
Bukan pasangan resmi, apa lagi sah. Bukan berstatus sebagai pacar apalagi istri. Tapi, siapa sangka jika Nino dan Lean benar-benar berciuman pagi ini.
Tidak. Disini, hanya Nino yang melakukannya.
Lean? gadis itu hanya diam mematung dengan mata membulat sempurna. Saat ini, jiwa polosnya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sementara Nino, Pria itu semakin memperdalam aksinya. Tanpa mau tahu, hal itu terbalas atau tidak.
Persekian detik berikutnya, otak Lean mulai berdialog didalam sana. "Apa yang sedang pria ini lakukan? Apa ini yang namanya ciuman pertama? Kenapa pria ini menciumku?"
Nino sangat menikmati bibir indah itu, meskipun sang lawan tidak memberi balasan. Ia bahkan menutup kedua matanya menikmati ciuman itu dengan penuh perasaan.
Tiba-tiba, Nino memghentikan serangannya, ketika merasakan sesuatu yang aneh. Nino membuka matanya perlahan.
"Leaannn? Kamu kenapa?" tanya Nino, merasa sedikit terkejut karena ternyata gadis ini terlihat sangat sedih. Air matanya telah turun dengan sangat banyak membasahi pipinya.
Nino tak mendapatkan jawaban dari Lean. Namun, Nino segera mengerti bahwa air mata itu karena ulahnya "Maaf.. maafkan aku.. itu terjadi begitu saja Lean. Aku tidak pernah merencanakannya. Maafkan aku yah?." Nino menghapus air mata Lean.
"Nino... kenapa? Kenapa melakukan ini padaku....? Memangnya aku ini siapa bagimu?"
Jlebbb.
Nino bingung mau jawab apa. Lean tiba-tiba bertanya seperti itu, apa yang harus Nino Jawab?
Diamnya Nino membuat Lean merasa kecewa. Gadis ini merasa dirinya sedang dipermainkan oleh pria yang disukainya itu.
Lean berlari ke kamar dan menjatuhkan dirinya ke kasur empuk yang ada disana. Lean menangis sedih. Kini, ciuman pertama yang seharusnya ia berikan pada suaminya kelak, sudah diambil oleh pria yang bahkan bukan bukan pacarnya.
Nino terdiam dengan banyaknya pertanyaan dalam pikirannya. "Kenapa aku melakukan itu padanya? Astaga... kenapa kau ceroboh sekali Nino?" Pria itu merutuki kebodohannya sendiri.
Beberapa jam kemudian, Lean keluar dari kamar. Ia telah mengganti pakaiannya. Demikian juga dengan Nino, pria itu menunggu Lean dalam keadaan sudah rapi.
Lean tidak bicara apapun pada Nino. Nino pun begitu, hanya mengikuti pergerakan Lean.
Di dalam mobil.
Lean hanya memperlihatkan wajah datarnya.
"Kamu mau diantar kemana?" tanya Nino dengan nada ramah.
"Pulang." jawab Lean, singkat.
"Sebelum pulang, kita makan siang dulu, mau?" tawar Nino.
"Aku mau pulang."
"Baiklah-baiklah..!" Nino pun mengantar Lean sampai di istana megah orangtuanya.
ππππππ
Rumah sakit.
Calista dan mama Dini sedang menikmati buah-buahan yang baru saja di antar oleh supir pribadi mama Gless.
"Calis, gimana? Sudah mempertimbangkan tentang dia?" Mama Dini menyinggung tentang Arles.
__ADS_1
Calis menarik napasnya dalam.
"Ma... benarrrr, perasaan aku ke dia masih sama seperti dulu. Tapi, seperti yang pernah aku bilang, takut hanya akan menjadi beban ma. Apalagi... sekarang aku berhutang sama dia. Aku malu ma, malu sama Arles. Rasanya aku pengen sembunyi saat bertemu muka dengan dia dan keluarganya.." Gadis itu menundukkan kepalanya.
"Dengan keadaan kita seperti ini, aku tidak percaya diri untuk menginginkan dia ma, dia terlalu tinggi untuk disejajarkan dengan aku.. aku sangat tidak pantas. Dia berhak mendapatkan yang jauh lebih baik. Oke, dia memang punya segalanya. Mampu membantu dan menyelesaikan masalah hutang piutang kita. Tapi, aku merasa tidak enak ma.. karena aku tahu, bagaimana susahnya mendapatkan uang."
"Iya sayang, apapun.. apapun keputusan kamu, mama mendudkungmu nak. Mama hanya menyarankan, ikuti kata hati kamu. Mama tidak ingin kamu terluka.
"Iya mama... aku... aku ngerti." Calista memberi senyuman tulusnya kepada mama.
Begitulah seorang Calista. Dia sangat konsisten bila menyangkut soal uang. Bisa dibilang, Calis adalah seseorang yang sangat menghargai yang namanya uang. Karena baginya, uanglah yang telah mendewasakan dirinya. Rela bekerja dan bekerja demi sesuatu yang bernama uang.
Apalagi, dalam beberapa tahun ini selalu begelut dengan sesuatu yang bernama hutang.
Memang benar, uang tidak dibawa mati. Tapi bagi Calista, terkadang, tidak punya uang rasanya seperti mau mati. Itulah sebabnya Calis sangat menghargai keberadaan uang, meskipun itu bukanlah hal utama.
ππππππ
Beberapa Hari berikutnya.
Kondisi Calista kini semakin membaik. Namun, ia belum bisa berjalan sendiri, karena kaki kanannya mengalami keretakan tulang. Jadi, sampai hari ini pun, ia tetap di rawat di rumah sakit itu.
(gambar hanya pemanis guysβΊ)
Sudah beberapa hari, Arles tidak memunculkan batang hidungnya ke ruang rawat ini. Ada sedikit kekosongan dalam hati yang dirasakan Calista atas ketidakhadiran pria itu. Apakah mungkin Calista merindukan pria itu? Mungkin saja.
Pintu terbuka dan masuklah seseorang.
Pria ini adalah seseorang yang sangat dekat dengan Calista. Tentu saja Calis sangat senang atas kemunculannya.
π―"Dionn?"
"Kakakkk!"βΊ
Mereka saling memeluk melepas kerinduan.
"Kakak, dimana yang sakit?" ucap Dion setelah mereka saling melepas pekukan. Air mata Dion kini sudah membasahi pipi mulusnya.
"Heiii.. melihat kamu, kakak sudah tidak merasa sakit. Jangan menangis." Dihapusnya air mata adik satu-satunya itu.
Mereka saling menatap dan berpegang tangan.
"Maaf kak, Dion tidak menjaga kakak. Maafin Dion."
Pria muda itu merasa sangat bersalah atas apa yang menimpa sang kakak.
"Tidak apa Dion.. kamu tidak salah. Kakak yang tidak berhati-hati."
"Kakak, Dion minta maaf karena kakak sudah berusaha sendirian, mengurus mama dan alm papa. Dion malah senang-senang belajar di negara orang tanpa merasakan kesulitan yang kakak alami. Maafin Dion ya kak." ucapnya tulus, dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
Calis menggeleng dengan wajah tersenyum. "Hei.. ini bukan saatnya merasa bersalah. Jangan berkata seperti itu. Semuanya sudah diatur oleh yang Maha Kuasa Dion. Kita hanya harus menjalaninya. Kamu sudah jauh-jauh datang, cuma pengen mewek di depan kakak? Ayolah... ini bukan seperti Dion adikku!"
Dion mengangguk-anggukkan kepalanya. "iya-iya kakak, sorry... seharusnya Dion kesini untuk menyemangati kakak, bukan malah memperlihatkan kelemahan Dion. Maaf ya!" ia kembali memeluk kakaknya.
Saat ini, Calis sedang disuapi buah-buahan oleh Dion.
"Dion, siapa yang menyuruhmu pulang? mama?"
"Bukan mama.. tapi, Dion sudah bertemu mama diluar. Dion pulang bersama seseorang."
"Seseorang? Siapa itu?"
"Dia seseorang yang kakak kenal. Dia ada diluar."
"Oh yah? trus kenapa dia tidak masuk?"
"Entahlah, katanya biarkan aku puas-puas berduaan dengan kakakku dulu.
Cklek.
Pintu tiba-tiba terbuka.
Muncullah seseorang yang calista kenali.
"Calista?? Kamu sudah sehat?" Pria itu menghampiri Calista dengan raut wajah bahagia.
"Fran?" Calis hanya tersenyum simpul.
"Calis.. aku sangat bahagia mengetahui kau sudah bangun. Boleh aku memelukmu?" ucap Fran. Ia merentangkan kedua tangannya dan berjalan menghampiri Calista.
Belum juga sempat memberikan pelukan selamat kepada Calis, aksi Fran dihentikan oleh seseorang.
"Eh eh eh... apa yang ingin kau lakukan?"
"Arless? Memangnya kenapa? Aku ingin memberinya pelukan selamat.
Arles: "Siapa yang memperbolehkanmu? Aku saja tidak pernah melakukan itu!"
"Arles?? Kamu datang lagi??" batin Calista. Hatinya merasa senang.
Fran: "Apa urusannya denganmu? Kalian bahkan bukan pasangan. Kau tidak nyambung." kembali melanjutkan aksinya.
Arles: "Lanjut, atau tanganmu yang akan ku patahkan?" bisiknya ditelinga Fran.
Fran: π―π― "Kau tidak berperasaan Arles."
.
.
Bersambung....
__ADS_1