I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Honeymoon (Season 2)


__ADS_3

Calista Nara.


Papa.. apa papa melihatku dari sana? Aku, sudah menjadi seorang istri pah.. lelaki yang sedang memelukku ini adalah suamiku.. Pah.. aku sangat bahagia dia mau menjadi suamiku. Pah.. sampaikan terima kasihku pada Tuhan, karena telah memberikan dia untukku.


Arles Putra Adiwijaya.


Tuhan.. Aku sangat bahagia hari ini. Dia, wanita yang sedang ku peluk ini sudah menjadi milikku seutuhnya.... dan terima kasih telah memberikan dia untukku Tuhan. Mampukan aku menjadi seseorang yang selalu membahagiakannya.


Arles dan Calista benar - benar melewatkan malam pertama mereka begitu saja.


Pagi harinya.


Calista bangun dari tidurnya yang sangat nyaman.


"Suamiku...!" Ia mengucek kedua matanya takut salah melihat. Benar.. suaminya sedang berada disampingnya.



"Sayang, kamu sudah bangun? Sini.. peluk lagi!" Arles menepuk sebelah dadanya.


"Arles kamu sudah mandi? Kenapa kamu tidak membangunkanku?"


"Iya.. aku tidak bisa mengganggu tidurmu. Jadi setelah mandi, aku tertidur lagi disebelahmu."


"Arles, boleh aku mengatakan sesuatu"


"Ada apa sayang?"


"Kamu terlihat sangat tampan!"


"Haah?" terkejut. "Iya, aku tahu itu."


"Gendong.. antarkan aku ke bath-up... aku sedang malas berjalan."


"Ternyata ada maunya yah memujiku barusan!"


Arles dengan senang hati menggendong tubuh yang hanya tertutup lingerie tipis itu, benar-benar menyiksa dirinya. Ia membawa tubuh itu dan meletakkannya ke dalam bathup. Bukannya melepaskan pria itu, Calista malah mengalungkan tangannya menahan tengkuk Arles.


CUP. Calis memberi hadiah kiss pada bibir pria itu.


"Sayang, berhentilah menyiksaku." bisik Arles.


Calista hanya terkikik geli melihat ekspresi lucu suaminya. "Maaf cinta" ucapnya sembari mengangkat 2 jari sebagai tanda peace✌.


"Cah...cinta? Panggilan baru sekarang?" tanya Arles dan Calista mengangguk.


"Baiklah cinta, aku tunggu diluar yah.. atau.. mau aku mandikan?"


"Keluarlah cinta.. dan tolong siapkan baju yang akan aku kenakan."


"Baiklah.. aku akan memilih pakaian untukmu"


Calista dan Arles keluar dari kamar menuruni tangga.


"Cieeehh.. pengantin baru.." dengan senyum menggoda Lean menghampiri.


"Cih... kau kenapa kunyuk?"


"Eh.. eh, gimana malam pertamanya? Sukses belum?"


Calista hanya tersenyum malu. Semntara Arles terlihat sedikit kesal, merasa di ejek.


"Sayaaang ayo sarapan." Glesty menyambut putra dan menantunya itu dengan senyum semangat.


"Calis, sini sayang," menarik lengan Calista. "Arles tidak apa-apain kamu kan tadi malam?" mama Gles memuta-mutar tubuh Calista ingin memastikan menantu kesayangannya itu tidak kenapa-kenapa.


Arles yang melihatnya merasa jengah. "Ma.. Mama tidak mempercayaiku?"


"Apa? Jadi mama menggagalkan acara malam pertama mereka? Ya ampun" Lean berteriak dalam hati.


"Ah.. sudahlah... ayo kita sarapan. Karena setelah ini kalian berdua akan pergi honeymoon selama 1 minggu, jadi mama sudah siapkan masakan spesial hari ini."


"Dan sepulang dari Paris, kami berdua akan pindah dari rumah ini."


"Arless! Apa maksud kamu pindah?" protes mama.


"Biar tidak terganggu malam-malam selanjutnyalah Ma" celetuk Lean.


"Biar mandiri aja Ma." jelas Arles.


"Calis, jangan mau diajak pindah ya sayang, mama belum puas bareng kamu sayang!"

__ADS_1


"Terserah Arles aja mah.." jawab Calista, lalu tersenyum.


"Bagusss... kamu pintar sayang" Arles mengelus rambut istrinya dan memberi kecupan di kepala.


"Upsss.. hentikan Arles, aku tidak sanggup melihat kalian sayang-sayang!" Lean menutup kedua matanya dengan tangan.


"Iri?? Bilang ke Nino, nikahin kamu segera."


"Sayang, sayang.. mama bolehkan kalian berdua pindah, asalkan kaki menantu mama sudah sembuh total. Bagaimana?"


"Aku setuju sayang. Arles, benar kata mama kamu. Biarkan istrimu sembuh dulu baru kalian berdua boleh pindah" sahut papa Arland yang baru saja ikut bergabung mengelilingi meja makan.


##


Kota Paris.


Arles dan Calista tiba di Kota Paris pada sore hari dan langsung menuju ke kamar hotel yang sudah mereka pesan.


"Sayang, beristirahatlah dulu. Kamu pasti capek,"


Calista mengiyakan.


"Aku pikir kamar ini akan di penuhi dengan suasana romantis seperti pada umumnya, selayaknya kamar untuk honeymoon, ternyata tidak. Aku baru ingat, seorang Arles tidaklah mungkin menyiapkan hal yang seperti itu"


Malam harinya.


Setelah menyelesaikan makan malam, Arles dan Calista kembali ke kamar. Mau ngapain lagi kalau bukan menuntaskan urusan mereka yang belum kelar.


Setibanya di kamar. Arles mematikan lampu, lalu menekan remot kontrol untuk membuka gorden.


"Huuaaaaaa.... sayang.. indah sekali.. kereen.." Calista tercengang melihat keindahan kota Paris dari kamar yang berada di ketinggian, yang menyajikan Menara Eiffel di depan mata.


"Bagaimana? Kamu suka?"


"Cintaaa.. aku sangat suka.. ini sangat romantis. Akhirnya, aku bisa melihat menara itu. Arles.. kamu sangat pintar memilih kamar ini. Menara itu akan menjadi saksi malam panjang kita.. aku sangat bahagia." Calista memeluk erat suaminya.


"Bagaimana dengan ini, lihatlah ke sana." Arles menunjuk ke arah yang berbeda dan mulai menghitung mundur "Lima, empat, tiga, dua satu"


Sebuah Billboard atau papan iklan raksasa dengan tampilan LED menampilkan cuplikan video dan foto pernikahan Calista dan Arles yang bertuliskan Happy Honeymoon "Arles Calista" dan terbaca sangat jelas dari tempat mereka berdua berada. Entah berapa biaya yang pria gila itu keluarkan untuk muncul di papan iklan itu.


Calista memegang dadanya seketika. "Kamu... gila sayang."


"Kenapa aku gila?"


"Sayang, itu semua sudah mendapatkan izin. Kau tenang saja. Wajah kita berdua akan muncul disana selama 1 minggu ini."


"Arles.. kau paling bisa bikin aku senang!"


"Jadi kau senang?" Iya.


"Jadi, apa kita akan dibayar karena sudah muncul di papan itu sayang?"


"Dasar konyol. Untuk apa kita dibayar? Yang ada, kita yang membayar sayang. Hahaha"


"Ah benar.. kita bukan artis yang sedang mempromosikan sesuatu. Kita hanya dua orang yang sedang memamerkan foto pernikahan. Hehe"


"Iya, kau benar sekali sayang."


"Jadi, berapa kau bayar papan gila itu?"


"Aku lupa berapa, aku tidak ingat."


"Yang benar saja. Kau bohong."


"Iya sayang, jadi.. salah satu perusahaan periklanan dikota ini tuh milik papa mertua kamu."


"Hah??? Jadi kamu pasti gratisankan..?"


"Enak saja kamu bilang gratisan? Oke, itu dibayarkan papa, jadi aku mencicilnya"🤣🤣


"Cicil? Arles.. kau tega membahagiakan aku dengan mencicil untuk papan iklan konyol itu!. Jangan memaksa kalau tidak cukup uang." Calista meninggikan suara.


Arles tak tahan untu tidak tertawa melihat ekspresi kesal Calista.


"Besok kita pulang. Aku tidak sanggup berada disini selama 1 minggu!"


"Kamu ngambek nih?"


"Iya.."


"Jangan ngambek sayang! Aku bercanda kok, aku sudah bayar lunas."

__ADS_1


"Ah, bohong"


"Kenapa tidak percaya?"


"Aku tahu berapa gajimu! Jangan menyombong padaku"


"Apa kau lupa aku punya pekerjaan sampingan?" Arles menaik turunkan alisnya dengan senyum menggoda.


"Cih... kau ini.. dasar gila. Ah.. kenapa aku bisa lupa pekerjaan papa yang kau anggap sampingan itu?"


"Sini, aku tunjukkan kegilaan lainnya." Arles mulai membuka pakaiannya.


"Kau mau apa?"


"Tentu saja ingin bermain gila dengan istriku sayang."


Arles semakin mendekati Calista. Tanpa penolakan sedikitpun, Calis mengikuti permainan Arles. Arles semakin menggila karena istrinya membalas setiap sentuhannya. Tangannya sudah bergerilya kemana-mana dan berhasil menciptakan desahan kecil dari wanitanya.


Masa bodoh dengan hadiah konyol dari Fran dan Bagas, Arles sama sekali tidak menghargai hadiah pemberian dua orang itu. Membukanya saja tidak. Yang pasti, malam pertamanya akan berhasil malam ini, tanpa gangguan, tanpa hambatan.


Ponsel, sudah dinonaktifkan.


"Sayang... apa kamu sudah siap?"


Calista mengangguk.


Perlahan pria itu membuka baju istrinya.


Saat tubuh polos istrinya tersuguhkan, tanpa sadar pria itu menggigit bibirnya sendiri. Entahlah, dari ekspresinya, Arles sudah tidak bisa menahan minatnya yang sangat tampak ingin menyantap tubuh polos itu.


"Kita lakukan sekarang sayang!" Arles memulai aksinya.


Meskipun juniornya sudah tampak tegang, tapi sangat susah baginya untuk memasuki tempatnya.


"Sakiiiiit"


"Tahan sayang," Arles sedikit memaksa, tapi istrinya menahan pergerakannya dan terus saja mengatakan sakit.


"Sayang.. tarik napasmu saat aku memasukkannya."


"Sakiit" lagi-lagi kata itu yang diucapkan Calista.


Arles sedikit menyesal tidak membaca buku panduan yang dimaksudkan Bagas. "Bagaimana caranya agar tidak menyakiti istriku?" Arles merasa tidak tega pada istrinya, tapi lebih tidak tega lagi pada juniornya.


"Maaf sayang, aku harus memaksamu!" Arles kembali melajukan aksinya. Semakin wanita itu melawan, semakin bertambah pula minat Arles untuk segera menyantapnya.


"Sayang sakiiittt!"


"Tahan sayang.. sedikit lagi."


Dan... akhirnya, terdengar juga jeritan Calista memenuhi kamar itu, menandakan bahwa Arles telah berhasil.


Wanita itu menangis bersamaan dengan sesuatu yang hangat mengalir dari dalam sana. Tapi Arles tak peduli. Keinginan juniornya harus tuntas.


"Maafkan aku istriku" bisik Arles dan terus saja melakukan gerakan maju mundur diatas tubuh istrinya.


Kini, tangisan istrinya sudah tidak terdengar lagi terganti dengan desahan demi desahan.


"Sudah tidak sakit sayang?" bisiknya lagi.


Calista tersenyum dan bahkan dia terlihat sangat menikmatinya.


"Apa enak sayang?"


Lagi-lagi istrinya tersenyum.


DAN.... cukup... othor gak kuat menjabarkannya lagi. Biarkanlah mereka.


.


.


.


Bersambung.


Thor.... kok bersambung? Katanya part 150 tamat?😡😡😡😡😡


Ehm.. kalian ingat kan ada bab pengumuman? nah bab pengumuman itu akan di ganti dengan part 151 dears🥰🥰🥰🥰🥰


Oh... okelah thor.. awas aja kalo part 151 gak tamat.

__ADS_1


Iya... kalian boleh rame² lempari aku sandal swalow kalo gak tamat☺.


guysss.. di part 151 otor akan umumkan pemenang rangking ya😉


__ADS_2