
Di dalam mobil.
Arles benar-benar membawa mama Dini dan Calista ke arah yang berbeda dengan jalan menuju rumah kontrakan mereka.
"Arles, kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju kontrakan kami." Calis bertanya, walaupun sudah menebak akan di bawa ke apartemen yang waktu itu dimaksudkan.
"Kita akan ke apartemen pemberian mama untuk kalian." jawab Arles tenang.
"Aku rasa tidak perlu Arles.. ke rumah kontrakan kami saja."
"Ke apartemen itu, atau.. ke kediaman keluargaku aja? Tentukan pilihanmu sekarang." Arles sudah malas berdebat soal tak enak hatinya Calista.
Calista terdiam. Dengan terpaksa ia mengatakan "ya sudah, ke apartemen aja." ujarnya pelan nan pasrah.
Mama Dini hanya tertawa dalam hati menyaksikan perdebatan dua insan di depannya ini.
Tiba di Apartemen.
Mama Gless keren deh.. apartemen ini tu sangat enak dipandang mata.. Keadaan lingkungannya bersih dan rapi.
Mereka pun turun dari mobil. Arles kembali menggendong Calista. "Mau memakai kursi roda itu, atau aku gendong sampai kedalam?" tanya Arles, berbisik di telinga Calista. Tentu saja Calis memilih kursi rodanya.
Ceklek
Ini benar-benar apartemen yang pas untuk dihuni oleh dua orang, atau bahkan tiga orang kalau memaksa. haha.
"ayo, kita antar ke kamar kamu yah." Arles kembali mendorong Calista dengan kursi rodanya menuju kamar Calista.
Yang ini kamar kamu ayo kita masuk.
Cklek.
Pintu terbuka.
"Taraaaaaaaa"
Ternyata mama Gless dan Lean berada di dalam kamar itu.
Kamar yang sudah dilengkapi dengan dekorasi yang sangat keren dan simple. Terdapat juga ucapan selamat datang kepada Calista disana.
Diatas kasur terdapat sebucket bunga yang tak kalah indah.
Lean mengambil bucket bunga tetsebut dan menyerahkannya kepada Arles.
"Nih.. berikan kepada kekasihmu!" ujar Lean, menyodorkan bucket itu kepada Arles.
Mama Gles dan mama Dini hanya menjadi penonton.
Arles kembali mendekatkan diri dengan Calista.
"Selamat atas kepulanganmu dari rumah sakit, sayang." Arles menyerahkan bucket bunga itu kepada Calista.
__ADS_1
Calis menerimanya dengan bahagia. Sanking bahagianya, ia sampai mengeluarkan air mata.
"Terima kasih.." ucapnya dengan menatap mata Arles.
"Terima kasih tante, terima kasih Lean.. atas semua yang kalian lakukan untukku." ucapnya tulus.
Lean dan mama Gles gantian memeluk Calista.
"Arles, kamu bantu Calis untuk beristirahat di kasurnya yah.. kami bertiga akan keluar dari kamar ini untuk menyiapkan makanan." Mama Gles.
"Baik ma.." sahut Arles.
"Eit, tunggu. Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan kamu yah." menunjuk muka Arles.
"Ha?!" Pria itu mengusap wajahnya dan membuang napasnya kasar, mendengar peringatan mama yang seperti sedang menuduhnya.
"Maaaa" ucapnya dengan nada kesal.
"Mama pikir aku ini pria macam apa?" kesalnya lagi.
"Ppppffffff" ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Wajah kesal Arles terlihat sangat lucu.
Ketiga orang itu sudah berada di luar kamar Calista.
Cklek, Arles kambali membuka pintu kamar itu.
"Lean," panggilnya dengan sedikit berteriak.
"Tolong buatkan makanan sehat dengan takaran gizi yang pas untuk Calista ya!"
"Hadeh... sudah tahu Arlesss.. tenang aja.. serahkan pada Lean🙄." Jawabnya santai.
Arles kembali menutup pintu. Dan berjalan menghampiri Calista.
"Heii Cailis, kamu mau ngapain?" Arles melihat Calis sedang berusaha untuk berdiri.
"Tolong bantu aku mau berdiri!"
"Oke-oke, kamu duduk yang tegak dulu."
Arles berdiri di hadapan Calista dan menjulurkan kedua tangannya.
"Pegang tangan aku. Lalu berdiri pelan-pelan."
Calista melakukan seperti yang Arles katakan.
"Nah... berhasilkan?"
"Iya..." seru Calis dengan raut wajah bahagia.
Lalu, Calis kembali memeluk Arles. Kali ini, dalam posisi berhadapan.
__ADS_1
Lagi-lagi, pria ini hanya bisa merasa bahagia dan tentu saja membalas pelukan itu.
"Terima kasih ya.." ucap Calis, untuk kesekian kalinya.
"Sama-sama sayang!" balas Arles.
Calista lalu menengadakan wajahnya ke wajah pria yang lebih tinggi darinya ini.
"Apa?" Arles bertanya tentang tatapan Calis padanya.
"Emmm.. ulang lagi yang barusan."
"Ya? apa itu?" Arles bingung.
"Ituuu..... panggilan untukku yang barusan." jelas Calista, malu-malu.
"Sayang??" tanya Arles meyakinkan.
Calista mengangguk "ayo.. ulang.. panggil aku seperti itu lagi.." pintanya dengan nada pelan.
"Sayang!"
"Lagi.."
"Sayang!"
"Lagi..."
"Sayaaang... sayang... sayang... sayaaang"
Arles mengulangnya beberapa kali dengan wajah bahagia.
Calis menarik tangan kanannya, lalu mengangkatnya dan menyentuh seluruh wajah Arles, mengelus wajah itu dan berakhir menyentuh Leher Arles.
"Iya... seperti itu... panggil aku sayang, mulai sekarang. Aku... sangat senang mendengarnya." Calis terus menatap wajah Arles.
Saat hendak menarik tangan mulusnya dari leher pria itu, Arles menahannya. Sepertinya, pria itu ketagihan dengan sentuhan tangan Calis pada lehernya.
Arles terus membalas tatapan mata Calista. Kedua tangannya kini melingkar di pinggang kekasihnya ini.
Sepertinya, Calista benar-benar harus bertanggungjawab kali ini.
"Sayang, kamu harus tanggung jawab" bisik Arles dengan nada seraknya.
"Hmmmm🤨?" Calis tampak bingung. Jujur saja, jantungnya sedang berdebar hebat saat ini, karena tatapan Arles.
Arles semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Calis.
Calista memejamkan kedua matanya, mengerti akan maksud Arles.
.
.
__ADS_1
Bersambung..
Hei.. kalian.. terima kasih ya...🥰🥰