I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Cincin Kawin (Season 2)


__ADS_3

Guuuuys... selamat membaca ya...


Emmmm... kalian sehat kan?


Oke... kita lanjut.


πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“


Setelah obrolan jarak jauh dengan Dion berakhir, Calis kini menunggu panggilan dari kontak Arles. 5 Menit menunggu, Arles tak kunjung menghubunginya.


"Apa yang pria itu lakukan di Jepang? Perasaan dia mengatakan kalau akan berangkat ke Thailand! Dia mulai main-main denganku?"


Drrrrt drrrrt...


"❀Arles" Memanggil.


Tentu saja Calista tidak menunggu lama dan langsung menjawabnya, namun tidak menyapa.


Arles yang mengetahui panggilan telah terhubung namun si penjawab tidak mengatakan apapun, menyapa terlebih dahulu.


"Sayang...." sapa Arles.


"Arles... sejak kapan Thailand pindah ke Tokyo?" tanya Calista yang langsung menyerang Arles dengan nada ketus.


"Ups... sayang.. jangan ngomel-ngomel"


"Aku tidak mengomel. Aku sedang bertanya. Lalu apa itu? Kenapa memberi hadiah tak masuk akal untuk adikku tanpa berdiskusi denganku?"


"Sayang.. tenang yah.. jangan marah. Lagipula memberi hadiah harus dengan perasaan tulus. Tidak perlu menanyakan pendapat orang." jawab Arles.


"Iya, tapi tidak perlu seperti itu. Aku tidak mau adikku akan manja padamu. Lain kali jangan lagi."


"Baiklah sayang.. lain kali tidak lagi." Lagi-lagi menjawab singkat.


"Jadi kapan akan pulang?"


"Minggu depan sayang. Tahan dulu kangennya."


"Dasar narsis, aku tidak kangen padamu. Ingat, berhenti memberikan sesuatu yang berlebihan pada adikku atau kamu akan menyesalinya."


Tut tut tut... Calista mengakhiri panggilan secara sepihak.


"Wanita ini tidak sopan, lancang sekali mengakhiri panggilanku" gerutu Arles.


πŸ˜‚"Kak.. dia sangat berani padamu.. tadinya aku berpikir kakak ipar akan menindas kakakku. Tapi, sekarang aku percaya kakak tidak akan berani macam-macam padanya." seru Dion yang sedari tadi menyaksikan pembicaraan dua sejoli itu via telepon.


"Cih... kau mengejekku sekarang? Siapa pula yang ingin menindasnya.. tunggu saja dia.. begitu aku pulang ke Tanah Air, akan ku nikahi dia sesegera mungkin." Arles menyunggingkan senyum diakhir kalimatnya.


"Ah... syukurlah, pria ini sepertinya sangat menggilai kakakku." batin Dion.


Keesokan harinya. Arles mengajak Dion mendatangi sebuah toko perhiasan ternama.


"Kenapa lagi dia mengajakku memasuki toko perhiasan?" Dion mulai membatin.


"Kak, kenapa kita kesini? Jangan bilang kakak akan memberiku hadiah perhiasan kali ini!"


"Hah.. kau sangat PD. Aku ingin membeli cincin pernikahan untukku dan kakakmu."


"Benarkah? Wah... bagus kalau begitu." Dion bersemangat.


"Tugasmu adalah menentukan ukuran yang cocok dengan jari manis kakakmu!"


"Haaaa? Bukankah belakangan ini kalian yang selalu bersama? Bagaimana aku tahu ukuran jarinya?"


"Dia kakakmu.. kau harusnya tahu."


Dion terlihat menggaruk-garuk kepalanya yang tidaklah gatal. Dilihatnya seorang gadis sedang berjalan melalui pintu masuk toko perhiasan itu, yang posturnya mirip dengan Calista.


Seolah mendapatkan sebuah ide cemerlang, Dion menyambar kotak perhiasan yang berisi sepasang Cincin, yang sedang dipegang oleh Arles.


"Kak, yang ini untuk kak Calis kan? Aku akan memgeceknya." Diambilnya salah satu cincin itu dan menghampiri gadis yang tadi di lihatnya.


" γ™γΏγΎγ›γ‚“γ€γŠε¬’γ•γ‚“" penulisan dalam bahasa Jepang yang artinya Permisi nona," (pengen ngakak aku. Jangan tanya gimana penulisan dalam ejaan yang benar. Othor juga gak tau. πŸ˜„πŸ˜„). Lanjut.


Gadis itu menatap heran wajah Dion. Tatapan heran sekaligus kagum.


"Maaf, saya boleh meminjam jari manis anda?" Dion bertanya dengan sopan dalam bahasa Jepang tentunya.


Gadis itu seakan terhipnotis, dia mengulurkan tangannya. Dion dengan segera memasangkan cincin tersebut ke jari lentik gadis itu. Membuat jantung wanita itu terasa mau meledak.


Setelah memastikan cincin itu terpasang dengan sempurna dan ukuran yang ternyata cocok, Dion menarik gadis itu membawanya mendekati Arles.


"Kak, bukankah postur kakakku seperti cewek ini? Lihatlah! Sangat pas di jarinya!" seru Dion dengan bangganya.


Gadis itu, hanya tersenyum malu ke arah Arles dan sesekali mencuri pandang ke arah Dion.


Arles tersenyum simpul lalu menatap sekilas Dion dan gadis disebelahnya.


"Tadinya aku berniat yang ini. Tapi karena kau memakaikannya ke tangan orang lain, aku ganti dengan yang lain saja"


"Ya ampun kakak ipar, cincin ini, aku hanya memastikan ukurannya. Bukan memberikannya pada gadis ini."


"Tetap saja.. wanita ini sudah memakainya. Aku tidak ingin memberikan bekas orang lain kepada calon istriku."


Arles pun meminta cincin lainnya yang berukuran sama dengan yang diukurkan kepada gadis tersebut. Cincin yang belum pernah disentuh oleh pengunjung lain.


Dion hanya mengangguk kepala dengan wajah heran atas kelakuan aneh kakak iparnya ini.


"Baiklah, terserah kau saja kak!" ucapnya malas.


"Lalu bagaimana dengan cincin ini?" ucap Gadis itu, fasih dengan bahasa Indonesia, gadis itu menunjuk jarinya.

__ADS_1


"Hah? Jadi anda juga orang Indonesia? Maafkan dan terima kasih atas bantuan anda." Ucap Dion gelagapan, lalu mengambil kembali cincin tersebut dari jari manis gadis itu, tampak sedikit kekecewaan terukir di wajah gadis itu.


"Oh... iya.. sama-sama.. kalau begitu, saya permisi." Gadis itu pun pergi, dengan jantungnya yang berdebar.


"Aduuuuh.. mimpi apa aku tadi malam? Kenapa tiba-tiba ada cowok ganteng menyematkan cincin di jari manisku?" gadis itu bergumam mengagumi ketampanan Dion.


"Ah... siapa namanya? Berapa umurnya? Kenapa dia terlahir dengan kadar ketampanan yang maksimal begitu? Aku sangat gugup sehingga tidak sempat berbasa-basi." Gadis itu terus saja membayangkan wajah Dion.


\=


"Dion, kenapa kau mengambil kembali cincin itu? Kenapa tidak langsung saja jadikan gadis itu pacarmu?" Arles basa-basi.


"Cih... kakak usiaku baru melewati 20. Yang benar saja!"


"Dia terlihat menyukaimu Dion." ucap Arles asal.


"Jangan asal bicara kak. Mana mungkin menyukaiku hanya dalam sekali bertemu."


"Hei... kau lupa aku ini seorang dokter? Aku menguasai ilmu psikologi. Aku bisa menilai orang."


"Ah... terserah kau saja kak." Dion sudah malas ribut.


\=\=\=


Di Tempat Lain.


Seperti biasa, Arland berada di kantor untuk bekerja.


Tok tok tok.


Ceklek, seorang gadis yang merupakan sekertaris papa Arland membuka pintu.


Jangan tanyakan jabatan terkini sekertaris Anton. Beliau sekarang menjabat sebagai kepala sekertaris sekaligus asisten pribadi Arland saat dibutuhkan.


"Permisi Pak.. di luar ada seseorang yang bernama Elnino ingin menemui anda." ucap si sekertaris.


"Oh.. suru dia masuk." perintah Arland.


Masuklah Nino dengan sorotan matanya yang hanya melihat lantai.


"Permisi paman. Maaf mengganggu waktu anda."


"Nino...! Silahkan duduk." Nino pun mengikuti perintah Arland.


"Jadi ada apa ini?" tanya Arland, meskipun sudah menebak maksud kedatangan Nino.


"Paman, tolong maafkan kesalahan saya di masa lalu."


"Hei Nino, jangan berlebihan. Lupakan!"


"Paman.. Izinkan saya tetap bersama putrimu. Saya janji tidak akan mengecewakan dia paman."


"Aku tidak meragukan kesungguhanmu Nino. Yang harus kau datangi itu istriku. Datangi dia.. yang mempermasalahkan hal ini hanya dia." terang Arland, memberi lampu hijau keoada Nino.


Tidak berhenti sampai disitu, sesuai saran dari Arland, Nino kini memasuki mall untuk menemui Glesty di tokonya.


"Permisi..." Nino menyapa beberapa pegawai Glesty.


"Iya mas? Ada yang bisa dibantu?"


"Saya ingin bertemu dengan boss kalian"


"Maaf, bos yang mana yah? Ibu atau anaknya bu boss?"


"Saya ingin bertemu ibu."


"Baiklah, silahkan ikuti saya mas."


Glesty terlihat sedikit terkejut atas kedatangan Nino.


"Nino? Kamu datang?"


"Iya tante.." jawab Nino gugup.


Wanita ini adalah tantangan terbesarnya saat ini.


Nino pun mengutarakan maksudnya tentang tekadnya untuk bersama Lean.


"Tante mengizinkanmu bersama Lean, tapi tidak menikah."


Deg.


"Tapi tante.. saya ingin menjadikan dia istri saya."


Glesty menyunggingkan sudut bibirnya membentuk senyum seringai.


"Sepertinya anak ini sungguh-sungguh."


"Bawalah kedua orangtuamu menemui kami. Pastikan mereka juga setuju atas hubungan kalian. Karena belum tentu orangtuamu setuju dengan hubungan ini. Sebelum membawa mereka kerumah, jangan dulu bertemu Lean."


\=\=\=\=


Setelah menyelesaikan segala urusannya di Jepang dan Thailand, Arles kembali ke Tanah Air dengan membawa perasaan rindu beratnya yang sudah tak tertahankan.


Lebih dari 1 minggu berpisah dengan Calista, sungguh menyiksa Arles.


"Arles.. kamu sudah datang sayang?" Mama Gles memyambut anaknya itu dengan pelukan hangat.


"Boy... kau sudah sampai rupanya. Terima kasih banyak atas kerjasamamu ya Boy.. rekan bisnis kita sangat puas. Seperti biasa, mereka selalu mengagumimu."


"Iya Pah... sama-sama. Oia Pah Ma, aku permisi mau ketemu Calista dulu yah.."

__ADS_1


"Sayang.. tunggulah.. kita makan malam dulu."


"Tidak bisa Mah... Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya. Dia tidak tahu kepulanganku. Aku ingin membuat kejutan untuknya."


"Cish.. Arles.. untuk apa Calista terkejut atas kepulanganmu?" Lean tiba-tiba muncul.


"Pacar macam apa kau itu? Baru tiba dirumah, belum mandi langsung mau menemui pacarmu. Yang ada kau hanya akan membawa virus penyakit untuknya." sambung Lean lagi.


"Diamlah kunyuk! Kau sangat ribut.!"


Arles membalikkan tubuhnya hendak melangkah keluar.


"Arles sayang.. kau tega membuat mama sedih?" Glesty terlihat memurungkan wajahnya.


"Ma... kenapa Mama jadi ngambek begini? Aku hanya mengunjungi pacarku Ma.. aku tidak menginap disana."


"Kamu sebegitunya merindukan pacarmu? Sedangkan Mama juga merindukanmu. Cuma makan malam dengan keluarga kamu tidak bisa karena Calista?"


Oh... Ya ampun. Arles tidak mengerti ada apa dengan mama Gles. Biasanya tidak pernah seperti ini.


"Kamu belum jadi suami tapi segitunya melewatkan kebersamaan dengan keluargamu sendiri demi seorang yang baru menjadi pacarmu!" Glesty, dengan wajah sedihnya memeluk Arland yang berada di sebelahnya.


"Ya sudah... ya sudah... ayo makan malam bersama, setelah itu baru aku akan menemui Calista." Arles mengalah. Dia adalah orang yang paling tidak bisa melihat Mama sedih.


"Yang bener sayang?" Mama Gles kembali ke mode on.


"Iya.. kalian tunggulah. Aku akan ke kamar untuk mandi dan ganti baju. Arles menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan langkah gontai.


Ceklek.


Arles membuka pintu.


Seseorang yang sangat ia rindukan kini menjadi pemandangan tak terduga di hadapannya. Ternyata... ada Calista di kamar Arles. Calista duduk di sisi tempat tidur milik Arles. Pria ini sungguh merasa tak percaya akan apa yang dia lihat.


"Yang benar saja.. mentang-mentang aku sangat merindukannya, tiba-tiba dia muncul di kamar ini." gumam Arles.


Dengan santainya pria itu membuka kancing Jas dan kemejanya. Membuat Calista seketika panik.


"Arlesss!" Calis memanggil nama itu membuat Arles terkejut.


"Hah.. bahkan suaranya pun terdengar." Arles kembali bergumam.


"Sayang.. stop. Jangan membuka baju di hadapanku."


"Calista?....." Arles kembali mengancingkan kemejanya dan bergegas memdekati sosok Calista yang dia harap bukan sekedar halusinasi belaka.



"Sayang... ini benar kamu?" tanya Arles tak percaya.


Calista sedikit bingung karena Arles terlihat aneh.


"Aku masih hidup. Bukan hantu." jawab Calista dengan wajah yang masih bingung.


"Sayang maaf... aku mengira hanya berhalusinasi" Arles memeluk Calista dengan sangat erat, lalu menghujani wajah Calis dengan banyak ciuman.


"Aku rasanya hampir Gila merindukanmu sayang..." Arles berterus terang.


"Aku juga merindukanmu!" Calista memeluk pinggang Arles..


"Benarkah?"


Calista mengangguk sebagai jawaban.


Betapa senangnya Arles mendengar keterusterangan Calis yang sangatlah jarang gadis itu ungkapkan.


"Ehmmm" seseorang berdehem memgganggu acara berpelukan dua insan itu.


"Mama tahu kalian saling merindukan. Tapi hentikan dulu. Kita mau berangkat makan malam." ujar Glesty sengaja menggoda Arles.


Setelah semua orang bersiap, mereka pun berangkat menuju restoran untuk makan malam bersama..


Mobil yang membawa mereka berhenti di retoran milik Nino.


"Inikan restoran Nino? Kenapa malah kesini?" batin semua orang.


"Mama yakin? Kita akan makan malam di restoran ini?" tanya Arles.


"Jangan banyak tanya. Tempat ini dipilih oleh calon ibu mertua kamu Arles"


"Jadi... mama juga kesini tante?" Calista penasaran.


.


.


Bersambung.....


Guys... 1736 kataπŸ˜‰


Terima kasih masih setia membaca ya.. trima kasih atas segala kemurahan hati teman-teman telah mendukung karya ini.


Jadi guys... minggu depan author berencana mengadakan syukuran untuk novel ini dengan cara bagi-bagi hadiah kecil-kecilan🀭. Semoga tak ada kendala😁. Amin. (untuk kepastiannya akan author umumkan di part selanjutnya)


Oia readers, othor bakal up part baru 3 hari lagi. Jangan sedih ya🀭


Halah thor.. libur aja kali ga perlu bilang².. PD banget sih dikangenin.😜(readers)


Oia, sambil menunggu, jika berkenan yuk mampir ke karya Othor yang judulnya "Perjodohan Janda Duda" dan "First Love and my son"


Kalian klik aja profil aku, pasti ketemu kok. hehe

__ADS_1


udah up tuh😊


Love yu all😁


__ADS_2