I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Kemungkinan Terburuk (Season 2)


__ADS_3

Dokter meminta pihak dari pasien untuk bersiap diri pada kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


Dini lantas shock lalu pingsan ditempatnya. Arland dan Glesty kemudian meminta medis untuk memberinya pertolongan.


Tentu saja kabar ini adalah hal terburuk yang pernah Arles terima sepanjang sejarah hidupnya.


"Tidak.. tidak... jangan dok.. jangan.. aku tidak ingin mendengar ini." Arles menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tolong dok.. tolong...! Selamatkan dia...!" Arles tertunduk lemah kemudian berlutut dihadapan dokter, membuat yang lain merasa terharu, tidak tega melihat Arles memohon seperti ini.


Dokter: "Emmm.. anda juga adalah seorang dokter tuan. Saya harap, anda dapat memahami kondisi ini!" Dokter pun berlalu dari sana.


Dua sahabatnya itu menghampiri Arles membantunya berdiri. "Sudah bro.. jangan seperti ini. Kau harus kuat agar bisa merawat wanitamu itu." ucap Bagas, menirukan perkataan Arles yqng menyebutkan Calista adalah wanitanya.


Fran: "Sembarangan aja.. mereka saja belum jadian Bag. Gimana mungkin Calis itu wanitanya!" (Protes).


Bagas: "Terserah aku Fran. Kenapa kau jadi keberatan?"


Lean dan Nino terlihat menggeleng kepala mendengarkan 2 sahabat itu beradu mulut.


🍁


Ruang operasi kembali terbuka dan muncullah beberapa perawat dan dokter bersamaan, dengan mendorong ranjang pasien dimana Calista masih tertidur diatasnya, dengan banyak macam alat medis yang menempel padanya. Seperti di hidung, mulut, leher dan tangannya!


Arles, auto mendekat, dan kembali mengenggam jemari itu, seolah itu sah-sah saja. Yakinlah, jika Calista dalam keadaan sehat bugar, dia pasti sudah menepis tangan Arles, dan bilang apa sih pegang-pegang! Bikin malu aja tau gak sih?!


🍁


Para medis pun membawa Calista ke ruangan khusus yang telah disiapkan untuknya, jangan ditanya lagi, sebuah ruangan yang dipenuhi dengan fasilitas lengkap dan terbaik, mendapatkan pelayanan khusus seperti layaknya pihak keluarga Arland tentunya.


Arles kembali menatap dalam wajah cantik itu saat petugas medis sudah menempatkan Calista berada di ruang perawatannya.


Kedua sahabatnya, Lean, Nino juga berada di sana. Keempat orang itu hanya duduk tenang di sofa yang agak jauh dari Calista dan Arles berada, tanpa mengatakan apapun.


Pada akhirnya, Bagas mengajak Fran untuk pulang.

__ADS_1


Nino juga beranjak dari sana karena baru teringat akan tante Dini, mamanya Calista yang tadi pingsan.


Tak lama, Glesty dan Arland memasuki ruangan itu untuk memastikan keadaan Calista, dan hendak pamit untuk pulang.


"Ma.. pa.. gimana keadaan tante Dini?" tanya Lean.


"Dia hanya syok. Mama sudah berpesan ketika dia tersadar mereka akan membawanya ke ruangan ini." jawab mama Gless. Lean pun, mengangguk paham.


Arland mendekat kearah putranya itu.


"Boy.. papa mama akan pulang. Tetaplah kuat ya boy, beristirahatlah dan jangan abaikan kesehatan tubuhmu!"


Glesty dan Arland pun keluar dari ruangan itu untuk pulang ke rumah mereka. Lean dan Arles tetap stay menjaga Calista.


2 Jam kemudian, tak terasa pagi telah menyapa. Lean dan Arles bahkan tidak tertidur.


Seseorang masuk dengan membawa paperbag ditangannya. Dia adalah seseorang yang biasa dipanggil paman Anton oleh Lean dan Arles. Paerbag itu berisi pakaian Arles. Benar, pria itu belum mengganti bajunya yang dipenuhi noda darah.


Selepas kepergian paman Anton sekertaris kesayangan papa itu, Lean menghampiri Arles.


Calis menyentuh pundak Arles.


Kini keduanya berdiri di dekat sofa, tepatnya di dekat paperbag yang berisi pakaian Arles.


"Arles... yang sabar ya... aku yakin Calista kuat. Dia pasti akan bangun, yah?!" Arles hanya mengangguk.


Lean memberikan pelukan hangat kepada saudara kembarnya ini. Mereka tidak menyadari, ada seseorang yang datang dan memergoki mereka sedang berpelukan. Orang itu adalah Nino yang baru saja hendak masuk.


Setelah melepaskan pelukan, Lean kemudian membuka kancing kemeja Arles, pria yang memang sedang tidak ingin melakukan apapun itu.


"Apa yang ingin mereka lakukan?" batin Nino dengan ketidaktahuannya akan hubungan Lean dan Arles.


Lean bermaksud akan mengganti kemeja Arles dengan yang bersih. Hanya kemajanya saja, tidak lebih.


Saat kemeja itu sudah terlepas dari tubuh Arles, tiba-tiba ada tangan yang menahan tangan Lean.

__ADS_1


"Nino?" Lean menatap Nino, bingung. Semntara Arles, pria itu hanya menatap kosong kearah Calista.


Nino : "Apa yang mau kamu lakukan?" dengan nada sedikit kesal.


Lean: "Yahh?" masih menatap bingung!


Nino lalu menarik Lean untuk menjauh dari Arles. Keduanya kini berada diluar ruangan itu.


Nino: "Lean, apa yang mau kamu lakukan?" menatap tak suka.


Lean: "A--aku.... ingin membantu Arles mengganti kemejanya."


Nino: "Kamu tidak pantas lakuin itu ke pria Lean. Memangnya dia tidak bisa sendiri? Kenapa kau harus membantunya?"


Lean: "Oh... itu hanya hal biasa Nino.. aku sudah pernah beberapa kali melakukannya!" Jawab Lean, polos.


Nino: "apa? Haah... jadi kau adalah perempuan seperti itu?" dengan tatapan marah.


Lean: "iya.. itu memang tidak pantas. Tapi, dia adalah saudara kembarku. Jadi ku pikir itu tidak apa-apa saat kondisi dan situasi seperti ini!"


Nino: πŸ™"apa? Saudara kembar?" terkejut.


Lean mengangguk cepat.


Nino: "Kamu... dan Arlesss? Saudara?" merasa tak percaya.


Lean: "Iy...iya.." tapi, kenapa kau terdengar sangat marah?"


Pyuuuur..


Fix, Nino auto terdiam, dengan wajah menahan malu.


"Sial... kenapa aku jadi sebodoh ini?" batin Nino.


.

__ADS_1


.


lanjut.


__ADS_2