I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Kekhawatiran Oma (Season 2)


__ADS_3

Situasi ini cukup unik, lucu serta mencengangkan. Tak disangka, keluarga besar itu dikumpulkan hanya gara-gara first kiss milik princess Lean yang telah dicuri oleh Nino. Sangatlah konyol bukan?


Setelah ungkapan perasaan Nino, suasana menjadi hening.


Semua orang sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Tiba-tiba suara Arles terdengar. "Lean.. dia meminta maaf. Sudah, maafkan saja" ucapnya tenang. Memancing yang lain untuk melanjutkan topik.


Lean menarik tangannya yang di genggam oleh pria disebelahnya. Sampai disini, gadis itu merasa emosi bercampur aduk dihatinya. Rasanya sangat ingin marah, entah kepada siapa perasaan marah ini sebenarnya.


"Dengarkan Lean opa, oma, tidak perlu sampai seperti ini. Jangan menuntut tanggungjawab atau semacamnya dari dia. Kalau kalian seperti ini, kalian hanya mempermalukan aku." Perkataan Lean membungkam opa dan oma.


"Waduh, kenapa jadi begini?" batin oma opa.


"Lean.. kamu itu papa jaga seperti mutiara. Kamu sangat berharga. Jika kamu minta, Papa akan menghukum orang yang mempermainkan perasaan kamu." Arland ikut bicara.


"Pa... mama, Arles.. Jangan pernah mempermasalahkan ini lagi ya.. kalian hanya cukup tahu dan diam saja. Aku sudah dewasa." Lean berbicara dengan mata yang menatap ketiga orang yang dia maksud.


"Dan... kamu Nino... kamu ngomong seperti itu karena merasa takut sama papa dan opa aku kan? Sudahlah, kamu tenang saja. Tidak perlu sampai sejauh ini. Jangan mengatakan apa yang tidak ingin dikatakan." ucap Lean pada Nino, lalu menarik diri dari sana, hendak keluar dari ruangan menyesakkan itu.


Nino tak lagi menghiraukan siapa saja yang berada di dalam ruangan itu. Sebelum gadis itu pergi semakin jauh, Nino memilih mengikuti kata hatinya dan menyusul Lean.


"Lean jangan pergi!" Nino dengan penuh percaya diri menahan Lean dan menarik tubuh gadis itu kedalam dekapannya.


๐Ÿ˜ถ๐Ÿ™Š๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ˜ณ


Tentu saja aksinya itu membuat semua orang tercengang bukan main. Tindakan yang sangat terang-terangan dan pantas disebut aksi nekad oleh keluarga ini.


Hening.


Hening.


Lama Nino memeluk erat gadis itu. Ia lalu melepaskan pelukannya setelah dirasanya tidak ada penolakan lagi dari Lean. Nino beralih mengggenggam jari jemari Lean dengan kedua tangannya.


"Lean... lihat mata aku, dan dengarkan." Seperti sedang terhipnotis, Lean mengikuti permintaan Nino untuk menatap matanya.


"Aku sungguh-sungguh. Aku tidak terpaksa. Aku memang sudah jatuh cinta sama kamu. Maaf karena aku lancang punya perasaan itu ke kamu Lean. Tolong jangan marah lagi yah."


"Ninooo... kamu yakin, sedang tidak main-main sama perasaan aku?" tanya Lean, dengan air mata yang kini menetes.


"Hei.... jangan nangis.. hmmm?" Nino mengusap air mata itu. "Aku serius. Tidak bermain-main Lean" jawabnya tulus.


Terlihat seisi ruangan itu saling pandang. Bertanya-tanya, apa yang kira-kira akan terjadi setelah ini. Saat mereka semua sibuk saling melirik, ternyata Lean dan Nino sudah kembali berpelukan. Entah siapa yang memeluk terlebih dahulu, akan tetapi, kini Lean terlihat memeluk tubuh Nino. Nino? Jangan ditanya. Sudah pasti dia adalah orang yang paling bahagia disini. Sangat jelas aura itu terpancar dari matanya.


Arland dan Glesry terlihat mengusap dada. Akhirnya, Lean mendapatkan pria yang dia sukai. Keduanya merasa legah mengetahui Nino yang ternyata memiliki perasaan suka kepada putri satu-satunya itu.

__ADS_1


Demikian pula dengan kedua opa oma itu, teryata keduanya memang sangat mendukung Lean untuk menjalin hubungan dengan cucu dari salah satu sahabat mereka.


Apa kabar Omanya Nino? Wanita tua itu hanya bisa diam, tanpa sepatah katapun. Dia sama sekali tidak menyangka, cucunya akan menyukai gadis yang berasal dari salah satu temannya sendiri. Parahnya lagi, Nino sampai senekad itu menunjukkan perasaannya di hadapan semua orang dan main peluk-peluk seenaknya. "Bagaimana ini? Apa hal ini akan membuat hubunganku dengan teman-temanku akan terganggu?" Ow... ternyata oma juga lebih menghawatirkan relasinya sendiri.


Merasa keheningan sudah menguasai ruangan itu cukup lama, akhirnya papa Arland membuka suara. "Mau sampai berapa lama kamu memeluk dia Lean?" Suara Arland menggema.


"Eh!" Nino dan Lean terkejut dan saling melepas pelukan. Hampir saja tidak menyadari ada orang lain.


"Iya nih, sayang, kita butuh penjelasan. Jadi bagaimana dengan kalian berdua? Kamu sudah tidak marah lagi sama Nino?" mama Gles basa-basi.


Lean terlihat tersenyum malu. Nino kembali menautkan jari-jari mereka.


"Maafkan saya om.. tante.. saya tidak akan lagi melepaskan putri anda ini" Nino kembali menatap wajah Lean, sembari tersenyum kecil.


Omanya Nino๐Ÿ˜ณ "Nino, ini tak akan mudah" batinnya dengan segala praduganya.


"Nino, berjanjilah tidak menyakiti adikku. Jika kau lakukan, aku tidak akan segan membuatmu menginap dalam keadaan tak sadar dirumah sakit seperti yang pernah kulakukan dulu. Kau tidak lupa kan?" ancam Arles dengan nada bercanda.


"Apa? Apa maksudmu Arles?" Glesty merasa tertarik dengan candaan putranya.


"Ah... aku hanya bercanda ma.." jawab Arles.


Calist: "Candaanmu sangat menyeramkan. Tidak lucu." bisiknya.


"Baiklah, kami merestui kalian." ucap Arland, singkat.


"Yah, mau bagaimana lagi jika kalian berdua saling menyukai. Silahkan teruskan. Opa tidak pernah menyangka, kasus kecil yang sudah kalian lakukan berhasil membuat opa menghentikan pesta sebelum waktunya. Jangan sia-siakan pengorbanan opa oma dengan alasan apapun." Opa melirik ke arah oma yang tadi begitu hebohnya membuatnya panik dan memulangkan semua tamu.


"Ehm... jadi kalian.. menerima cucuku?" tanya omanya Nino, meyakinkan diri.


"Apa lagi? Mereka terlihat saling menginginkan." sahut omanya Lean, membuat semua orang terkikik geli.


๐Ÿ’๐Ÿ’


Keluarga besar itu telah kembali ke kediaman oma opa saat waktu sudah hampir tengah malam.


Oma dan opa yang tengah berbahagia itu memilih untuk duduk bersantai bersama anak-anaknya di ruang keluarga. Para cucu itu telah memasuki kamar masing-masing.


Arles meninggalkan Calista di kamar sendirian, sementara dirinya memanggil Lean untuk tinggal di kamar yang sama dengan Calista.


"Ah, lebih baik aku keluar saja sambil menunggu kedatangan mereka."


Diruang keluarga.


"Arland, Glesty, apa.. Arles memang sungguh-sungguh terhadap kekasihnya itu?" tanya oma.

__ADS_1


"Bukankah terlihat jelas sayang? Kenapa kau masih menanyakannya?" sahut opa.


"Tentu saja sungguh-sungguh ma.. Arles tidak pernah mempermainkan wanita." jawab Arland.


"Em... tadi ada teman mama yang mengatakan, jika seorang wanita pernah mengalami kecelakaan parah, dia akan susah memiliki keturunan. Aku hanya khawatir pada cucuku." terang oma dengan wajah bingung.


"Sayang, jangan menghabiskan waktu memikirkan hubungan asmara cucumu. Jika Arles memang serius, hubungan mereka akan mengalami kemajuan, dan kita hanya bisa mendoakan."


"Tapi tetap saja, aku khawatir pada Arles. Aku takut cucuku tidak bisa bahagia. Bagaimana jika si Calista itu tidak akan sembuh, dan berada di kursi roda itu selamanya? Kasihan Arles."


"Ma... anak itu akan sembuh. Percaya saja." Setelah sembuh, maka mereka berdua akan segera menikah. Itu yang Arles katakan." terang Glesty.


"Jadi, jika dia tidak akan sembuh, artinya mereka tidak akan menikah?" tanya Oma dengan wajah hampir berbinar.


"Calista?" suara kak Aurel memanggil nama orang yang sedang menjadi pokok pembahasan.


"Eh, kak Aurel?" Calista tersenyum canggung.


"Kenapa hanya berdiam disini? Kenapa tidak bergabung dengan yang lain?" Aurell yang baru saja datang, melihat kearah para orangtua yang wajahnya terlihat sangat tegang.


"Ehmmm.. jadi ini perkumpulan para orangtua? yang lain mana? Ayo, kita gabung, kakak akan mendorong kursimu ini ya." Tanpa menunggu jawaban, Aurell membawa Calista mendekati kumpulan para orang tua di keluarga besarnya itu.


"Ehm.. Calista, apa.. kamu tadi dengar?" tanya mama Gles hati-hati.


"Iya.. dengar kok tante.." calista tersenyum simpul.


Oma mendekat kepada Calista. "Calis, maafkan perkataan oma yah, oma ini hanya.. hanya.."


"Saya mengerti oma, saya tahu, dan saya sangat sadar akan maksud oma." jelas Calista dengan senyuman manis.


"Apa kamu tidak marah Calista? Kamu tidak marah kepada oma?"


"Untuk apa marah oma? Yang oma katakan memang benar. Setiap orangtua pasti menginginkan yang paling baik untuk anak cucu mereka." Calista sungguh terlihat baik-baik saja.


"Oma... saya sangat cinta cucu oma. Tapi, selama saya tidak sembuh dan hanya duduk di kursi ini, saya... tidak akan menahannya untuk pergi. Oma... kalian boleh membawanya pergi menjauhi saya dan berikan pengganti saya untuk dia. Tapi..., jika saya sudah sembuh, saya tidak akan lepaskan dia untuk siapapun oma. Kalau memang keluarga ini tidak bisa menerima saya, silahkan minta baik-baik padanya. Saya yakin dia akan menurut dengan keluarganya oma." jelas Calista, panjang lebar.


Hening.


.


.


BERSAMBUNG....


Selamat Memperingati Hari Raya Isra Mi'raj 1442 H

__ADS_1


__ADS_2