I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Elnino? (Season 2)


__ADS_3

Sesungguhnya.. Jika benar Arles akan melakukan kissing saat ini, ini benar-benar kissing yang kedua kalinya bagi mereka.


Tapi, ternyata... Arles bisa menahan keinginannya. Alih-alih menuntaskan tanggungjawab pacarnya ini, Arles memilih mengecup kening pacarnya.


"Ayo.. sayangku harus istirahat dulu" ujar Arles. Ia mengangkat tubuh Calista, membaringkannya diatas kasur empuk itu.


Namun, apa yang terjadi? Setelah Calis sudah terbaring sempurna di ranjang itu, tangannya malah menahan kera baju Arles, membuat pria itu tidak bisa beranjak.


"Sayang, kamu bilang aku harus tanggung jawab kan!." Calista menarik kerah baju Arles, membuat kedua bibir mereka saling bersentuhan.


Terjadilah ciuman itu untuk yang kedua kalinya. Ingat, hanya itu. Tidak lebih dari itu.


🍁🍁🍁🍁🍁


Malam harinya.


Arles barus saja menyelesaikan shift sorenya. Saat ini sudah hampir menunjukkan pukul 10 malam.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Arles.


"Jangan bilang ini ada pasien darurat yang membuatku harus turun tangan lagi" batin Arles, sedikit berharap bahwa semua baik-baik saja.


"Masuk!" sahut Arles.


"Permisi dok, ada seseorang yang ingin bertemu anda."


"Baik, minta dia masuk."


Masuklah orang tersebut.


"Nino?"

__ADS_1


Arles dengan reflek berdiri dari duduknya.


"Apa maksudnya mendatangiku. Apa dia akan klaim soal Calista?" Dari semua hal yang menghubungkan dirinya dan Nino adalah Calista. Wajar bila Arles berpikir seperti itu.


Nino pun duduk berhadapan dengan Arles.


Arles pun duduk dan bersandar dengan gaya santai pada kursinya.


"Maaf mengganggu waktumu.. Aku kesini bukan untuk konsultasi masalah kesehatanku." jelas Nino, membuka pembicaraan.


"Iya aku tahu.. aku juga tidak melihat ada bagian tubuhmu yang cidera. Kau terlihat sangat sehat. Tapi, ada apa dengan wajahmu itu?" Arles sedikit penasaran.


"Perkenalkan.. namaku Elnino."


"Iya... apapun namamu, silahkan katakan tujuanmu kesini." Arles tidak sabar melihat Nino basa-basi.


"Mungkin kau lupa denganku. Tapi, kau pernah membuatku dan Calista harus dirawat dalam waktu cukup lama di rumah sakit."


"Apa?" Arles yang awalnya santai, kini menegakkan posisi duduknya.


"Apa?? Jadi ini kau??" Arles mengusap kasar wajahnya untuk mengusir rasa kagetnya.


"Astaga.. sekarang aku percaya bahwa dunia ini benar-benar sempit." ucapnya dengan nada kesal.


"Aku... menyukai Lean."


deg...


"Apa???" Arles semakin terkejut.


"Iya... aku... benar-benar sangat menyukai adikmu itu Arles.."


"Katakan padaku. Kenapa kau menyukainya? Apa karena Calista? karena Calista tidak membalas perasaanmu?"

__ADS_1


"Tidak. Ini murni terjadi begitu saja Arles"


"Lalu, apa Lean juga menyukaimu?"


"Aku tidak tahu. Yang ku tahu, aku sangat menyukainya. Tapi, dia mengabaikanku."


"Lalu, apa maumu sekarang?"


"Aku ingin kau membantuku. Percayalah, aku sudah tidak nakal seperti dulu saat kita masih bocah."


"Tapi aku curiga padamu. Jangan-jangan kau ingin membalasku dengan cara menyakiti Lean?"


"Tidak mungkin Arles. Aku sama sekali tidak dendam atas kejadian itu. Karena setelah kepindahanmu dulu, Calista sangat bersedih. Aku sibuk menghiburnya setiap hari. Bagaimana pun juga, aku merasa itu adalah kesalahanku, dan aku bertanggung jawab atas hal itu."


"Apa? Jadi kau berteman akrab dengan Calistaku sejak waktu itu?" Rasanya emosi Arles mulai terpancing.


"Iya.. tapi bukankah itu bagus? Aku menjaganya dengan sangat baik untukmu. Tidak ada pria lain yang berani mendekatinya sedikitpun."


Arles berdiri dari duduknya dan membuat dua kepalan di kedua tangannya.


"Tapi bagaimana ini Elnino, aku merasa sangat ingin menghajarmu saat ini juga."


"Ayolah Arles.. lupakan masa lalu. Ayo kita berteman." Nino memelas.


"Tapi aku tidak suka karena kau telah bersama-sama dengan wanitaku bahkan sejak SD hingga sekarang. Elnino, ayo kita ke balkon. Selesaikan semua ini disana. Kau harus membayar kelancanganmu telah mencuri wanitaku."


Nino hanya bisa pasrah. Mungkinkah setelah ini dia hanya akan tinggal nama? Bisa saja Arles akan membuatnya menjadi topik utama di media berita besok pagi karena ditemukan tak bernyawa.


Nino bergidik ngeri dengan pikirannya sendiri. Ia terpaksa mengikuti langkah kaki Arles.


"*Aku bahkan belum pernah memiliki pacar dalam hidupku. Tapi aku harus berakhir malam ini? Kasihan sekali kamu Ninooo."


.

__ADS_1


.


bersambung*.


__ADS_2