
Arles mengira bahwa Calista akan menangis sesegukan sambil memeluknya dan menjelaskan segala sesuatu kepadanya. Namun, hal itu tidak terjadi. Ia malah terlihat bersemangat menyeka air matanya. Calista kini tersenyum.
"Senyuman apa ini? Kenapa aku merasa takut melihatnya?" batin Arles.
"Arles.. apa aku ini terlihat sangat kasihan dimatamu?" Calis bertanya dengan nada polos, dibarengi dengan senyum kecil dibibirnya.
"Em... sedikit, kenapa bertanya seperti itu?"
"Begini...Arles, tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Kamu bisa pergi. Aku tidak apa-apa."
π€¨"Apa maksudnya kali ini?" Lagi-lagi Arles membatin sambil menerka - nerka.
"Mungkin kamu memang sudah lelah. Jadi pergilah. Aku tidak apa-apa Arles."
"Pergi? Apa maksudmu? Hmmm?"π€¨
"Jangan berpura - pura bingung. Aku tahu, kamu sudah muyak denganku. Iya kan? Tidak perlu bertahan hanya karena mengasihaniku Arles."
Calista benar - benar terlihat baik - baik saja. Ia mengatakan "pergilah" tanpa beban sedikitpun. Dan hal itu adalah sesuatu yang sangat menakutkan dari apapun bagi Arles.
Dengan perlahan, Arles memeluk Calista dan meminta maaf atas tindakannya. "Maaf sayang.. aku tidak bermaksud menyinggungmu." ucapnya tulus.
"Benarkah?" tanya nya pelan. "Tapi kenapa tadi mendiamiku? Kamu bilang lelah, kamu tidak membalas pelukanku, kamu tidak mau bicara denganku."
"Sayaaang. Tadi itu aku hanya menghukummu karena kamu sudah berani mengkhawatirkan pria lain selain aku."
"Kamu marah aku care sama Nino? Tadi malam itu, aku bukan hanya mengkhawatirkan Nino. Aku lebih khawatir padamu.. aku takut kamu melakukan kesalahan." tutur Calis, jujur.
"Benar begitu?"
Calista menjawab dengan mengangguk yakin.
"Trima kasih sayang.. maaf yah atas sikapku tadi"
"Hmmm!" Calista mengangguk.
π
Kini, Arles dan Calista duduk berduaan menonton televisi.
"Sayang... aku rasa, kita perlu reka ulang adegan tadi!" Arles.
"Adegan yang mana?" tanya Calista, bingung.
"Itu.. yang saat kamu memelukku sambil berdiri. Aku belum membalasnya." Arles menjawab terus terang dengan perasaan was was.
"Tidak perlu diulang. Aku tidak akan melakukannya lagi." tolak Calista, cuek seolah itu tidaklah penting.
Arles terdiamπ€¦ββοΈ
"Dia ngambek atau marah? Ah...Ini memang salahku.." batin.
"Rasain. Sekarang aku sedang menghukummu" batin Calista.
Saling berdiam dalam beberapa menit.
"Ehm.. sayang, aku mau bicara."
"Ya? ngomong aja langsung!"
"Emmm. Tiga hari lagi, opa oma aku akan mengadakan pesta aniversary ke 50th. Aku, pengen kamu juga ikut ke kota B. Kamu mau ya?"
"Kamu yakin mau bawa aku yang seperti ini kehadapan seluruh keluarga kamu?"
"Hey... kenapa aku harus malu.. pacarku adalah yang terbaik dari semua gadis yang ada.
"Benarkah? Baiklah maka aku akan ikut."
πππππ
Tiga hari kemudian.
Arles dalam perjalanan menjemput Calista.
Drrrrt drrrt drrrt.
Calista menghubungi Ponsel Arles.
"Halo sayang.. kamu sudah siap?"
"Arles, maaf sebelumnya.. sepertinya aku tidak jadi ikut. Kurasa akan sangat merepotkan bila kamu membawaku"
"Calis, jangan kayak gitu.. aku sudah terlanjur kasih tau opa oma kalau akan mengenalkanmu pada mereka."
"Tapi.... Aku merasa tidak siap, perasaanku tidak enak."
"Tidak ada tapi-tapi. Aku menjemputmu sekarang."
π
Tiba di depan apartemen Calista.
Cklek. Pintu terbuka.
"Sayang, kamu belum siap?"
"Aku sudah bilang, aku tidak bisa ikut Arles."
"Baiklah, aku juga tidak akan pergi."
"Arles, jangan seperti itu. Mereka adalah opa oma kamu.."
"Tak apa. Aku bisa menemui mereka lain kali," menjawab santai.
"Kalau begitu, ayo kita berangkat. Aku akan ganti baju dulu. Arles mendorong kursi roda ke kamar Calista.
Tanpa perintah, Arles mengambil sepotong dress casual untuk dikenakan oleh kekasihnya ini.
"Apa aku harus membantumu?" tanya Arles.
"Ah.. tidak perlu. Aku bisa sendiri Arles."
"Apa-apaan dia mau membantuku? Yang benar saja!" batin Calista.
Arles pun keluar dari kamar itu atas perintah Calista.
"Ya ampun. Apa itu? Setelah akting manjanya waktu itu, sekarang dia malu-malu? Apa dia lupa aku ini seorang dokter? Aku bahkan setiap hari melihat hal seperti itu. Apa dia pikir aku akan bersikap gila bila melihat tubuhnya?" Arles menggeleng kepalanya.
"Arlesss.." panggil Calista dari dalam.
__ADS_1
Arles pun masuk. "Kenapa sayang?"
Calista telah memakai dress selutut itu, namun ternyata belum kelar, karena resletingnya belum terkancing penuh.
"Calis? Bagaimana cara kamu mengenakannya tadi? Siapa yang membantumu beranjak dari kursi roda?" Arles merasa heran karena Calista sekarang sudah duduk diatas kasur dengan kedua kakinya yang menggantung.
"Aku berusaha sendiri. Pelan-pelan kan bisa Arles..!"
"Ya... kamu memang hebat sayang. Sini biar aku menaikkan resletingnya" Arles mengambil posisi dibelakang tubuh Calista.
"Ingat, resletingnya dinaikkan. Bukan sebaliknya." Calis sengaja memperingati Arles.
π"Aku malah berencana akan mencopot dress ini dari tubuhmu." π€
"Apa?... Arless kau jangan berani mesum padaku." π
"Aku? Mesum katamu? Sayang.. bukankah.... kaulah yang lebih mesum?" ππππ.
"Kenapa jadi aku? Aku tidak merasa!" π
"Hah! Apa kau lupa? Kau selalu memintaku membantumu berdiri. Lalu memelukku seenaknya. Kau bahkan menarik kerah bajuku. Lupa?" Ucap Arles, dengan nada jahil.
Kini Wajah Calis berubah masam.
"Jadi kau menganggap itu hal mesum?" tanya Calis dengan nada kesal.
"Iya.. tapi... aku suka. Sayangku ini boleh melakukannya kapanpun" Arles tersenyum diakhir kata-katanya.
"Oh ya? Kamu suka? Baiklah.. aku akan sering melakukannya." Ucap Calis dengan senyum jahil.
"Ciiih... silahkan berharap Arlesπ" batinnya.
"Calis, aku jadi ingin kita segera menikah. Bagaimana ini sayang?"
"Menikaah? Kenapa buru-buru?"
"Biar aku bisa menerkammu kapan saja."
"Dasar kau ini, sangat mesum."
"Itu karena kau yang menggodaku sayang" bisik Arles, membuat Calista bergidik ngeri.
"Apa?? Menggoda? Aku bukan wanita penggoda." protes Calista.
ππππ
Istana Opa oma di Kota B.
"Leaann.. wahh cucu oma sudah datang." Seperti biasa, oma selalu memperlakukan Lean layaknya seperti seorang anak kecil.
"Papa sama mama sehat?" tanya Glesty Arland bersamaan.
"Iya.. kami berdua sangat sehat." Oma terlihat celingak-celinguk mencari sesuatu. "Tapi, dimana cucuku yang satunya Arland? Dia tidak merindukan oma opanya?"
"Oh.. anak itu akan menyusul ma.. dia akan membawa seseorang yang ingin dia kenalkan. Tunggu saja." terang Arland.
"Oh ya? Apa seorang wanita? Pacarnya? Wahhhh cucuku sudah dewasa?" Oma tidak sabaran.
"Hei... sampai kapan kalian mau berdiri? duduklah." sahut opa yang sedari tadi duduk di santai.
ππππ
Jangan mengkhawatirkan kaki Calista yang masih sakit itu dan menyalahkan Arles yang memaksanya untuk ikut.
Tentu saja Arland, papanya Arles telah memfasilitasi transportasi udara miliknya untuk putranya itu agar bisa membawa Calista.
Apa sih yang nggak buat Arles? Arland pasti akan menuruti keinginan putranya, apapun itu.
Sebagai gantinya, ia bersedia untuk menggantikan papa untuk mengurus urusan perusahaan di salah satu negara asing, minggu depan.
Arland tidak memintanya. Ia sama sekali tidak pernah memaksa putranya dalam tanggungjawab terhadap perusahaan. Tapi Arles yang menawarkan diri untuk membantu pekerjaan papa, sebagai rasa terima kasih telah membantunya dalam memudahkan Calista menempuh perjalanan ke kota B tanpa harus menyiksa kakinya itu.
Tentu saja Arland senang, karena itu memang seharusnya tugas putranya itu.
Kini Arles dan Calista memasuki halaman dari Istana opa omanya ini, dengan mendoron Calista dan kursi rodanya.
"Selamat datang di tempat tinggal opa omaku sayang" ucap Arles dengan santainya, sementara Calis merasa sangat gugup, tidak percaya diri. Ingin rasanya segera pergi dari sana.
"Orang-orang seperti apa keluarganya yang lain? Apa mereka orang baik seperti mama papanya Arles?" Calis melirik pada kakinya.
Calista tiba-tiba menahan kursi roda itu agar tidak dapat berputar.
"Sayang, kamu kenapa lagi?"
"Oh.. tidak apa." Jawab Calista.
πππππ
Nino.
Pria itu dengan wajahnya yang di tekuk berada di sebuah ruang keluarga yang cukup luas.
"Nino... kenapa muka kamu seperti itu? Begitukah ekspresimu saat berada di rumah oma?"
Nino menatap wanita tua yang biasa dipanggilnya oma itu. Ya, wanita tua itu adalah neneknya.
"Omaa.. kali ini timingnya sangat tidak pas. Oma meminta Nino jauh-jauh kesini hanya untuk menemani oma menghadiri acara tidak penting?"
"Tidak penting mulutmu. Ini adalah acara penting dari kolega oma. Aniversary ke 50tahun pernikahan mereka." oma menjelaskan.
"Lalu apa hubungannya dengan Nino oma? Kok oma tega sih ngajak Nino ke acara yang di hadiri oleh para lansia?" keluh Nino, dengan nada malas.
"Hanya Lansia kepalamu. Kamu adalah cucu oma satu-satunya Nino. Siapa yang harus oma ajak jika bukan kamu?"
"Iya aku tahu oma, tapi jangan begini caranya. Nino punya urusan masa depan yang lebih penting oma." jelas Nino dengan wajah memelas.
"Urusan masa depan? Apa maksudmu? Kalau beralasan itu harus yang jelas. Oma tidak mengerti maksud kamu."
"Oma.. ada seorang gadis yang sedang ingin kudapatkan. Aku sedang memikirkan dan menyiapkan apa yang harus aku lakukan agar bisa mendapatkannya. Tapi semua itu terhalang karena oma. Oma membuyarkan semua rencanaku."
"Apa? Jadi.... cucu oma sedang jatuh cinta? Ya ampun maafkan oma sayang. Oma tidak tahu kalau kamu sedang berjuang saat ini." oma terlihat sangat bersalah, dan memasang raut wajah sedih.
Nino seketika merasa bersalah atas perkataannya kepada oma.
"Maafkan Nino oma. Nino tidak bermaksud membuat oma merasa bersalah." ucapnya lembut.
"Hiks..hiks.." tiba-tiba oma terisak.
"Oma, tolong jangan sedih." mengusap punggung tangan oma.
__ADS_1
"Nino.. tadinya oma memang mau mengajak kamu ke acara itu, karena ingin memamerkan cucu oma kepada teman-teman oma. Mereka semua berjanji akan membawa cucu mereka di pesta itu. Oma malu menghadiri acara itu sendirian dan oma tidak punya cucu selain kamu, jadi oma memaksamu datang. Tapi... kalau memang urusan kamu sangat penting, pergilah.. oma tidak memaksamu.
"Oma... oma... Nino akan hadir yah.. Nino janji akan ikut." Sambil memeluk oma.
"Benarkah itu sayang?.. kamu yakin mau menemani oma?" waja oma kembali berbinar.
"Iya oma.. Nino akan ikut. Apa oma senang sekarang,?"
Oma mengangguk semangat.
"Ayo cerita. Orang seperti apa gadis itu? Apa ada fotonya?" Oma mulai penasaran.
"Kalau aku berhasil mendapatkan dia, baru aku akan memperkrnalkannya dengan oma. Yang jelas, dia... sangat cantik oma. Dia juga anak yang baik sejauh aku mengenalnya."
"Oh ya? Sayang... oma mendoakan kamu berhasil ya.. tetap semangat." oma mensuport Nino dengan semangat penuh.
πππ
Keluarga besar Arles sudah berkumpul di kediaman oma opa.
"Selamat siang semuanya." Sapa Arles yang baru saja muncul bersama Calista, yang tentu saja membuat yang lainnya terkejut.
"Arles??" Beberapa orang serentak menyebutkan nama pria itu.
Semua orang berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Arles.
Arles mendekat bersama Calista yang di dorongnya.
Tiao-tiap orang bergantian memeluk Arles dengan lerasaan bahagia. Mereka juga melirik ramah ke arah Calista. Memang, sedikit bertanya dalam hati, kenapa gadis ini duduk di kursi roda.
Arles mengambil posisi duduk yang bersebelahan dengan kursi roda kekasihnya.
"Hai..." sapa mereka kepada Calista. Demikian juga dengan gadis itu, menyapa kembali dengan sapaan yang sama.
"Jadi siapa ini Arles?" Tanya oma penasaran Pertanyaan itu juga mewakili rasa penasaran seluruh keluarga besar itu.
Arles menyentuh tangan Calista, dan menautkan jari-jari mereka.
"Sayang, silahkan perkenalkan dirimu!"
π€Semua orang langsung menebak, bahwa gadis cantik ini adalah kekasih Arles.
"Halo oma, opa dan semuanya, nama saya Calista" ucapnya singkat.
"O......" sejujurnya, ini jawaban yang masih menggantung.
"Maaf semuanya, karena saya.. hanya duduk di kursi roda ini." sambungnya lagi, dengan wajah yang sangat canggung. Tersenyum pun rasanya sangat susah.
"Ehmm.. perlu aku jelaskan, dia adalah pacarku. Selain cantik, dia adalah orang baik" puji Arles.
Semua orang terlihat mengagumi Arles dengan keteguhannya. Memilih seorang wanita cacat sebagai kekasih tidaklah mudah.
Semua orang terlihat wellcome terhadap Calista. Seluruh keluarga besar itu. Tanpa terkecuali.
Namun, entah kenapa dengan perasaan Calista. Meskipun mereka menyambutnya dengan baik, akan tetapi Calista masih merasa gugup.
Setelah menyelesaikan makan siang makan siang keluarga besar itu, semua orang membubarkan diri untuk menuju kamar masing-masing untuk beristirahat sebelum bersiap menghadiri acara nanti malam.
Arles membawa Calista ke salah satu kamar. Kamar ini terlihat sangat rapi dan bersih.
"Sayang, ini adalah kamarku setiap aku berlibur ke kota ini." Arles menjelaskan.
"Jika ini kamarmu, laku kenapa aku diajak kesini?"
"Tentu saja. Kita berdua akan menempati kamar ini selama berada disini." jawab Arles.
"Aku rasa ini tidak benar. Kita hanya pasangan biasa. Bukan suami istri."
"Hei... memangnya kenapa? Kita hanya tidur dan bangun lagi. Ada yang salah?"
"Arles.. jangan aneh-aneh. Orang lain akan mengira kita melakukan hal yang tidak-tidak. aku malu."
"Kenapa aneh? Sudahlah, santai saja!"
"Antar aku ke kamar Lean saja. Aku tidak mau satu kamar dengan seorang pria."
"Ah, kau ini sangat keras kepala." gerutu Arles.
Tok tok tok.
"Siapa lagi ini? Mengganggu saja!" Arles membuka pintu.
"Mama? hehe.. kirain siapa! aku hampir saja mengomel"
"Sayang..." Mama Gles melangkah masuk. Ia membawa buah-buahan ditangannya.
"Calista sayang, makan buah dulu yah nak.." Glesty menghampiri Calista.
"Terima kasih tante." ucap Calis setelah menerima suapan dari mama Gless.
"Arles, suapin Calista yah nak, mama mau ke kamar dulu istirahat dengan papa kamu. Ingat, tolong jangan macam-macam pada Calista!" Ia pun melenggang pergi.
"Dengar kan? Mama sudah beri aku peringatan untuk jangan macam - macam."
"Iya aku dengar, tapi aku tetap tidak ingin tinggal di kamar yang sama dengan seorang pria." Tegas Calista lagi.
"Baiklah.. siang ini saja. Nanti malam, aku akan pinda ke kamar lain." Arles mengalah.
"Oke, pegang kata-kata kamu.!"
"Kalau begitu, istirahatlah dulu di kasur. Ayo, aku membantumu berdiri."
Calista memegang kedua tangan Arles untuk berdiri.
Bukannya menuntun Calista menuju kasur, Arles malah berlama-lama menatap Calista, yang kini berdiri menghadapnya.
"Hei... tunggu apa lagi? Ayo.. pindahkan aku ke kasur!" Calis membuyarkan lamunan Arles.
"Ah... iya.. tapi tunggu." Arles menggantung kata-katanya.
"Apa?"
"Sayang, kamu lupa sesuatu?"
"Apa itu?" Calis mengeryitkan dahi.
"Itu.. setiap kali aku membantumu berdiri, apa yang kamu lakukan setelahnya? Memelukku kan?"
π"Arles.. bisakah kau serius? Cepat pindahkan aku. Kakiku mulai sakit nih."
__ADS_1