I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Orderan Pelanggan Diskotik


__ADS_3

Masih disekolah Lean.


"Mama.. apa kita sudah boleh keluar dari sini?"


Arles dapat merasakan gelengan kepala mamanya sebagai jawaban tidak. Glesty masih memeluk tubuh Arles yang ada dipangkuannya.


"Sebentar lagi sayang, tunggu suasana aman diluar." bisiknya ditelinga Arles.


Sejujurnya, Arles merasa sangat bingung dengan sikap mamanya belakangan ini. Namun, sebagai anak yang sangat pengertian, Arles hanya mencoba mengerti, bahwa mamanya punya alasan tersendiri bersikap seperti itu.


Rasa kasihan juga dirasakan Arles, melihat mamanya yang terkadang menangis, seperti orang sedang ketakutan, bahkan bahkan mamanya terlihat sangat bingung. Arles dapat membaca itu semua hanya dengan melihat bahasa tubuh dan eksperi mamanya.


"Mama, aku akan cepat besar, supaya bisa melindungi mama dari orang jahat" ucap Arles pelan, dengan tangan kecilnya menepuk - nepuk pelan tangan mamanya seolah sedang memberikan ketenangan bagi sang mama yang saat ini seperti seseorang yang ketakutan. Arles memang merasakan seluruh tubuh mamanya yang bergetar, perlahan menjadi tenang..


"Kemana wanita itu membawa Arles?" Gumam Arland yang sedang mencari keberadaan Arles.


Mendengar suara Arland diluar menyebut namanya, tubuh Arles merespon hendak berdiri, tapi ditahan oleh Glesty "Ma,, paman itu bukan orang jahat. Dia pasti akan menolong kita" Bisik Arles yang kini berhadapan denhan Glesty, dan hanya dijawab oleh gelengan kepala Glesty.


"Arland, kenapa kau disini nak? Dimana anak itu?" Tanya mama yang kini menghampiri Arland.


"Oh ma, iya.. tadi aku melihat seorang wanita membawanya pergi. Jawab Arles sekenanya.


"Mungkin wanita itu mamanya. Ya sudah, ayo kita pergi dari sini, sambung mamanya lagi. Keduanya tidak tahu bahwa pembicaraan mereka sedang didengar oleh Glesty dan Arles.


"Kenapa wanita kasar itu terdengar sangat lembut ya? Apa mungkin wataknya sudah berubah? Nada bicaranya terdengar seperti seorang ibu yang lemah lembut." Batin Glesty.


Tentu saja Glesty merasa aneh akan mantan ibu mertuanya itu. Masih teringat jelas dalam ingatan Glesty bagaimana wanita tua itu berkata - kata kasar saat tahu putranya telah menikahi Glesty secara diam - diam. Dia bahkan berani main tampar. "Sungguh,, mengingatnya kembali aku merasa merinding" batinnya lagi.


"Arles, kamu anak mama kan sayang?" Arles mengangguk.


"Arles menyayangi mama?" Lagi - lagi bocah itu mengangguk dihadapan mamanya.

__ADS_1


"Arles janji, jangan pernah lagi akrab dengan orang asing yah nak, mama takut Arles kenapa - kenapa" Glesty sedikit tegas kepada Arles.


"Iya mama.." jawab Arles dengan wajah sedihnya. "Tapi paman itu bukan orang jahat mama," batin Arles.


Setelah memastikan suasana aman tanpa kedua orang tadi, Glesty mengajak Arles keluar dari persembunyian. "Ayo sayang, sudah tidak ada penjahat nak." Ucapnya.


\=\=\=\=\=\=\=


Didalam Mobil.


Arland akan mengantar mamanya pulang setelah mereka berkunjung ke beberapa tempat.


"Arland, bocah tadi..."


"Siapa ma? Arles? Kenapa dia?" tanya Arland.


"Emmm.. dia sangat mirip denganmu." Jawab mama sambil tersenyum membayangkan wajah tampan Arles.


"Hahaha. Mirip dari mana ma? Mama mengada - ada saja." Jawab Arland


"Land, apa kamu tidak berfikir untuk mencari istri kamu? Pertanyaan mama berhasil membuat Arland terkejut, dan secara tiba - tiba menginjak pedal rem.


"Kenapa mama tiba - tiba membahasnya?" tanya Arland sambil memandangi wajah si mama.


Mama Arland terlihat gelagapan, tidak tahu harus menjawabnya.


"Aku sudah lama membuag perasaanku padanya ma. Untuk apa aku mencari wanita yang jelas - jelas sudah mencampakkanku saat aku sekarat! Jika suatu saat aku tidak sengaja bertemu lagi dengannya, aku hanya ingin memberinya pelajaran." Tegas Arland dengan wajah geram.


"Heh, ibu macam apa aku ini, akulah yang membuat anakku membenci seseorang seperti ini. Mama tahu Arland, kamu pasti ada di kota ini untuk mencarinya, dan semoga kamu berhasil nak," Batin mama sedih.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Didepan sebuah Diskotik.


Disinilah Glesty sekarang.


Kurirnya tiba - tiba tidak bisa mengantarkan orderan tas dan sepatu ke pelanggan karena sedang sakit. Sebenarnya 2 orang pekerjanya bersedia membantu mengantarkan tetapi karena usia mereka masih sangat muda, Glesty merasa khawatir jika mereka harus datang ketempat seperti ini.


"Mimpi apa aku semalam, harus datang ketempat ini malam ini? Kalau saja pelanggannya tidak mengharuskan diantar malam ini, aku akan mengantarnya besok pagi saja," gumam Glesty sambil membuang nafas malas.


Tak lupa Glesty berdoa dalam hatinya sebelum melangkah. Didepan Gerbang, ada dua orang satpam yang bertugas. Glesty bertanya tentang nama yang tertera pada paperbag yang ia bawa. Lalu penjaga keamanan tersebut meminta Glesty untuk langsung membawanya masuk dan menyebutkan dimana pelanggan itu sedang menunggunya.


"Pak, apa tidak sebaiknya saya titipkan saja barang ini ke bapak yah? Glesty coba bernegosiasi.


"Tidak nona, anda diminta mengantarnya langsung. Ucap Pria itu dengan suara datar, tidak ada keramahan dari caranya berbicara.


Tanpa membuang - buang waktu lagi, Glesty melangkah masuk..


Setelah menyerahkan barang tersebut kepada pelanggannya itu, mereka saling mengucapkan terima kasih, lalu saling berpisah.


Glesty memperbaiki letak masker dan topi yang sengaja ia pakai, agar tidak ada yang melihat dirinya berada di tempat kelap - kelip lampu ini.


Bugh...


"Awwwww...."


Tiba - tiba Glesty menabrak tubuh seseorang.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


Gaess, trima kasih ya sudah setia membaca.. jangan lupa ninggalin jejak buat author ya, hehe. Love u all.


__ADS_2