat menarik napasnya berat. "Saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak terhubung lagi dengan dia tante. Jadi, salah satu caranya ya tidak bekerja lagi disini."


"Calista benar-benar tidak menyukai putraku lagi."


"Saya permisi tante!" Calista pun berlalu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Ditempat lain.


"Boy... apa kau sehat?"

__ADS_1


Arland memasuki kamar putranya tanpa mengetuk, karena pintu kamar itu tidak tertutup.


Arles sedang duduk dikamarnya, melihat keluar dengan tatapan sendu. Tanpa bertanya pun, Arland sudah tahu, ada apa dengan putranya ini.



"Aku sehat pa..." menjawab sekenanya.


"Papa tahu, hatimu sedang tidak sehat. Jadi, jangan lupa makan. jaga kesehatanmu supaya tetap fit.


"Pa... apa yang dulu papa rasakan saat pertama kali tahu bahwa aku dan Lean adalah anak papa?"


Arles malah mengungkit masa lalu papa Arland. Tentu saja Arland masih mengingatnya dengan sangat jelas.


"Kenapa tiba-tiba ingin tahu tentang perasaan papa?"


"Aku hanya ingin tahu, apa yang papa rasakan. Mengetahui wanita yang papa cintai ternyata berjuang membesarkan anak-anak tanpa kehadiran papa sebagai suaminya.


"Pa... aku sangat menyesal pa.. aku menyesal sudah meninggalkan dia. Seharusnya dulu, aku menjadi orang yang menemani dia. Tapi, karena kemarahanku aku malah pergi pa..


"Sekarang, saat aku sudah tidak marah, saat aku sudah menyesal, dia sudah menutup hatinya. Dia sudah tidak menginginkan aku pa.. apa yang harus aku lakukan?"


"Boy... saran papa, kamu hanya bisa sabar, berdoa dan terus berusaha untuk membuka hatinya lagi. Kalau dulu, papa tidak terlalu lama proses mengejar cinta mama kembali karena memang dasarnya hati kami masih sama."


"Memang sulit menyembuhkan hati yang sudah sakit Arles.. Bersabarlah, tunjukkan niat tulus kamu ke dia. Mungkin saja, suatu saat dia akan memaafkanmu." Arland menupuk-nepuk punggung Arles.


🍁🍁🍁🍁🍁


Calista sedang berada di restoran milik Nino. Mulai saat ini, gadis itu akan bekerja disini. Untuk pekerjaannya di rumah sakit, dia terpaksa melepaskannya. Lagi pula, tidak ada lagi alasan baginya untuk berkunjung ke rumah sakit itu.


Nino tentu saja sangat senang akan hal ini. Dia bisa lebih banyak waktu untuk bersamanya, gadis yang merupakan sahabat yang dicintainya sejak dulu.


"Nara....!!"


Terdengar suara lembut yang memanggil namanya. Saat Nara menoleh, orang itu adalah sahabatnya, Lean.


"Ada apa?" tanya Calis.


"Baik, mari ikut saya." Nara mengajak Lean menuju ruang kerja Nino.


Kebetulan, Nino sedang keluar jadi tidak berada di tempat.


"Bicaralah"


"Nara.. kamu sudah mengakhiri hubungan dengan toko tas milik mama. Apa kamu juga akan mengakhiri persahabatan kita?"


"Sepertinya memang harus begitu Lean."


"Tapi kenapa? Apa salah aku? Kenapa aku harus dibenci juga?"


Nara tersenyum getir.


"Lean... aku tidak membencimu. Aku hanya menghindari sesuatu yang bisa menghubungkan aku dengan Arles."


Seperti yang pernah Kamu bilang, aku boleh menghukumnya sesukaku kan? Nah sekarang aku sedang melakukannya.."


HUGH.


Lean tiba-tiba memeluk Calista. Lean menangis.


"Tapi aku pengen kita tetap seperti biasanya Nara. Aku tidak bisa kehilangan kamu!"


"Lean, setelah aku pikir-pikir semalaman, aku sudah kembali ke Calista yang sebelumnya. Yang tidak mau membenci ataupun dendam pada siapapun termasuk dia. Tapi,, aku hanya tidak mau lagi melihat dia. Kalau bisa, dia jangan muncul lagi di depanku atau disekitarku Lean. Aku, tidak mau lagi berurusan sama dia. Kata-katanya yang menyakitkan itu masih terngiang-ngiang dikepala aku."


"Naraa... jawab aku dengan jujur. Apa kamu gak punya perasaan sedikit aja untuk Arles? Walau hanya Sedikit?"


"Lean... hati kecil aku memang pernah mengharapkan dia, menunggu dia. Tapiii.. harapan kecil itu sudah hilang tepat disaat aku menamparnya malam itu. Perasaan itu sudah dihapus oleh kemarahanku. Dia.. dia sendiri yang membuat aku menghapusnya."


"Nara.... boleh tidak menyukai dia, tapi tetaplah berteman denganku ya... kita akan tetap bertemu seperti biasanya. Nanti aku akan menghubingimu lagi. Permisi Nara, aku pergi!" Lean keluar dari ruangan itu.


"Enak aja Nara mau memutuskan pertemanan kita, cuma gara-gara si bodoh itu! Tidak akan kubiarkan!" gumam Lean.

__ADS_1


Brug....


"Awwwwwww.." pekik Lean, setelah tidak sengaja bertubrukan dengan seseorang. Beruntung saja Lean tidak terjatuh. Kalau saja tidak ada tangan yang menahannya, betapa malunya gadis itu jika harus menjadi tontonan banyak orang jika tubuhnya tergeletak di lantai.


"Emm mmaaf! Terima kasih! Ucapnya, tanpa berani menatap wajah orang itu.


"Ehmmm.. tidak apa.. lain kali kalau jalan, matanya di pakai biar tidak menabrak orang!" Ketus orang itu, yang ternyata ialah Nino.


"Nino?" batin Lean.


"Ohhh. Maafkan saya.. permisi!" ucapnya lagi, lalu melanjutkan langkahnya.


"What? ada apa dengan gadis itu? Biasanya dia selalu bertingkah manis didepanku! Ada apa sekarang? Dia sudah tidak mengenalku?" Batin Nino, sedikit kesal.


Lean melanjutkan langkah anggunnya dengan menyunggingkan senyum, membiarkan Nino bingung akan sikapnya.


Nino masuk ke ruangannya.


"Tunggu. Kenapa Lean si sok imut itu tampil sangat berbeda? Berpakaian rapi, sopan dan lihat saja tadi. Dia seperti tidak mengenalku." Nino termenung memikirkan Lean.


🍁


"Ehmmmm..! Nino?"


"Ahhh??" Terkejut.


"Calis... kau mengagetkanku!"


"Kageet? Dari tadi aku memang berada disini. Jadi, kau tidak melihatku tadi?"


"Iya... maaf. Aku tadi tidak fokus." jawab Nino.


"Sepertinya aku mendengarmu menyebut nama Lean, kau tadi bertemu ya dengannya?"


"Hmm?? Iya.. kami berpapasan!"


"Cie Ninoooo... jadi ada apa dengan Lean? Apa kau mulai tertarik dengannya?" Calis tersenyum jahil.


"Yaa?? Aku?? gadis sok imut itu? Suka? Kau sakit? Tentu saja tidak. Dia bukan type ku."


"Cihh Nino.. hati-hati loh terjebak sama kata-kata sendiri.!" Calista menyentik lengan Nino.


"Sudahlah.. jika kau tidak ada urusan lain disini, cepat kerja sana.!"


"Baiklah Boss Nino.. saya permisi!" dalam sekejap, Calista menghilang dibalik pintu.


🍁🍁🍁🍁


Dalam Perjalanan dari rumah sakit.


Arles mengemudikan mobilnya menuju restoran Nino. Bukan untuk makan, melainkan agar bisa menemui Calista Nara.


"Kali ini, Calista harus mau berbicara denganku. Aaaahh! Semoga saja ya Tuhan!" batin Arles.


Tiba di halaman parkir Restoran.


Dari dalam mobil, Arles dapat melihat dengan sangat jelas senyuman Calista yang ditujukan kepada para pengunjung. Wajah Arles pun ikut tersenyum, seolah sedang membalas senyum ramah gadis itu. Jantungnya bahkan ikut berdebar saat menatap Calista yang walaupun hanya sepihak.


"Aku memang terlambat menyadari perasaanku yang sesungguhnya Calista. Aku mengira bahwa aku sangat membencimu. Tapi ternyata bukan seperti itu. Aku justru sangat merindukanmu yang ku tepis dengan perasaan marah dan perkataan bodohku. Mau kah kau memaafkanku sekali saja?"


Arles terus bermonolog panjang lebar, dengan perasaan bersalahnya.


.


.


Bersambung.


Gaesss maaf kesiangan😊


Gaes... othor udah up di novel Perjodohan Janda Duda.

__ADS_1


Tapi masih review dari tadi. Kok lama bgt yah?


__ADS_2