I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Happy Birthday Calista + Pemberitahuan dari Author


__ADS_3

"Kenapa di dalam sepertinya gelap ya?" tanya Calis, yang melihat restoran milik sahabatnya ini tidak ada penerangan di dalam sana.


"Oh.. itu karena malam ini restorannya khusus untuk kita. Ayo kita masuk, pemiliknya pasti sudah ada di dalam. Mereka pun mengikuti mama Gles tanpa menaruh rasa curiga.


Tiba di dalam, dengan ruangan yang masih gelap dan hanya di hiasi oleh lilin-lilin kecil sebagai pencahayaan.


...Happy birthday to you......


...Happy birthday to you......


...Happy birthday... Calista......


...Happy birthday to you.......


"Mama?... Dion??...."


Meskipun hanya disinari oleh cahaya lilin sebuah kue tart, Calista bisa mengenali dua orang yang kini menghampirinya dengan menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Mama Dini dan Dion, adik Calista.


Calista merentangkan tangannya dan untuk menyambut pelukan kedua orang tercintanya itu. "Maaa... Dion... terima kasih!"


Begitu acara berpelukan selesai, lampu ruangan itu seketika menyala.


Ternyata, di ruangan itu ada banyak sekali orang.


"Selamat ulang tahun Calista" semua orang mengucapkan selamat kepada Calis, dari tempat mereka masing-masing.


Hei.. ini benar-benar kejutan bagi Calista. Bukan hanya dia.. Arles lebih-lebih terkejut.


Arles dan Calista mengedarkan pandangan kesegala sudut ruangan dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


Seluruh keluarga berada disana.


Hadir pula pemimpin rumah sakit selaku atasan Arles dan teman - teman sesama dokter.


Rekan bisnis Arland dan ketiga sahabat Arles, para karyawati mama Gless, dan Nino beserta para pekerjanya yang juga teman Calista.


"Nino... aku merindukanmu!" Lean menatap Nino, tidak peduli akan hal lainnya.


Jadi, ini semua dipersiapkan oleh mama Gles dan mama Dini. Mereka sengaja menghadirkan semua orang itu ke acara ulang tahun Calista, tentunya dengan maksud terselubung.


"Tunggu..." setelah beberapa menit dengan perasaan bertanya-tanya, Arles akhirnya mengeluarkan suara.


"Jadi.. sayang, hari ini ulang tahun kamu?" Arles bertanya dengan wajah polos, sedikit terlihat lucu. Ia menundukkan wajahnya dan satu tangannya menyentuh kepala Calista yang duduk di kursi roda. Calista tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya.


Pffffttt...


Setiap orang menahan tawa. Tak ada yang mengira bahwa ternyata Arles tidak tau tentang tanggal ulang tahun Calista.


"Benarkah aku akan memperistri gadis ini? Kenapa hari bersejarahnya aku tidak tahu?"


"Tuan Arland, putramu sungguh tidak romantis. Hei.. putraku saja, saat pacarnya akan berulang tahun, dia akan sibuk membuat surprise jauh hari sebelumnya." salah seorang rekan bisnis Arland bermaksud bercanda dan berhasil membuat yang lain untuk terpancing menggoda Arles.


Wah.. sumpah.. pernyataan itu membuat Arles sedikit naik darah. Enak saja teman Papa ini membandingkan dirinya. Arles merasa agak terhina, dan merasa bersalah kepada Calista.


"Putraku ini sama denganku.. dia anakku." Arland pun tertawa menanggapinya.


"Sayang.. kau sedang mengumumkan ketidakromantisanmu!" bisik mama Gles yang berada di dekat Arland.


"Tidak masalah.. tapi aku yang terbaik diantara mereka.. aku tidak pernah menduakan istriku!" Arland mengingat kelakuan beberapa rekannya itu yang cenderung bermain di belakang istri mereka.


"Aish.. apa maksudmu?" mama Gles bingung.


"Maksudku adalah aku mencintaimu" berbisik.


"Aku tahu itu"


Arles tiba-tiba mengingat sesuatu. Ya benar.. saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyerahkannya. Pria itu terlihat meraba-raba saku jas dan celananya.


"Gawat.. dimana benda itu?"


Semua orang terlihat memperhatikan Arles yang kembali dengan wajah mode bingungnya.


Arles bahkan membuka jasnya untuk memastikan adakah benda yang ia cari tersangkut atau semacamnya. "Tidak ada?... ya... mobil."


"Ah... baiklah... semuanya, karena semua orang berada disini, aku... akan mengumumkan sesuatu."


Arles mengenakan jas miliknya itu ke tubuh Calista.


"Sayang, tunggu sebentar yah.. ada sesuatu ketinggalan di mobil."


Calista hanya mengangguk dengan alis berkerut. Merasa bingung.


Semua orang hanya menatap Arles yang keluar dari restoran menuju ke mobilnya.


Beberapa orang mengatakan.. "dia bisa bersikap manis juga" karena Arles terkesan memberi kehangatan pada Calis dengan meminjamkan jasnya. 😋


Tak lama, pria itu kembali masuk dengan senyuman manis, terlukis kelegaan diwajahnya.


Wah... ada apa dengan pria ini? begitulah pikiran semua orang. Belum lagi, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.

__ADS_1



"Cssshh.. wajahnya terlihat sangat senang." batin Calista.


Pria itu semakin mendekati Calista. Semakin dekat, semakin dekat, lalu berlutut di hadapan Calista.


"Mau apa dia? aku merasa merinding!"


Calis yakin, mereka berdua menjadi pusat perhatian saat ini.


" Arlesss.. jangan aneh-aneh.. ku mohon!" batin.


"Saat ini juga, aku akan melamarmu!" batin.


"Sayang..." Arles memulai akan maksudnya.


Ia lalu mengeluarkan sebuah buket bunga dari balik tubuhnya. Bunga yang sangat indah.


Wajah semua orang kini menatap gemash karena sikap Arles..


"Sayang.. putra kita.. dia benar-benar mirip denganmu.. hanya bisa memberikan bunga" Glesty berbisik.


"Selamat ulang tahun sayang... maaf, terlambat mengucapkannya. Mulai hari ini, aku akan mengingat satu hal lagi tentang kamu. Selanjutnya, aku berusaha akan selalu menjadi orang pertama yang mengucapkannya." Arles tersenyum kecil.


Calista merasa terharu. Ia pun mengangguk dan... menerima buket itu, lalu menciumnya. Mereka berdua terlihat sangat manis.


Setelah Calista menerima buket bunga itu, Arles berdiri lalu menatap calon ibu mertuanya dan adik iparnya yang berada di belakang Calista.


"Tante... Dion.. saat ini, aku ingin melamar Calista.. apakah boleh?"


Dini dan Dion, awalnya saling melirik kemudian mengangguk dengan perasaan senang juga terharu. Bahkan, kini mama Dini terlihat menahan tangisnya. Air matanya mengalir dan segera ia usap. Ia sangat terharu dengan kesungguhan Arles terhadap putrinya. Dion yang melihat hal itu kini merangkul bahu mama.


"Ah... kakak ipar, sepertinya memang benar anda sangat menggilai kakakku!"


Arles kembali menyamakan tingginya dengan Calista. "Sayang, aku sudah minta izin ke mama dan adikmu untuk menikahi kamu. Jadi, maukah kamu jadi istriku?"


.............. Hening...... hening.........


"Tuhan, apa yang harus aku jawab? Bolehkah jika aku bilang iya? Tuhan... aku... apa aku ini pantas?..."


Calista menurunkan pandangannya ke arah buket bunga yang berada di tangannya. Ia tak kuasa menjawab pertanyaan Arles. Bukan! Lebih tepatnya, dia tak tau harus bilang iya atau tidak.


"Sayang... lihat aku!.. jawab dulu pertanyaanku!"


Arles sangat yakin, Calista yang sedang berbahagia ini akan menerima lamarannya.


"Arles... pertanyaan itu sangat sulit ku jawab!" Calista menyunggingkan senyum kecil.


"Kenapa sayang... kamu... belum mau jadi.. istriku?" tanya Arles, hati-hati. Dengan rasa tak karuan tentunya.


"Ar...les... kalau aku menjawab iya, apa kamu tidak akan menyesalinya?" kembali tersenyum menatap lekat Arles.


Pria itu menggeleng kepalanya mantap. Membalas tatapan Calista.


"Baiklah, aku mempercayaimu." Calista mengangguk.


"Jadi, kamu bersedia??" bertanya dengan ekspresi penuh harap.


"Iya... aku bersedia."


Bersamaan dengan berakhirnya jawaban dari Calista, terdengar tepuk tangan memenuhi ruangan itu.


Arles sontak berdiri dan terlihat membuang napas legah.. senyumannya bahkan tidak akan pernah berakhir..


"Kepada semua orang yang menyaksikan ini, aku tidak tahu bagaimana anda semua bisa berkumpul disini. Tapi,,terima kasih karena anda semua sudah menyempatkan waktu berada disini. Saya ingin anda semua menjadi saksi tentang kesunghuhan saya terhadap dia. Anda semua dengar kan, dia... bersedia menjadi istri saya." Arles mengatakan kalimat panjang itu dengan lugas.


"Wah... luar biasa Arles.... cucu oma.. kamu sangat keren sayang.." Yaaaaa... si oma tak tahan untuk tidak buka suara menanggapi Arles. Oma bahkan bertepuk tangan dan diikuti oleh suara tepuk tangan yang lainnya.


"Hei... dia bersedia.. lalu tanda jadinya mana Arles?" seseorang mempertanyakan sesuatu, yang biasanya akan pria berikan saat melamar.


"tanda jadi?" Ia menatap sahabatnya, Bagas. Seolah sedang bertanya. Apa itu tanda jadi. Emangnya barang kreditan? Pake tanda jadi segala?.


Bagas mengetik sesuatu di ponselnya dan mengirimnya pada Arles.


^^^"Berikan sesuatu untuk Calista"^^^


Untuk pertama kalinya Arles menganggap dirinya bodoh. Tanda jadi saja tidak tahu.


"Ehmmm saya rasa kalian semua tidak sabar. Saya.. punya sesuatu untuk Calista." Arles merabah saku celannya lalu mengeluarkan sesuatu dari sana.


"Sayang... ini untuk kamu.."


"Wah... ternyata putraku sudah mempersiapkannya." batin mama Gless


Calista membuka kotak kecil pemberian Arles tersebut.


"Kalung?"


Tak sesuai perkiraan semua orang, ternyata itu sebuah kalung, bukannya cincin.

__ADS_1


"Sini sayang, aku pakein ke leher kamu."


Kalung berliontin hati dan terukir nama Arles disana. Calista membiarkan pria itu memasangnya.


Glesty tiba-tiba mendekati putranya itu "sayang, berikan ini juga padanya. Kamu gimana sih, harusnya yang kamu berikan itu cincin. Masa' kalung?" berbisik.


Arles menatap kotak ditangannya. "Ma... kapan mama membeli ini? Apakah ini baru?" berbisik.


"Kenapa? Kau takut mama akan melayangkan notanya ke kamarmu ? Tentu saja baru Arles. Itu bahkan dirancang khusus untuknya. Buruan pasang."


"Ah.... ternyata, ada satu lagi sayang." Arles memasangkan cincin tersebut di jari Calista, dan disambut dengan suara tepuk tangan lagi dan lagi, serta ucapan selamat kepada Arles karena telah diterima oleh Calista.


"Hei... lihatlah.. bukankah putraku romantis?" Arland.


Dengan berakhirnya drama lamaran seorang Arles, semua orang dipersilahkan untuk menikmati makan malamnya masing-masing.


Setelan mengambil makan malam untuknya dan Calista, Arles menarik sebuah kursi untuk duduk berhadapan dengan kekasihnya itu. Calista berinisiatif memberi suapan kepada Arles namun ditolah oleh pria itu.


"Jangan menyuapiku sayang. Orang akan mengira aku ini pria manja."


"Arlesss... aku hanya ingin menyatakan bahwa saat ini aku merasa senang. Bukalah mulutmu."


Arles pun menuruti setelah dilihatnya situasi aman tak ada yang melihat.


"Eh... bro... jangan mentang-mentang sibuk dengan kebahagianmu, kau melupakan janjimu. Aku kapan bahagiany?"


Arles langsung menyambar gelas air mineral yang ada di dekatnya karena hampir saja tersedak, lalu meminumnya.


"Fran... kau mengagetkanku! Kau mau membuatku mati sebelum waktunya?" geram Arles.


"Hei... santai bro..hehe... sorry! Aku hanya mengingatkan akan janjimu."


"Selamat malam Arles.. maaf, aku datang terlambat."


Fran auto mematung saat mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya kini.


"Ah... Merry akhirnya kau datang. Kemarilah, berkenalan dengan calon istriku!" melirik Calista.


"What? Jadi dia orangnya? Orang ini kan... yang memberi hadiah tamparan ke Arles malam itu?"


"Oh... hai.. aku Merry. Ini... hadiah untukmu! Selamat ulang tahun ya!" Merry tersenyum.


Calista pun memperkenalkan dirinya dan berterima kasih atas kedatangan Merry.


Jadi, saat sedang berada diluar restoran ketika mengambil sesuatu yang tertinggal di mobilnya Arles menghubungi Merry dan memintanya untuk datang. Demi apa coba? Demi Fran yang juga hadir disana.


.


.


.


Bersambung........


Trima kasih gaesss...


PEMBERITAHUAN


Guys.... othor pengen bagi-bagi hadiah kecil-kecilan sebagai syukuran atas novel ini.


Yuk simak ketentuan berikut.😍


Silahkan Kirim dukungan ke karya ini seperti: Vote dan hadiah sebanyak-banyaknya. serta, pastikan kalau kalian sudah memberi like di setiap episode ya gaes! Pastikan juga cerita ini telah kalian Favorit.


Readers : Thor... banyak banget sih persyaratannya? Biar apa coba?


Othor: Eh, enggak sayang.. ini sudah standarisasi🤭. Karena... semakin banyak dukungan untuk karya ini maka.. cerita ini akan semakin naik popularitasnya. Hehe.


Hadiah akan diberikan kepada:


Rangking 1 : Rp. 200.000


Rangking 2 : Rp. 150.000


Rangking 3 : Rp. 100.000


Rangking 4 : Rp. 50.000/ pulsa


Rangking 5 : Rp. 50.000/ pulsa


Rangking 6-10 akan mendapatkan pulsa 25.000.


Penghitungan Rangking akan berlaku untuk periode 1 minggu yah gaesss (Rangking mingguan bukan rangking umum)..


Perangkingan Dimulai hari senin, 29 Maret - Minggu, 4 April 2021.


Terima kasih atas partisipasi kalian semua atas novel ini ya.. tanpa kalian, karya ini bukan apa-apa dan memang belum apa-apa juga sih, secara.. author ini banyak sekali kekurangannya.😍.


Yuk.. tetap semangat ya..

__ADS_1


__ADS_2