
Glesty berdehem untuk mengusir kecanggungannya. ia berjalan beriringan bersam Arland, yang katanya akan menuju kamar milik mereka.
"Kamarnya disini Gles.." Arland ternyata juga sedikit canggung. Lelaki itu ragu, apakah Glesty akan senang dengan kamar ini.
Klek, kamar terbuka.. "Uwwaaa.." hanya satu kata kagum itu yang bisa Arland baca dari pergerakan bibir Glesty. Arland pun tersenyum.
Glesty merasa disambut hangat oleh kamar ini saat matanya tertuju pada sebuah tulisan "WELCOME ❤ BELOVED WIFE❤." Air mata harunya terasa sangat ingin keluar. Glesty menggigit pelan bibir bawahnya yang terasa bergetar, tidak mampu berkata apapun.
"Jadi... perasaan untukku itu masih sama, Arland?" Glesty hanya mampu membatin.
"Ayo, masuklah... ini kamar kita.." Arland melirik ke arah Glesty yang masih tertegun memandangi kamar itu.
"Hei... masuklah..." Arland terpaksa memberanikan diri mengaitkan jari tangannya disela jari tangan wanita yang adalah istrinya ini, membuat Gleaty melangkahkan kakinya mengikuti Arland.
"Arland, apakah aku sedang bermimpi?" Akhirnya wanita itu bersuara setibanya mereka di tengah-tengah kamar itu. Arland berbalik, menghadap wanita itu dan mengambil satu lagi tangannya, perlahan menaruh kedua tangan itu didadanya. "Apa kau merasakan detak jantungku" Tanya Arland setengah berbisik.
Glesty pun mengangguk pelan.
"Lihatlah kedua mataku" Arland menangkupkan pelan wajah Glesty dengan kedua tangannya, membuat wanita itu menatapnya. "Apa ada dirimu didalam mataku?" Arland memajukan satu langkahnya. Kini mereka dalam posisi sangat dekat.
deg deg. deg deg...
Sepertinya Arland dan Glesty dapat mendengar detakan jantung keduanya yang kini berdebar tak karuan. Arland semakin mengikis jarak diantara mereka.
"Glesty... ini nyata.. Bukanlah mimpi..hmmm !" Arland menatap lekat wajah cantik istrinya.
Tiba-tiba, Air muka Gleaty nampak berubah. Terlihat butiran bening menetes dari kelopak matanya. Hidungnya memerah karena menahan rasa ingin menangis. "Arland, apa sudah tidak ada sandiwara lagi? Aku merasa takut." Lirih Gleaty.
"Ssssuut" Arland menyentuh bibir Glesty dengan satu jari telunjuknya. "Jangan menangi ya... Sudah tidak ada hal yang perlu ditakutkan-- hmm!" Arland berusaha menenangkan istrinya itu, dan menghapus airmata yang membasahi pipi istrinya.
"Tapi kenapa dulu kau membohongiku... hmm? Kau telah bermain-main dengan hidupku Arland!" Lirih Glesty dan masih membalas tatapan Arland.
"Maaf... maafkan aku!" Arland semakin mendekat ke wajah Glesty, menyatukan kedua jidat mereka.
Arland menjelaskan semuanya. Glesty harus tau alasan Arland telah berbohong.
"Aku... tidak berencana membohongimu selamanya.. Tapi aku belum punya waktu yang tepat untuk membawamu bertemu keluargaku.. Percayalah padaku, aku tidak pernah berencana mempermainkanmu." Kini, Arland pun juga menangis.
Tanpa disadari, Glesty juga ikut melakukan hal yang sama, mengusap lembut pipi Arland untuk menyeka air matanya.
"Arland.." Glesty menyudahi adegan manis itu.
"Hmmm?" Arland terlihat kahwatir. Ia takut istrinya ini akan merubah pendiriannya lagi.
"Aku ingin,, bi..cara..! Kau harus mendengar ini Arland."
Arland semakin merasa ketakutan akan bayang-bayang perpisahan dengan Glesty.
"Aku... Aku.... Tidak. setelah mendengar ini, mungkin kau akan merubah pandanganmu tentangku. Aku, bukanlah wanita yang benar-benar baik seperti yang kau kira. Aku, sangat egois Arland, dan karena keegoisan itulah.. menyebabkanmu jadi celaka waktu itu. Apa kau ingat? Aku... sangat memaksamu untuk mendengarkanku padahal aku tahu kau sedang menyetir. Hanya karena ingin mengatakan bahwa aku,, hamil. Arland.... akulah yang tidak pantas dimaafkan disini." Glesty kembali menangis.
"Aku rasa, sangat tidak tahu malu jika aku harus hidup bersamamu dan menikmati kenyamanan ini!" Glesty berusaha mengusap air matanya itu.
__ADS_1
"Jika kau,,, memintaku pergi dari sini sekarang juga, aku akan menurut dan pergi Arland...!
"Sudah? Apa sudah selesai?" Arland malah mendekat dan memeluk tubuh istrinya itu. "Mulai sekarang, kau, aku, dan anak-anak kita akan hidup bersama. Tidak perlu terpaku dengan masa lalu.. hmm!" Arland mengecup pucuk kepala Glesty.
"Tapi Arland, aku terus membayangi kejadian itu. Aku sangat takut jika--"
"Kau takut kehilangan aku lagi? hmm?" Arland menyela, membuat Glesty tidak bisa menyelesaikan kata-katanya dan dengan reflek menganggukkan kepala. Yang terjadi selanjutnya ialah--- Arland,,,, ******* bibir sexy milik istrinya itu dengan penuh perasaan. Perasaan bahagia, terharu, bahkan saat ini cairan bening itu keluar begitu saja dari matanya yang tengah terpejam.
Glesty yang terkejut mendapatkan cium*n mendadak itu, terdiam untuk beberapa detik. Saat melihat airmata suaminya mengalir, ia pun tak kuasa menahan perasaannya. Ia membalas ciu*an suaminya.
Mereka melakukannya sambil terisak, bukan dengan desahan.
.
.
\=\=\=\=\=\=\=
Apartemen Leon.
"Leaaa... aku akan keluar bertemu dengan temanku.. Apa kau mau ikut?"
"Tidak kak pergilah! Lebih baik aku menonton televisi dari pada jalan-jalan."
"Aku akan pulang larut. Apa kau yakin tinggal sendirian?"
"Memangnya apa yang harus aku takuti? Aku bahkan pernah berada dibawah jembatan saat hujan malam-malam!" Ketus Lea, membuat Leon seketika salah tingka.
"Candaanmu tidak lucu!" Sambung Leon.
"Cih,, gadis mana yang mau dengan pria yang masih menampung adiknya?" Canda Leon dengan nada ketus. Rasanya Lea sangat ingin melempar kakaknya dengan camilan yang ada ditangannya saat ini. Lea melayangkan tatapan tajam kearah Leon.
"Baiklah, aku pergi.. Jangan lupa masaklah makanan yang enak ya adikku!"
"Kak, bukankah kakak akan pulang malam? Kenapa lagi aku harus memasak? Makan diluar saja!" Lea semakin menekuk wajahnya.
"Daaaaaah" Leon menghilang dibalik pintu.
Klek, pintu terkunci otomatis.
Dua menit kemudian.
Ning nung. ning nung...
Bel kembali berbunyi.
Lea membuang nafasnya kasar. "Kenapa dia kembali?" Melangkah dengan malas kearah pintu.
Cklek..
Lea hanya membuka pintu dan dengan santainya berbalik tidak memastikan terlebih dahulu bahwa orang yang datang kak Leon atau bukan.
__ADS_1
.
Pria itu pun masuk dan dengan tidak tahu dirinya memeluk tubuh Lea dari belakang, membuat gadis cantik itu membelalakkan matanya. Takut? Tentu saja. bahkan saat ini Lea merinding ketakutan.
"Sayaaang, aku merindukanmu!" Suara serak milik Devan terdengar.
"Devan?" Rasa takut Lea seketika luntur begitu saja, digantikan dengan perasaan marah.
"LE..PAS..KAN!"
Devan tidak merespon.
"Lepas!" Dengan nada meninggi!
"Tidak. Jika aku belum mendapatkan maaf" Jawab pria itu dengan nada lemas.
"Lepas! Sebelum aku lebih lagi membencimu!"
Deg....
Devan benar-benar tidak ingin mendengar ini. Lea sangat membencinya? Benar! Pria ini telah mencampakkan Lea lebih dulu.
Dengan perlahan Devan melepaskan pelukannya dan Alin kini berbalik menghadap kearahnya.
"Alin, maafkan aku.." Lirih Devan.
"Pergi dari sini."
"Alin aku mohon, dengarkan aku."
"Lalu apa kau pernah mendengarkanku malam itu? Tidak kan? Kau meninggalkanku! Aku bahkan sampai terjatuh mengejarmu! Dan apa yang kau lakukan? Kau tidak peduli apa aku sakit atau tidak. Apa kau ingat dengan para wartawan sialan itu? Kau membuat mereka mengangguku. Orang-orang memotretku bahkan merekam situasi menyedihkan itu. Aku sangat malu." Semakin lama berkata-kata, Lea semakin bergetar.. airmatanya bahkan turun meski bibirnya tidak menangis. Lea sangat sakit hati.
"Lea, beri aku kesempatan sekali saja.. Aku tidak bisa berpisah darimu."
"Pergilah dari sini. Pergi, sebelum aku memanggil Security untuk menyeretmu.!" Lea menunjukkan jarinya kearah pintu keluar.
Devan tetap berdiri ditempatnya. Lelaki itu belum mendapat yang ia inginkan, yaitu maaf dari Kesayangannya ini.
"Aku bilang keluar!" Lea terpaksa mendorong tubuh Devan dan lolos melewati pintu. Lea menutup pintunya kembali. "Kenapa Van, kenapa rasanya seaakit ini? Lea menjatuhkan tubuhnya dibalik pintu dan enggan beranjak dari sana..
"Alin," suara Devan kembali terdengar.
"Aku akan pergi kali ini. Tapi aku akan kembali lagi. Jaga dirimu.. dan jangan membuka pintu seperti tadi. Kau harus memastikan siapa tamu yang datang. Dan tolong ganti bajumu! Kenakan yang sedikit tertutup." Devan tidak peduli lagi dengan siapa saja yang melintas sambil tersenyum geli mendengarnya.
Suara samar-samar Devan dari balik pintu masih terdengar ditelinga Lea. Lalu ia melirik tubuhnya sendiri. "Aku lupa mengenaka cardiganku." Ya.. selepas kepergian kakaknya, Lea melepaskan cardigan yang td menutupi tubuh sexynya..
Devan tentu saja tidak mendapat respon dari Alin. "Lebih baik aku minta bantuan bunda" Batinnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung Gaes..
Trima kasih untuk segalanya Gaes.