
Sementara Lea masih sibuk dengan debaran jantungnya, ternyata mereka telah berada didepan pintu kamar Devan.
Klek, mama membuka pintu.
"Sayang, bunda masuk ya.."
Keduanya melangkah masuk, namun ternyata Devan sedang tertidur. Bahkan, bubur yang ada diatas nakas, telah dingin tak tersentuh.
"Van, aku datang. Kenapa kamu bisa sakit?" Tanya Lea dalam hati.
"Sepertinya dia belum bangun juga!" Bisik mama!
"Karena buburnya sudah dingin, saya bikin yang baru ya nyonya," Kata Lea, pelan.
Mama hanya mengangguk. Mereka pun kembali turun, karena Lea akan membuat bubur. Seluruh penghuni rumah itu berjejer rapi memperhatikan seorang Lea yang sedang membuat bubur. Sudah dilarang, tapi Lea tetap keukeh dengan keinginannya memasak untuk Devan.
"Ada apa ini?" Tanya Arland yang tiba-tiba muncul. "Adik ipar? Kau ada disini?" Tanyanya kepada Lea.
"Iyyya kak," Jawab Lea tersenyum malu.
"Apa yang kau lakukan? Ingin memasak?"
"Diamlah sayang.. dia sedang memasak bubur untuk Devan." Ucap Glesty pada suaminya.
Arland mengejek tak percaya. "Lea, sejak kapan kau bisa memasak? Jangan sampai kau membuat adikku tambah sakit." Dengan nada bercanda.
"Haha.. Kak Arland, kakak tidak tahu kan, aku ini pernah mengorbankan cita-citaku agar bisa merawat kak Glesty saat hamil lalu melahirkan, aku kursus memasak memasak dan bahkan kuliah perawat agar bisa merawat kakak dan dua bocah itu. Itu semua adalah ide kak Leon. Lea terus saja bercerita, tanpa menyadari ada hati yang tertusuk mendengarnya. Siapa lagi jika bukan Arland dan keluarganya.
Hening...
Hening...
Hening...
Arland, mama, papa bahkan Angel, tak mampu menahan air mata.
Glesty yang menyadari hal itu segera mencairkan suasana. "Iya-iya dan masakanmu sangat enak adikku, Glesty menghampiri adiknya lalu memeluk Lea. "Tutup mulutmu! Memasak saja. Kau membuat mereka kembali merasa bersalah!" Bisik Glesty, yang hanya bisa didengar oleh Lea.
Lea seketika menelan kasar ludahnya. "Astaga apa yang telah dikatakan mulutku ini?"
"Maafkan aku kak Arland dan semuanya, aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa." Lea, dengan penuh rasa bersalah.
Arland mendekat kearah Lea lalu meletakkan telapak tangannya pada lengan Lea. "Lea, kakak berjasa besar padamu dan juga Leon. Kalian berdua telah menjaga dan merawat istri dan anak-anak kakak dengan sangat baik." Arland lalu memberi pelukan hangat pada Lea, yang masih dianggapnya seperti gadis SMA itu.
"Kak,, Lea juga berterima kasih, karena kak Arland masih menginginkan mereka, dua bocah itu dan juga kakakku." Lea berkata-kata sambil menangis dipelukan Arland, Arland pun menangis. "Entah apa jadinya istri dan anak-anakku jika tidak ada Lea dan Leon." Batin Arland.
Keduanya pun saling melepas pelukan. Sausana didapur ini begitu haru. Arland kembali menghadap istrinya yang tersenyum lembut kearahnya. "Sayang, sini, Arland memeluk istrinya itu. Hanya berpelukan, tak sanggup lagi berkata-kata.
__ADS_1
Dibagian ini, Angel adalah seseorang yang baper sendirian. Sampai kapan mataku akan tersiksa melihat kemesraan ini? Oh Tuhan, kakakku sangat menyayangi istrinya. Tolong sisakan satu lagi pria penyayang seperti kak Arland, untukku ya Tuhan!" Batin Angel.
.
Lea telah menyelesaikan masakan buburnya yang penuh dengan drama. Saatnya mengantar bubur ke kamar Devan. Kali ini Lea sendirian. Dan jantungnya pun kembali berdegup. "Aduu, apa dia sudah bangun? Semoga dia masih tidur. Ah, jika tidur lalu bagaimana dia mau makan?" Lea memggeleng cepat kepalanya, bingung sendiri dengan apa yang dia pikirkan.
Cklek.
Lea membuka pintu. Melangkahkan kakinya perlahan, napasnya terasa bergetar tak karuan.
Ternyata Devan masih tertidur, dilihat dari matanya yang tertutup. Lea meletakkan mangkuk buburnya diatas nakas. Lalu, diperhatikannya wajah Devan yang tengah tertidur tenang. Dengan takut-takut Lea menyentuh jari tangan Devan, mengusapnya pelan. "Bangunlah sayang!"
Lea lalu meraba wajah tampan pria yang dicintainya itu. "Kamu memang tampan." Ucapnya. Pandangan mata Lea kini dengan betahnya menatap bibir sexy milik pria tampan itu. Lea tersenyum dan mendekatkan wajahnya dengan wajah pria itu.
Dekat, dekat, semakin dekat.
CUP.
Dengan lancangnya Lea membuat bibir mereka saling menyentuh. Saat ingin menjauhkan wajahnya dari Devan, ada tangan kuat yang menahannya. Gerakan Devan sangat cepat. Dan entah bagaimana bisa, Lea kini berada dibawah pria itu.
CUP.
Sentuhan bibir keduanya kembali terjadi. Namun, mata Devan masih tertutup. Lea dengan senang hati membalasnya, meskipun dengan degup jantung tak karuan.Bagaimana tidak, posisi keduanya benar-benar pantas disebut terlarang.
...
Cup.
Arland membekap mulut Glesty dengan ciuman, karena dia tau, istrinya itu pasti akan segera protes akan tindakannya yang tidak jelas. "Sayang, ayo kita ke kamar sebentar!" Arland mengangkat tubuh Glesty yang hanya menegang, sambil terus *******.
......
Kembali ke kamar Devan.
Cukup lama Devan dan Lea pada posisi itu. Devan yang sedari tadi memang belum membuka mata, kini mulai menghentikan aksinya, dan membuka mata.
"Ka--kau?"
Sepertinya Devan terkejut ketika sadar dirinya menindih Lea.
"Iy--ya, inii.. aku." Lea merasa sedikit kecewa karena melihat ekspresi Devan yang terlihat tak suka. "Memangnya kenapa jika ini aku?" Batinnya.
Devan segara beranjak dari kasur dan melepaskan jarum infush yang masih menempel padanya, karena merasa sangat terganggu.
"Kenapa kau ada disini?" Tanyanya dengan nada kesal.
"Aaaku? Emmm iya,, aku mendengar jika kau sakit." Jujur Lea.
__ADS_1
"Lalu apa urusannya denganmu?" Ketus Devan.
Degh.. Lea merasa ditolak oleh Devan. "Kenapa dia? Bukannya tadi malam dia mengatakan cinta padaku?" Batinnya.
"Sa---sayang, kamu kenapa?" Lea yang sudah beranjak dari ranjang itu berjalan kearah Devan, lalu memeluknya.
Devan hanya diam, tidak merespon pelukan itu. "Aku? Kau bertanya aku kenapa? Jangan memelukku. Aku tidak ingin tanganmu ini menyentuhku." Devan menghempaskan tangan Lea dengan kasar.
Lea kebingungan . "Apa yang salah? Bukankah tadi malam kamu bilang mencintai aku? Kamu bilang mau bahagia bersama? Apa kamu hanya berbohong?" Tanya Lea dengan bada bergetar karena menangis.
"Ya.. aku bilang seperti itu, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu berpelukan mesra dengan lelaki lain. Aku marah. Aku sangat marah." Geram Devan.
"Van, dia hanya temanku. Dia datang mengucapkan selamat padaku, karena dia tau aku sedang bahagia mendapatkan ungkapan tulus kamu padaku didepan semua orang.."
Degh. Devan memperhatikan ekspresi wajah Lea. Mencari tahu adakah kebohongan disana.
"Baiklah, jika kamu marah, aku akan pergi. Selamat tinggal!" Lea membalikkan tubuhnya berlari keluar dengan air matanya yang terus saja mengalir.
Bruak.
Pintu tertutup mengejutkan Devan.
"Lea, tunggu! Lea tunggu!"
Lea menuruni tangga dari lantai dua.
"Leaaa? Kenapa sayang,?" Mama merasa panik melihat Lea turun sambil menangis.
"Leaa, tunggu!" Devan berlari menyusul Lea dengan langkah cepat.
Hug..
Devan memeluk Lea, yang masih berada di anak tangga. "Maafkan aku sayang! Maaf! Maafkan aku yaa! Maaf.. Maafkan aku! Maafkan aku! Jangan pergi. Jangan pergi yaa! Maafkan aku."
.
.
Pipipip... BERSAMBUNG GAES😊
Aku benar-benar berterima kasih ya readers... kalian masih membaca sampai disini.
Maaf atas segala kekurangan.😌🙏
Semoga kalian selalu bahagia🥰🥰🥰🥰
Season ini akan beber-bener berakhir dalam 1 part lagi gaes.. kalian yang sabar ya😍😍
__ADS_1