
Kedua orangtua Arland merasa seakan tersambar kilat, mendengarkan cerita dari bocah polos itu tentang keluarganya.
"Tidak mungkin bocah sekecil ini bisa mengarang cerita bukan?"
"Kenapa aku merasa seakan akulah orang yang dia maksud?" Batin opa dan oma bergantian.
Arland dapat menangkap gelagat aneh dari ekspresi kedua orangtuanya ini.
"Ehmm... kalau begitu, paman akan bertemu dokter dulu ya Lean, kamu sama opa dan oma tunggu disini ya." Pamit Arland pada Lean. Gadis kecil itu mengangguk setuju.
.
.
Selepas kepergian Arland, Lean membuka ranselnya dan mengambil semua persediaan makanan yang sempat tadi ia masukkan kedalamnya.
"Opa, oma, kalian sudah makan ya? Aku sangat lapar jadi aku akan memakan semua makananku ini. Maaf, aku tidak bisa membagikannya." Lean memegang bungkusan camilan ditangannya dan meminta maaf kepada opa oma itu karena tidak dapat membagikan bekalnya pada mereka. Lean pun memmbuka sendiri bungkus snack itu dan memakan isinya.
Gadis imut itu terlihat sangat lucu sekaligus memprihatinkan. Ia melahap satu demi satu makanannya tanpa banyak pikir hingga habis total. Bagaimana tidak, bocah itu memang sudah lapar sejak tadi.
"Kasihan sekali kamu Lean." Batin dua paruh baya itu, yang hanya bisa menatap gadis kecil itu dengan rasa Iba.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Ditempat lain.
Seorang Pria, yaitu Leon, sedang memijat pelipisnya dikarenakan kepalanya terasa sangat sakit.
"Bersembunyi dimana dia? Kenapa dia harus mematikan ponselnya? Menenangkan diri? Shittt!" Gumam Leon.
Leon merasa sangat putus asa mengingat adik satu-satunya Lea, yang entah sedang ada dimana. Bukan tanpa alasan. Semenjak Lea mengirimkan pesan padanya tentang tidak perlu mencarinya, dan ingin menenangkan diri dalam beberapa waktu, Leon merasa sangat takut. Bagaimana jika adiknya itu benar-benar menghilang? Bagaimana jika adiknya tidak akan pernah kembali?
"Lea, semua ini gara-gara kakak."
"Lea, kakak minta maaf."
"Lea, kamu dimana? Kakak mengkhawatirkanmu Lea!"
Leon menangis mengingat adiknya.
"Ini semua karena rasa benciku terhadap kak Arland. Aku melibatkan adikku didalamnya. Dia pasti sangat malu menampilkan wajahnya saat ini." Leon mengingat adiknya sedang menjadi perbincangan hangat para nitizen.
.
.
.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa jam berlalu.
Arland kembali pada Lean, karena takut bocah itu akan mencarinya.
.
.
"Hai Paman..." Lean mengucapkan halo pada seorang laki-laki yang baru saja datang dan menghampirinya dan pasangam opa oma ini.
"Anton, Arland memintamu datang?" Tanya oma, dan diiyakan oleh Anton yang adalah teman baik juga sekertaris andalan Arland.
Setelah mengetahui bahwa seseorang yang menjadi alasan mengapa mereka datang ke rumah sakit saat ini ialah Glesty dan anaknya, Anton merasa dirinya akan membeku kedinginan. Ada perasaan tidak enak menyelimutinya. Anton merasa setelah ini akan ada badai.
"Maafkan saya Tuan, nyonya, saya benar-benar tidak menyangka bahwa pak Arland akan mencarinya lagi." Anton tertunduk takut dihadapan kedua orang tua itu.
"Tidak perlu merasa bersalah Anton, kami berdualah yang bersalah."
"Apa?" Anton sedikit terkejut mendengar Tuan besar nampak seperti orang yang sedang menyesali perbuatan jahatnya dimasa lalu. Demikian pula dengan ekspresi nyonya besarnya ini. Anton berfikir, apa yang sedang merasuki kedua orang tua ini.
"Kami sedang mencari cara agar Glesty mau kembali pada Arland," sambung nyona besar itu.
Anton merasa bersorak gembira didalam hatinya. Lama tidak bertemu, ternyata kedua orang tua ini sudah banyak berubah.
"Tuan, nyonya, saya pikir kita bertiga harus berkata jujur pada pak Arland tentang yang terjadi dibalik perpisahannya dengan istrinya lebih dari tuju tahun lamanya."
.
.
"Apa itu? Ada hal yang disembunyikan dariku?" Arland tiba-tiba saja muncul bersamaan dengan pertanyaan selidik yang dia ucapkan.
Dan ketiga orang itu? Jangan ditanya lagi. Bahkan mereka merasakan jantung dan bola mata mereka akan terlepas dari tempatnya.
Arland merasa bertambah curiga. Ia memicingkan mata kearah tuga orang dihadapannya ini.
.
"Pamaan." Lean menghampiri Arland.
"Sayang, apa kau tidak nakal?" Arland menggendong tubuh kecil itu.
"Tidak paman, aku tidak nakal. oma dan opa ini baik padaku." Jawabnya tersenyum.
"Paman, aku sangat mengantuk." Sambung Lean lagi.
"Anton, kamu urus perpindahan Glesty ke ruang terbaik di rumah sakit ini. Aku ingin dia bisa istirahat tanpa gangguan. IGD ini cukup ramai." Perintah Arland. Anton segera mengiyakan.
Dan disinilah Arland sekarang. ia dan Lean pun bisa beristirahat bersama dengan Glesty diruang yang sangat besar ini.
__ADS_1
.
Tidak butuh waktu lama, Lean tertidur. Keduanya tengah berada dikasur yang sangat empuk didalam ruang yang sama denga Glesty. Arlandpun ikut tertidur.
.
.
Bebera waktu kemudian, Glesty terbangun. ia merasa sangat ading dengan ruangan ini. "Dimana aku? ini tidak seperti dikamarku! Apa ini adalah kamar hotel?
Degh, "kenapa aku bisa berada disini?"
Ketika hendak turun dari tempat tidurnya itu, Glesty menyadari bahwa ini adalah ranjang pasien.
Glesty lalu turun dan menemukan dibalik Tirai pembatas ternyata ada ranjang yang cukup luas dan diatasnya terbaring dua orang yang tertidur saling berpelukan.
Beberapa detik kemudian Glesty membelalakkan matanya karena terkejut.
"Lean? Arland? Ke... kenapa, mereka bisa bersama disini?"
"Apa aku sedang bermimpi?"
Glesty ingin membuktikan apakah ini hanya halusinasi atukah nyata. Ia menarik selimut dua orang itu, dan tangan Arland bergerak menangkap selimut tersebut.
"Hah, jadi ini nyata? Aku sedang tidak bermimpi?" Glesty melepaskan selimut itu lagi, membuat Arland terpaksa bangun, dan terkejut mendapatkan Glesty yang tengah menatapnya.
"Gles, kamu sudah bangun? Arland bangkit dan menarik Wanita itu kedalam pelukannya. Glesty, dia hanya terpaku.
Beberapa menit kemudian, Arland melepas pelukannya dan dengan pelan, menangkup wajah Glesty dengan kedua tangannya, membuat wanita itu menatapnya.
"Gles, dia anakku kan? Sebelum aku mengetahuinya sendiri, jujurlah sekarang. Dia, Arles adalah putraku.. Benar kan?" Arland bertanya lirih dengan suara serak, dan kini wajah mereka hanya berjarak 10cm. Arland tidak melepaskan tangannya dari kedua sisi kepala glesty.
"Jawab aku Gles, itu benar kan?"
Glesty menelan kasar ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Tatapan mata Arland tidak berpindah sedikitpun dari mata Glesty saat ini, membuat jantung Glesty berdegup kencang.
"Kenapa aku sangat gugup? apa karena tatapannya, ataukah karena pertanyaannya tentang Arles?
.
.
.
Bersambung.
Gaes... maaf nih, entahlah, Author merasa kurang fokus. Trima kasih karena kalian masih menunggu.
Oh yah, part ini harusnya up tadi malam, tapi Author malah ketiduran sampai pagi.
Love yu gaes🥰🥰🥰🥰
__ADS_1