I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)

I Hate You But I Miss You (Benci Tapi Rindu)
Akan Tinggal Bersama


__ADS_3

Seperti permintaan Arles, saat ini Glesty bersama putranya itu ke rumah sakit. Apakah tangan Arles sudah sembuh? Jawabannya: belum sepenuhnya. Tangan bocah itu masih dibaluti dengan perban.


Arles meminta mamanya saja yang menemaninya. Sementara Lean tinggal dirumah saja ditemani oleh Arland tentunya.


Glesty pun tidak lupa membawa sedikit cemilan untuk kedua bocah yang masih dirawat itu.


“selamat siang! Sapa ibu dan anak itu saat tiba di ruangrawat anak perempuan yang diketahui bernama bernama Calista. Senyum ramah dari kedua orang tua Calista menyambut Arles dan Glesty


"Maaf mengganggu pak, bu!" Ucap Glesty dengan sangat sopan.


Kedua orang itu pun mempersilahkan Arles dan Glesty untuk bertemu dengan Calista.


Rupanya Calista sudah beragsur pulih. Luka dikepalanya sudah tidak terasa sakit.


“sayang, ayo.. itu Calistanya mumpung sedang bangun."


“Arles, kamu datang?” Calista tersenyum.


“Calis, aku minta maaf ya..” Arles tersenyum canggung.


Calista bukanlah anak nakal yang selalu mengusik Arles, tapi dia terkena imbasnya saja.


“Tidak apa-apa Arles..” Calista tersenyum.


“Oh iya...aku akan memberimu sesuatu!” Arles mengambil selembar foto dari saku jaketnya.


“Kenapa memberiku fotomu?” Tanya Calis, heran.


“karena kamu harus menyimpannya!”


“kenapa aku harus menyimpan fotomu? Kitakan bertemu setiap hari disekolah!” Tanya Calista.


“tidak. Aku akan pindah Calist. Oia, ternyata paman yang waktu itu,, memang.. papaku!” jelas Arles, dengan sikap canggung, saat menyebut kata papaku.


“ayo kita bertemu lagi saat besar nanti!” Sambungnya lagi.


Calista membulatkan mulutnya mendengarkan penjelasan Arles. Namun, beberapa detik kemudian ia terlihat sedikit murung saat mengetahui Arles akan pindah sekolah.


“Bagaimana cara kita bertemu saat sudah besar?”


“kau harus mencariku. Jadi jangan hilangkan foto itu yah!”


“Hmmm... Baiklah, saat besar nanti, aku akan mencarimu.” Calis kembali tersenyum.


Glesty tidak menyangka putranya akan melakukan hal ini. “apa-apaan Arles ini? PD sekali dia. Siapa yang mengajarinya memberikan fotonya sebagai kenangan?”


Glesty memijat pelipisnya merasa malu pada kedua orangtua Calis. Terlihat dari senyum kik-kuk dari wajah wanita itu.


.


.


\=\=\=\=\=


Seorang gadis cantik sedang memasak sambil bernyanyi mengikuti alunan musik dari grup band favoritnya.


Ya,,, gadis itu tak lain ialah Alina Lea.


“kakak . . . . keluarlah dari kamarmu. Bantu aku memasak jika kakak masih ingin makan.” Teriaknya kepada Leon.


Tak lama Leon keluar. “apa ini? Sangat ribut.” Leon mematikan musik.


Kak--- kak, hidupmu sangat monoton. Bersyukurlah aku menumpang disini. Jadi kakak bisa merasakan sedikit piknik.


“Apa maksudmu piknik! Dengan kau berkurung disini sangat mengusik ketenanganku!” Leon memukul gemash wajah Lea menggunakan sawi yang sedang dipegangnya.

__ADS_1


“aku akan menikmati waktu menganggurku yang sangat berharga ini. Selama bekerja didepan kamera, aku sudah diet setengah tewas! Sekarang waktunya makan sepuasnya, tidur sepuasnya dan tidak ada yang melarang.” wah... wajah Lea benar-benar terlihat bahagia, sampai-sampai Leon ikut tersenyum memandangnya dalam diam.


“Jadi.. selama ini aku.... telah menyiksa adikku?” Batin Leon.


Leon membuang nafasnya legah. Setidaknya, kak Glesty dan cintanya telah bersatu. Meskipun Leon tidak akan tahu apa yang akan terjadi didepan.


“Lea,,, tentang pria itu....”


“upss.. STOP. Jangan membahas dia lagi.” Lea tersenyum paksa selebar mungkin kearah Leon.


“Kakak akan ikuti apapun keputusanmu Lea.” (Leon pasrah)


“Termasuk menempel padamu seperti benalu selamanya boleh?” Canda Lea.


“Silahkan saja kalau kau mampu!” balas Leon.


Keduanya pun, tertawa.


.


Ting tung... ting tung...


Bel berbunyi menandakan adanya orang yang datang ke apartemen Leon.


“Tunggu disini.. Kakak akan membuka pintu”


KLEK...


Leon sedikit menautkan kedua Alisnya. Ia memang belum pernah bertemu secara langsung dengan ketiga orang dihadapannya ini. Tetapi, Leon tahu siapa mereka.


“Maaf, apa kami boleh masuk?”


“oh--- silahkan!” Ucap Leon dengan perasaan bertanya-tanya.


Lea juga terlihat canggung saat mengetahui siapa yang datang.


“Jadi, ada apa nyonya besar, tuan besar dan nona muda kesini?”


“Ehm... tolong jangan pernah memanggil kami seperti itu lagi nak! Cukup dengan panggilan biasa saja.


Ya... panggilan dengan nama besar itu sudah tidak lagi berlaku bagi kedua orang tua Arland. Bagi keduanya, embel-embel itu membuat mereka merasa tidak nyaman. Entahlah, Keduanya kini ingin bergaul dan dekat dengan banyak orang tanpa adanya batasan status sosial. Bisa dibilang, kedua paruh baya itu tidak memiliki kesombongan lagi dalam diri mereka.


.


“Oh.. tunggu dulu! sepertinya kita belum sempat saling berkenalan.” Celetuk Angel, adik Arland itu.


“Ehm.. saya Leon dan ini adik saya Lea!”


“Hai Leon.. Hai Lea.. aku Angel” (wajah sumringah)


Kemudian Lelaki paruh baya itu mulai mengatakan maksud kedatangan mereka.


“Kami bertiga kesini dengan maksud meminta bantuan pada kalian berdua, agar kakak dan kakak ipar kalian itu bisa memberi maaf kepada kami!”


“Oh.. jadi--- kak Arland dan kak Glesty memusuhi mereka?” batin Leon.


Merekapun berbincang alot. Dan berakhir dengan membahas tentang tinggal bersama.


“Apa? kita akan tinggal bersama?”


“iya kak Leon, jadi mama dan papa tidak kesepian! Pekerjaanku diluar negeri sangat banyak aku tidak bisa berlama-lama dengan mereka di rumah besar itu!” Angel memohon!


“Tidak, aku tidak mau tinggal satu atap dengan pria jahat itu!” Batin Lea.


“Beri kami waktu! Kami akan memikirkannya! Ucap Leon.

__ADS_1


“Lea, jangan khawatir Devan ada dirumah itu. Dia hanya pulang sekali-sekali saja kesana!’ tandas mama, yang mengetahui akan kebimbangan Lea. Gadis itu hanya diam saja.


Usai dengan semua pembicaraan itu, ketiganya berpamit untuk pulang.


“satu lagi! anggap kami berdua sebagai papa dan mama kalian mulai sekarang. Mama akan sangat senang punya banyak anak, iya kan pa?” Ucap mama dengan senyum senangnya.


Leon dan Lea hanya mengangguk dengan wajah kik-kuk!


.


.


\=\=\=\=\=


“Aku tidak ingin berangkat dengan naik mobil ma...” (Arles)


“Hmmm! Iya jagoan, kita akan berangkat dengan Heli Kopter!” Arland tersenyum, bisa menyenangkan jagoan kecilnya ini.


“tidak.. aku dan Lean ingin naik Bis! Iyakan Lean?” Lean mengangguk cepat.


“Apa? Naik Bis?” Sumpah demi apapun, Arland tidak percaya akan keinginan dua bocahnya ini. Mereka lebih memilih berdesakan didalam Bis dengan banyak orang, dari pada terbang dengan Heli Kopter milik papanya.


“Pffpp” Glesty menutup mulutnya menahan tawa, karena melihat raut wajah Arland yang sangat lucu.


“Ba.. baiklah! Papa setuju jika kalian ingin naik Bis.” Arland mengalah.


.


.


Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, lengkap dengan drama persinggahannya, tibalah keluarga kecil itu dihalaman sebuah rumah yang sangat luas.


“Papa, bangunan apa ini?” Tanya Lean, dengan kepolosannya.


Arles, bocah itu nampak santai saja meskipun terpancar ekspresi kagum diwajahnya.


Glesty, wanita itu terlihat biasa saja. Tentu saja, dia bukanlah anak kecil yang akan heboh saat melihat sesuatu yang luar biasa.


“Ini rumah kita princess!” Jawab Arland.


“Uwaaaaaaawww..“ Lean benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. “Benarkah? Jadi mulai sekarang, kita akan tinggal bersama?” Sambungnya lagi, dan diangguki oleh Arland.


“Horeeee.. horeeee... Arles, kita sekarang benar-benar punya papa! Apa kau juga senang?”


Arles tidak mengatakan apapun. Ia melirik ke dua orang tuanya itu. Arland berpura-pura menhadap kearah lain.


“Hei.. jawab aku.. apa kau senang?” Lean setengah berbisik, dan Arles hanya menjawabnya dengan menaik-turunkan kedua alisnya.


“Ah lucu sekali putraku..! Sedikit lagi!” Batin Arland.


.


.


.


.


Bersambung.


Gaes, tengkyu yah.. semoga nanti malam bisa up lagi. Doain ya😊.


Dalam kesempatan ini author mau mengucapkan turut berbelasungkawa / berdukacita kepada keluarga korban jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air.


Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap diberi kekuatan dan kesabaran. Amin

__ADS_1


__ADS_2