
Kepadatan arus lalulintas di kota J kian memuncak.
Hari ini adalah hari sabtu, waktu dimana semua insan manusia akan melakukan ritual quality time bersama keluarga. Demikian juga dengan Arland. Hari ini dia akan menikmati waktu kebersamaan dengan keponakan satu-satunya, yakni Princess Aurel.
Arland memang bertekad untuk ada disaat Aurel membutuhkan. Apalagi, Aurel merupakan anak dari Alm. Arvan, kakaknya.
"Princess, hari ini kau mau kemana saja? Silahkan tentukan kemana saja kita akan jalan-jalan. Ucap Arland.
Aurel terlihat sangat bahagia dan menyebutkan tempat-tempat yang ingin ia kunjungi.
\=\=\=\=\=\=
"Onty... Haus... ingin minum.. Arles dan Lean datang merengek ke hadapan onty dan unclenya.
"Tenang saja sayang... tidak perlu sok manja begitu. Onty akan berikan berapa banyak kalian ingin minum. Ucapnya, seraya memberikan minuman kepada dua bocah itu.
Tiba-tiba ponsel Leon berdering, menandakan adanya panggilan masuk. Iapun tersenyum saat melihat siapa yang menelpon.
" Halo kak.. ucapnya.
"Iya Yon.. apa anak-anak tidak merepotkan kalian?
"Oh tidak kakak... jangan khawatir! Semuanya aman kok.
"Ow.. syukurlah.. mana mereka?
"Mereka sudah kembali bermain. Jawab Leon.
"Aku dan Lea hanya mengawasi. Kami sedang berada di pantai kak. Kedua bocah itu sangat senang.
Leon menceritakan sedikit hal-hal yang dilakukan kedua bocah itu saat bermain dipantai.
"Wah.. syukurlah jika begitu. Biarkan anakku puas-puas bermain. Tolong turuti semua yang mereka inginkan selagi itu aman dan positif. Mengerti? Tegas Glesty.
"Okey boss! Jawab Leon dengan wajah tersenyum.
Merekapun mengakhiri panggilan telpon.
"Ah.. bagus kalau kalian sedang berbahagia bersama uncle onty kalian, setidaknya mengurangi sedikit rasa bersalahku, dan kalianpun teralihkan dari pikiran tentangnya. Kalian hanya anak-anak, jika sedang berbahagia, kalian akan melupakannya. Baiklah, mama akan membuat kalian bahagia setiap hari. Batin Glesty.
Mulai saat ini, Glesty ingin memprioritaskan kebersamaan dengan kedua anak kembarnya. Ia bertekad untuk banyak bermain bersama dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka.
Selama ini Glesty berpikir bahwa, dengan bekerja keras ia akan mendapatkan pemasukan lebih, sehingga kedua anaknya bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Ternyata ia salah.. yang dibutuhkan anaknya bukan hanya itu, melainkan kebersamaan bersama dengan orangtuanya! Dan ternyata, kesibukannya selama ini hanya demi dirinya sendiri agar bisa melupakan orang itu, mantan suaminya. Sedangkan anak-anaknya, meskipun mereka selalu bersama-sama dengan Glesty berada di ruko sederhana itu, tapi hanya sedikit waktu yang mereka nikmati, karena mamanya sibuk melayani pelanggan.
Entahlah, yang namanya anak-anak mungkin bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja.
__ADS_1
Glesty, ia kini sadar bahwa uang bisa dicari, karyawan toko tas tetap bisa melayani pelanggan walau tanpa dirinya. Glesty memutuskan memberi kepercayaan kepada Tuti salah satu kariawatinya untuk mengurus Tokonya tersebut, dan ia hanya akan berkunjung sekali-sekali ke toko yang ia beri nama "The Twin" itu.
Memikirkan itu, Glesty merasa bahagia!
\=\=\=\=\=\=\=
Kembali Ke pantai.
Lea dan Leon masih asik memantau kedua keponakannya, sambil memasukkan berbagai makanan yang telah mereka bawa sebagai camilan kedalam mulut.
"Lea, bagaimana kira-kira reaksi kedua orang itu saat kita mempertemukan mereka?
Leon bertanya pada adiknya. Dan yang ia maksud ialah Glesty dan Arland.
"Kak.. ku pikir kita harus memastikan dulu bagaimana perasaan mereka yang sekarang. Jawab Lea.
"Aku takut jika mungkin saja kakak ipar......
Leon menatap adiknya yang keceplosan menyebutkan Arland dengan panggilan kakak ipar.
"Emmmm.. maksudku orang itu. Aku takut jika mungkin saja orang itu telah menjadi milik orang lain. Lean melanjutkan, namun ekspresinya kini berubah.
Leon dapat membaca ekspresi wajah Lea saat ini.
Pasti ada yang tidak beres pikirnya, dan Leon memutar arah pandangnya mengikuti kemana arah pandang Lea saat ini.
Namun, belum sempat Leon menghadap ke arah dimana Lea sedang menatap, Lea cepat cepat membalikkan tubuh Leon.
Leon mengeryitkan dahinya bingung, seolah ingin bertanya.
"Mantan kakak ipar ada disana bersama seorang anak perempuan dan seorang wanita. Sambung Lea.
Dan yang dilakukan kakak beradik ini sekarang adalah bangkit dari duduknya untuk pergi bersembunyi.
Mereka berdua kini ditempat yang tidak akan bisa dijangkau oleh pandangan Arland, namun mereka dapat melihat Arland dengan sangat jelas.
Cih, dulu lagaknya seperti orang yang tidak bisa kehilangan kak Glesty. Ucap Lea dengan tatapan tak suka.
Leon hanya memperlihatkan raut wajah yang tak dapat dibaca. Rasanya ia sangat ingin mengamuk saat ini, sangat tidak enak melihat wajah bahagia Arland ketika tersenyum dan sesekali bermain dengan gadis kecil itu juga ibunya.
"Rasanya aku ingin menghancurkan kebahagiaannya itu saat ini juga. Batin Leon.
"Kak, jangan sampai dia melihat kakak bersamaku. Ayo kita berpencar. Kata Lea.
Lea takut kakaknya akan benar-benar menghancurkan apa yang telah mereka berdua rencanakan sejak awal.
Merasa muak melihat kebahagiaan mantan kakak iparnya, Leon menggeser mandangan matanya ke arah keponakannya.
__ADS_1
Wajah ceria kedua bocah itu kini tidak ada lagi. Dan yang lebih membuat Leo merasa teriris adalah kedua bocah itu kini memandang kearah Arland, orang yang baru saja mereka ketemu kemarin. Namun sangat terlihat bahwa wajah kecil mereka menampakkan ekspresi sedih.
"Lean, kau lihat paman itu? Dia sedang bersama putrinya. Ucap Arles.
Lean tampak sangat sedih.
Arles mengelus kepala Lean lalu mengatakan...
"Tak apa.. tidak perlu bersedih! ucap Arles.
Seolah tahu apa yang tengah dirasakan oleh saudara kembarnya itu.
Leon menyaksikan semuanya dan kini lelaki dewasa itu meneteskan airmatanya, dan membuat jari-jarinya menjadi buah genggaman. Ia menahan perasaannya dengan cara mengeram.
Lean hanya menundukkan kepalanya sambil mencoret-coret pasir, tak tahu apa yang kini sedang dipikirkan oleh gadis imut yang belum pernah berbicara satu katapun itu.
Lea berjalan ke arah kedua keponakannya dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Onty.......
Panggil Leon menyambut kedatangan ontynya yang kini mendekat kearah mereka.
Lea semakin mendekat kearah keduanya.
Melihat Lean yang kini bermain pasir tanpa menghiraukan siapapun, wajahnya ditundukkan sehingga tak terlihat membuat Lea curiga.
"Lean sayang... sedang apa nak? tanya Lea penuh dengan kelemahlembutan.
Lean tidak menghiraukan.
Lea berinisiatif mengangkat tubuh keponakannya itu membuat Lean berdiri.
Dan benar saja. Ada yang tidak beres. Wajah imut itu sedang menangis.
Lea menghapus airmata Lean lalu memeluknya. "Sayang, apa sudah cape mainnya?
Lean hanya menggeleng di pelukan ontynya.
"Lalu, Lean ingin.... bermain dengan... paman yang kemarin? tanya Lea lagi.
Lean lalu menganggukkan kepalanya pelan.
Mengetahui keinginan Lean, Arles seketika berlari.
\=\=\=\=\=\=
"Papa... Papa...
__ADS_1
Deg...
"Aku mendengar suaranya. Suara gadis kecil itu. Batin Arland.