
Hai Gaes.. selamat membaca yaa🥰.
.
.
_____________________
"Mama dan Arles...., sedang sakit, pamaan..!" Lean menangis.
"Baiklah, Lean tenang dulu, paman akan segera kesana ya.."
"Iya, paman. Aku akan menunggu...."
Arland dapat mendengarkan sesegukan tangis bocah imut itu dan ia pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Saat ini Arland merasa sangat khawatir. Akan tetapi bagaimanapun juga ia tetap merasa legah dan senang karena Lean telah mengabarinya akan kondisi Arles dan Glesty. Meskipun belum memastikan kondisi sesungguhnya dari ibu dan anak itu Arland berusaha untuk tiba disana lebih cepat.
Layaknya seorang suami yang pulang kerumah dalam keadaan mendesak karena menghawatir istri dan anaknya, itulah yang Arland rasakan saat ini. Entahlah, Arland benar-benar merasa bahwa ketiga orang itu adalah miliknya.
.
.
Akhirnya Arland tiba didepan rumah Glesty. Matanya langsung tertuju pada sosok gadis kecil yang sedang berdiri di dekat salah satu jendela rumah tersebut.
"Pamaaaan.." tangan kecil Lean ia lambai-lambaikan untuk memanggil Arland. Bocah itu masih menangis.
"Lean," Arland menggeser daun jendela itu agar terbuka lebih lebar.
Arland melihat Glesty yang tidak sadarkan diri. Dan lelaki itupun seketika merasa sangat takut "Glesty bangunlah.. ayo, kita akan ke rumah sakit ya."
"Lean, paman akan menggendong mama ke mobil. Bersiaplah." perintah Arland.
__ADS_1
"Paman, masih ada Arles tertidur didalam. Apa paman juga akan menggendongnya?" Tanya Lean, polos.
"Tentu saja Lean." jawab Arland singkat. Lalu Arland mengangkat tubuh Glesty dan keluar dari rumah itu. Tak butuh waktu lama, Arland kembali lagi masuk melewati jendela yg itu lagi lalu Lean membawanya melihat Arles.
Betapa terkejutnya Arland saat melihat kondisi Arles yang benar-benar parah. wajah pucat, tangannya membiru dan bengkak, terlebih lagi suhu badannya yang sangat panas.
"Lean, ambil jaketmu dan kita ke rumah sakit." Seru Arland. Lean pun menuruti, dipakainya jaketnya dan membawa beberapa bungkus makanan ringan dari kulkas yang ia masukkan ke dalam ransel kecilnya.
Sesampainya di mobil.
Arland memasukkan tubuh bocah lelaki itu dan membaringkannya disamping mamanya. Arland membuka pintu untuk Lean duduk disamping kursi kemudi.
Saat akan masuk kemobil, Arland tersadar bahwa Lean tidak berada disekitarnya.
"Lean? Diaman dia? Apa dia masih didalam rumah?"
Benar saja, Arland melihat gadis imut itu berdiri mematung di bqlik jendela dan tidak menyusulnya.
Tanpa buang waktu lagi, Arland sudah pasti berlari kembali kearahnya.
"Paman, Lean juga mau digendong kayak mama dan Arles." -menunduk, dengan ekspresi sedih.
'Ya ampun, bocah ini.'
Tanpa aba-aba lagi, Arland mengangkat tubuh kecil itu lalu mencium sekilas pipi gadis imut memggemaskan itu.
.
.
Tiba dirumah sakit, Arland sudah di sambut dengan senyuman ramah para security Rumah Sakit itu.
"Pak, tolong. Ada pasien tidak sadarkan diri dua orang." Seru Arland. Salah satu dari mereka langsung cekatan memencet tombol darurat yang terhubung dengan petugas yang ada di dalam. Dalan hitungan detik keluarlah beberapa petugas dengan mendorong 2 ranjang pasien menuju mobil Arland.
__ADS_1
Saat keduanya ia dipindahkan ke ranjang pasien dalam keadaan yang masih sama, tidak ada respon sedikitpun, Arland meneteskan air matanya. Rasa takut lagi-lagi menghampirinya.
Arland mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik yang tengah tertidur itu "Gles... yang kuat ya.." Lirih Arland, menatap lekat wajah itu. Arland tetap ingin menyemangati Glesty meskipun wanita itu tidak mendengarkannya.
Sesaat kemudian, ia berpindah melihat Arles. Di ambilnya tangan bocah itu pelan. "Jagoan..." Arland tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Kemudian ia segera menghapus air matanya. Sekarang saatnya keduanya harus segera ditangani.
"Dokter, tolong berikan penanganan terbaik untuk mereka. Aku ingin mereka bangun dan sehat lagi."
"Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk istri dan putra anda pak. Tolong anda bantu kami dalam doa." Jawab sang dokter.
Arland tersenyum kecil. Bohong jika ia tidak senang mendengarkan dokter yang menyebutkan tentang kedua orang itu adalah istri dan putranya.
Petugas itu pun membawa Arles dan Glesty untuk diperiksa sebelum melakukan penindakan.
.
.
"Paman...." Lean menggenggam salah satu jari tangan Arland, sehingga Arland pun tersadar dari lamunannya, dimana mereka berdua berdiri melihat Arles dan ibunya menghilang dibalik pintu ruang pemeriksaan.
"Hei... Gadis kecil.." Arland tersenyum dan merendahkan tubuhnya untuk menyamakan tingginya dengan Lean.
Hugh.... Lean memeluk Arland. "Paman... Lean takuuut."
.
.
.
Bersambunng.
__ADS_1
Cie -cie... yang nunggu tahun baruan. hehe