
Mobil yang membawa Leon, Erles dan Lean kini tiba di Apartemen tempat tinggal Lea.
"Wah Uncle.. Seru yah jalan-jalannya!, seru Arles dengan wajah bahagianya.
"Boy.. ini belum jalan-jalan. Tadi itu perjalanan dari Kota B ke kota J. Nah sekarang kita ada di Kota J, mau jemput onty Le dulu baru jalan-jalan. Onty Le tinggal disini. (Leon menunjuk apartemen yang ada di hadapan mereka.
Wajah polos kedua bocah itu kembali sumringah.
"Wah uncle... Rumah onty Le sangat gede. Ucap Arles takjub.
Sedang Lean, tentu saja ia hanya memasang ekspresi yang sama dengan saudara kembarnya, tanpa bisa mengucapkan sepatah kata.
"Girl, kamu happy juga?" Tanya Leon sambil menatap wajah imut Lean.
Lean mengangguk semangat.
\=\=\=\=
Arland melajukan mobilnya, pergi mencari hadiah yang akan dibawa saat menjemput kakak ipar dan keponakannya besok.
"Kira-kira si princess suka apa yah.. Ah lebih baik aku bertanya langsung pada orang-orang disana apa yang disukai oleh anak perempuan. Gumam Arland.
\=\=\=\=
"Boy, girl.. Ayo kita masuk ke rumah onty Le.
"Uncle.. Onty pasti punya banyak uang yah bisa beli rumah segede ini! Lagi-lagi Arles berucap. Dan hanya dijawab oleh senyum lebar pamannya.
__ADS_1
Mereka sedang berada di dalam lift, menuju ke lantai 10.
SEMENTARA LEA SEDANG MENUNGGU.
Lea kini tengah berpikir. Ia mengingat kembali saat akan penandatanganan kontrak di perusahaan XX kemarin.
"Dengan perasaan campur aduk antara betapa gugupnya aku, berusaha mengumpulkan keberanian untuk bertemu lagi dengannya, berusaha menetralkan perasaanku yang sangat ingin mengamuk dan memakinya. Apa dia tidak tahu aku gemetar menahan semuanya?
Lea tidak habis pikir. Waktu 7 tahun tidaklah lama untuk bisa melupakan wajah seseorang.
"Berhadapan denganku dalam jarak kurang lebih satu meter, tapi dia bersikap biasa saja? Bahkan dia dengan santainya memperkenalkan diri? Tunggu! Apa jangan dia amnesia?
"Mantan kakak ipar benar-benar tidak mengenaliku. Apa iya aku sekarang sangat berbeda? Haha... Tentu saja aku berbeda, karena aku menjalani hidupku yang bertentangan dengan keinginanku yang sebenarnya. Ucapnya lirih, dan tentunya ia sedang berkata-kata pada dirinya sendiri.
"Hmmm, tak apa Lea, sebentar lagi! Bersabarlah sebentar lagi. Lea menyemangati dirinya sendiri.
\=\=\=\=
Tiba-tiba...
Gleek..
Pintu terbuka ..
"Ontyyyyy.."
suara Arles menyebar kemana-mana sangking nyaringnya..
__ADS_1
"Wah anak-anak onty..."
Lea auto memeluk kedua keponakan lucunya.
"Ayo kita masuk dulu sayang, ajaknya dan menggandeng kedua tangan kecil itu, seolah tak ada orang lain lagi yang harus diajak masuk juga.
"Apa aku ini tak terlihat ? Kau tidak akan menawariku masuk? ucap Leon yang masih betah berdiri ditempatnya, tak bergerak sedikitpun.
Lea auto memutar bola matanya jengah dan menghentikan langkahnya.
"Anak-anak onty, masuk duluan sana yah sayang.."
Kedua bocah itupun berlari dengan senang hati, ingin menyusuri setiap sudut rumah ontynya yang mereka anggap sangat keren.
Lea melipat kedua tangannya di depan dada, membuat senyum terbaik diwajahnya, kemudian berbalik.
"Wah.. Kakakku yang ganteng!.. Sejak kapan berdiri di situ? Ayo masuk kak! Akting nya..
"Cih.. Kusarankan jangan pernah bermimpi untuk merambat ke dunia film atau drama. Aktingmu sangat jelek."e Ucap Leon dan melangkah melewati Lea.
Jangan ditanya bagaimana ekspresi Lea saat ini. Dia sangat ingin menjambak rambut kakaknya itu karena gemas.
"Uwaaaaa... uncle lihat rumah ini... sangat keren... iyakan Lean? Seri Arles.
Lean mengangguk semangat tanda setuju.
Onty Lea hanya bisa tersenyum dan menggeleng melihat tingkah kedua keponakannya.
__ADS_1
Onty cuma numpang disini sayang.. Kalian belum tau saja, perusahaan milik orang yang telah membuat kalian hadir ke dunia fana inilah yang menguasai seluruh gedung ini." Batin Lea.