
"Hoooaaaam."
Glesty menggeliat ditempat tidurnya. Seperti bayi. Ibu dua anak ini baru saja terbangun dan tidak mendapatkan suaminya disampingnya.
Glesty seketika membulatkan kedua bola matanya saat melihat waktu sudah meunjukkan pukul 9.30 pagi.
"Ya ampun, aku kesiangan." Glesty buru-buru menghambur ke bathroom untuk membersihkan dirinya. Dia bahkan malu sendiri melihat keadaan dirinya dipantulan cermin besar yang terdapat didalam kamar mandi, tidak dibungkus sehelai benangpun. Belum lagi kissmark yang bertebaran dimana-mana.
Tok tok tok..
Siapa lagi yang akan menggedor kamar mandi kalau bukan Arland.
"Sayang.. buka pintunya dulu."
"Tunggu, aku sedang mandi!"
"Apa-apaan dia? Tidak mengenal budaya antri?
"Ayolah dibuka dulu"
Clek,
Glesty menongolkan wajahnya. "Ada apa?" Glesty mengira ada hal yang sangat penting untuk dikatakan Arland.
"Aku ingin mandi juga!" Arland tersenyum sambil menaikkan salah satu alisnya, mendorong pelan pintu, lalu masuk tanpa merasa bersalah.
"Aku juga sedang ingin mandi. Apa kau tidak lihat?" Glesty memegang erat handuk yang melingkar di tubuhnya.
"Aku ingin mandi bareng."
"Haaaaa?"
"Tidak usah malu-malu. Bukankah tadi malam kau yang menantangku duluan?" Arland melepaskan piyamanya dan menyalakan shower.
Sumpah, Glesty rasanya sangat ingin bersembunyi. Bagaimana mungkin suaminya ini berani meledek nya? Glesty kan jadi malu.
"Terserah kau saja" Glesty pasrah.
.
.
Tag.. tag.. tag...
Glesty dan Arland menuruni anak tangga dari lantai 2 rumah itu. Arland dengan setia menggenggam tangan istrinya. Ia bahkan menciumi tangan itu sembari menuruni tangga.. Glesty tersenyum hangat memandangi wajah suaminya, seolah terhipnotis dengan sikap manis Arland.
"Wah wah wah.... Kak, kakak ipar? Kalian berdua bukan main." Leon tak tahan untuk tidak berkomentar.
"Kalian?" Glesty nampak terkejut melihat keberadaan Devan, Leon Lea dan seorang gadis. Keempatnya terperanga melihat kearah Glesty dan Arland yang menuruni tangga, dengan saling tersenyum, memandang, seolah tidak ada orang lain disekitarnya. Bener-bener bikin baper, uuuuuh.
Lalu bocah kembar itu...? Arles dan Lean tak kalah terperanjat. Melihat kemesraan papa dan mama merupakan hal baru bagi mereka. Keduanya terlihat bingung, dan bengong.
"Ada apa ini?" Tanya Glesty.
Angel berdiri dari duduknya dan mendekat kearah Glesty. Arland hanya menyorotinya dengan tatapan datar. "Kakak ipar,, saya Angel. Adiknya kak Arland." Angel memperkenalkan dirinya secara resmi pada Glesty. Meskipun hapir 8 tahun lalu mereka pernah bertemu, tapi waktunya sangat singkat. Bisa saja Glesty sudah tidak mengenalinya.
Glesty melirik sekilas kearah suaminya itu. "Jadi dia tidak menyambut hangat kedatangan adiknya?
__ADS_1
"Oh iya.. Selamat datang Angel!" Sapa Glesty.
"Kak, aku minta maaf ya.." Angel mendekat lagi dan memeluk Glesty. Gadis itu menangis.
"Jangan seperti ini Angel. Sudahlah. Kami baik-baik saja sekarang." Glesty mengelus lembut punggung Angel.
"Aku sudah memperangati. Jangan menyentuh istri ataupun anakku."
Angel melepaskan perlahan pelukannya. Kak.. dimana kakakku yang dulu? Kenapa kakak setega ini sekarang?
"Apa aku masih harus memberitahumu alasannya?"
"Sayaaang!" Glesty mengelus lengan suaminya itu.
Glesty dan Arland sangat tahu, bahwa mama, papa juga Angel sudah menyesali masa lalu mereka. Tapi Arland belum tau bagaimana caranya memaafkan keluarganya itu.
.
Disisi lain, Devan mendapatkan panggilan telpon. Setelah telfon berakhir, ia lalu berpamitan pada Arland dan Glesty.
"Kak, kakak ipar.. aku Devan. Kedatanganku sepagi ini untuk memperkenalkan diri secara resmi sebagai sepupu dari kak Arland.
"Oh.. iy--ya Devan," Glesty melirik adiknya, Lea. Namun gadis itu sepertinya tidak mempedulikan kehadiran Devan disana.
"Aku Glesty, dan maaf atas sikapku tempo hari!" Ya... benar bahwa Glesty telah merusak acara makan malam keluarga pihak Devan-Lea waktu itu.
"Oh.. tidak apa-apa kak. Yang terpenting adalah kalian berdua bersama lagi. Untuk masalahku, aku akan berusaha memperbaikinya." Tutur Devan.
"Cih, PD sekali Pria ini. Apa dia pikir dirinya telah membuat kakak dan kak Arland berbaikan? Hmmmm.. Sebenarnya aku tidak perlu repot-repot menjalankan ide gila ku. Pada akhirnya, mereka akan tetap bersatu. Aku sungguh bodoh!" Batin Leon.
Lea? Dia sedikit membuang nafasnya malas saat mendengar penuturan pria jahat itu.🙄.
.
Berakhir juga urusan dari para tamu pagi ini. Keempatnya berpamitan karena ada urusan masing-masing. Termasuk Lea, gadis itu akan bertemu dengan seseorang, yang bernama dr. Royan. Lea dengan sengaja menjawab panggilan telpon dari teman baiknya itu, di depan Devan.
Devan? Tentu saja dia terbakar api cemburu mengetahui Lea akan makan siang dengan pria lain.
"Lea.. ayo kita bicara.!" Devan menahan tangan Lea.
Leon hanya melirik sekilas interaksi pasangan mantan kekasih ini. Ia kemudian menggeleng pelan. "Anda pikir mudah meluluhkan Lea? Gadis itu sangat keras kepala pak direktur!" Gumam Leon, melewati adiknya dan Devan begitu saja.
"Lea, kakak tunggu dimobil." Leon memainkan kunci mobilnya diudara, sambil melenggang pergi.
"Lea? Heh" Ketus Lea menyebutkan namanya sendiri seolah merasa aneh mendengar Devan memanggilnya Lea.
"Rupanya anda sudah bisa menyebutkan nama Lea dengan sedikit lembut pak direktur?" Ketusnya lagi.
Saat ini mereka berada di halaman luas rumah kakak mereka itu.
"Ayo katakan, apa yang harus aku lakukan supaya kamu mau memaafkan dan menerimaku lagi! Please! " Lirih Devan.
"Aku akan memaafkan anda jika anda menghilang dari hadapan saya. Tapi maaf, untuk menerimamu lagi seperti sebelumnya, aku tidak bisa. Ayolah. Mulai hidup baru. Anda bisa mendapatkan gadis yang 1000 kali lebih baik dari saya. Permisi!" Lea pergi begitu saja.
.
.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=
Satu minggu kemudian! Aktivitas sudah normal kembali. Anak-anak sudah mendapatkan sekolah yang sama. Tapi Arland, pria itu tidak pernah membahas tentang berbaikan dengan keluarganya, dan ini menjadi beban tersendiri bagi Glesty.
"Pak setelah kita menjemput anak-anak disekolah, tolong antarkan kami ke rumah orangtuanya suami saya ya!" Ucap Glesty pada supirnya, dan diiyakan oleh sang supir.
.
.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Kediaman Keluarga Adi Wijaya.
"Permisi pak, apa tuan dan nyonya ada?" Glesty.
"Maaf, anda siapa yah?" Security.
"Saya Glesty."
"Sebentar ya bu Glesty, saya memastikan dulu apa tuan dan nyonya mengenal anda." Dijawab anggukan dari Glesty.
Security itu pun menekan salah satu tombol yang terhubung dengan rumah majikannya tersebut.
"Ya ada apa pak?" Jawaban dari dalam.
"Ini nyonya, ada tamu didepan. Namanya Glesty dengan 2 orang anak nyonya."
"Lalu kau tidak menyuruh mereka masuk? Mereka adalah menantu dan cucu saya." Suara nyonya terdengar sangat bahagia.
"Maafkan saya nyonya, saya tidak tahu bahwa anda istri dari pak Arland."
"Tidak masalah." Glesty tersenyum.
.
"Maaa.. Kita dimana ini?" Arles dan Lean merasa heran karena mereka tidak pulang kerumah milik mereka, melainkan memasuki istana yang lebih luas dari tempat tinggal mereka bersama papanya.
"Nanti kalian akan tahu setelah bertemu!"
.
.
BERSAMBUNG.
Gaes... tengkyu ya.. 😇
oia, my ig: reetha262
di follow dong gaes😊
Author kan pengen kenal kalian😉
oia 1 lg, promo ya..
Thor baru nerusin cerita ini lagi.🥰
__ADS_1
Udah Up sampe 15part ya 👇