
"Hoooaaaammm." Arles terbangun dari ranjang susun nan sempit yang menjadi tempat istirahat para dokter Rumah Sakit ini, saat bekerja pada shift malam sampai pagi.
Arles memutuskan untuk mencuci wajahnya lalu berkeliling untuk memeriksa keadaan para pasiennya.
Bruuuaaak... "Awww" Arles terkejut karena tiba-tiba tertabrak oleh troli yang berisi sarapan pagi para pasien. Ingin marah, tetapi Arles menahan dirinya mengingat jabatannya adalah sebagai seorang dokter, dan harus menjaga akhlaknya.
"Aduuuh, ma---ma---maaf dok, tadi saya kurang fokus." Dengan melihat orang ini mengenakan jas dokter, maka dia yakin bahwa pria yang ditabraknya ini pastilah seorang dokter. Petugas yang merupakan seorang wanita muda itu hanya menunduk hormat, tanpa berani mengangkat wajahnya.
Degh..
Arles seperti familiar dengan suara ini.
"Tidak apa-apa. Lain kali berhati-hatilah." Jawabnya santun.
Degh..
Gadis itu seperti terkejut mendengar suara Arles. Ia mengangkat wajahnya secara spontan.
"Kamu?" Keduanya sama-sama membatin dan sama-sama reflek melangkah mundur.
Arles segera menetralkan air mukanya. "Jadi kamu juga bekerja disini juga?" Batin.
__ADS_1
"Jadi dia dokter baru yang sedang heboh diperbincangkan?" Batin.
Gadis itu tiba-tiba tersenyum. "Hai.. tidak menyangka bertemu lagi dengan cara seperti ini." Hanya dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu betapa gugupnya dia saat ini. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Arles.
"Arles hanya mematung. Selain dari rasa gugup yang bergemuruh di dadanya, Arles lebih tak terima melihat senyuman gadis ini, tanpa beban. Ya... gadis ini ialah Calista Nara.
Setiap pukul 05.30 menjelang pagi hari Calis sudah siap dengan seragam rapi. Ya.. Calis juga bekerja sebagai honorer di RSUD kota J, yang tugasnya yaitu membantu mengantarkan jatah sarapan para pasien.
Beruntung, atasannya mengerti dan hanya memberikan Calis jam kerja dipagi buta setiap hari. Dengan senyum mengembang, Calis memulai setiap harinya, berharap setiap hari memiliki keajaibannya sendiri.
Calista menyadari tatapan tak suka dari Arles. Tatapan inilah yang terakhir kali dilihatnya lebih dari 4 tahun yang lalu. Dengan Segera Calis mengembalikan wajahnya ke mode biasa. "Jelas sekali dia tak suka melihatku." Batin Calis.
"Permisi dok!" Calis mengambil beberapa rantang dan berlalu dari hadapan Arles, memasuki ruang inap pasien.
Arles yang memang kebetulan akan masuk keruangan yang sama, sangat tidak terima melihat ekspresi bahagia diwajah gadis ini. Cara dia menyapa pasien, memberi mereka semangat, apalagi para pasien terlihat sangat senang dilayani oleh Calis. "Wanita murahan ini benar-benar jago akting." Batin Arles.
Calis berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan menyelesaikan tugas pengantaran sarapannya. Dengan langkah cepat, gadis itu menuju ke ruang inap seorang laki-laki berusia 50 tahun.
"Papa.... dia... papa... dia muncul lagi paaa!" Lelaki itu adalah papa Calis yang sudah terbaring koma selama hampir 5 tahun, akibat sebuah kecelakaan.
Calis lebih sering mengadu pada papanya untuk semua hal yang dia alami. Entah itu saat senang, sedih, takut, Calis lebih sering mengadu ke papanya. Karena menurut Calis, papa yang sangat menyayanginya itu akan mendengar dan bangun secepatnya. Air mata Calis kini turun lagi. Seperti biasa, ia mengambil tangan papa untuk menghapus airmata itu.
__ADS_1
Di Dalam Mobil. Waktunya Arles pulang kerumah setelah menyelesaikan tanggungjawabnya. "Jadi perempuan itu berakhir menjadi petugas pengantar makanan pasien? Jadi.. dia benar-benar tidak melanjutkan kuliahnya waktu itu!"
Tapi, Ekspektasi Arles benar-benar berbeda dari yang dia harapkan. Dirinya berpikir bahwa, ketika suatu saat bertemu dengan Calis, wanita itu akan bersimpuh dikakinya menangis putus asa. Tapi apa yang pria itu saksikan? Calis mampu bekerja secara profesional bahkan bersikap seolah mereka tidak saling kenal.
"Aku harus kasi wanita jalang itu pelajaran. Berani sekali dia tetap bahagia disaat aku hanya ingin murka saat melihatnya? Tunggu saja Calis. Kamu tidak boleh hidup bahagia!" Seringai devil muncul dari sudut bibir Arles.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Waktunya Calis berangkat ke mall tempat kerja utamanya. Ia menaiki Gojek yang tadi dipesannya. Disepanjang jalan Calis memikirkan apa yang terjadi dipagi buta tadi.
Berbeda dengan Arles, Calis tidak menyimpan dendam atau kebencian sedikitpun pada pria itu. Tidak ada alasan untuk membenci seseorang. Masih banyak hal yang lebih penting yang harus Calis pikirkan. Lagi pula, wajar saja Arles marah waktu itu. Ingin menjelaskan yang sebenarnya? Tidak.
Bahkan sejak awal Calis tidak ingin memberi alasan apapun pada Arles kenapa dirinya harus bekerja di club. Dirinya hanya mau Arles bertanya dan meminta penjelasan serta mendukung Calis apa adanya. Jika Arles memang tidak suka, ya sudah, itu hak dia.
Apa Calis berpikir Arles sangat buru-buru menarik kesimpulan? Tidak. Karena dari situ Calis bisa sadar sebesar apa Arles menyayanginya. Jika Arles harus meninggalkannya, itu adalah hak pria itu. Calis tidak punya kepercayaan diri untuk berusahan mengejar seoarang pria yang sudah tidak lagi peduli padanya.
"Setelah ini, bersikap seperti biasa saja. Anggap kita adalah orang asing. Dengan begitu, semua berjalan aman." Batin Calis.
.
.
__ADS_1
Bersambungš„°