
"Paman, Lean takuut."
"Apa yang Lean takutkan?" Arland menggendong tubuh Lean.
"Lean takut kalau mama sama Arles tidak bangun lagi."
"Mereka berdua akan bangun. Kita berdoa buat mereka ya.."
"Iya paman.."
Lean bersama Arland duduk pada kursi tunggu didepan ruang pemeriksaan.
Arland baru saja menyadari sesuatu.. iya, ia tersadar bahwa sejak tadi Lean sudah berbicara banyak dengannya. Bukankah Lean tidak bisa berbicara? Lalu ia menatap gadis kecil itu.
"Lean,,!" bocah itu membalas tatapan Arland.
"Coba panggil aku lagi." Awalnya Lean bingung atas permintaan Arland. Namun, ia langsung mengerti bahwa pamannya ini ingin mendengar dan menyaksikan dirinya telah mampu berbicara seperti orang lain.
"Paman." Lean tersenyum kecil.
Sekelibat bayangan tentang gadis kecil itu tiba-tiba terlintas. Arland tau ini tidaklah masuk akal. Tapi mimpi itu benar-benar nyata. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah gadis kecil itu, dan dia adalah Lean. Wajahnya, rambutnya, warna kulitnya bahkan suaranya. Sama. Tidak ada bedanya.
"Lean, bisakah Lean mengubah panggilannya?"
Lean mengangguk pelan ia ingin mendengarkan apa maksud pamannya ini.
"Panggil aku... papaa.." ucap Arland dengan hati-hati.
Lean tidak bergeming. Ia terlihat tidak ingin menuruti permintaan Arland.
"Aku ingin mendengarmu memanggilku papa.."
__ADS_1
Lean menggeleng, lalu menunduk.
"Lean. Tadi paman sudah membantumu membawa mama dan Arles. Sekarang Lean harus menuruti permintaan paman. Bisakah?"
"Papaa" -tanpa menatap Arland.
Degh.
"Lagi.. aku masih ingin mendengarnya."
"Papa... papa... papa... papa... papa.." Kali ini airmata gadis kecil itu keluar bersamaan dengan kata PAPA yang disebutnya berulang - ulang dengan bibur mungilnya itu.
"Paman, kenapa papa Lean tidak sembuh? Kenapa papa tidak segera pulang? Kenapa papa tidak bangun-bangun? Apa papa tidak merindukan kami?" Pertanyaan demi pertanyaan keluar begitu saja sepertu air mengalir, dari bibir kecil Lean.
Bocah itu menatap sendu wajah Arland saat mengeluarkan setiap kata dari pertanyaannya itu. Lean juga teringat tentang papanya yang diceritakan oleh onty Le, bahwa papa sedang sakit, tidak bangun-bangun dan dibawa pergi oleh kedua orangtua papanya itu.
Dan Arland? Lelaki itu merasa teruduh. Ia merasa seperti dirinya adalah papa yang dimaksudkan oleh Lean. Ia lalu mendekap tubuh gadis kecil itu. Mereka berdua menangis bersama.
"Kenapa aku merasa sangat dekat dengan anak ini? Apa karena dia anak dari wanita yang aku cintai? Kenapa dia selalu datang ke mimpiku dengan memanggilku papa? Atau ... Apa jangan-jangan dia.........."
Ceklek*.. Pintu Terbuka, keluarlah dokter dan beberpa rekan medisnya dengan mendorong tempat tidur pasien dimana Arles terbaring diatasnya.
Arland dan Lean berdiri dan memghampiri dokter. "Dokter,, bagaimana keadaan mereka?"
"Putra anda sudah mulai sadar. Tapi untuk saat ini pasien harus segera kita tindak dan melakukan operasi dipergelangan tangannya karena terdapat retak dan hampir patah."
Rasanya Arland ingin bertanya lebih banyak, namun sekarang waktunya tidak tepat.
"Dok, tetap lakukan yang terbaik. bagaimanapun caranya, dia harus selamat dan sembuh lagi." Tegas Arland.
"Kita akan melakukan yang terbaik pak, dan tolong persiapkan donor darah golongan A untuk pasien sekarang juga, karena kita harus cepat."
__ADS_1
"Saya pak.. Saya yang akan mendonorkan darah untuknya." Ucap Arland bersemngat.
"Saya percaya anda bisa karena kalian ayah dan anak. Akan tetapi anda juga harus jaga kesehatan. Kasihan putri anda jika tidak ada yang menemaninya" ucap dokter itu dan melirik Lean.
"Dokter tenang saja, saya akan menghubungi keluarga saya yang lain." Jawab Arland.
"Kalau begitu, panggil anggota keluarga anda sekarang juga" Dokter menggeleng pelan melihat Arland yang sangat kacau dan tidak fokus.
Arland lalu mengambil ponselnya. Pertama-tama ia menghubungi Anton, dan memintanya untuk segera ke kota B dan menyerahkan pekerjaan kepada orang kepercayaan Arland lainnya di kota J.
Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya Arland juga memghubungi kedua orangtuanya. Ia tidak menyangka akan ada respon baik dari kedua orang tuanya saat ia menyebutkan tentang Glesty. Kedua orang tuanya itu terdengar sangat antusias mendengar berita itu dan segera meluncur ke rumah sakit.
Sikap baik orang tuanya membuat Arland semakin yakin bahwa pasti benar Glesti lah yang telah pergi meninggalkannya 7 tahun lalu, bukan seperti yang ia pikirkan. Memang terkadang Arland berfikir bahwa mungkin saja kedua orangtuanya yang meminta Glesty meninggalkannya waktu itu.
.
.
"Kita akan memastikan kecocokan darah anda dengan pasien terlebih dahulu" Jelas seorang dokter kepada Arland.
.
.
.
Bersambung ya...🥰
Tengkyu gaes. semangat menyongsong tahun baru ya..
up 2 part hari ini.
__ADS_1