I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Menemukan Lea


__ADS_3

Pemukiman kumuh pinggiran kota.


Disebuah rumah kecil yang sudah mirip seperti gubuk, terlihat tiga orang muda sedang menyantap makan siang dengan sangat lahap.


Ketiga orang itu ialah Ima, Lea dan Kak Vito (Kakak kandung Ima). Ya... Lea sudah berberapa hari ini tinggal dirumah Ima.


“Aaaahhhk.. aku sudah kenyang” Kak Vito mengelus-eluskan perutnya dengan mata yang tertutup. “Betapa legahnya karena dapat menikmati makan siang pada hari ini.” Sambungnya lagi.


“Kak.. biasa saja! Kakak seperti orang yang tidak pernah makan seminggu.” Sewot Ima.


Mendengar protes dari adiknya itu, Vito hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Adiknya ini benar-benar selalu dengan kebiasaannya protes kepada sang kakak.


Vito dan ima adalah kakak beradik yatim piatu. Rumah peninggalan ibu mereka ini lah yang menjadi tempat pertemuan keduanya saat merindukan ibu mereka. Rumah kecil ini jarang mereka tempati karena keduanya sibuk bekerja diluar kota.


Kak Vito berkepribadian baik dan ceria. Baru dua hari ini ia pulang kerumah untuk bertemu adik satu-satunya itu. Berkenalan dengan Lea yang merupakan tamu dirumahnya itu, tidak butuh waktu satu jam untuk mereka terlihat akrab, dikarenakan Vito yang adalah pria yang mudah berkomunikasi. Ia selalu tersenyum kepada siapapun.


Lea merasa nyaman tinggal dengan keduanya karena kakak beradik ini benar-benar welcome terhadap kehadirannya.


.


Tok tok tok tok tok.....


Suara ketukan pintu yang terdengar, membuat ketiganya saling tatap.


“aduuuuh, siapa yah tumben-tumbennya ada tamu?” keluh Ima.


Ima pun lalu beranjak dari duduknya untuk membuka pintu. Betapa kagetnya wanita muda itu mendapati Devan dan Leon berdiri tegak didepan pintu.


.


.


\=\=\=\=\=\=


Saat ini, Arles sudah boleh pulang dari rumah sakit. Mengetahui kembarannya itu sudah bisa berbicara, Arles sangat bersemangat. Tak henti-hentinya bocah tampan itu mengajak Lean berbicara banyak hal.


Arland datang bermaksud untuk menjemput anak dan istrinya. Ia disambut hangat oleh Lean. “Pamaaan” bocah imut itu berlari kearahnya.


Arland sedikit terusik mendengar anak-anaknya ini memanggilnya paman. Ia sudah tidak sabar ingin mengatakan pada keduanya bahwa dirinya adalah papa kandung mereka.


Glesty hanya tersenyum kecil melihat melihat kedekatan Arland dengan putrinya itu.


“Ayo kita pulang...” ajak Glesty, tersenyum kearah dua anaknya dan melirik Arland sekilas.


.


Tiba dirumah.


Ketiganya keluar dari mobil Arland dan tidak lupa Glesty mengucapkan terima kasih, tanpa ada basa basi menawarkan kepada Arland untuk mampir.


“paman... masuklah kerumah kami.” Lean yang polos itu menarik tangan Arland.


“kenapa mengajak paman?” Protes Arles.


“aku ingin memperlihatkan sesuatu pada paman!” sahut Lean pada Arles.


“ahhh. Baiklah... aku akan masuk. Aku sangat penasaran apa itu Lean!” Arland tersenyum senang.


Glesty hanya menggeleng kepala melihat ekspresi Arland.


.


Arland duduk disofa sesuai perintah Lean. Tak lama, Glesty muncul membawa segelas teh hangat.

__ADS_1


Bibir Arland menmbentuk senyuman ketika mengingat dulu Glesty selalu membuatkannya teh hangat ketika pulang bekerja.


“apa gelas ini tersenyum padamu? Kenapa kau menatapnya dengan senyuman?” celetuk Glesty yang terdengar seperti sedang menggoda ditelinga Arland.


“kenapa? Cemburu pada gelas ini?” Arland mengangkat satu alisnya seraya tersenyum ke arah Glesty.


Glesty dapat merasakan wajahnya menjadi hangat. Dan sayangnya, kedua pipinya kini bersemu merah. Parahnya lagi, Arland melihatnya. Membuat lelaki itu merasa senang bukan main.


“Bisa tersipu malu begini, tapi masih saja jual mahal. Dasar wanita keras kepala.” Batin Arland, gemas terhadap istrinya itu.


“Minumlah selagi hangat. Aku membuatnya karena menghargai tamu.” Glesty berbalik dan melangkah.


“Pamaaan... Pamaaan..” Lean setengah berteriak sambil menarik salah satu tangan Arles, seperti sedang menyeret kembarannya itu.


“Lihat ini.. bukankah ini dirimu paman?” seru Lean dengan penuh senyuman.


Degh... langkah Glesty terhenti seketika, spontan berbalik lagi dengan mata membulat sempurna.


“Lean? Apa-apaan anak ini?” Glesty bergegas menghampiri ketiganya.


Arland sedikit merasa dikejutkan dengan kenyataan ini. Ternyata Glesty masih menyimpan salah satu fotonya.


“benar sayang.. ini adalah diriku!” jawab Arland dengan sengaja menoleh kearah Glesty.


Terlambat--- ketahuan sudah-- Glesty tidak bisa berkutik dan sok jutek lagi terhadap Arland.


“Lean, kembalikan itu biar mama simpan!” satu detik kemudian Glesty merutuki mulutnya “kenapa aku mengatakan akan menyimpannya? Dasar bodoh mulut ini!”


“iya sayang! Kembalikan ke mama foto ini. Ini adalah miliknya!” Arland kembali melancarkan serangannya. Ia sangat senang melihat Glesty salah tingkah.


“kenapa foto paman ada dirumah kita?” kali ini Arles bersuara.


Arland merasa, ini adalah saatnya kedua anak itu mengetahui siapa dirinya.


“Arles.... Lean... dengar!.. orang yang ada difoto ini... adalah papa kalian!”


“Jadi... paman ini...” Arland mengambil satu dari masing-masing tangan kedua anak itu dan membawa kedua tangan mereka menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya. “ini papa kalian!” sambungnya lagi, dengan nada lirih.


Sontak kedua anak itu menarik kembali tangan mereka. Lalu dengan pelan memutar kepala bersamaan untuk menoleh ke arah Glesty.


Glesty mengusap kedua matanya yang kini mengeluarkan cairan bening. Wanita itu merasa terharu saat Arland mengatakan kebenaran itu kepada anak-anaknya.


Kemudian Glesty mengangguk sebagai tanda “iya” membenarkan pengakuan Arland.


Tentu saja kedua bocah itu langsung percaya, karena mama mereka telah membenarkannya. Akan tetapi--- keduanya menampakkan reaksi yang berbeda.


“Horeeee .. hore... punya papaa... punya papa....” Lean melompat-lompat kesenangan. Sedangkan Arles? Bocah itu menyimpan banyak pertanyaan dalam hatinya.


Glesty sengaja mengajak Lean menyingkir dari sana, agar Arles dan Arland dapat berbicara dari hati ke hati. “Lean, ayo kita memasak makanan enak!”


“Tapi,, kenapa onty Le mengatakan papa sedang sakit?” (Arles)


“iya Arles.. waktu itu papa memang sedang sakit!” Jawab Arland.


“Lalu ketika sudah sembuh, kenapa papa tidak mencari kami?”


“Karena papa belum mengetahui keberadaan kalian! Arles, sejauh apapun papa menjelaskan, kamu tidak akan paham sayang! Perlahan papa akan menjelaskan padamu saat kau tumbuh semakin besar ya..” Arland membujuk Arles.


“Tapikan--- paman punya anak lain!” dan yang dimaksudkan Arles ialah Aurel.


Arland pun, menjelaskan tentang hubungannya dengan Aurell.


“jadi, bagaimana sekarang? Apa kamu sudah bisa terima papa?”

__ADS_1


“Asalkan bisa mengabulkan permintaanku.”


“sebutkan.. sumuanya pasti akan papa kabulkan!” sahut Arland yakin.


“Aku ingin pindah sekolah ke kota yang lain.”


“Lalu? Apa lagi?”


“Hanya itu saja saat ini. Aku masih memikirkan hal lain.”


Arland bersorak gembira dalam hatinya. Ternyata, permintaan Arles bukanlah hal yang sulit. Arland lupa jika Arles tetaplah seorang anak kecil yang hanya akan meminta hal yang unik, walaupun sedikit aneh.


Arland pun berjanji akan mengabulkan permintaan pertama putranya ini.


.


.


\=\=\=\=\=


Ditempat Lain.


“Pak Direktur? Kenapa kalian bisa sampai kemari?” nada terkejutnya Ima membuat Lea sontak berdiri dan membalikkan badan. Benar saja.. disini sudah ada kak Leon dan mantan kekasihnya itu.


“kakak?” Lea tetap mematung ditempatnya, sementara Leon sudah bergerak masuk tanpa dipersilahkan. Ia memeluk tubuh adik yang sangat dirindukannya itu.


“Lea--- Lea, maafkan kakak ya...” Leon tidak bisa menahan air matanya yang keluar begitu saja karena merasa sangat kasihan dengan adiknya itu.


.


Tiga puluh menit kemudian, Lea sudah bersiap karena akan kembali ke kota J bersama dengan kakaknya.


Tidak sedikitpun Lea memberi ruang kepada Devan untuk berbicara dengannya. Lea terlihat seolah tidak mengenal Devan.


“kenapa penampilanmu seperti itu? Kau bersembunyi dari siapa?” Leon merasa terusik dengan penampilan Lea memakai Rok pendek diatas lutut, kacamata, masker yang menutupi setengah dari wajahnya, dan memakai topi pula. Tambah lagi jaket hoody yang kebesaran itu.


“Sudahlah kak, aku hanya takut terlihat dan dikenali sebagai Alin. Setelah ini, aku--- berencana berkurung diapartemen kak Leon, sampai semua orang melupakan keberadaan Alin.”


Sepertinya Lea sengaja memperdengarkan kepada Devan setiap perkataannya. Agar Pria jahat itu tau seberapa besar dampak buruk yang menimpa Lea karena ulah pria itu.


.


.


Tiga hari kemudian.


Arland kembali ke rumah Glesty setelah menyelesaikan pekerjaannya. Hari ini, Arland akan memboyong istri dan anak-anaknya untuk pindah ke kota J.


"Rasanya aku benar-benar tidak sabar lagi." (Arland)


.


“Ma.. sebelum kita berangkat, aku ingin menjenguk temanku. Boleh ya!”


Glesty paham yang dimaksudkan Arles ialah anak laki-laki dan perempuan yang menjadi korban dari tindakan kasarnya itu.


.


.


Bersambung gaes..


Makasih ya gaes, atas segalanya😇😍🤩

__ADS_1


Dalam kesempatan ini author mau mengucapkan turut berbelasungkawa / berdukacita kepada keluarga korban jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air.


Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap diberi kekuatan dan kesabaran. Amin


__ADS_2