
"Permisi.." Glesty pun pergi begitu saja.
Namun, namun, namun.....
"Eh,, kenapa kau ini, Sangat angkuh sekali?"
Nyonya muda itu menghentikan langkah Glesty hanya dengan kata-kata.
"Ada apa lag? Bukankah saya sudah bilng permisi?" Tanya Gleaty dengan tatapan pura-pura santai. Sesungguhnya ia sangatlah gugup dan ingin menghindari interaksi dengan kedua orangtua Arland.
"Akan kuberitahu. Kau mungkin tidak tahu, mereka ini adalah orang tua dari pria yang telah mau bertanggung jawab atas perbuatan putramu. Dan ku pastikan, orang sepertimu tidak akan bisa membayarnya kembali sampai kapanpun. Bukankah kau harus mengucapkan terima kasih? "
Mendengar perkataan itu, Glesty merasa tenggorokannya mengering dan dengan susah ia menelan slavinanya. "Ya ampun, mulut perempuan ini tidak ada bedanya dengan silet." Batin Glesty.
"Aku sudah berterima kasih atau belum, itu adalah urusanku. Lagi pula, aku tidak harus mengucapkannya didepan anda kan?"
Ucapan Glesty membuat nyonya muda itu merasa sedikit gemas. "ternyata orang ini cukup berani melawan perkataanku." pikirnya.
Glesty pun berlalu.
Saat tiba di lorong rumah sakit yang agak sepi, tiba - tiba ada suara yang memanggilnya.
"Glesty.. Tunggu..!"
Glesty menahan langkah kakinya.
"Kenapa mereka malah mengikutiku?" Glesty merasa sedikit ketakutan sekarang. Bagaimanapun juga, dua orang tua ini pernah melontarkan kalimat tidak menyenangkan dulu padanya dan sayangnya Glesty tidak pernah lupa itu, dan sebisa mungkin Glesty tidak mau lagi terlibat dengan keduanya.
Hening.....
Glesty hanya berdiri mematung, tanpa berniat memutar tubuhnya untuk melihat kedua orangtua itu.
"Glesty, kami berdua ingin bicara." Suara rendah papanya Arland memecah keheningan.
"Kenapa....? Kenapa ?.. Kenapa lagi? Bukankah kita bertiga telah sepakat untuk tidak saling mengenal? Ucap Glesty dengan nada datar.
"Glesty, kami berdua minta maaf. Tolong maafkan kami.." Mamanya Arland sudah tidak sabar mengutarakan maksudnya.
Degh....
Hening.
Hening.
Glesty akhirnya membalikkan tubuhnya. Air matanya pun, kembali menetes.
"Apa..? Maaf? Kalian berdua...... telah membawa pergi suamiku... Kalian juga memintaku menghilang dari hidupnya.. Jadi, meminta maaf untuk itu kah?" Ucap Glesty dengan suara yang bergetar sambil menatap mata keduanya.
Kedua paruh baya itu benar-benar terlihat menyesali masa 7 tahun lalu. Glesty menangkap ketulusan dalam mata keduanya.
"Baik, karena kalian memimta maaf dengan tulus kan, saya memaafkan kalian."
Papanya Arland terlihat hendak berbicara "Nak,..." namun, Glesty seakan tidak ingin mendengarkan.
"Saya permisi" ucap Glesty singkat, dan menghapus airmatanya lalu pergi dengan setetengah berlari. Ia meninggalkan keduanya berdiri mematung disana.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=\=
Arland sedang membaca beberapa file yang baru dikirim oleh Anton melalui Email pada komputernya.
Banyaknya pekerjaan kantor dan kesibukan lain membuat Arland merasa sangat lelah.
Ia lalu merebahkan kepalanya pada sandaran kursi empuknya. Arland pun bermaksud untuk memejamkan matanya sejenak.
Saat sedang menutup mata, ingatannya kembali pada tiga orang yang memang selalu mendominasi isi kepalanya belakanngan ini. Siapa lagi jika bukan Glesty dan kedua anaknya. "Membayangkan wajah mereka bertiga benar-benar membuatku tenang." Gumam Arland. Ia pun tersenyum sambil terus membayangkan wajah tiga orang itu.
.
.
\=\=\=\=\=
Glesty menutup pintu kamar si kembar setelah memastikan kedua bocah itu sudah makan dan sedang beristirahat.
__ADS_1
Iapun pergi menuju kamarnya. ia membuka laci disamping tempat tidurnya dan mengambil foto Arland.
Ia menatap lama foto tersebut. Senyuman kecilnya terukir begitu saja berbarengan dengan airmatanya yang lagi-lagi keluar.
"Orangtuamu meminta maaf padaku."
"Apa karena kasihan padamu?"
Glesty kembali mengingat tentang Arland yang memeluk dirinya tadi malam didepan kedua orangtuanya. Arland memang terlihat sangat kasihan saat itu.
"Arland, apa kau masih menginginkan aku?"
"Jika iya, berhentilah."
"aku.... sudah menghabiskan ribuan hari untuk membenci kalian. Hargailah itu dan jangan bersikap baik padaku.
Glesty seolah berbicara dari hati-ke hati dengan Arland yang hanya dilihatnya melalui foto saja.
Sesaat kemudian, Glesty tersadar dan bingung sendiri akan sikapnya. "Kenapa aku menangis?" Glesty menghapus lagi air matanya.
"Mulai hari ini, aku tidak ingin menangisimu lagi. Aku tidak boleh lemah. Aku punya Arles dan Lean yang menjadi alasan untuk tersenyum, lalu kenapa harus menangis?"
Saat ingin menyimpan kembali foto Arland, Glesty tiba-tiba merasakan pusing dikepalanya, iapun jatuh pingsan dilantai.
.
.
Malam Harinya.
Lean imut mengelus - elus perutnya yang keroncongan karena lapar. Seharusnya, mamanya sudah mengantarkan makan malam sedari tadi.
Saat ini sudah pukul 20.00 malam. Ia lalu beranjak dari tempat tidurnya ke tempat tidur Arles di ranjang terpisah.
Ia bermaksud membangunkan Arles karena kembarannya itu selalu saja tidur. Namun, Lean terpaku sejenak krena melihat Arles sangat pucat.
Lean memegang tangan Arles untuk membangunkan nya dan Lean baru tau ternyata suhu badan Arles terasa sangat panas. Iapun melepaskan selimut dari tubuh saudaranya itu dan betapa terkejutnya Lean saat melihat pergelangan tangan Arkes yang sangat bengkak dan kebiruan. Lean terduduk dilantai dan menutup mulutnya yang terbuka lebar, dengan kedua tangan mungilnya.
Airmata Lean mengalir dengan derasnya. ia hanya bisa menangis dan mencari ibunya. Beruntung Glesty tidak memgunci pintu kamar anaknya begitu juga dengan kamarnya. Lean tidak lagi memgetuk pintu kamar Glesty seperti biasanya.
Setelah kamar Glesty terbuka, lagi-lagi Lean disuguhkan dengan pemandangan yang lebih mengejutkan. Mamanya terbaring di lantai dengan wajah yang tidak kalah pucat.
Bocah imut itu terus menangis dan membangunkan Glesty, akan tetapi ibunya itu tidak juga bangun. Saat ini, Lean merasa sangat takut. Ia sendirian saat ini. dua orang yang sangat disayanginya sedang tidak sadarkan diri.
Lean mencari-cari ponsel Glesty tapi ia tidak menemukannya. Ia berlari hendak keluar untuk meminta bantuan tetangga, tapi ternyata pintunya terkunci.
Dengan perasaan yang kian panik, ia berlari ke kamarnya untuk mencari ponsel Arles.
begitu menemukan ponsel tersebut, Lean langsung mencari nama kontak uncle Le dan onty Le, tapi nomor yang dituju sedang tidak aktif.
Lean merasa putus asa tapi mulutnya terus saja memanggil-manggil "mamaa" dan "Arles" secara bergantian dengan bibir bergetar, sepertinya anak itu takut jika kehilangan suaranya lagi. Takut jika dirinya akan lupa lagi caranya berbicara.
Dengan setengah berlari, Lea kembali ke kamar Glesty.
"Mama..."
"Mama..."
Tiba dikamar Glesty, Arles melihat mamanya yang masih belum bangun.
"Mama... bangun... Dengar maaa... Lean sudah bisa bicara mama.." Lean terus saja menangis.
Lean saat ini sangat bingung harus menghubungi siapa.
"Keluar lewat jendela saja." Gumam Lean. Ia merasa sedikit legah karena ada ide muncul di kepalanya.
Baru saja ingin berlari ke arah jendela, Lean terkejut melihat sebuah foto yang memperlihatkan wajah Arlan didalamnya.
Lean menelan kasar ludahnya dan menghapus air matanya "PAMAN?"
Lean bingung kenapa ada Foto Arland tercecer dikamar Glesty. Ia menatap benar-benar wajah difoto itu dan menatap wajah Gelsty secara bergantian.
"Pamannn"?
"Apa dia papaaa?
"Papaaa?"
Lean dengan cepat menggeleng menepis praduganya.
__ADS_1
.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Papaaaa!
Papaaaa!
Papa bangun...."
Arland sedang tertidur diatas kursi empuknya.
Setelah sekian lama, gadis kecil itu kembali kedalam mimpi Arland.
"Papaaa.. Bangun."
Suara yang selalu menghiasi tidur panjangnya itu, suara yang ditindukan oleh Arland.
"Hei sayang.. ini aku sudah bangun. Kau kemana saja hmm? Arland mengelus kepala gadis kecil dalam mimpinya itu yang menundukkan kepala dan menangis diatas lengan Arland.
"Ayo,, lihatlah wajahku.. Aku sudah bangun. Arland mengangkat pelan wajah gadis itu.
"LEAAAN"?
Dengan sekali mengedipkan mata, Gadis kecil itu telah menghilang.
"Leaan"
Arland terbangun dari tidurnya dengan berteriak memanggil "LEAN"
DEGH...
"apa ini? Jadi dia Lean?
.
Ponsel Arland tiba-tiba berbunyi dan menampilkan nama Arles disana.
Tidak ingin membuang waktu, Arland menjawab panggilan tersebut.
"Halo Arles?"
"Paa...
"paaa...
"Paaa..
Arland menegang seketika, karena bukan suara Arles yang ia dengar, tapi suara gadis kecil itu.
"Halo.. si...apa ini?" tanya Arland.
"Paaa..
"Paaa..
"Paa...maan..! Ini Lean.." Lean menangis.
"Le... Leaan?"
"Pa..man,, tolong Lean..!
"Lean ada apa? Katakan kamu dimana sekarang?" Arland sudah tidak sabar.
"Mama dan Arles, sedang sakit pamaan!
.
.
.
Bersambung.
waaah, kirain Lean sedang panggil papa, ternyata paman.
__ADS_1
Gaes.. Trima kasih atas suport kalian. 🥰🥰🥰🥰